Ini sudah satu minggu berlalu. Ran bolak-balik ke rumah, minta restu ke Bapak supaya mau merestui. Dia disuruh apa saja mau. Malah, dikerjai cuci motor tua punya Bapak mau juga. Aku yang kesal. Ran itu anak yang tidak pernah disuruh kerja di rumah. Buktinya, cara pel lantai saja dia tidak tahu. Ran, sih, iya masih bisa menurut. Malah dia bilang mau saja asal bisa ambil hati Bapak. Besok, Ran disuruh ke rumah lagi. Kalau masih punya niat serius, harus datang. Kalau tidak niat, bisa tingglakan aku sekarang sebelum nanti makin panjang penyesalannya. Aku menangis sepanjang malam. Masa bodoh dibilang lebay. Dari sambungan telepon Ran tenangkan aku. Pokoknya, selama aku masih punya niat untuk menikah dengan dia apa pun akan dia kerjakan. "Asal Bapak kamu nggak nyuruh aku masuk kandang buaya

