Aku dengan Ran belum boleh pulang ke Solo sama mama dan papanya Ran. Katanya, mereka masih kangen. Sebetulnya Ran ada project di Jakarta. Aku sendiri, masih ada pekerjaan di butik. Secara, ya, meski sudah menikah sama yang punya butiknya, tetap saja harus tanggung jawab. Tapi, apa boleh buat. Dengar-dengar, orang butik malah butuh desain baru. Makanya, kadang pas waktu luang aku menyempatkan untuk buat gambar. Jangan harap bakal selancar kalau lagi di butik. Selalu ada yang ganggu. Siapa lagi kalau bukan si Mahaprana Sultan, alias suami ter-omesh nan tampan dan seksi. Bikin mau sayang-sayangan terus. Ada saja, tingkah Ran yang bikin aku tidak fokus. Apalagi kalau lihat dia rebahan, sambil pose ala duyung terdampar. Ambyar, ide. Ada satu lagi, yang bikin aku niat banget mau kabur pula

