BERBAGI PERASAAN

1143 Kata
Tia menanti dengan gelisah pesan dari Salman. Seharian Tia tidak mendapatkan balasan dari pesannya. Entah mengapa dalam beberapa kali pembicaraan Tia merasa begitu dekat dengan Salman. Ada sesuatu yang menariknya untuk tahu Salman lebih dalam. Dia bisa merasakan kesulitan dan suka yang sedang membebani Salman saat ini. Sekali lagi Tia mencoba mengirimkan pesan, “Salman apa pun yang kamu hadapi, kamu bisa berbagi denganku.” Kejutan, Salman membalas pesan Tia. “Berbagi masalah sebesar ini dengan orang yang baru kutemui?” Tia merasa chat mereka kali ini akan begitu dalam. Dia merasa perlu tahu siapa Salman sebenarnya. “Apa bedanya? Orang yang telah lama kau temui pun belum tentu bisa mengenal dan mengerti dirimu bukan?” “Kamu benar, tapi aku merasa malu denganmu” “Hmm … bolehkah aku sarankan sesuatu sebelum kamu mulai bercerita?” “Rasakan aku sebagai bagian jiwamu yang lain. Sehingga kamu bisa mengatakan sesuatu dengan jujur dan tanpa rasa ragu” “Bagaimana bisa?” “Bisa, bagian dari jiwa tidak pernah menolak dan menilai buruk. Bagian dari jiwa akan selalu menerima diri kita penuh kasih sayang dan keikhlasan.” Kata – kata Tia menghipnotis Salman. Dalam hidup, Salman merasa hanya orang tua dan saudara – saudaranya saja yang selalu siap menerima dirinya. Salman lelah dengan banyak penolakan yang dia alami. Bahkan Salman boleh dibilang tidak memiliki teman. Satu – satunya teman yang selalu tulus menyayangi Salman hanyalah Selo. Lama Salman terdiam dan tidak membalas chat dari Tia. Dan Tia di seberang sana hanya menantikan notifikasi pesan. Memutuskan untuk tinggal lebih lama di kursi malas sebelah kolam renang. “Wiji….” Tia memanggil salah seorang pembantunya yang kebetulan melintas “Iya nyah” “Tolong bawakan lagi setangkup roti gandum, tanpa coklat dan keju ya. Oleskan saja selai blueberry di dalamnya dengan sedikit butter” “Nyonya nambah?” Tia tertawa melihat ekspresi bingung pembantunya. Tia dikenal sebagai wanita yang sangat menjaga dam memilih makanan. Di usianya, Tia bahkan terlihat sepuluh tahun lebih muda. Seringkali jika berjalan dengan Alinea banyak yang menyangka dia kakak dari Alinea. “Nggak, yang tadi diambil sama Ilen.” “Oh,….” Senyum lega di wajah pembantunya. Ilen adalah panggilan yang biasa digunakan oleh banyak orang untuk memanggil Alinea. “Lain kali kamu buatkan dobel untuk Non Ilen ya, sepertinya satu tangkup roti tidak cukup lagi. Berikan juga tambahan keju, Non Ilen sedang dalam masa pertumbuhan.” “Baik Nyah, sebentar saya ke dapur dulu.” Tia memandangi Wiji yang polos. Gadis desa yang dibawa dari rumah tantenya. Wiji mungkin seumuran dengan Alinea. Sebenarnya Tia ingin Wiji sekolah kembali dengan biaya darinya. Namun apa hendak dikata, ternyata Wiji tidak bersedia. Dia sudah senang bisa menghasilkan uang untuk dikirim ke kampung setiap bulannya. Wiji adalah teman Alinea jika ingin pergi kemana pun. Alinea dan Tia memperlakukan semua pembantunya seperti saudara. Tanpa arogansi dan memerintah. Ketika akhir bulan Wiji mengirimkan uang untuk keluarganya melalui mobile banking Tia. Seringkali Tia akan menambahkan sejumlah beberapa untuk keluarga Wiji tanpa Wiji tahu. Tia kembali menatap ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Salman. “Seperti aku bilang padamu. Aku ini hanya pemuda miskin. Sekarang di Khatmandu aku butuh bertahan hidup. Meskipun ayahku mengirimkan uang, tapi seringkali itu masih kurang” “Ok, lalu.” “Kemudian dosen pembimbing kami menawarkanku sebuah pekerjaan untuk mendapat uang tambahan. Tentu saja aku senang dan menerimanya.” “Apa pekerjaannya?” “Mengajar salah satu siswa di kelasku agar bisa lolos program beasiswa itu.” “Hmm artinya kamu murid yang cukup cerdas. Karenanya dosenmu percayakan pekerjaan itu padamu.” “Iya dia bilang seperti itu. Aku dengan hasil test beberapa kali dipastikan lolos mendapatkan beasiswa itu. Nilai skorku sangat tinggi.” “Ohh ok , bagus. Lalu dimana masalahnya?” Salman terdiam lagi. Sungguh ragu benarkah menceritakan semuanya pada Tia saat ini. Namun Salman rasa dia perlu tempat berbagi. Dan berbagi dengan Selo adalah hal yang tidak mungkin. Selain Selo adalah orang yang susah menjaga rahasia. Selo mungkin akan ikut sedih, marah dan terpukul. Salman tau, Tia mungkin juga tidak bisa melakukan apapun. Namun demikian Salman berharap dengan menceritakan semuanya pada Tia akan meringankan beban batinnya. “Aku mengajar dengan datang ke rumahnya dan bukan di kampus. Karena ayah temanku itu begitu tinggi gengsi. Dia tidak mau kalau anaknya terlihat bodoh dengan pelajaran tambahan. Jadi aku mengajar boleh dikatakan secara rahasia.” “Ok, lalu.” “Suatu hai ibu temanku , yang seorang wanita Eropa menjebakku” “Maksudnya?” “Suaminya, yaitu ayah temanku tidak pernah bisa memuaskannya. Jadi dia memasukkan obat ke dalam minumanku ketika temanku dan ayahnya tidak di rumah” “Obat apa?” “Kamu tahulah, sesuatu yang dengan cepat membuatku berhasrat untuk menyentuh wanita itu. Untuk pertama kali aku berada di ranjang dengan seorang wanita dan dia ibu temanku yang mungkin seumur denganmu” “Oh.. ok. Tidak perlu kamu jelaskan lagi. Aku mengerti perasaanmu. Tapi itu sudah terjadi. Kamu hanya perlu melupakan dan jangan datang lagi ke rumah temanmu itu” “Inilah masalahnya Tia, aku telah menerima di muka tiga bulan gaji. Dan semua telah kugunakan untuk kebutuhan serta membayar asramaku. Tapi aku tidak mau datang lagi ke rumah itu. Atau hal yang sama akan terjadi lagi dan lagi” “Katakan yang sesungguhnya pada ayah temanmu” “Tidak mungkin. Selain aku akan menjatuhkan harga dirinya karena tahu kelemahannya. Istrinya juga telah membuat finah untukku. Dengan rekaman CCTV yang di potong. Seolah aku masuk ke kamar mereka dan mencari sesuatu” “Buruk sekali wanita itu.” “Ya, tapi aku bisa apa. Aku akan mencoba memikirkan solusinya. Mungkin aku akan meminjam uang dari ayah Selo.” “Selo?” “Oh iya, Selo adalah teman baikku. Dia sahabat terbaikku. Dalam segala hal biasanya aku akan bicara pada Selo. Namun urusan yang satu ini aku tidak menceritakan padanya.” “Huft… Baiklah Salman, semoga kamu segera mendapatkan solusi terbaik.” “Terima kasih Tia, bisa berbagi denganmu sedikit meringankan beban hatiku.” “Tentu Salman, kapan pun kamu perlu bercerita datanglah padaku. Aku akan memberimu waktu dan menjadi pendengar yang baik untukmu.” “Iya Tia, kamu sudah sarapan?” “Belum, dan sepotong roti isi blueberry dari tadi terus memelototiku meminta untuk segera dimakan” “Ha … ha … ha … baiklah. Aku juga akan pergi mandi dan melihat sarapan apa yang tersedia di dapur asrama pagi ini.” “Ok Salman, jaga dirimu baik – baik. Sampai ketemu lagi ya” “Sure Tia ... you too please.” Salman memandang ponselnya. Tia begitu dekat di hati. Salman merasa dadanya bergetar ketika membaca ulang chat mereka. Apakah benih cinta telah tumbuh diantara mereka? Atau hanya di hati Salman Pembicaraan dengan Tia seringkali membuat Salman melupakan sejenak masalah – masalah yang membebani hidupnya. Tia seorang wanita modern dan pandangan terbuka, membuat Salman merasa lebih leluasa untuk menceritakan banyak hal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN