Penguntit Manis

1838 Kata
Pagi harinya--sektar jam setengah enam--aku keluar dari kamar kos. Menguap lebar sambil renggangkan tangan ke atas. Ah, nikmatnya hidup. Kebetulan satu bulan belakangan ini, dari tiga kamar yang ada, hanya aku yang menghuni. Jadilah, aku sering sendiri kalau di kosan. Sebenarnya, kamar paling ujung ada penghuni. Cuma, dia masih pulang kampung, belum kembali lagi. Sebelum apa-apa, pagi hari anak gadis yah, beres-beres. Biar tidak bosan setel musik. Luwesin sedikit badan, menyapu rumah pakai dance ala Lisa Blackpink. Uwu banget, dah. Sekalian olahraga. Selesai merapikan kamar, aku mau buang sampah. Pas buka pintu, tercium aroma mengerikan. Beneran, hdungku sudah macam paranormal terkenal itu, yang bisa cium aroma kedatangan mahluk tidak diundang. Bedanya, hidungku cuma tajam dengan Ran. Aku mengawasi sekitar. Baru juga seperempat yang diawasi, sudah kelihatan batang hidungnya. "Ngapain?" ketusku. Ran hanya cengengesan di depan, seraya menempelkan kepala di pagar. Huh, ada saja yang bikin rusak mood. Meski begitu, tidak mungkin aku usir. Nanti kalau tetangga lihat, bisa dibilang sadis. Terus kalau gosip tersebar ke mana-mana, bahaya. Bisa tidak dapat jodoh aku. Oh, no! "Pagi-pagi, udah gangguin orang," kataku lagi saat berada di depannya. Aku perhatikan, dia bawa karung dan di dalamnya sudah ada beberapa botol air mineral kosong. Jangan bilang, dia beneran mulung! "Kok, bawa karung?" Pura-pura polos tanyanya. Padahal, sudah jelas kemarin aku yang suruh dia memulung. "Mau mulung," jawabnya. "Ya udah sana."  Berani yakin, dia tidak akan sungguhsungguh mau melakukannya. Masih bengong saja. "Nanti kalau udah siang panas tau!" tambahku. Dia memasang senyum lebar. "Aku nggak tau jalan, hee." Tampang bodohnya keluar. "Jadi?" Dua alisku menyatu. "Aku cuma bisa rute dari kosanku, ke kosanmu." Seumur hidup, aku baru menemukan orang sebego Ran. Aku membuka pintu pagar dan keluar. Supaya lebih enak ngobrolnya. "Jangan mulung deh! Lagian kemaren itu cuma bercanda aja, kok." Ran memandangi karungnya. "Yah, nggak apa-apa, bercanda atau serius, aku mau mulung. Soalnya cuma ini yang bisa aku kerjain." Aku menarik karung yang dibawa Ran, dan memasukannya ke bak sampah. "Nanti aku cariin kerjaan lain." Ran mengangguk. "Aku bisa nyetir, bisa bahasa inggris juga, bisa komputer, bisa-" "Ijazah? Sertifikat?" Aku memotong perkataan Ran. Dia menggaruk kepala. "Ada di Banjarmasin." Aku mencebik. Kalau dia mau pulang bhat ambil, yah sialakan sana. Masalahnya, uang untuk naik pesawat dia tidak punya. Sebenarnya, Kafe tempatku bekerja lagi butuh cleaning service, mungkin Ran bisa kerja di sana. "Kalau bersih-bersih gitu, mau nggak?" Tanya dulu. Takutnya, sudah kumasukkan kerja, dia malah tidak mau. "Boleh? Di mana?" Tawaran dariku disambutnya antusias. "Di kafe tempatku kerja, nanti aku tanya bos." Ran mengacungkan dua jempolnya padaku. "Tapi janji, ya!" Aku menunjuknya. "Kalau lagi kerja jangan halu!" "Siapa yang halu, suka suuzon sama orang. Nggak bagus tau!" sergahnya. "Yah pokoknya, cukup halu denganku aja, jangan sampai ke orang lain juga. Mau apa nggak?" Aku menandaskan. Bukan apa-apa, 'kan, tidak enak kalau kerja cuma tukang bersih-bersih, nanti gayanya bos. "Iya ... iya. Cerewet!" Enteng banget dia ngomongin orang! Kalau tidak ingat dosa, sudah aku jepret itu mulutnya. Pakai karet merah, yang biasa bungkus gado-gado. Bila perlu, pakai cabai sekalian. Biar puas. "Kalau gitu, aku mau pulang ke kosan." Ran hendak pergi. "Nanti!" Aku menahannya. "Hari ini aku kerja siang sampai jam sebelas malam. Kamu ada makanan, nggak?" "Aku puasa." "Puasa?" Aku mengernyitkan dahi. "Puasa apa? Ini, 'kan, hari Rabu?" "Ya, puasa aja," jawabnya dengan enteng. "Aku belum ada uang untuk beli makanan, sekalian aja puasa. Doa orang puasa biasanya dikabulin." Ran menaikkan sebelah alis. "Aku berdoa semoga ada malaikat yang menurunkan makanan untuk buka nanti." Sorot mata nakal Ran, mulai beraksi lagi. Dia satu-satunya manusia yang kukenal, yang bisa modus dalam segala urusan. "Tunggu di sini sebentar," kataku sebelum meninggalkannya. Aku masuk ke dalam dan mengambilkan nasi, lauk kering dan abon. Juga menambahkan roti jatahku. Aku kembali dan memberikan makanan tadi padanya. "Kalau beneran puasa, ini bisa buat buka nanti." Bukan suuzon, cuma kalau lihat dari tampangnya, meragukan sekali itu anak puasa. Cuma, kita tidak pernah tahu kadar ketebalan iman manusia. Bisa jadi, dia yang kelihatannya tengil, m***m dan nakal, malah sebenarnya rajin ibadah. "Kamu nggak percaya?" "Bukan nggak percaya, cuma ragu aja." Rqn mendengkus. "Sama aja, namanya!" "Ah, udah. Itu makanan, kalau kamu ggak puasa, lumayan buat ganjel perut hari ini." Ran menerima pemberianku, dan dia jadi diam. "Kenapa?" tanyaku. Galak-galak begini, kalau lihat Ran diam, aku jadi takut. Takut da kata-kataku yang menyakiti hatinya. Dia menggeleng. "Aku cuma kangen dengan ibu. Biasanya dia yang paling telaten menyiapkan makan untukku. Sekalipun aku lagi di luar, dia yang selalu ingetin." Ran tersenyum tipis. "Dulu aku kesal, karena dia terlalu sibuk ingetin. Tapi, sekarang aku kangen dengannya." Aku memperhatikan Ran, sepertinya ingin menangis. Kelihatannya, dia kangen sama keluarganya. Jadi ikutan sedih. Kalau dia kangen orang tuanya, kenapa masih egois? "Apa, kamu nggak sebaiknya pulang aja?" saranku. "Telepon orang tuamu, kasih tau kalau kamu di sini, biar mereka bisa kirim uang untuk tiket pesawat." "Ini mau pulang," jawabnya. Aku terperangah. Beneran dia mau pulang sekarang? Terus kalau dia pulang ke Banjarmasin, berarti aku tidak bisa bertemu lagi dengannya? Kenapa jadi merasa sedih? "Pulang ke kosan!" Dia meledek. Saat aku sedang merasa dipermainkan, dia berjalan mundur meninggalkanku. "Bye ... Yasmin!" Seenak jidat dia menyebut namaku. Dia menjauh, sementara aku masih diam di tempat. Mau marah, tapi di sisi lain aku merasa malu. Segitu khawatirnya aku, kalau tidak bisa bertemu lagi dengannya. *** Di Kafe. Aku menyempatkan untuk mengobrol dengan Lolita saat jam istirahat. Aku mau konsultasi dulu dengan dia, soal mengajukan Ran sebagai cleaning service. "Tanya aja langsung sama Pak Eros," katanya sambil touch up ulang riasan wajah. "Dia pasti mau nerima kalau kamu yang ajuin." Aku mengerutkan dahi. Sebetulnya, aku malas kalau harus berurusan dengan Pak Eros, tapi mau bagaimana lagi. Aku butuh dia untuk menolong Ran. Semua demi keselamatan uang di dalam dompet, juga. "Udah belum?" Lolita menanyaiku yang sedang melamun di depan cermin, "yuk keluar!" ajaknya. Keluar dari toilet, kami berdua kembali pada pekerjaan masing-masing. Selagi melayani pembeli, aku juga memperhatikan Pak Eros. Jika saatnya tepat, aku mau bicara dengannya. Kebetulan, sekitar lima belas menit kemudian dia keluar untuk mengontrol kami. Mataku terus mengawasi, hingga dia menyadari. "Kenapa, Yas?" tanyanya padaku. "Nggak ada apa-apa, Pak." Pak Eros berpindah posisi, dari jauh di sebelah kanan menjadi ke depanku. "Kamu mau ngobrol dengan saya, Yas?" Jujur, aku merasa tak nyaman dengan dia. Kelakuan genitnya membuatku takut dengannya. Tapi, sejauh ini dia selalu profesional dengan pekerjaan, tidak pernah macam-macam. Maka aku beranikan diri untuk menghadap. "Kalau Bapak nggak sibuk," kataku. Dia mengangguk. "Temui saya di ruangan." Kemudian berlalu meninggalkanku. Aku melirik Lolita. "Sana buruan!" Lolita mengedikkan dagunya. Aku masih berpikir. "Buruan!" Lolita agak memelotot. "Mumpung masih sepi," tandasnya. Mengangguk, aku tinggalkan pekerjaan sebentar untuk menemui pak Eros. Masuk ke dalam ruangan Pak Eros, aku lihat dia sedang duduk bersandar di office chair-nya. "Permisi, Pak," kataku seraya melangkah masuk perlahan. "Sini." Tangannya berisyarat. "Mau ngobrol apa dengan saya?" Aku duduk di hadapan Pak Eros. "Mmh ...." Duh! Segan mau mengucapkannya. "Apa, Yas, tanya aja. Sama saya nggak usah malu-malu." Pak Eros tersenyum padaku. Tarik napas, embuskan. Cuma tanya, kalau ditolak ya sudah. "Soal cleaning service, Pak, apa saya boleh ngajuin teman saya untuk masuk?" Pak Eros melepaskan tawanya. "Cuma mau nanya itu? kirain tadi mau ada apa." Aku garuk-garuk kepala. "Memangnya siapa yang mau kamu masukin?" "Teman, Pak, dari Banjarmasin." "Boleh, besok suruh dia bawa berkas dan temui saya." "Sebenernya ada masalah sedikit, Pak." "Apa?" Pak Eros pasang telinga untuk mendengarkan. "Jadi, dia itu kecopetan. Makanya semua barang yang dia bawa hilang. Kalau nggak pake ijasah bisa, Pak?" Mendadak jantung berdebar. "Untuk kamu ...." Pak Eros terseyum genit. "Apa, sih, yang nggak bisa saya kasih." Aku memaksa untuk mengangkat dua sudut di bibir. Melihat matanya, aku harap aku tidak tergoda. Bukan tergoda untuk menyukainya, melainkan tergoda untuk memasukkannya ke dalam sumur. "Baik, Pak, kalau gitu saya permisi dulu." Aku hendak beranjak. Namun, tangan Pak Eros dengan lancang mencoba menyentuh tanganku, segera aku berteriak. "KECOA!" Aku menunjuk ke sembarang arah. "Mana?" Pak Eros jadi mencari keberadaan si kecoa. "Tadi masuk ke kolong, Pak." Aku memasang muka serius. Pak Eros masih sibuk mencari. "Huuuh!" kataku seolah lega melihat kecoa kabur. "Bapak jangan khawatir, nanti kalau teman saya kerja di sini, saya jamin nggak akan ada kecoa lagi." Pak Eros menautkan alisnya. Aku tahu, mana percaya dia dengan ucapanku. Kafe kami punya standard kebersihan yang tinggi, tidak mungkin ada kecoa. Ish, jadi fitnah kecoa, deh! Para kaum kecoa, maafkanlah aku ini. "Kalau gitu, saya permisi, Pak!" Segera kutinggalkan ruangan, sebelum dia mulai eror lagi. Aku berlari kecil menuju Lolita. Dengan napas yang masih terengah-engah, kembali melanjutkan pekerjaan. "Kenapa sih?" Lolita menanyaiku. Aku melihat ke arah ruagan Pak Eros sebelum menjawab. "Biasa, Pak Eros!" jawabku singkat. "Dia gangguin kamu lagi?" "Nggak sampai pelecehan, sih," kataku sambil merapikan susuanan roti. "Cuma bikin risih, aja." Lolita hanya menggeleng sambil terkikik. "Ngeri banget, sih." "Banget! Lama-lama, aku nggak berani ke ruangan dia." "Yah, kalau bukan urusan penting, nggak usah." Kalau itu, sudah jelas. Pelanggan berdatangan ramai lagi, aku tak bisa menjelaskan secara detail pada Lolita. Yah, meski tadi sempat merasa risih atas perlakuan Pak Eros, tapi di sisi lain aku juga senang. Karena akhirnya, aku bisa bawa kabar baik untuk Ran. Ran bisa bekerja di sini, bersamaku. Itu artinya, aku bisa mengawasinya setiap hari. Eits! Mikir apa ini? Kok, hati ini seneng kalau ada dia. *** Akhirnya jam kerja habis juga. Bisa segera pulang dan bertemu dengan yang kurindukan sejak tadi siang. Bantal dan kasur, tentunya. Siap-siap yah, duo kesayangan! Bakal aku peluk-peluk kalian. Baru saja aku selangkah dari pintu Kafe, sudah kudapati Andre berdiri di luar menunggu dengan senyumnya yang hangat. "Sudah pulang?" tanyanya. Aku bingung kenapa dia ada di sini, malam-malam. Menjemputku, kah? "Lagi apa, Dre?" Dia tertawa kecil. "Menunggu anak kos di tempatku pulang." Maksudnya, aku? Tapi, jangan over pe-de dulu! Siapa tahu dja mau menjemput orang lain. "Ayo!" Andre membukakan pintu mobil yang ada di hadapanku. Aku tertegun. Beneran dia menjemputku? "Mobil siapa?" tanyaku bingung, sebab setahuku Andre selalu menggunakan motor. "Mobilku." Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung dan menyandarkan tubuhnya di mobil tipe SUV itu. Aku diam. Apa seperti ini rasanya menumpang kemewahan dengan seorang laki-laki? Kenapa malah merasa bersalah? Aku mungkin telah mengubah Andre. Andre yang sederhana dan baik, berubah menjadi hedonis begini. Bank mana coba yang dia bobol, sampai bisa beli mobil dalam semalam? "Yas, belum pulang?" Mas Agung--teman kerjaku--yang baru keluar, menegur. "Belum. Ini mau pulang." Dia mengangguk. "Kalau gitu, aku duluan ya!" ujarnya seraya menuju parkiran motor. "Ya, Mas, hati-hati." Setelah Mas Agung menghilang dari pandangan, kembali fokus pada Andre. "Aku pulang sendiri aja, Dre!" Aku melangkah meninggalkan Andre. Andre mengejar.  "Yas, tunggu!" Andre menghadang jalanku. Aku bergeser ke kiri, dia ikuti, bergeser ke kanan, dia ikuti juga. Dia tak memberiku jalan. "Kamu tersinggung?" tanyanya. "Bukan. Aku cuma merasa nggak enak denganmu. Kamu ngerampok di mana tiba-tiba punya mobil?" Andre mengulum senyum, dia mengetuk kepalaku dengan kunci mobil. "Ah!" Aku memekik, lumayan sakit rasanya. "Sudah lama aku menabung untuk punya mobil ini. Yah, walau aku lebih suka naik motor memang. Lebih laki!" Dia menunjukkan ototnya. Masih tidak percaya dengan jawabannnya. "Ini bukan tentang yang kemarin, Yas," sambung Andre. "Aku hanya menghawatirkanmu, pulang selarut ini sendiri. Dan, angin malam nggak bagus, apalagi kamu harus kerja lagi besok. Maka dari itu, aku menjemputmu. Lagipula, memang udah saatnya aku ganti kendaraan." "Kamu nggak bohong?" Masih meragu. "Buat apa aku bohong dan kapan aku pernah bohong denganmu?" Ah, iya juga. Selama ini, Andre selalu jujur. "Percaya, 'kan?" Andre membungkuk sedikit untuk melihat langsung wajahku. Aku memundurkan kepala. "Percaya," kataku dengan bola mata yang bergerak ke sana-kemari. "Tapi jangan lihat aku sedeket itu, takut ada upil." Lagi, aku melihat Andre mengembangkan senyuman di bibirnya. "Kamu lucu, Yas." "Mungkin. Aku bisa jadi pelawak kalau gitu." Aku menyeringai. "Ayo pulang, ajaknya." Aku mengiyakan. Tapi, saat berjalan aku sengaja menyembunyikan tangan. Supaya Andre tak punya kesempatan untuk menggandeng. Bingung. Entah kenapa aku malah bersikap begini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN