Malam telah larut, Firoz hari ini tidak kembali ke kamar. Dia mengatakan agar Salman mengunci pintu segera sebelum tidur. Artinya, dia tidak kembali malam ini.
Ujian telah selesai dilalui. Semua tinggal menunggu hasil, begitu pun Salman. Meski semua orang yakin Salman akan lulus dengan nilai memuaskan, namun ketegangan tetap dia rasakan. Salman menekan nomor Tia. Berharap dengan bicara padanya, ketegangan akan berkurang. Kata-kata Tia selalu berhasil menenangkan hatinya.
“Halo,” terdengar suara yang dia tunggu dan rindu.
“Tia, sedang sibuk?”
“Seperti biasa, malam hari waktunya aku menulis. Tapi aku tidak keberatan jika kau menggangguku,” ujar Tia di seling tawa.
Mendengar itu pun sudah cukup membuat Salman merasa tenang. Ketegangan dan pikiran melayang yang sejak siang dia rasakan seolah tertata rapi di tempatnya.
“Bagaimana ujianmu?” lanjut Tia.
“Aku telah memberikan yang terbaik. Jujur aku sangat tegang dengan hasilnya. Sejak siang pikiranku berlarian. Seolah ingin segera menuju ke minggu depan untuk tahu.”
“Sabar saja, semua sudah dilalui. Yang terbaik sudah dilakukan. Sekarang hanya tinggal doa. Semoga mendapat yang kau harapkan. Aamiin.”
“Aamiin … bagaimana harimu?” Salman ganti bertanya pada Tia.
“Berjalan normal. Hari ini ayah Alinea menemuinya.”
Ada rasa sesak yang tiba-tiba melanda dadanya. Sampai hari ini Salman belum mampu menjawab pertanyaan dalam benaknya, tentang apa yang dia rasakan pada Tia. Sebuah kekaguman atau cinta. Tentang rasa atau keinginan semata.
“Kau baik-baik saja?” tanya Salman.
“Ya, aku baik-baik saja. Dia tidak bertemu denganku. Mereka bertemu di tempat kursus bahasa milik Alinea.”
“Ada yang penting?”
“Tidak ada, pembicaraan ayah dan anak. Setelah satu tahun dia kembali menemui Alinea.”
“Kau tidak keberatan?” tanya Salman dengan nada khawatir.
“Tidak. Arman adalah ayah Alinea. Dia berhak untuk bertemu putrinya. Meski telah cukup lama dia meninggalkan kewajiban sebagai ayah. Tapi bukan berarti aku boleh melarangnya untuk menemui Alinea. Karena itu artinya, aku meminta Alinea merasakan hukuman atas kesalahan ayahnya. Prioritasku satu, membuat Alinea bahagia.”
Suara Tia yang terdengar tegas membuat Salman semakin mengagumi wanita yang lebih tua sembilan tahun darinya itu. Nampak jelas bahwa Tia adalah wanita yang tegar dan berpendirian.
“Tapi jika itu mengganggumu, kau juga berhak menolaknya.”
“Tidak, aku baik-baik saja. Aku telah memilih untuk memaafkan segala yang terjadi di masa laluku. Aku hanya punya satu cara untuk membuat hidupku bahagia. Yaitu memaafkan segalanya.”
Suara Tia yang luar biasa justru membuat Salman meneteskan air mata. Salman berharap dirinya bisa segera setegar Tia. Berhenti menyesali dan berfokus pada apa yang akan dia lakukan di masa depan.
-----------------------------------------------------
Beberapa orang mahasiswa nampak tengah duduk di taman. Beberapa berbincang sambil tertawa di tangga. Suasana kampus sepi. Semua mahasiswa reguler sedang libur musim dingin. Mereka yang ada adalah mahasiswa jalur beasiswa yang sedang menunggu pengumuman.
Beberapa butir salju mulai turun namun musim dingin belum mencapai puncaknya.
“Aku sungguh gugup,” Selo memulai pembicaraan.
Salman merasakan hal yang sama. Ujian itu telah dia lewati. Dan untuk mencapainya banyak hal yang sudah Salman korbankan. Sekolah adik-adiknya yang terpaksa berjeda karena uang kiriman ayahnya haru dipindahkan untuk keperluan Salman selama di Khatmandu. Hingga kejadian penuh luka dengan Maria.
Salman sejak semalam bahkan tidak bisa memejamkan mata. Menunggu saat pengumuman tiba. Meski pengumuman akan disampaikan secara online, tapi mereka sepakat untuk berkumpul di kampus hari ini. Dalam setengah jam pengumuman itu akan datang.
Salman meneguk botol cola yang ada di sampingnya. Sementara Selo tidak henti mengusap rambutnya sejak tadi. Keresahan yang Selo tampakkan membuat Salman semakin cemas. Namun sikap yang ditunjukkannya cukup tenang.
Anil menghampiri mereka. Semua mahasiswa memakai baju hangat tebal dan sepatu kets untuk mengusir hawa dingin menusuk tulang.
“Anil! Kau datang, aku pikir kau tidak peduli dengan hasil ujian kemarin!” seru Selo.
“Memang, aku tidak peduli. Aku datang karena bosan di rumah. Tidak banyak yang bisa dilakukan. Akhir-akhir ini rumah menjadi tempat yang paling tidak aman bagiku.”
Selo mengerutkan kening. Semua tahu bahwa rumah Anil besar dengan berbagai fasilitas lengka. Tapi Anil tidak nyaman disana? Aneh!
Sementara Salman tahu, bahwa yang membuat Anil tidak nyaman adalah keberadaan Maria. Di hari setelah ujian, Anil mengatakan pada Salman akan membuat Maria keluar dari rumahnya segera!
“Kita makan!” ajak Anil sambil berdiri.
“Kau saja,” sahut Salman tenang.
Hari memang telah menjelang siang. Pagi ini dia tidak bisa menikmati sarapan di dapur Kumar karena terlalu tegang. Dan perutnya kini sudah mulai bernyanyi. Apalagi di udara dingin seperti ini.
“Ayolah, aku traktir kalian. Sup, daging panggang dan beberapa roti kelihatannya lezat. Ayo aku tahu tempat makan yang enak.”
Anil menyalakan alarm mobilnya dan mulai berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka. Selo dengan bahagia mengikuti Anil. Ketika mereka sampai di pintu mobil, dilihatnya Salman masih duduk di tempat semula. Asik memainkan ponselnya, dia berkali-kali mengecek hasil ujian mereka. Belum juga muncul karena memang belum saatnya.
“Salman! Ayo lekas!” teriak Selo.
Salman beranjak mendekati mobil Anil dan masuk ke dalamnya. Dalam kabut salju yang mulai turun tipis-tipis, Anil mengendarai mobil berkecepatan rendah. Beberapa saat mereka tiba di sebuah restoran mewah dengan seluruh dinding kaca nampak hangat di dalam sana.
Mereka turun dan memilih meja yang berbatasan dengan dinding kaca. Melihat pemandangan salju berjatuhan juga lalu lalang pengguna jalan. Setelah beberapa saat, tiga mangkuk sop, tiga piring roti pirata berlapis daging asap dengan tumpukan cukup tinggi. Sausnya berlumeran membangkitkan gairah makan ketiga pria yang sedang kelaparan itu.
Mereka mulai melahap makanannya diiringi dengan canda dan tawa. Sesekali Salman menimpali namun dia lebih banyak diam. Hatinya tidak sabar menunggu email hasil kelulusan itu datang. Saat suapan terakhir, ponsel Selo menyala dan sebuah notifikasi masuk.
“Email dari konselor!” suara Selo berseru.
Wajah Selo nampak merah dan tegang. Dia membuka ponselnya dan mulai membaca dengan tangan gemetar.
“Aku lulus!!! Yeayyyyy !!!” teriakan Selo memenuhi ruangan.
Membuat semua mata tertuju di meja mereka dan beberapa wajah tersenyum melihat reaksi lucu Selo. Beberapa saat kemudian email pemberitahuan masuk di ponsel Anil. Dengan tenang dia membuka email itu. Wajahnya nampak tidak tegang bahkan tidak peduli.
“Kau lulus?” tanya Selo segera.
“Tentu saja tidak!” sahut Anil sambil tersenyum.
“Hah! Kenapa seolah kau sudah tahu pasti tidak lulus?” sahut Selo heran.
Sementara Salman memgang ponselnya dengan tegang. Tidak memperdulikan perdebatan kedua sahabatnya. Dia juga sudah tahu kalau Anil akan gagal. Karena sesudah kelas ujian, di luar Anil mengatakan pada Salman bahwa dia tidak mengisi soal ujiannya kecuali dengan nama. Anil tidak ingin lolos beasiswa itu hanya demi memenuhi ambisi ayahnya.
Tiga puluh menit berlalu dari waktu Selo menerima email. Dan milik Salman belum juga tiba. Salman mulai tegang dengan berbagai kemungkinan. Mungkinkah dia salah memasukkan data atau yang lainnya.
“Kalian tidak ingin memberitahu orang tua kalian segera dengan hasil itu?” tanya Salman pada Selo dan Anil.
“Aku akan mengatakan langsung pada ayahku. Lengkap dengan alasannya,” ucap Anil santai.
“Dan kau?” tanya Salman pada Selo.
Selo duduk dengan wajah memelas.
“Aku akan sampaikan pada ayahku setelah aku tahu kau lulus. Karena jika kau tidak lulus, aku tidak ingin pergi sendiri ke UK.”
Wajah Selo tertunduk lesu. Selama ini Salmanlah yang menyelesaikan jika mereka berhadapan dengan masalah. Dan sekarang, tanpa Salman rasanya sulit bagi Selo untuk pergi seorang diri.
Saat itulah email pemberitahuan muncul di ponsel Salman. Dia membuka ponselnya dengan wajah tegang.
“Aku lulus!” Salman berseru ringan pada kedua temannya.
Disambut bahagia oleh Anil dan sekali lagi teriakan dari Selo.
“Yeay!!! UK!!! Here we come!!!”
Teriakan Selo yang membuat udara dingin Khatmandu menjadi hangat. Ceria, seolah menyongsong masa depan yang bahagia. Meski di balik itu, banyak tantangan yang masih menunggu!