AKU menunggu jagung bakar pesanan dibakar sama ibu penjualnya. Kupesan rasa pedas dengan bumbu kacang-- favoritku.
Aku pergi sendiri, tanpa Ran.
Sudah kuperingatkan dia, supaya jangan mengikuti. Bukan aku takut Andre salah sangka, tapi aku kadang tidak tahan dengan kelakuannya.
Bayangkan, kalau aku lagi ngobrol serius dengan Andre, tiba-tiba dia muncul mengoceh ini-itu. Bisa kacau drama percintaanku.
Jagung bakar sudah berasap-asap, aromanya juga menyeruah menusuk hidung. Hirup ... nikmati.
Tapi, ketenanganku tidak berlangsung lama, buyar seketika waktu aku sadar ada yang menguntit.
Menoleh ke belakang, ada cowok berkaos merah sedang memunggungi.
Benar-benar, deh, bocah satu itu. Dia kira aku tidak tahu, apa! Cuma orang b**o yang tidak bisa menebak siapa.
Siapa lagi kalau bukan Ran-si bocah halu dan m***m yang pedenya kebangetan.
Untuk apa coba dia ikutin aku sampai ke sini?
Hapal banget dengan bajunya. 'Kan, yang membelikan tadi siang, aku.
Awas, ya, aku tangkap basah dia!
Permisi sebentar dengan ibu penjual jagung, aku mau menyergap Ran. Sumpah, ya, aku kesal. Ini sudah jam setengah delapan malam, sebentar lagi Andre datang , jangan sampai si Bocah Halu mengganggu kami.
Aku beringsut mundur, sambil tetap mengawasinya. Secepat mungkin pindah posisi supaya bisa 'memberi kejutan' padanya.
Saat aku sudah tak di tempat semula, dia menoleh. Tidak perlu ragu lagi, memang itu Ran.
Dia beranjak dari tempatnya dan mendatangi tempatku yang tadi. Sepertinya, dia bingung, sebab aku sembunyi di balik pohon besar.
Saat waktunya pas, aku segera mengendap untuk mendatanginya.
"Cari siapa?" Aku mengeluarkan suara yang berat.
Hah! Dia terperanjat melihatku, setelah itu dia jadi gelagapan.
"Nggak cari siapa-siapa?" bantahnya.
Jelas saja aku tidak percaya, dia pasti mau ganggu.
"Kamu ini, ya, nggak bisa sehari aja nggak ganggu aku!"
Bibirnya manyun saat aku memarahinya.
"Kamu nggak ada capeknya, buat aku marah-marah terus!"
"Sabar-"
"Sabar! Sabar!" Aku makin nyolot. Mana bisa sabar kalau hamoir satu hari penuh, dia ganggu. Lama-lama aku deportasi ke kalimantan ini anak.
Ran menunduk, matanya mengerling padaku dengan sedikit rasa takut. "Jangan marah-mara terus, dong."
"Gimana aku ngga maraaaah." Huh, saking kesalnya, jemari sendiri sampai mau patah aku remat-remat. "Aku udah bilang, malam ini aku mau ketemu sama Andre. Minta tolong satu hari ini aja, kamu nggak ganggu. Susah, ya?"
Dia memasang wajah kecut. "Maaf, deh."
Omong-omong, dia ikutinaku pakai apa, coba?
"Ke sini naik apa?" tanyaku ketus.
"Nebeng motor Bapak Kos, hee." Cengirannya membuat emosi naik turun.
"Nggak malu, belum dua puluh empat jam ngekos, udah nebeng."
"Dia searah, ya udah ikut nebeng aja. Lagian, kalau modal malu terus, bisa mati kelaparan. Aku kasih tau, ya." Dia berkacak pinggang. "Jadi orang harus percaya diri, berstrategi dan bisa melihat peluang."
Pantas, aku merasa dia manfaatin aku. Rupanya, begitu cara otak dia bekerja. Terkutus sekali mahluk satu ini.
"Oh!" Aku manggut-manggut. "Jadi, kamu manfaati aku? Bagus bener prinsip hidup kamu!"
"Eh, bukan gitu!" Sekarang malah garuk-garuk kepala.
"Ah, udah!" Malas aku berbasa-basi dengannya. "Sekarang jujur aja, ngapain kamu ke sini?"
"Aku ...." Dia terbata.
"Apa!" bentakku.
"Llla-per," ucapnya malu-malu, seraya memegangi perut.
Aku menggeram. Tampang ganteng, tidak tahu malunya kebangetan. Iyuh!
"Ibu kos nggak kasih makan, tah?"
"Mana mungkin dia kasih aku makan, kenal juga nggak."
Aku kcak pinggang pelototi dia. Kira-kira dong dia, sama ibu kos bisa berpikir ke situ, sama aku malah lancar jaya morotin.
"Tuh, sadara kamu nggak kenal sama dia. Tau malu mau minta."
"Terus kenapa?"
Halah, otaknya sok polos. "Ya, kenapa sama aku ngga tau malu!"
"'Kan, kita udah saling kenal."
"Kapan?"
"Mala itu. Aku sebutin namaku dan kamu sebutin nama kamu. Berarti, kita udah saling kenal."
Aku tertawa getir. "Yang itu bukan disebut saling kenal, Bocah!"
"Oh, berarti aku perlu mengenal kamu lebih dalam?"
"Ya iyalah!" Eh, anu apa! Otakku nge-lag kalau ngobrol sama dia. Berasa diputar-putar, sampai malah kejebak sendiri.
"Diem deh!" Jalan pamungkas aku marahin dia.
'Kan, mulai tampang sok imutnya keluar. Bikin aku jadi agak bersalah habis galak ke dia.
Ya sudah, kebetulan masih ada uang sedikit. "Aku beliin jagung bakar, habis itu kamu pergi ya!" Aku menunjuknya.
Dia tersenyum lebar. "Janji," katanya sambil mengangkat dua jari ke atas. Janjnya sudah pasti janji palsu.
Potongan dia rela tidak ganggu aku.
Demi 'mengusir' Ran, aku memesankannya jagung bakar juga.
Kami duduk bersampingan, sambil menunggu jagung selesai dibakar.
"Mentang-mentang mau janjian, diikutin bentar aja ngambek!" rutuk Ran padaku.
"Bocah!" ujarku gemas, "ada hal penting yang mau aku obrolin. Tau!"
Dia mengerling ke sekitar. "Mau ngobrol penting, kok, di sini? Nggak elit," ejeknya.
"Aku nggak mau Andre keluar uang lagi untuk mentraktirku. Kalau mau ke kafe atau restoran, aku nggak ada uang buat bayarnya. Memangnya kamu nggak mikir, uangku habis ke mana?"
Dia menyeringai. "Maaf, deh."
Hmh, baru sadar dia.
"Jangan melotot gitu, dong!" rengek Ran, saat mataku membulat besar memandangnya.
"Nih, aku kasih tahu," katanya lagi saat aku cuma mengerucutkan bibir. "Nolongin aku itu, nggak bakal rugi. Suatu saat kamu pasti dapat balasan."
Hakh! Ya iya itu benar. Ini sama saja sedekah. Namanya orang bebrbuat baik ya, suatu saat dapat balasan kebaikan juga.
Ini sih, tahu!
Masalahnya, yang bikin aku jengkel, kenapa dia ganggu hidupku terus. Dia mirip permen karet yang keinjak di sandal. Nempel terus ke mana-mana.
"Siapa yang nggak kesel. Kamu nggak nyadar apa kalau bikin aku jengkel?"
Ran bertaut alisnya. "Aku nggak apa-apain kamu. Kmaunya aja yang marah terus."
"Entah deh, pokoknya aku empet lihat kelakuan kamu."
"Tuh, berarti bukan salah aku."
"Kamu, ya, tau aku udah banyak berkorban untukmu, tolonglah jadi anak penurut. Minimal, nggak bikin aku marah-marah terus."
"Aku nggak apa-apain, kamu yang marah terus." Masih kukuh dia membela diri.
Hela napas, sabarkan hati. "Coba, ya, kamu bayangin ada di posisi aku, bakalan gimana?"
Dia menopang tubuh dengan dua tangan ke belakang. "Biasa aja," jawabnya santai. Memang kalau mahluk tidak punya prikemanusiaan, yah begini.
Sudahlah, aku harus abaikan dia.
Jagung kami matang.
"Nih makan jagungnya!" Aku memberikan pada Ran.
Si Bodoh itu langsung menggigitnya padahal baru diangkat dari bara api, jelas saja terasa panas.
SShh! Aku mendengar Ran mendesis seraya mengipas mulutnya yang kepanasan.
"Panas ... panas ...," ringkiknya.
Aku tertawa geli melihatnya, bahkan sampai memegangi perut karena saking begonya dia.
"Jelas aja panas, itu baru mateng. Bocah b**o!" tukasku
Dia masih sibuk mengipas mulutnya yang kepanasan. "Aah, panas banget. Kebakar lidahku ini."
"Makanya, kualat kamu!" Aku masih cekikian.
"Ah, parah, sssh!" Dia mengibas mulut. "Lagi kena musibah, tolongin, jangan ketawain."
Hhmh! Giliran urusan dia, pintar banget omongannya.
"Iya, deh." Kuberikan air mineral dingin milikku. Kebetulan belum diminum, jadi masih steril untuknya. Lumayan bisa menetralkan bibirnya yang terbakar.
Ran langsung menyambar air mineral yang kuberikan dan meneguknya.
Aku melihat Ran ....
Di bawah sinar rembulan, kulit putihnya semakin bersinar. Pantulan cahaya dari bara api juga membuatnya semakin memesona.
Melihatnya saat minum ... setiap tetesan air yang ia teguk, gerakan jakunnya, semuanya tampak indah.
Waktu seolah terhenti, aku merasa seperti terhipnotis untuk terus memperhatikannya.
Ran mengelap mulut dengan tangan, usai minum.
Kok, berasa nonton film Matrix, semuanya jadi slow motion gitu. Saat matanya mengerling padaku diiringi senyuman, rasanya ada sesuatu yang menembus d**a.
Memang dia seganteng itu, ya?
Kalau bisa divisualkan, seolah-olah ada pancaran cahaya gitu.
Apa, Ran adalah JOHAN alias jodoh titipan Tuhan?
Tapi kok, berondong bingit, mana tukang halu, lagi! Masa iya, aku berjodoh sama cowok model begini?
"Nih minumannya!" Ran mengembalikan air mineral tadi, padaku.
"Heh!" Dia mengguncangkan botol di hadapanku.
Aku baru sadar kalau tadi aku bengong melihatnya.
"Jorok!"
"'Kan, cuma minum dikit."
Aku bergidik. "Nanti aku beli lagi aja."
Dia mengangguk. "Ya udah, aku minum lagi berarti."
"Jangan!" Aku melarangnya. Jangan sampai pikiran tadi terulang lagi. Agaknya ini efek keseringan ketemu Ran, perasaanku jadi tidak karuan. Apalagi dia memang ganteng, sejak awal kuakui. Tapi, dia masih muda banget dan juga bocah yang penuh kehaluan.
Ya, Allah, hamba tidak mau naksir dia. Hiks.
Alis Ran bertaut. "Kenapa?"
Nghh ... aku menggaruk kepala. Tidak mungkin aku ceritakan yang ada dalam pikiranku.
"Yah nggak boleh, lah!" Terpaksa menjawab asal.
Ran tambah bingung dengan sikapku barusan.
"Apa sih, nggak jelas."
"Pokoknya nggak boleh. Titik!" tandasku.
Meski Ran menuduh aku bersikap tidak jelas, tetap tidak mau katakan yang sebenarnya. Bisa-bisa, makin besar kepala dia.
"Dih! Cewek memang suka nggak jelas." Dia bergidik.
Ini anak, minta dilelepin ke kolam buaya rupanya, bikin emosi terus.
"Aku ambil lagi, nih, jagungnya!" Tanganku sudah bersiap merebut jagung Ran.
"Eeeh, jangan!" Dia menghindar. "Udah dikasih, nggak boleh diambil lagi." Buru-buru itu jagung ditarik ke belakang biar jangan aku pinta lagi.
"Makanya, cepetan makan. Jangan banyak omong!"
"Iya!" Dia grogoti jagungnya dengan cepat.
Sesaat kemudian, Andre menelepon.
Aku menyuruh Ran diam sebelum menjawab panggilannya.
"Iya, Dre," kataku.
"Aku di parkiran, kamu di mana?"
"Aku di tempat biasa. Nih, lagi makan jagung."
"Kalau gitu, aku ke sana."
Begitu sambungan telepon terputus aku segera meminta Ran pergi.
"Apaan, sih!" Dia bukannya bangun malah sibuk mengunyah jagung. Pake dilambat-lambatin segala. Ya, Rabb ... betapa dia menguji iman hamba.
"Nanti ada Andre, cepet pergi!" kataku.
"Iya ... iya ...." Dia mengangkat bokongnya dengan malas.
"Cepet!" Aku menghentakkan kaki ke tanah berkali-kali. Sumpah ini anak bikin gemes. Pingin banget aku sepak bokongnya itu. Untung dia segera bangun. Kalau belum, aku sepak beneran!
Aku memperhatikan Ran, syukurlah kali ini dia menjauh.
"Yasmin!" Andre memanggil.
Tentu saja aku terkejut. Aneh, rasanya seperti aku ini lagi selingkuh. Padahal, baik antara aku dengan Andre maupun Ran tidak ada hubungan apa-apa.
"Hei!" Aku kikuk menjawab sapaanya.
"Lagi lihatin siapa?" Andre ikut melihat ke arah yang sama denganku.
Aku tersenyum kaku. "Bukan siapa-siapa."
Tak ada kata yang keluar dari mulut Andre. Namun, sorot matanya menunjukkan kalau dia masih ragu dengan jawabanku. Sebaiknya, aku langsung mengajak Andre duduk.
Hanya beralaskan rumput dan beratap langit, kami memulai pembicaraan.
"Mau jagung, nggak?" tanyaku, mencairkan suasana.
Andre tersenyum tipis, seraya menggeleng. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah bungkusan yang berisi kotak bekal. Ketika Andre membukanya, aku bisa melihat kalau itu isinya salad sayur.
Bagiku itu tidak menggiurkan, maaf.
Andre menyerahkan makanan tersebut padaku.
"Apa ini?" tanyaku
"Makanan yang lebih sehat."
Aku mengembangkan senyuman. "Aku tau. Maksudnya, kenapa dikasih ke aku?"
Bukan hanya memberikan makanan, Andre juga dengan senang hati membersihkan tasku yang ketumpahan saus kacang.
"Jangan sering-sering, makan makanan yang dibakar," katanya dengan lembut, "gosong yang ada di makanan bisa memicu kanker. Makanlah makanan yang sehat."
Baper dah, hati ini. Andre buat hatiku luluh dengan kebaikan hatinya.
"Makasih." Hanya itu yang bisa kukatakan.
Andre tersenyum.
"Sebenarnya, aku mau mengajakmu makan malam di restoran."
"Jangan!" Aku menolak.
"Kenapa?"
"Karena aku nggak mau kamu buang-buang uang lagi. Apalagi cuma buat traktir aku. Di sini saja udah cukup, gak perlu tempat mewah."
Andre mengangguk perlahan. "Apa pun, sesuai yang kamu mau."
Kami sempat merasa canggung, dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya lebih dulu pada Andre.
"Katanya ada yang mau diobrolin. Apa?"
Andre melihatku sekilas. Tidak tahu, deh, bahasa apa yang bisa aku gunakan. Pria berkulit hitam manis dan berwajah calm yang selalu bisa membuatku merasa nyaman.
Apalagi bibirnya yang tipis dan melengkung ke atas, aku rasa, itu adalah bagian terbaik di wajahnya.
"Aku cuma mau bilang, meski kamu menolakku, kita tetap berteman." Tatapannya sangat meneduhkan jiwa.
Aku tertegun. "Maksudnya?"
"Aku tau." Dia tersenyum lebar. "Perempuan suka gunakan alasan yang kamu sebut tadi untuk menolak pria."
Duh, aku merasa bersalah soal pikiran Andre. Jadi, dia anggap, semua yang aku bilang tadi siang adalah alasan untuk menolaknya
"Aku terlalu baik, itu artinya aku sama sekali nggak baik. Ya, 'kan?"
"Sama sekali bukan itu maksudnya."
"Nggak apa-apa, asal kamu masih mau berteman denganku. Itu sudah cukup."
Semua yang dikatakan Andre, membuatku semakin yakin untuk menjauh darinya. Seperti yang kupikirkan sebelumnya, dia sangat baik.
Andre dari dulu tidak pernah membual. Dia mirip dengan selogan terkenal yang sering kudengar di TV, 'Memberi bukti, bukan janji'.
Andai Andre tahu, aku merasa sangat berbunga-bunga diperlakukan seistimewa ini dengannya. Entah di mana lagi aku menemukan cinta, seperti Andre mencintaiku.
"Jangan menghindar dariku, Yas ...." Kata-kata Andre barusan membuat hatiku semakin teriris.
"Ummh." Aku akhirnya bersuara. "Aku bilang begitu, bukan karena kamu gak baik. Kenyataanya memang kamu baik banget. Tapi-" Aku kembali kehabisan kata-kata. Otakku mau meledak dengan pikiran yang berjibaku, antara jujur atau tidak pada Andre.
"Jangan dijadikan beban, bersikaplah seperti biasanya. Jadi Yasmin yang cerewet, yang selalu meminta bantuanku."
Aku tertawa kecil.
"Kamu harus tau, Dre. Aku nggak bisa kehilanganmu, mmh ... maksudnya, aku nggak mau kelak kamu benci aku."
Andre bingung.
Aku coba menjelaskan apa yang ada di pikiranku. Tentang hasratku untuk mendapatkan lelaki kaya raya, tentang penghianatan Dandi, tentang semua kesalahan yang aku buat di masa lalu. Semuanya.
"Begitulah, Dre. Aku merasa aku memang tidak baik untukmu. Di luar sana, ada banyak perempuan yang mengharap cintamu. Mereka tulus, sedangkan aku-" Aku menahan diri supaya jangan ada airmata yang keluar. "Kamu paham, 'kan?"
Andre terdiam mendengar penjelasanku. Mungkin dia marah atau kecewa denganku. Tidak apa, lebih baik dia tahu sekarang. Daripada nanti aku menyakiti hatinya.
"Jadi, kamu menginginkan lelaki kaya raya?" tanya Andre dengan kedua alis terangkat.
Aku tahu, Andre pasti berpikir aku perempuan materialistis. Kejujuran memang kadang pahit. Tapi, demi orang yang kusayang, lebih baik menelan rasa pahitnya yang hanya sementara daripada melukai untuk selamanya.
"Yasmin!" Andre memanggil namaku.
Aku tak menyahut, hanya berani melihatnya sekilas, lalu kembali melihat rerumputan.
"Apa, kalau aku bisa menjadi pria mapan dan kaya, kamu mau sama aku?"
Aku tersentak dengan pertanyaan Andre barusan. Apa aku salah menyampaikan, sampai Andre menanggapinya begini.
"Aku-"
"Kamu nggak perlu menjawabnya." Kelihatanya Andre bisa membaca pikiranku.
Andre menghela napas sejenak, sebelum dia melanjutkan bicara. "Denger, Yas. Aku menyukaimu, mencintaimu dengan segala kekuranganmu. Aku akan berusaha, Yas, supaya aku bisa mapan. Aku akan bekerja keras. Dengan begitu suatu saat aku bisa datang lagi padamu."
Andre menarik sudut di bibirnya, dia meyakinkan aku untuk mempercayainya.
"Aku akan mewujudkan apa yang kamu impikan, Yas."
"Tapi, bukan maksudku untuk memintamu, ngghh ...." Malah jadi bingung.
"Lelaki yang mencintai perempuan, akan berjuang untuk membuktikan cintanya, Yas. Aku nggak bisa merayumu, tapi aku bisa berusaha supaya impianmu terwujud."
Aku menelan saliva dengan sangat berat. Tidak tahu, deh mau berkata apa.
Apa, ini jawaban atas doaku yang telah dicampakan Dandi?