Selamat Tinggal Ran

1243 Kata

Tuan Pramulya pergi dari hadapanku. Ran muncul tak berselang lama kemudian. Dia mengenakan kaus polo berwarna marun dan bawahan jeans. Meski setelannya sederhana, aku bisa lihat kalau itu pakaian mahal. Ran menarik satu kursi. Matanya tampak menyapu ke sekitar. "Mana papa, ya?" "Ayahmu sudah masuk ke dalam kamar. Tadi dia bilang mau istirahat." Ran tampak semringah. "Gak apa-apa, deh. Jadi, kita bisa ngobrol berdua." Aku memaksa diri untuk tersenyum. "Dasar!" "Kita makan dulu, ya. Kamu pasti laper, kan?" Aku mengangguk dengan ritme lambat. Ran memanggil pramusaji, meminta untuk segera menyajikan hidangan. Lalu makanan dihidangkan di meja. Ada banyak menu yang menggoda. Tapi, selera makanku sudah hilang. Ran meletakkan sepotong daging di piringku, sama seperti yang dia lakukan sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN