ALINEA SANJAYA

1104 Kata
Alinea sedang duduk termangu di kursi malas sisi kolam renang. Memikirkan semua yang Arman katakan padanya hari ini. Tawaran yang pasti menguntungkan bagi Alinea tapi mungkinkah bisa diterima oleh Ibunya. Dan Tia sejak tadi dalam diam memandangi putrinya dari jendela dapur yang berbatasan dengan kolam renang melintas sepetak taman. Bukan kebiasaan Alinea untuk melamun. Selama di rumah ada saja hal yang Alinea lakukan. Selain mengurus kelinci, sesekali dia akan menyibukkan para pekerja kebun dengan tingkah cerianya. “Wiji, sejak kapan Ilen duduk disitu?” Wiji melongok keluar meski beberapa bunga menghalangi pandangan tapi dia bisa melihat Alinea yang duduk diam di tepi kolam. “Sejam lalu, Mbak Ilen sudah duduk di situ Bu.” “Hmm,….” Tia melangkah keluar, nampaknya sesuatu yang serius sedang terjadi. dia perlu bicara dengan Alinea. Di ujung dapur Tia membuka kulkas dan membawa yogurt kesukaan Alinea. “Kelincimu sehat semua?” tegur Tia. Alinea terkejut dengan kedatangan ibunya. Dia tidak mendengar langkah kaki sebelumnya. Mungkin dia melamun terlalu dalam tadi. “Iya, Mah. Pak Anto sedang sibuk membuat kandang baru. Mereka nampaknya tumbuh besar dengan segera.” “Seperti anak Mamah?” sambil berkata Tia menyodorkan yogurt rasa blueberry kesukaan Alinea. Dan Alinea menyambutnya dengan senyuman. “Sedang memikirkan sesuatu?” Tia bertanya pada Alinea. “Dad, hari ini datang ke tempat mengajarku.” Sampai sini Alinea berhenti dan meminum yogurt di tangannya. Tia menunggu dengan tenang. Selalu ada cerita tentang pertemuan Alinea dan Arman. “Dad menawarkan untuk membuat surat peralihan hak setengah perusahaan miliknya untukku. Hanya jika Mamah setuju.” Tia menarik nafas. Arman tidak pernah berubah, bahkan setelah belasan tahun mereka berpisah. Harta selalu menjadi senjata baginya untuk menaklukkan banyak orang. Dan sayangnya itu berhasil. Kali ini dia sedang mencoba menaklukkan Alinea dengan kekuatan yang sama. Beruntungnya Alinea bukan anak yang begitu saja menerima sebuah tawaran. Tia sangat yakin dengan kecerdasan Alinea. “Dan, apa yang kau inginkan?” “Aku tidak yakin. Apakah Dad tulus memberikan padaku atau dengan sebuah tujuan. Aku tidak butuh semua itu. Disini aku anak tunggal mamah dan aku punya semuanya. Lebih dari cukup, aku juga bahagia.” Nyayian burung senja yang akan kembali ke sarang mulai bersahutan. Seiring hembusan aingin dingin menuju malam. “Tentu kau punya hak untuk semua itu dan tentu sebuah keuntungan di masa depan jika kau memiliki cukup aset. Mungkin bukan hanya untuk dirimu tapi juga untuk orang lain yang nantinya bisa kau bantu.” “Tapi, jika Dad memberiku perusahaan itu. Maka dia memiliki hak untuk memutuskan banyak hal bagiku. Mamah tdak bisa lagi mengambil keputusan tunggal atasku?” “Ya, itu benar. Tapi dia juga ayahmu. Waktunya memaafkan, tidak ada yang bisa kita lakukan. Karena sebagian perusahaan itu memang hakmu sebagai putri pertama Arman Sanjaya.” “Kali ini, Mamah yang akan memutuskan untukku. Apakah aku akan menerima perusahaan Dad atau kita lepaskan saja untuk anak dan istri Dad yang lain.” “Ilen, uang memang bukan segalanya. Namun dengan uang kamu bisa melakukan banyak hal. Ambilah hakmu dan endapkan. Sampai kau cukup umur untuk mengambil alih semua di bawah kepemimpinanmu.” Alinea mengangguk setuju dengan keputusan Tia. “Mom, I will always be your daughter. Don’t worry ok.” Tia tersenyum dengan pernyataan Alinea. Putrinya tahu persis bahwa dengan apa yang Arman berikan pada Alinea artinya membuka hubungan baru antara Alinea dan Arman. Dan itu membuat Tia khawatir. Wiji muncul dari dalam rumah, tergopoh membawa ponsel Tia. “Bu, ini lho hape-nya tadi ketinggalan di dapur. Bunyi terus bu, takutnya ada yang penting,” ujar Wiji dengan nada khas jawa. “Oh, iya. Terima kasih ya.” Tia memeriksa beberapa panggilan masuk. Salman! “Siapa, Mah?” “Salman.” Alinea mengerutkan kening tanda heran sekaligus bingung. “Nampaknya hubungan Mamah dan dia cukup serius.” Tia mendengar nada cemburu dari kata-kata Alinea. Sejenak kemudian dia letakkan ponsel itu di kursi sampingnya. “Kita pernah sulit, dan kita tahu betapa sulitnya menghadapi kesulitan. Banyak orang yang hidup dalam kemudahan namun menutup hati dan rasa untuk kesulitan orang lain. Kita tidak ingin menjadi manusia yang seperti itu.” Sebuah refleksi kebaikan hati Tia yang selalu membuat Alinea belajar. Untuk bukan sekedar menjadi wanita namun juga manusia. “Menemukan sesorang yang berjuang untuk mencapai sesuatu, membuat Mamah selalu merasa harus menjadi bagian dari kisahnya. Kedekatan Mamah dan Salman bukan perwujudan cinta pria dan wanita. Namun satu manusia dengan manusia lainnya. Di belahan bumi berbeda dan terikat dengan rasa percaya.” “Kadang aku khawatir, hal-hal baik dari mamah bisa membawa dalam kesulitan suatu hari nanti. Terlalu baik dan sangat baik. Belum pernah aku menemukan atau membaca sebuah kisah tentang manusia lain yang sebaik Mamah.” Tia tersenyum lebar pada putrinya. “Kamu berlebihan ok, Jika kita tidak belajar dari kesulitan yang kita pernah alami. Maka itu artinya kita tidak berhasil menjadi manusia yang lebih baik lagi setelahnya. Dan kedukaan itu hanya akan berakhir sebagai penderitaan bukan pembelajaran.” Setiap untaian kata dari Tia seolah permata bagi Alinea. Untuk dia simpan dan rekam di dalam hatinya. “Mah, aku mungkin tumbuh dari keluarga yang tidak utuh. Serta banyak kesulitan di masa lalu. Tapi aku sangat beruntung memiliki ibu seperti mamah. Yang tidak pernah menyerah dan selalu menjadi manusia baik meski banyak kesulitan yang di hadapi.” Alinea menyerbu ke pelukan Tia. Wiji yang sejak tadi berdiri disana melihat pemandangan antara ibu dan anak, serta mendengar pembicaraan mereka dengan mata berkaca-kaca. Dia memang dari keluarga biasa tapi tidak pernah mengalami hidup sesulit Alinea. Keluarganya utuh meski serba kekuarangan. Kadangkala saat mereka berdua, Alinea menceritakan pada Wiji kisah masa kecil yang pernah Tia sampaikan padanya. Melihat hidup mereka sekarang yang luar biasa di bawah nama besar Bless, tidak ada yang menyangka bahwa mereka pernah begitu terpuruk di masa lalu. “Wiji! Kenapa masih disini?!” teriak Tia. “Ke … ke … kenapa memang bu?” Wiji kaget dan tergagap degan teguran nada tinggi Tia. “Kau nggak mencium ini bau apa? Tadi kamu lagi goreng ikan di dapur kan?” “Ya ampun! Ibu! Kok baru ingetin sih!” Dengan panik Wiji segera berlari, sementara asap tipis-tips mulai keluar dri jendela dapur. Pertanda kondisi ikan itu tidak bisa lagi diselamatkan. Alinea tertawa terbahak melihat Wiji marah pada ibunya. Sementara Tia melotot ke arah Wiji yang berlari ke dapur. “Kenapa jadi Mamah yang salah?” “Ha … ha … ha,…!” sekali lagi Alinea terbahak. “Bujuklah Wiji untuk meneruskan sekolah. Dia anak yang baik, dengan pendidikan cukup dia bisa menjadi partner terbaikmu di masa depan.” Alinea mengangguk. Kemudian hari nanti, Alinea bukan hanya putri Bless tapi juga Nona Alinea Sanjaya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN