Sialnya Aku

1248 Kata

Ran selalu menyebut aku kebiasan kalau diajak mesra-mesraan malah kabur. Kepedean parah dia pakai yakin banget kalo aku berdebar. Padahal ... memang. Iya tapi jangan jadi bahan buat dirundung juga, kali. Aku tuh bukan mau jual mahal, tapi mau buat dia sadar. Cuma, apesnya dia bisa tahu apa yang ada dipikiranku. Makanya semua rencanaku gagal. "Aku pergi bentar." Ran baru saja mengecup keningku. Dia colek hidungku yang tidak seberapa mancung ini. "Kalau kangen, video call aja." Aku mengerucutkan bibir. Sok iyes, deh. Baru juga ditinggal beberapa, mana mungkin aku kangen. "Udah sana berangkat, modus terus nggak pergi-pergi." Daripada banyak omong lagi, aku dorong Ran untuk pergi. Sebetulnya, aku suka dimodusin Ran, apalagi kalau langsung dapat 'action', bikin terkejut sekaligus melel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN