Hujan dan Ran

2220 Kata
Aku sampai di kosan. Hal pertama yang kulakukan adalah mengambil payung untuk mencari Ran. Pergi ke warung yang tadi pagi kami datangi bersama. Dia tidak ada. Belum menyerah, aku cari dia di sekitaran komplek kos-kosanku. Meski malam sudah larut, rintik hujan ramai menyerang, aku tetap berusaha mencarinya. Ran, dia tidak punya uang. Aku lupa memberikan uang padanya tadi pagi. Jangan-jangan dia belum makan. Jadi sedih, karena tadi pagi aku tinggalkan begitu saja. Merasa diri senditi sangat kejam. Semoga masih bisa ketemu sama itu anak. Hachi! Aku mendengar suara orang bersin. Aku mencari sumber suara tersebut. Tingak-tingukmdi antara gerimis, masih belum kelihatan. Jangan bilang yang tadi bersin, pocong yang kena flu. Hoachi! Lagi, kudengar suara orang bersin. Kali ini kuat banget bersinnnya. Kalau ditelisik, sepertinya berasal dari seberang sana. Ya sudah, modal bismillah saja. Semoga Ran, bukan setan. "Ran?" kataku, saat kudapati dia tengah meringkuk di warung klontong yang sudah tutup. Dia melihatku, terus menyeringai. "Kamu ngapain di sini?" "Aku cari kamu!" balasku. "Kamu katanya mau cari kerja, kenapa malah basah-basahan gini?" "Aku nggak tau mau ke mana." Aku mau nangis melihatnya. Kasihan banget, sumpah. Kedinginan sendirian. Dia ini bodoh, atau bagaimana, sih? Kuberikan handuk kecil, yang sengaja kubawa untuknya. "Nanti kalau basah gini, kamu bisa masuk angin." Meski mengomel, sebenarnya aku perhatian. Duh, lama-lama aku merasa jadi seorang ibu yang sudah punya anak ABG. "Makasih," ucapnya sambil bersin, terus sisa ingusnya dilap ke tembok. "Jorok!" pekikku. "Nggak punya tisu, daripada aku leperin ke baju." Aku bergidik. Tapi, dia betul juga. Aku tidak bawa tisyu, dan dia juga tidak punya. Pakai air hujan, dia bersihkan tangan. Sekarang, aku bingung. Ran mau aku ajak ke mana. Kalau ajak ke kosan, yang ada kami digrebek. "Sudah makan belum?" tanyaku. "Makan nasi uduk tadi pagi doang." Tuh 'kan, bikin hati rontok mendengarnya. "Ikut aku!" ajakku. Dia bingung. "Mau ke mana?" "Udah pokoknya ikut aja." Aku serahkan satu payung untuknya, kita pakai masing-masing. Ogah, deh, satu payung berdua. Nanti baper! Malam ini, di antara rintik hujan, aku mengajak Ran untuk mencari makan. Kami mampir di warung tenda yang menjual nasi goreng. Aku menawarkan Ran untuk makan sepuasnya. Sepuasnya, tapi jangan lebih dari dua porsi. Aku sudah bangkrut tadi pagi. "Jadi, seharian ini, kamu ngapain aja?" tanyaku sambil menunggu pesanan dibuat. "Aku keliling, cari kerja atau apa saja yang bisa aku kerjain." "Dapet?" Dia geleng-geleng dengan tampang bodoh. Aku mendesah. "Kamu ini ada masalah apa dengan keluargamu, sampai kabur ke sini." "Biasa, perbedaan pendapat," jawabnya sambil menggosokkan tangan karena dingin. "Pulang sajalah. Lagipula, aku nggak bisa menjagamu terus." Kata-kataku barusan di sambut cengiran nakal dari Ran. Salah omong ini namanya. "Maksudnya, mhh ...." Aku malah kehabisan kata untuk menjelaskan. "Yah gitulah. Kamu nggak baik keliaran begini!" Aku membelalakkan mata supaya dia berhenti cengar-cengir. Ran memasang wajah serius. "Aku bertengkar dengan ayah. Dia mau aku kuliah, padahal aku mau jadi penyanyi." "Gara-gara itu?" Tak habis pikir. Dikira jadi artis gampang. "MMh, ada lagi, sih." Dia kelihatan berpikir. "Aku cuma mau buktiin kalau aku bisa hidup mandiri." Aku mengetuk kepala Ran, supaya dia sadar. "Sakit tau!" rutuknya. "Kamu tau kayak apa susahnya bertahan hidup, huh?" Kutinggikan nada bicara. "Cari makan, cari tempat tinggal, cari uang?" "Ayahku dulunya cuma seorang sopir." "Karena itu!" Gemasnya aku dengan bocah ini. "Ayahmu sudah mengalami masa pahit dalam hidupnya. Dia mau kamu melanjutkan sekolah, biar kamu agak berguna dikit." "Dia udah enak dengan hidupnya, jadi biarin anaknya pilih sendiri jalannya!" Ran mendebatku. Dasar bocah! Baiklah, aku mengalah. Bisa mati berdiri kalau meladeninya. Kebetulan nasi goreng pesanannya sudah selesai dibuat. Aku biarkan dia makan dulu. "Kalau gitu, anak yang mandiri," ejekku, "gimana kamu mau mulai hidup besok?" "Apa, ya?" Dia malah bingung. Tengil! Tadi gayanya seolah dia tahu bagaimana cara hidup seribu tahun lagi. Padahal, untuk besok saja dia bingung. Mimpi apa aku, ketemu mahluk model Ran. "Pertama, kamu harus cari tempat tinggal!" tukasku. Dia yang sibuk makan hanya menjawabku dengan acungan jempol, tanda setuju. "Untuk modal hidup ke depan, selain berlianmu ...." Aku bicara dengan nada menyindir. "Apa lagi yang bisa dijual?" "Aku nggak jual berlianku, aku titip." Dia menunjuk tepat di hidungku. Tidak sopan. Yeah, memang tidak dijual. Berlian khayalan siapa yang mau beli. Aku melirik lagi apa yang ada di tubuh Ran. Kebetulan saat jaket hoodie-nya tersingkap, kelihatan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Gimana kalau jual jam tanganmu." Sekarang gantian aku yang menaik-turunkan alis berulang. Dia beringsut mundur, sambil menutup lagi jaketnya yang tersingkap. "Jangan macem-macem!" Kelihatannya dia takut. Sukurin! Biar tahu rasa, alu takut-takuti. "Aku membeli Richard Mile ini hampir satu juta dolar, tau!" Hah! Bocah ini menghayal lagi. Anak sopir, jamnya tembus belasan miliar. Ya Allah, mabuk apa dia, sampai jadi begini? Habis ngegas, dia lanjut makan. Tidak tahu malu. "Baiklah, Anak Konglomerat!" Aku menegaskan suara. Kumajukan kursi supaya lebih dekat dengannya. MMh, berdeham dulu. "Bukan mau membungakan uang. Tapi kalau kamu beneran kaya, gimana kalau semua uang yang aku pinjemin hari ini, suatu saat kamu bayar dengan menambahkan satu 'nol' di belakangnya." Ran tersenyum smirk. "Aku berani tambahin tiga nol, di belakang." Wah! Beneran menantang. "Kalau kamu pinjam satu juta, artinya kamu balikin satu milyar. Bisa ngitung, nggak, sih!" "Apa susahnya?" Dua alis Ran terangkat naik. "Pendapatan keluargaku tembus enam ratus miliyar setahun." Aku meremat tangan. Gemas rasanya dengan bocah m***m tukang hayal ini, ingin kuketuk kepalanya biar sadar. Halusinasi level tinggi. Serius, tadinya aku tidak mau begini. Membungakan uang itu dosa--riba. Tapi, karena dia menantang aku akan meladeninya. Janji, bila masanya tiba dia bayar utang aku tak akan tagih lebih dari yang kupinjamkan. Ini cuma gertakan. "Baik!" kataku menyambut tantangannya. "Tiga 'nol' di belakang!" Usai perdebatan kecil di antara kami, aku membiarkan Ran untuk menghabiskan makan malamnya. Untuk tidur, aku menyuruhnya menumpang dulu satu malam di mushola. Yah walaupun, takut juga. Takut dia di usir sama marbot. Aku meminjamkannya selimut, dan sebuah boneka yang bisa digunakan untuk bantal. Sepertinya besok aku harus cuti, sebab banyak hal yang harus kuerjakan bersama Ran. "Sementara tidur sini dulu, ya," kataku sebelum beranjak pergi. Tampangnya tidak iklas aku suruh tidur di mushola. "Semalam aja, besok aku cariin kos untuk kamu." "Kalau dimarahin gimana?" Aduh, ini juga yang dari tadi jadi beban pikiranku. "Seandainya ada yang tanya, bilang aja kamu cuma perlu satu malam. Bilanhnya baik-baik, jangan pakai gaya sultan! Kuperingatkan dia. "Ah, iya!" Malas-malas dia menjawab. "Ya udah, aku pulang. Selamat tidur." Kutinggalkan dia. *** Aku bersama Ran mencari tempat kos, pagi hari. Sebelumnya aku sudah mencari via internet. Kami menemukan beberapa tempat. Dan setelah melakukan survey, pilihan kami jatuh pada kos Merak. Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat kos-ku. Ran masih bisa mengunjungi kalau dia kepepet. Yah, tapi bukan untuk sering-sering, karena aku juga butuh biaya hidup. Ini saja, aku sudah habis tujuh ratus ribu untuk menalangi uang kosnya selama dua minggu. Hiks. Sekarang, aku lagi bantuin dia membereskan kamar kos. Tidak banyak yang harus dibersihkan, cuma perlu disapu sama rapihkan sedikit tata letak di kamar kosnya. Sepuluh menit juga beres. Ponselku bunyi saat Ran sibuk menyapu. Aku melipir sebentar, cari tempat aman buat ngobrol. Eh, asal pada tahu saja, aku tidak berduaan dengannya. Nenek bilang itu berbahaya! Nanti yang ketiga setan. Aku duduk di teras luar rumah Ibu Kos, terus cuma bantu dia pakai doa. Cek panggilan masuk, dari siapa. Demi apa ini, Andre menelepon? Sejak peristiwa kemarin malam, aku sekarang jadi salah tingkah kalau ada Andre. Padahal dulu, biasa saja dengannya. Agak berdebar-debar, kugeser ke atas tombol hijau di layar ponsel. "Ada apa, Dre?" tanyaku langsung saat menjawab telepon darinya. "Aku mampir ke Kafe, tapi kamu nggak ada, di kosan juga nggak ada, kamu ke mana?" Jawab jujur atau cari alasan lain, ya? "Kamu sakit, Yas?" Meleleh gini, dapat perhatian dari Andre. Tiba-tiba saja .... "Yas!" Ran memanggil. Kurang ajar memang. Memanggil orang yang lebih tua, tanpa embel-embel 'Kak'. "Kamu dengan cowok?" Andre menanyaiku, kedengarannya dia kecewa. "Bukan!" sergahku. Sudah tahu aku masih menelepon, Ran terus saja memanggil. "Dia manggil kamu terus." Andre kembali berujar, "itu siapa?" "Itu, bukan siapa-siapa. Percaya, deh, aku nggak punya pacar dan nggak mau pacaran, begitulah ...." Aku mendengar Andre menghela napas. "Termasuk denganku?" Oh iya, aku lupa Andre kemarin sempat menyatakan perasaannya. Bukan maksud hati untuk menolak Andre, tapi aku merasa niatku salah padanya. Aku memang tidak mau menjalani pacaran, lagi tidak tertarik dengan hal itu. Jalan berdua, bergandengan tangan, nonton, bagiku itu buang-buang waktu. Rugi, memberikan izin pada laki-laki sembarangan untuk menyentuh badanku semaunya. Walaupun cuma tangan, hehe. Aku mau menjalani hubungan serius, untuk ke jenjang pernikahan. Masalahnya, aku punya niat yang tidak benar. Aku mau dapat suami kaya raya dan tajir melintir biar bisa balas dendam sama mantanku. Masalahnya, Andre begitu baik denganku. Aku menyayanginya sebagai teman, dan mungkin lebih. Tidak mungkin aku menyakiti hatinya. "Woi! Dipanggilin daritadi juga!" Ran--si bocah halu--malah muncul di saat percakapan aku dengan Andre lagi masuk babak serius dan drama. Hiih, minta dijitak rupanya. Aku memelotot pada Ran, dan menghalaunya. Eh, dia malah berdiri di situ saja. Semprul! Kalau gini, aku yang pindah! Lanjut ngobrol lagi dengan Andre. "Umh, kamu baik, Dre ...," kataku hati-hati. "Aku merasa nggak pantes untuk kamu. Lagian, mending kamu cari cewek lain aja. Yang lebih baik dari aku." "Yas, kita harus ketemu nanti malam," pinta Andre. Aku berpikir sejenak. "Yas!" Andre memanggilku lagi, "kita bisa obrolin ini, 'kan?" Suaranya seolah mengharap padaku. Kalau Andre tahu, bagaimana sebenarnya, apa dia masih mau sebaik ini denganku? Jangan sampai, deh, aku kehilangan Andre. "Ya, boleh," jawabku. "Aku tunggu kamu di taman." "Aku ke sana jam delapan." Andre menyudahi panggilan. Selesai. Waktunya untuk memarahi si Bocah Halu! Beraninya dia ganggu dua insan yang sedang drama. Usut punya usut, dia memanggil karena bingung bagaimana caranya mengepel lantai. Anak TK juga tahu kalau soal itu. Tinggal celup kain pel ke air, terus gosokin ke lantai. Susahnya di mana, coba? Ya, ampun! Aku emosi parah. Sudah tidak bisa ditahan lagi. "Pacar, ya?" tanyanya saat aku marah dengannya. "Aku nggak pacaran, Bocah!" tandasku. "Nggak laku, dong?" Dia meledek. "Anak ini!" Ambil sapu lidi yang tergeletak di bawah, aku sabetkan langsung ke dia, biar keluar itu setan usilnya. "Sakit tau!" Dia coba menghindar. "Biar! Biar kamu jadi bocah yang sopan sedikit." "Ampun!" Dia memohon padaku, tapi tak kulepaskan. Sebelum puas menghajarnya aku tidak akan diam. *** Kami pergi ke Tanah Abang untuk mencari kaos murah. Susah juga cari baju untuk Ran. Dia itu tinggi, dengan bahu bidang, tubuhnya tidak gemuk, tidak juga kurus. Bisa dibilang, proporsional banget. Yang bikin susah, bukan karena ukurannya, tapi bocah ini banyak maunya. Ampun! "Kok kamu mau bantu aku?" tanya Ran saat kami berada di lapak penjual kaos oblong. "Coba yang ini." Aku menyodorkan satu baju berwarna merah untuknya. Ran mengukur di badannya. "Ok, pas!" Langsung saja kubungkus sebelum dia berubah pikiran. Kubelikan satu lagi yang warna hitam, juga satu celana pendek, supaya dia punya ganti. "Kamu belum jawab pertanyaanku tadi," lanjut Ran saat aku menyerahkan baju yang baru kubeli untuknya. "Karena kamu anak yang aneh!" Aku melangkah, mendahuluinya. "Kalau aneh, kenapa ditolong?" "Terus maunya? Aku tinggal gitu, ya udah!" Aku gertak dia. Dia maju beberapa langkah dan memamerkan giginya. "Heee. Nggak gitu juga, sih. Kalau kamu tinggal, aku nggak punya siapa-siapa di sini." Aku tertawa. Ran lucu juga ternyata, dan saat begini dia kelihatan imut banget. "Aku punya adik di kampung, masih kelas tiga SMK. Lihat kamu, aku jadi inget adikku itu. Tapi adikku waras, nggak kayak kamu." Ran mengangguk. "Gitu." Agaknya, dia menyadari kalau dia nggak waras. "Aku cuma bayangin, kalau adikku yang begini, nggak ada orang yang mau nolong-" Aku menarik napas sejenak. "Maka dari itu, aku mau tolong kamu." Ran yang berada di sampingku mengangguk lagi. "Nanti aku ganti uang yang kamu pinjemin." Aku tersenyum simpul. Kalau dia lagi waras begini, aku justru enggan perhitungan dengannya. "Yah, kamu ganti kalau memang uangnya udah ada." Aku memikirkan lagi tentang ke depan. Tidak mungkin kalau aku terus bantu Ran. Dia harus punya penghasilan, tapi mau kerja apa, ya, dia? "Untuk selanjutnya, gimana?" tanyaku Dia menggaruk kepala. "Kerja apa, ya?" "Keahlianmu apa?" "Apa, ya?" Dia malah balik tanya. Aku mengetuk dagu. "Atau gini aja, kamu mau kerja apa gitu, supaya punya uang?" "Aku mau kerja apa aja, toh dulu ayahku juga awalnya cuma sopir." Aku sedang berpikir, kalau dia jadi sopir dia harus buat SIM, sedangkan dompetnya hilang. Apa ya, pekerjaan yang pas buatnya? Selagi sibuk mikir, ada anak remaja tanggung yang memungut botol bekas dan memasukkannya ke dalam karung. Jadi ada ide. Tapi, Ran mana mungkin mau melakukannya? Secara kerjaanya menghayal setiap hari. "Apa kamu mulung aja?" tanyaku setengah bergurau padanya. "Boleh!" jawabnya dengan sergap. "Itu cuma ambil botol bekas, 'kan? Nggak pakai modal." "Modal karung!" kataku sambil terkekeh. Potongan dia, mau kerja mulung! "Oohh!" Mulutnya membentuk bulatan. "Berarti aku harus cari karung. Kalau gitu, besok aku mau mulung." Yah, malah senang aku suruh mulung. Padahal cuma iseng. "Kamu nggak serius, 'kan?" tanyaku lagi. "Serius," jawabnya tanpa keraguan. "Aku mau usaha, cari uang supaya aku bisa ganti uang kamu." "Tapi ... tapi-" Aku malah jadi bingung. "Buruan kita pulang, supaya aku bisa istirahat di kosan, habis itu aku mau siap-siap mulung." Ran berjalan mendahuluiku. Dia menyampirkan kantung belanja di pundak sebelah kiri dan bersiul dengan riang. Yah, beneran mulung deh itu anak. Dosa tidak, ya, aku ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN