"Selamat siang, ada yang bisa-” Aku tak menyelesaikan kalimat, merasa tercekat saat tahu siapa yang datang. Dia ... perempuan cantik dan anggun, berdiri di hadapanku, bersama seseorang. "Aku mau pesan minuman.” Perempuan itu menempelkan jari lentiknya di dagu, melihat papan menu yang ada di belakangku. “Mmhh ....” Kedengarannya dia tengah berpikir. “Menurutmu apa yang enak, Sayang?” tanyanya pada lelaki yang ada di sampingnya. "Semuanya enak,” jawab lelaki yang kemarin baru saja berkelahi dengan Ran. Benar sekali, dia adalah Dandi. Aku menahan diri supaya tetap bisa tersenyum ramah melayani pelanggan kafe kami sore ini. “Kalau Anda mau,” kataku membantu mereka memilih, “tiramissu latte kami paling favorit.” Dia mengerling padaku. "Kalau begitu, aku mau itu." Perempuan itu menoleh pa

