Mahluk Malang Menyebalkan

1557 Kata
Banjarmasin? Kami berdua tentu saja tercengang mendengarnya. Jakarta-Banjarmasin, harus menyebrangi berapa pulau? Kenapa dia bisa sampai sini? Bikin orang kepo. "Kenapa bisa sampai di sini?" tanya Andre, mewakili isi hatiku yang dari tadi sudah penasaran. Dia mendesah. "Aku kabur dari rumah." Shock lagi mendengarnya. Adikku juga ada yang masih remaja, kalau Ibu dan Bapak lagi kesal, dia kadang suka pergi dari rumah untuk menenangkan diri. Tapi, kaburnya paling jauh ke kampung sebelaha. Dijemput pakai motor juga sudah sampai. Ternyata, ada yang lebih ekstreme dari adikku. Andre tampak berpikir, sementara aku yang duduk di seberang Bocah m***m hanya diam. "Malam ini, aku izinin kamu istirahat di sini. Tapi, besok kamu harus cari tempat tinggal." Apa! Si Andre mau kasih tumpangan ke dia? Bukan bermaksud negatif thinking, cuma bahaya tidak, sih, Memberi tumpangan ke orang asing? Bukannya kita harus lapor Pak RT dulu? Biar aman. Entah-entah, di balik tampang polosnya, ini anak ternyata seorang teroris. "Loh, Dre, kok malah--" Aduh aku kurang enak mau bilang ini anak mana tahu penjahat atau utusan mafia. Masa main tampung sih. Semalam juga rawan loh. Dia tersenyum. "Makasih." Dia pinter banget ambil kesempatan biar si Andre tidak berubah pikiran. Mau aku karungin rasanya ini anak. Tuh, 'kan. Begitu dikasih tumpangan, langsung senyum menerima. Basa-basi dulu atau apalah, biar tidak kentara memanfaatkan keadaaan. Wah, benar-benar mencurigakan! Andre masuk ke dalam sebentar untuk mengambil selimut dan bantal untuknya. Saat Andre masuk, kesempatan buatku untuk kasih peringatan. Enak saja dia memanfaatkan kebaikan hati Andre. "Aku nggak bisa curiga berlebihan denganmu," sinisku, "tapi awas ya, kalau macem-macem!" Kutajamkan pandangan padanya. Padahal lagi serius, dia malah meledek. "Iya, Tante!" sahutnya. Sembarangan dia memanggil, dasar vangke! "Yasmin! Namaku Yasmin, Bocah m***m! Umurku ini dua puluh dua tahun. Panggil aku Kak Yasmin!" Kesal setengah mati aku dibuatnya. "Oke, Yasmin!" Dia mengedipkan sebelah mata. Sungguh, rasanya mau aku colok matanya itu. Dikira ganteng, main kedap-kedip. Selain m***m, dia bahkan tidak sopan. Memanggil tanpa embel-embel 'Kak'. Ini dalam hati, setan sudah pada menggoda untuk tinju mukanya yang sok imut itu. Harus tahan. Tahan sekuat tenaga. Takut bikin berisik di rumah orang. Istighfar Yasmin ... istighfar. Orang sabar, jodohnya dekat. Kulakukan inhale-exhale, supaya lebih tenang. Terserah apa katanya. Yang jelas, setelah malam ini aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Andre kembali. Sedikit curiga karena wajahku tambah masam. Yah, walaupun hal wajar. Karena memang hari-hari juga, aku kurang manis alias standar. "Pakai ini." Dia memberikan selimut pada Ran. Sebenarnya, aku mau mencegah Andre, supaya tidak memberinya tumpangan. Tapi, waktu lihat muka Bocah m***m, kasihan juga. Dia masih pucat dan kelihatan lemah. Beres, aku pun permisi pulang pada Andre, dan mengingatkannya untuk hati-hati. Tampang Bocah m***m memang manis, tapi kita belum tahu dia aslinya bagaimana. Seperti biasa, Andre selalu menjadi orang yang bersikap tenang dan dewasa. Dia meyakinkan aku, kalau semua akan baik-baik saja. Aku melongokan kepala memantau apakah dia bisa mendengar percakapan kami atau tidak. "Kamu kenapa, Yas," tanya Andre bingung. Aman, aku akan bicara dengannya. "Kamu harus siapin tongkat pemukul, Dre!" "Hah?" Dia tersentak, "buat apa?" Aku mencebik. "Yah, buat jaga-jaga. Kita nggak tau siapa dia. Pokoknya kalau macam-macam, kamu bisa langsung hantam." Andre malah mentertawakan. "Beneran loh, Dre!" Gini-gini, aku khawatir sama dia. "Aku periksa tadi, dia dalam kondisi lemah. Aku rasa dia memang cuma butuh istirahat." Kuhela napas. "Ya udah, deh. Yang jelas, kamu harus bisa jaga diri." Sebentar ... kenapa jadi ada tatapan berbeda dari mata Andre? "Kenapa, Dre?" Dia menggeleng. "Nggak bukan apa-apa." Bilangnya bukan apa-apa, tapi aku masih tidak yakin. "Ya udah, Dre, aku mau pulang." "Mau diantar, nggak?" "Idih lima langkah doang!" seruku sambil melenggang pergi. ** Esok harinya, aku bangun ketika hari masih gelap. Aku selalu yakin, bahwa bangun pagi itu bagus. Bagus buat kesehatan, kecerdasan dan rezeki. Maka dari itu, meski sebenarnya masih mengantuk--lantaran begadang mengurus Ran dan juga kepikiran soal mantan--aku paksakan untuk bangun. Padahal, guling sama bantal posesive, tuh. Maunya akh peluk terus. Lihat dari jendela kamar kos, rumah Andre yang ada di seberang, lampunya sudah menyala--berarti dia sudah bangun. Bocah m***m itu, gimana, ya, dia? Apa dia sudah bangun? Eits! Kenapa aku jadi mikirin dia? Ih! Mending cari kegiatan lain. Hal pertama yang aku lakukan setelah melaksanakan salat subuh, adalah melihat keranjang baju. Pekh! Aku mengumpat. Bajuku itu di dalam keranjang, mereka saling jatuh cinta apa? Masa baru dua hari aku tinggal sudah beranak-pinak! Coba uang juga bisa begitu. Didiamkan dalam dompet, tahu-tahu banyak. Oke. Jadi pagi ini aku mau menyetrika mereka semua. Aku menyiapkan setrikaaan, alasnya dan baju-baju dalam keranjang aku keluarkan semua. Lanjut menggosok baju satu per satu. Saat menyetrika baju ketiga, otakku konslet lagi. Mungkin ini karena efek begadang atau patah hati ditinggal Dandi. Aku malah mikirin si Mahaprana Sultan. Bocah itu, kabur dari Banjarmasin? Apa benar begitu. Dia pergi tanpa tas, tanpa dompet, babak belur pula. Apa dia kena kasus? Atau jangan-jangan, dia malah buronan polisi? Tapi, masa iya dia buronan polisi? Secara wajahnya manis, tidak munafik, deh. Hah! Aku menepuk jidat berulang. Gila! Bisa-bisanya aku berpikir dia manis. Secara itu anak otaknya m***m. Cukup buatku untuk bisa menghapus dia dari ketegori lelaki manis. Perlu ruqyah, nih, jiwa raga. Astaghfirullah! Baiknya kembali fokus menyelesaikan setrikaan yang menumpuk. Baju dan celanaku ini, mereka harus segera 'diceraikan' supaya tidak beranak pinak. Maafkan, kalau aku kejam. *** Pukul tujuh, aku keluar dari kamar kos. Sudah bersih, rapi dan wangi. Mandi pakai air sama sabun, bukan mandi minyak wangi doang, ya. Sama seperti hari-hari biasa, selalu ada ibu-ibu kompleks yang lagi belanja sayuran, menyapaku. "Berangkat, Nak Yas?" sapa Mak Odah padaku. Aku tersenyum. "Iya, Mak," jawabku seraya tetap melangkah. Hidup sebagai anak rantau miskin, memaksaku untuk jadi perempuan super sibuk. Pagi aku pergi kursus menjahit. Aku punya cita-cita bisa jadi desainer terkenal. Kalau bukan gara-gara si Dandi, mungkin sekarang impianku sudah terwujud. Setiap mengingat kebodohan di masa lalu, rasanya aku mau memukul orang. Tapi, siapa yang ikhlas kupukul? Jam sepuluh, aku bekerja di Cafe daerah Mampang. Lokasinya tidak jauh dari kosan. Kebetulan aku kos di daerah Prapatan. Aku bekerja selama sembilan jam sehari, dengan sistem kerja secara shift. Kalau masuk sore, bisa pulang jam sebelas malam. Begitulah. Aku harus kerja keras, demi membiayai tiga orang adik di kampung. Bapakku hanya seorang tukang ojek, Ibu, cuma ibu rumah tangga biasa. Aku tulang punggung keluarga. Harus kerja keras, bantung tulang. Bukan tulang doang, banting hati sama perasaan juga, malah. Tapi, kenapa aku selalu bekerja keras tetep nggak bisa kaya juga? Gimana caranya buat uang betah di dalam dompet? Mereka cepay sekali pindah ke kantung orang. Ke kantung Ibu Kos, admin sekolah adikku, warteg dekat kantor, dan tukang bubur ayam di perempatan. Hiks! Awal-awal masih aman. Lama-lama, kok, berasa diawasin gitu. Mungkinkah ada setan, pagi-pagi gini? Cek sekitar. Demi apa! Bocah itu muncul lagi di hadapan. Sekarang dia malah kelihatan seperti anak hilang. Berdiri seorang diri dengan satu kakinya ditekuk ke belakang--menempel pada tembok rumah Andre. Aku bingung mau bagaimana. Abaikan atau menyapa. Serius deh, aku memang tidak mau lihat dia lagi. Tapi, kasihan juga dia. Cuma kalau ingat mulutnya yang suka ngomong aneh-aneh, jadi sebal. Seandaiya aku belajar jurus ninja, sudah pasti aku tau cara menghilang dengan cepat. Aku mengendap perlahan, seraya memperhatikan si Bocah m***m. Jangan sampai dia tahu ada aku. "Udah bangun?" katanya. Apes! Ketahuan sama itu anak. Spontan aku menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya. "Aku bangun dari pagi buta tadi. Tau!" "Galak amat, Tante!" TANTE? Telinga ini dengar dia manggil 'tante' lagi. Minta dijitak rupanya! Aku berjalan menujunya dengan cepat. "Anak muda." Aku memasang senyum sinis. "Bisa nggak kita akhiri semua ini?" Aku merapatkan kedua tangan memohon padanya. "'Kamu udah aku tolong, dan aku nggak butuh balasan. Sekarang, sebagai gantinya, tolong jangan muncul lagi!" Aku berkata dengan lembut, tapi sambil memelotot. Dia menarik sudut bibir. "Aku nggak punya temen di sini." Ya bodo amat! Aku menarik napas dan mengembuskannya. "Kasihan, tapi aku udah kebanyakan temen. Jadi nggak bisa tambah satu orang lagi." "Tolong, dong, Tante!" Dia mengejek lagi. Aku baru berumur dua puluh dua. Memang iya, sih, dia imut. Tapi, apa aku kelihatan tua di matanya? "Yasmin! Panggil aku Kak Yas!" Aku mendiktenya. "Atau Yasmin aja, deh, sekalian." Dia mengangguk dengan senyumnya yang nakal. Pas dilihat-lihat begini, dia ganteng juga. Jantungku jadi berdetak tidak karuan. "Yasmin, kalau gitu." Baguslah, lebih baik daripada dipanggil tante. Tak memedulikannya lagi, aku berbalik dan menjauh darinya. "Aku nggak punya siapa-siapa di sini." Kata-katanya menghentikan langkahku. "Dan aku nggak tau, mau ke mana," ucapnya perlahan. Aku menoleh lagi ke arahnya. Kuakui, dia menyebalkan, sedikit m***m dan menjengkelkan. Tapi, aku bukan perempuan kejam yang sadis. Melihatnya seperti anak ayam kehilangan induk, jadi tidak tega. Dia mendekat. Sekarang tampang mesumnya sudah hilang, berganti tampang anak hilang. "Aku tau, kamu baik. Buktinya demi nolongin aku, kamu mau bawa aku pulang." Dia maju satu langkah lagi. Menunduk sedikit di depan wajahku. "Ngomong-ngomong, hari ini gak lupa kancing atas, 'kan?" Reseh, memang. Baru saja aku bilang dia berubah, sudah balik m***m lagi. "Jangan bahas itu!" "Oke!" Dia menatapku dengan nakal. "Kalau gitu, tolongin aku lagi, ya?" Aku mendecakkan lidah. "Mau minta tolong apa?" Dia menyeringai. Roman-romannya, ada yang tidak bagus, nih. Pertanda ujian berat bagi perekenomian rakyat jelata. Oh Tuhan, tolong selamatkan dompet hamba ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN