Undangan dan Uang

1646 Kata

Esok harinya, sekitar jam dua belas malam. Ran sedang buang sampah di belakang kafe, aku menunggunya di depan. Lagi asyik-asyiknya menunggu, muncul setan. Setan yang belakangan ini menghantui hidup dan tidurku. Sosok yang berdiri di sebrang itu, menatap dengan matanya yang sendu. Aku terpaku padanya. Dan langsung deh, seolah-olah ada yang memainkan musik melankolis di telinga. Enggan bertemu dengannya, segera aku palingkan wajah dan bergegas pergi . “Yasmin!” Dia memanggil. Aku mengabaikan. Harus cepat biar dia tidak bisa menyusul. Untung aku sudah pakai sandal jepit karet merek kebanggaan Indonesia--Swelow--jadi bisa jalan lebih cepat. Aku malas bertemu dengan dia. Dia--Dandi--mantanku. “Yasmin!” Dandi berhasil menyusul. Sekarang dia ada di depanku. Coba bayangkan. Seorang manta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN