WHAAAT! Aku baru mau keluar dari kafe kembali masuk dan bersembunyi di balik tembok. Bahkan, Ran aku seret untuk sembunyi juga. "Eits!” Mata nakal beraksi saat aku menariknya jadi terlalu dekat. “Mau ngapain ini?” Dasar Bocah m***m tengil, sudah tahu aku lagi panik, bisa-bisanya dia punya pikiran macam-macam. Perlu dikasih pelajaran. “Mikir apaan?” Pupil mataku membesar, sambil kuinjak kakinya. "Aww!” Dia mengaduh seraya mengusap kakinya. " Cuma nanya, langsung dianiaya.” Aku meletakkan satu jari ke bibir menyuruh Ran diam. "Ada Andre, aku nggak bisa keluar.” Ran melongokan kepalanya sedikit, melihat Andre yang tengah menungguku di samping mobilnya. "Keluar aja, ngapain ngumpet!” "Kamu nggak ngerti, aku malu. Lagian, mana ada cewek yang pede kalau mau ketemu cowok kayak Andre de

