Aku menghampiri Ran. Dia duduk di halte bus dengan wajah ditekuk, mirip kipas souvenir pernikahan. "Mau pulang, nggak?” tanyaku. Dia meleos, buang muka dariku. Dasar bocah, kerjaannya ngambek melulu. Padahal, aku yang lagi banyak masalah. “Udah selesai ngobrolnya?”. Aku duduk di sebelah Ran. “Udah.” Perhatikan Ran, ada bekas pukulan di wajahnya. Belum lagi, aku ingat betul perlakuan orang-orang tadi. Seenaknya mereka jitak kepala Ran. “Masih sakit, nggak?” Aku menanyakan kondisinya. "Nggak. Luka segini, mah, kecil!” Aku tersenyum simpul. “Makasih, ya.” Ran menegakkan badan lalu tersenyum bangga. “Sama-sama,” ujarnya. “Umh, terus tadi gimana?” "Ada, deh!” Aku beranjak dari tempatku meninggalkan Ran. "Eh, tunggu!” Ran tergopoh mengejar. “Cerita dong, dikit aja!” pinta Ran saat

