Cerita Ran

2257 Kata
Aku lihat, dia memegangi perut. Sesekali matanya mengerling padaku. Pasti itu anak lapar. Pura-pura tidak tahu sajalah. Jangan sampai, kepekaan hati gadis baik-baik seperti aku malah dimanfaatkan mahkuk astral berwajah imut. "Oi!" Dia memanggil, mungkin kesal karena aku abaikan. Lipat tangan di d**a, pasang gaya sok cantik. "Apa, ya!" Dia mencebik. "Niat mau nolongin nggak, sih!" Hih, apa-apaan. Kenapa, dia jadi lebih ngegas dari aku. "Mau minta tolong apa? Makanya kalau ngomong yang jelas." Dia garuk-garuk kepala. Tidak lama ada tukang ada tukang siomay melintas di tengah-tengah kami. Entah memang lapar parah atau latah, ujung mata Ran mengikuti pergerakan si Abang siomay sampai jauh dari pandangan. "Ekhem!" Aku berdeham. "Aku lapar. Tadi bangun pagi, langsung pamit sama si dokter itu." Dagunya memicing ke arah rumah Andre. "Terus?" Masih acting tidak peka. Memangnya, cuma cowok yang bisa. "Kasih aku makan," ujarnya tanpa malu. Meremat tangan, aku gemas dengan bocah di depanku ini. "Kasih makan dedak, mau?" "Apa aja, aku lapar." Alisku mengernyit. Aku tawari dedak, dia langsung mau? Sebenarnya, dia tahu tidak, kalau itu makanan ayam. Jangan-jangan malah dikira sereal gandum penuh nutrisi. "Ayo!" ajaknya. "Ke mana?" "Cari makan!" Bibirku mengerucut. "Bisa malu-malu sedikit, nggak?" "Bisa." Dia mengangguk. "Nanti kalau sudah kenyang," sambungnya yang bikin aku sakit kepala. Ya, sudahlah! Berhubung dia lapar, aku ajak sarapan dulu. Kebetulan ada warung nasi uduk di ujung gang. Kami ke sana. Perlu jaga jarak, mana tahu nanti dia mau macam-macam. Setelah lima menit berjalan, kami sampai di teras rumah orang yang 'disulap' jadi warung. Baik, 'kan, aku? Aku traktir makanan yang layak untuk manusia, bukan pakan ayam, "Tuh, kalau mau makan, aku traktir." Mukanya kelihatan semringah luar biasa. Persis seperti orang tidak makan setahun. Padahal diingat-ingat, di rumah Andre dia sudah dapat makanan. Hmh, tipe-tipe manusia yang patut diwaspadai. Lengah sedikit, bisa bikin bangkrut. "Makasih," katanya. Dasar bocah! Tanpa malu-malu kucing atau basa-basi dulu, dia langsung pesan makan. Amit-amit! Baru juga lima menit, seporsi uduk sudah habis. Matanya memicing padaku. "Satu lagi, ya?" "Kamu sarapan, apa kesurupan?" tanyaku setengah kesal. "Masih masa pertumbuhan, wajar kalau banyak makan." Aku perhatikan dia yang duduk di depanku, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tinggi sudah cukup, apa lagi yang mau ditumbuhkan? "Lagi program penggondrongan bulu ketek, ya?" Dia mengintip ketiak sendiri dari balik bajunya. "Bercanda!" kataku, menghentikan aksinya. "Boleh, 'kan, satu lagi?" Kembali pada masalah dia masih lapar. Mendesah, kuizinkan dia untuk tambah lagi. "Makasih." Senyumnya sangat lebar. Porsi ke dua siap, dia makan lagi. Sudah dua, masih kode tambah lagi? Gila! Bangkrut aku. "Bu, uduknya satu lagi!" "Woi!" Aku memelotot. "Main pesen, nggak izin dulu." Dia menyeringai. "Kata orang, kalau cewek diem aja, tandanya mau." "Gundulmu!" Aku menyentak. Dalam perdebatan kami, sepiring nasi uduk disajikan. "Ini siapanya Nak Yasmin?" tanya Bu Maemunah si penjual uduk. Kutatap Ran sebentar. Enaknya, diakui sebagai apa? Mengaku adik, muka kita tidak mirip. Mengaku sepupu, masih tidak mungkin juga. "Cuma teman." Akhirnya kujawab itu. Bu Maemunah langsung berdecak kagum. "Ganteng amat temennya, Nak Yasmin." "Makasih." Ran merasa bangga dipuji. Idih, geli amat aku lihat dia punya kenarsisan tiada tara. Bu Maemunah pergi, aku gebrak meja. "Apaan, sih, marah-marah melulu. Cepet tua, loh!" Enak saja, menghina orang. Lupa apa, kalau aku berjasa banyak padanya? Salah satunya, sarapan ini. Menghabiskan tiga piring nasi uduk dan itu masih mau tambah lagi. Belum gorengan yang dia makan. Aku saja sampai kenyang lihat dia makan. Habis, deh, uang jatah sarapan seminggu. "Jaga mulunya, ya!" Dia langsung resleting pura-pura mulutnya. Habis itu lanjut lagi makan. Tidak tahu malu. Selagi makan, aku mulai menanyai asal-usul Ran. "Kamu beneran dari Banjarmasin?" tanyaku. Dia berpikir sebentar. "Sebetulnya-" Dia menggantung ucapan membuat jantungku berdegup kencang. "Aku ini berasal dari Mars." "Masa?" Jelas aku tahu dia bohong. "Hehe. Memang kenapa, kalau aku dari Banjarmasin?" "Bukan apa-apa." Aku mengangkat pundak. "Masalahnya, ngapain kamu ke Jakarta?" "Harusnya aku ke Mars, gitu?" Dia cengar-cengir. Lama-lama, dia buat aku kesal. "Akhirat, sana!" Dia naikkan matanya ke atas. "Maksudnya, mati?" "Iya! Biar berkurang populasi dumb people, kayak kamu ini." "Oh." Seenteng itu dia menyahut, malah lanjut mengunyah lagi. "Kamu bisa serius sedikit ngak sih!" Asli aku darah tinggi ini.. "Kamu mau aku serius?" Dia berhenti makan lalu menatapku lamat. Aduh, versi seriusnya, kenpa jadi berbeda dari yang aku pikirkan tadi. Hissh! Apa-apaan isi kepalaku ini. Pasti, gara-gara kemarin aku makan mie yang kebnayakan micin, makanya jadi agak eror gini. "Iya, serius. Ada banyak yang mau aku tanyain." "Oke." Memang dia mahluk terlempeng tanpa beban sedunia. "Kok kamu bisa ada di jalan?" "Karena aku manusia. Kalau ada di kolam, namanya kecebong." "Bukan itu!" Masa dia tidak paham maksud pertanyaanku. Karung mana ini karung ya, Allah. Tolong hamba. Bisa mempercepat kedatangan malaikat pencabut nyawa kalau begini ceritanya. "Maksudnya, kenapa kamu sampai keliaran gini di jalan. Babak belur pula." "Aku dicopet. HP-ku dijambret orang. Terus, karena lupa udah nggak punya uang aku main makan aja di restoran." "Terus?" "Ya, aku nggak bisa bayar." Pasti pas pesan makanan, gayanya ala-ala sultan. Ternyata tidak punya uang. Wajar kalau digebukin. Dasar Bocah Sinting. "Jadi kamu nggak punya apa-apa?" "Cuma yang nempel di badan." Tragis juga cerita dia. “Serius, nih, kamu ini sebenernya siapa?” tanyaku lagi saat melihatnya memasukkan sesendok nasi uduk ke dalam mulut. “Mahaprana Sultan, manusia bukan alien,” jawabnya sambil fokus pada makanan. Buset, dah! Siapa yang tanya nama dia lagi. "Bukaaaan!" Darah tinggi nih, lama-lama. Sabar ... perbanyak istighfar. "Maksudnya, kamu ini sebenernya siapa?" "Tadi udah aku jawab." Tidak bisa menebak, dia ini serius atau cuma asal-asalan menjawab. Aku meremat-remat tangan. Dia bodohnya mendarah daging. Sumpah! "Gini, ya, Bocah-" "Oke, Tante!" potongnya. "Berani panggil tante lagi, aku sumpel mulutmu pakai kals kaki yang nggak dicuci sebulan." "Kaos kaki kamu?" Dia menaikkan dua alis. Gra-gara dia bileng itu, aku jadi ingat-ingat kaus kaki yang ada di bawah meja, sudah aku cuci apa belum. "Enak, aja!" Mana mungkin, aku punya kaos kaki yang tidak dicuci sebulan. Paling mentok satu minggu, keles. Dia terkikik. Bisa saja, ini anak main ganti topik pembicaraan. Oke, deh, pertanyaannya aku buat simple, masih tidak nyambung juga luar biasa kebanhetannya. "Kenapa kabur ke sini?" Dia berhenti sejenak, lalu merenung. Setelah itu bilang, “Aku kesasar." "Kok bisa?" Aku mulai pening menghadapinya. "Hehe." Malah nyengir. "Kamu bohong, ya?" tuduhku. Dia mencebik. "Aku ini, anak baik-baik. Nggak boleh bohong." Tampang sok imutnya keluar lagi. Najis sekali melihatnya. Tapi, umh emang ini bocah lumayan ganteng sih. Di atas rata-rata malah. Cuma, kupingku rada gatal, dengar dia mengaku anak baik. Aku tidak akan lupa, soal mulutnya yang asal bicara. "Kalau kamu baik sama aku, nggak akan nyesel, deh." Tiba-tiba dia bilang begitu. Maksudnya apa, coba? Aku bergidik. "Kamu youtuber yang lagi nge-prank, ya?" Barang kali saja, 'kan, dia prank, terus aku tolongin, dan .... Taraaaang, dapat hadiah dua belas juta rupiah buat belanja tiga puluh menit. Eh, kenapa jadi mikirin acara macam-macam. Otak, mah, gini. Dipancing soal duit sedikit, fokus sudah melenceng. Aku menggeleng melihatnya. “Kamu ini umur berapa? Udah lulus SMA belum?” Dia nyengir. “Kenapa? Mukaku imut, ya?” Memang dia imut, aku kelepasan mengangguk. Otomatis bangga, kulihat tangannya menyibak rambut ke belakang. Pakai gaya ala-ala, artis korea. Cakep juga, dia. Hah! Aku segera sadar dan melempar bocah itu dengan sedotan. "Bukan itu!” tukasku. “Kamu jauh dari orang tua, nggak punya siapa-siapa, duit juga nggak punya. Mau ngapain di sini?” “Cari kerja. Gampang, 'kan?" Aku menghela napas. “Ijasah SMA punya?” “Punya, tapi ketinggalan di rumah.” Ya Allah, tolong. Ketiban lagi aku dengan sobat miss queen. Malah bodoh, pula. "Lain kali, kalau mau kabur persiapan dulu. Bawa ijasah, buat bisa ngelamar kerja." Dia memelotot. "Aku kabur, bukan transmigrasi. Mana inget sama ijazah!" Ish, dia benar juga. Kenapa, jadi aku yang b**o? “Terus, mau kerja apa coba kalau nggak punya ijasah?” "Mmmh, dia menggumam. “Apa aja, yang penting bisa bertahan hidup.” Kalau bilang 'apa aja' aku sendiri malah jadi bingung. Memang semua bisa dikerjakan, tapi belum tentu menghasilkan uang. Srroooot! Bunyi Ran minum teh lemon. Padahal di gelasnya sudah habis, masih saja dipaksa sedot. Dikira di dalam gelas ada sumber air 'sudekat'. "Udah abis itu!" kataku, menyorot gelas yang dipegang Ran. "Beliin lagi, dong." "Ogah!" Aku tidak mau. Kalau dia masih haus, aku punya solusi lain. "Nih! Aer putih, biar sehat." Kupenuhi isi gelasnya. "Makasih, udah perhatian." Pede banget dia, mikir aku perhatian. Aslinya, 'kan, aku tidak mau keluar biaya tambahan lagi. Baru satu hari bertemu, aku merasakan hidupnya akan luntang-lantung tidak jelas. Begini, mau bertahan hidup lebih lama? Huh! Yang ada, jadi gembel di Jakarta. Tolongin, jangan? Ditolong, nanti aku bangkrut. Tidak ditolong, nanti aku dosa. Ya, Allah ...dilema amat, ya, hidup hamba. Yah, beginilah orang kolongmelorot. Mau bantu orang yang kesusahan biaya, tidak bisa. Lagipula, posisku sama si Bocah m***m sama-sama apes. Aku apes, karena sudah sekarat perekenomiamnya, malah ditumpangi. Dia juga apes. Soalnya, point di atas sudah menjelaskan. Pokoknya kalau berkaitan dengan adanya 'biaya tambahan', aku pasti perhitungan. Ah, coba bujuk lagi. Siapa tahu, kalau aku kasih gambaran tentang susahnya hidup, dia bersedia pulang. Aku memandangnya. “Cari kerja itu susah. Apalagi kamu nggak ada ijasah, mau kerja di mana?” Kukeluarkan ponsel ketika dia masih berpikir. "Telepon orang tuamu, minta mereka transfer uang ke rekeningku.” Dia mendecih. “Kamu mau minta tebusan?” Tebusan? Dikira dia resep obat, pakai ditebus segala. Aku menyipitkan mata. "Iya, aku minta seratus juta!" "Dikit amat, minta sama orang tuaku seratus miliar. Baru hebat." "Halah, gayamu!" Orang tuanya gantung diri di pohon toge, baru tahu rasa. Dia makan saja minta dengan aku, gimana mau minta tebusan? Hekh! Ingin rasanya kutelan bocah satu ini, lalu melepehkannya ke gorong-gorong. "Aku mau minta uang untuk ongkosmu pulang.” Secara, ya, aku tidak mau direpotkan lagi olehnya. “Jangan!” Dia menolak. "Kalau kamu telepon mereka, mending aku pergi.” Dasar bocah! Aku mau telepon orang tuanya ke mana coba, kalau dia nggak sebutin nomornya. Sekolah di mana, sih, ini anak! Lagi pula, kalau mau pergi, ya sudah pergi sana. Dikira aku bakal tahan-tahan dia? Harus sabar, menghadapi bocah satu ini. Ingat umur, nanti cepat keriput kalau marah-marah terus. “Kamu nggak ada siapa-siapa di sini, nggak mungkin juga ikutin aku terus.” “Aku mau cari kerja,” sergahnya. “Apa aja, asal aku nggak pulang.” “Mau kerja apa coba? Tanpa ijasah, nggak ada perusahaan yang mau nerima kamu.” "Jadi artis aja," jawabnya asal. "Lagian suaraku bagus. Mau denger nggak?" Dih, pe-de banget dia. "Lagi makan, nggak usah nyanyi. Keselek, baru tau!" "Gimana kalau aku kerja dengan kamu aja?" Dia menaik-turunkan alisnya berulang. “Anak ini!” Aku gemas dengannya. "Tau gajiku berapa? Cuma lima juta sebulan. Itu pun harus dipotong uang kos, makan, dan biaya hidup keluargaku. Aku mau gaji kamu pakai apa?” "Lima juta sebulan?" Dia terperangah. "Kecil amat. Itu bahkan nggak lebih besar dari uang jajanku seminggu." Huh, untuk ukuran orang bokek, dia sombongngnya kebangetan. Memangnya uang saku dia, sepuluh juta sehari? “Tapi nggak apa, deh!” sambungnya, “aku nggak usah dibayar. Asal dikasih tempat tinggal sama makan juga, aku mau.” Apa! Pikiran ngadi-ngadi. Siapa yang bersedia menampung dia, memang? "Anggep aja, aku hewan peliharaan," tambahnya. Sumpah! Dia bener-bener, tidak tahu malu. Baru kali ini, ada manusia yang berharap dianggap hewan peliharaan biar dapat makan sama tempat tinggal. "Heh, kalau mau bilang apa-apa itu dipikir dulu, lho!" Ini aku lagi mode baik mau menasihati dia. Ya, semiskin-miskinnya orang masa iya, lelang diri jadi hewan peliharaan. Dikira aku tante-tante girang. Aku meneguk minumanku--teh hangat rasa lemon. Oke, sekarang harus pikirkan gimana nasib dia ke depan. “Kamu harus kos, punya uang untuk bayar nggak?” Dia menggeleng, sedangkan aku menggaruk kepala. “Tapi aku punya ini.” Dia mengeluarkan sesuatu dari balik kerah bajunya. Sebuah kalung, dengan bandul cincin yang indah. "Ini cuma paladium." Dia menyerahkan kalung tersebut padaku. “Tapi, mata di cincin itu berlian asli bersertifikat EGL.” “EGL?” Aku bingung. Itu nama apa? Seumur hidup baru dengar istilah EGL. “European Gemological Laboratory,” katanya dengan fasih. Jujur saja, aku tetap tidak tahu itu apa. "Oh!" Aku sok tahu. "Tau, nggak?" Dia malah ngetes. "Nggak!" Mending jujur, daripada malu-maluin. "Itu, loh, tempat yang menguji kualitas berlian. Pokoknya gitu, deh!” Aku mengangguk. Lumayan tambah satu pengetahuan baru, meskipun yang jelasin sedikit bodoh. “Berlian itu, satu carat harganya tiga belas ribu dolar,” lanjutnya. Mataku membulat sempurna. Tiga belas ribu dolar? Hampir dua ratus juta, bukan? Berani sumpah apa dia, kalau ini cincin segitu mahalnya. “Tapi jangan kamu jual ya, aku nggak bawa sertifikatnya. Nanti dibayar cuma separuh. Rugi." Aku mencebik. Benar juga, buat apa terlalu serius menanggapi semua omongannya. Paling, ini berlian hasil nyolong atau cuma akal-akalan dia biar aku percaya. Yang ada, kalau aku bawa ini berlian ke toko emas, besoknya aku di penjara. Kena kasus penipuan. Aduh, Yasmin! Mulai sekarang, harus pintar-pintar menaggapi si Bocah m***m. “Aku pinjemin kamu uang untuk cari kos,” kataku seraya mengembalikan kalungnya. Mengalah saja. Daripada ketularan stress sama dia. "Habis itu kamu cari kerja, terserah deh mau kerja apa, asal jangan sama aku.” Kalau ada yang mikir aku kejam, yah silakan saja. Dia mengangguk disertai senyum lebar yang memamerkan giginya. “Simpen aja kalungnya. Buat jaminan." Aku iyakan saja ucapan bocah itu. Dia pikir aku b**o, apa? Lagi pula, mana ada orang yang dengan suka hati melepas berlian seharga dua ratus juta, cuma buat uang kos. "Kalau aku sudah punya uang, aku tebus kalung dan cincinyya itu. Simpen baik-baik, ya." "Hmmhh!" Halu terus deh itu anak. Aku menandai bocah ini sebagai, anak m***m, menjengkelkan dan tukang halu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN