24. Riak dan Ringkus

2663 Kata
“Damastra….” Ketika nama itu keluar dari bibirku, segala di sekelilingku berubah. Tembok-tembok yang menutupi kanan dan kiri lenyap, berubah menjadi padang luas tak berujung. Aku melirik ke kanan dan kiri, melihat padang rumput yang hangus di sekeliingku, diselimuti api yang membara yang membumbung tinggi ke angkasa. Aku bergerak dan langsung menyenggol sesuatu. Menunduk, aku terkesiap melihat seorang pria terbaring di dekat kakiku. Ia tidak lagi bergerak. Tangannya berlumuran darah. “Anda masih saja sering tertinggal.” Aku mendongak dan langsung bersitatap dengan seorang pria berambut hitam. Pria dengan penampilan yang familier. Namanya terucap dari lidahku begitu mudahnya seolah kami sudah sangat lama saling mengenal. “Damastra….?” Damastra tersenyum saat namanya aku panggil. Ia mengedarkan pandang. Wajahnya berubah muram. Matanya tampak sedih. Angin berembus di sekeliling kami, membawa angin beraroma abu dan darah. Aku mengikuti arah pandangnya dan bangkit berdiri. Pandanganku turut mengikuti arah pandangnya dan langsung tertegun. Hanya ada kehancuran di sekeliling kami. Tidak ada rumah yang berdiri. Tidak ada pohon yang tumbuh subur. Tidak ada orang yang berdiri hidup selain kami. Semuanya mati dan hangus. Aku menunduk, menatap genangan darah di bawah kakiku. Genangan yang entah sejak kapan ada di sana. “Menyedihkan, ya, dunia penuh perang itu….” Damastra bergumam di sisiku. Ya. Meski tidak begitu mengerti, aku merasakan kengerian dari semua darah dan kematian ini. Memang menyedihkan. “Karena itu kita harus menghentikannya—awas!” Damastra tiba-tiba menundukkan badan. Ia menarik sesuatu dari balik sakunya. Sebuah tongkat. Aku tertegun memandangi tongkat itu. Sebuah tongkat dengan kepala yang aneh. Seperti ada pisau kecil melengkung di ujung tongkatnya. Pisau yang aneh. Untuk apa kamu…. Belum selesai kata-kataku, sebuah raungan terdengar dari depan kami. Aku menoleh ke depan dan langsung terperanjat. Seekor binatang raksasa berlari ke arah kami dengan keempat kakinya. Binatang itu mirip kucing, tapi dengan tinggi yang dua kali dari kami berdua digabungkan satu. Bulu-bulunya merah dan matanya hitam pekat. Sulur-sulur atma biru mengalir keluar dari tubuhnya dengan deras. Asura. Itu Asura klan Yaksa. Saat makhluk itu membuka mulutnya yang penuh taring, dua taring depannya memanjang. Cakarnya menghunus. Surai di sekeliling kepalanya tampak melebar dan seolah menyala. Suara raungannya semakin keras saat ia mengambil ancang-ancang melompat. “Maaf, ya.” Kemudian Damastra mengetukkan tongkat itu ke tanah. “Kami tidak ingin mati hari ini!” Makhluk itu pun ambruk seketika. Serangannya yang tampak akan memecah kami menjadi kerat-kerat daging kecil, nyatanya gagal total. Tubuh Asura itu jatuh ke tanah dengan bunyi berdebum yang amat keras. Tanah bergetar karenanya. Tubuhku yang limbung butuh sejenak untuk menyeimbangkan diri sebelum kembali berdiri tegap. Selamat tanpa luka di hadapan Asura yang kini terbaring di tanah dengan mata tertutup itu. “Jangan lega dulu.” Damastra mengarahkan tongkatnya ke balik padang rumput. Aku menyipitkan mata, melihat lebih banyak lagi Asura datang. Kali ini bahkan beberapa yang bersayap ikut terbang dalam kecepatan tinggi. “Perang masih belum selesai hari ini. Singasari belum mau menyerah.” Singasari? “Ini bukan saatnya yang tepat untuk bertanya-tanya.” Damastra melirik ke arahku dengan jengkel, mengabaikan keterkejutanku sepenuhnya. “Kita harus merebut semua Nawadewata dari mereka. Sebelum raja gila kekuasaan itu menggunakan kekuatan Sandhikala lagi! Saya tidak mau lihat kerusakan lebih dari ini. Anda juga begitu, kan?” Aku? Saat sadar, aku menunduk dan langsung tertegun. Di tanganku telah ada sebuah senjata. Sebuah tongkat besi raksasa dengan bentukan bundar di ujungnya. Gada, kata itu bergema dalam kepalaku. Sebuah gada. “Jangan sampai mereka merebut Gada Brahma dari Anda,” Damastra berkata di sisiku, maju ke depan lebih dahulu. Ia tersenyum kepadaku. “Anda punya seseorang yang menunggu Anda di rumah, kan? Beliau pasti sedang berjuang juga sekarang. Sebagai laki-laki, kita tidak boleh kalah.” Seseorang yang menungguku di rumah. Rumah. Sebuah perasaan membuncah dalam dadaku. Sebuah rumah tempatku kembali. Damastra benar. Aku punya rumah. Aku punya tempat untuk kembali. Dan ada seseorang yang menungguku. Siapa? Tidak, aku mengingatnya. Ada seseorang yang menungguku. Sementara aku berpikir, wajah seorang perempuan yang tersenyum memenuhi pandangan mataku. Senyumnya, rambut hitamnya yang tergerai, dan kedua tangannya yang terbuka lebar menyambutku … dia ada. Dia menungguku. Tapi dia itu … siapa? “Kamu semakin lama semakin tidak bisa dihentikan, rupanya.” Suara itu bergema di tengah udara. Di sekelilingku, di dalam kepalaku. Suara seorang lelaki. Angin kembali berembus. Kali ini ke satu arah yang pasti. Dari para Asura yang berlari cepat mendekat, aku memalingkan muka dengan mudahnya. Seolah tidak kenal takut, aku memunggungi semua Asura itu. Segumpulan asap yang muncul di belakang Damastra. Asap hitam itu mengepul dan berputar di udara, memadat, membentuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang berdiri tegap, dan tersenyum ke arahku. Sosok seorang pemuda. Pemuda itu mengalihkan pandang ke sekeliling kami. Wajahnya berubah sedih. “Menyakitkan untuk dilihat, bukan? Peperangan dan kehancuran yang tiada henti….” ujarnya. “Bukankah dunia yang terkutuk seperti ini … lebih baik hancur saja?” Hancur? Bagaimana kamu bisa mengatakan sesuatu yang seperti…. “Karena sejak awal tidak ada artinya.” Pemuda itu menukas ucapanku. “Semua kehidupan, semua semesta ini, jika aku mau, semua bisa kembali diatur ulang. Berdasarkan aturanku.” Saat ia terdiam, aku mengamatinya lebih seksama. Pemuda berkulit pucat dan berambut hitam. Saat ia mengangkat tangan, aku melihat kuku-kukunya pun ternyata hitam pekat sementara warna merah matnaya berpendar. “Kamu setuju, bukan? Bukankah lebih baik dunia ini dihancurkan dan diatur ulang saja?” Pemuda itu tersenyum. “Karena itulah kamu mendukungku sejak dulu, kan?” Mendukung-nya? Sejak kapan? Aku tidak ingat…. “Astaga … jahat sekali….” Berlawanan dengan warna merah matanya yang menyala, sulur-sulur atma yang mengalir darinya justru gelap. Sangat gelap. Hitam. Aku menatap sulur-sulur atma itu dengan tidak percaya. Sulur-sulur itu mendekatiku seiring jarak di antara kami yang menyempit. Atma emas yang mengalir dari tubuhku tertelan perlahan oleh atma hitam miliknya. Tidak. Ini bukan atma. Aku melangkah mundur, mencoba menjauhi atma hitam itu tapi percuma. Apa … ini? Tanpa kata, ia melangkah menghampiriku. “Kenapa? Ah, ya….” Pemuda itu menatap atma yang ada di sekelilingnya. “Apa kamu ingat atma hitam ini? Atma yang hanya dimiliki oleh mereka yang tidak tercipta dari Mandala yang sekarang….” “Mandala….?” Pemuda itu tertawa. “Ini menarik sekali,” ujarnya setelah tawanya mereda. “Kamu tidak mengingat banyak hal, tapi kamu menolak untuk melupakannya lagi.” Dalam sekejap, pemuda itu sudah ada di hadapanku. Matanya mendelik. Bibirnya menyeringai lebar. “Ada apa? Tidak mau menerimaku, sekarang kamu mengira bisa menghentikanku?” ujarnya dengan suara rendah yang terkesan seperti bisikan, tapi merasuk sangat dalam ke kepalaku. “Kamu pikir dengan begitu, dosa masa lalumu bisa terhapuskan?” Pemuda itu menyentuh dadanya sendiri. Dan aku mencelus saat lima cakarnya itu mencabik dadanya sendiri, membuat cairan hitam mengalir dari sana . “Dia tidak akan memaafkanmu. Aku bisa merasakan kemarahannya padamu sampai sekarang. Jika tidak … tidak mungkin aku sekuat ini sekarang, kan?” Apa … apa yang ia bicarakan? Aku hendak bicara. Hendak membuka mulut. Namun kemudian aku sadar, mulutku tidak bisa terbuka. Lidahku tidak bisa berkata-kata. Pemuda itu tertawa puas. “Seperti biasa, kamu sangat menghibur. Karenanya, sebagai balas budi karena sudah membebaskan separuh dariku, biar aku berikan kekuatanku sedikit kepadamu….” Pemuda itu menyambar kepalaku. Mencengkamnya dengan sebuah cakar raksasa. Sosoknya berubah. Wujud pemuda itu lenyap, berganti kepulan asap hitam lagi. Kepulan asap hitam yang semakin lama semakin membesar. Sepasang cahaya merah menyala dari asap hitam itu. “Ingatlah semuanya, Penjaga Brahma!” Suaranya berubah. Suara itu keras menggelegar membelah angkasa. “Ingatlah dan bantu aku terbebas sepenuhnya ke dunia ini! Sama seperti dahulu kala!” *** Aku tersentak kaget dan mundur. Mengagetkan Damastra yang juga berdiri di hadapanku, mengulurkan tangan kepadaku. “Anda tidak apa-apa?” Aku mengerjap lalu ikut mundur beberapa langkah. Kebingungan, aku memandang sekeliling. Tembok-tembok kembali di kanan dan kiri, membatasi ruang gerakku, sementara suara riuh rendah di luar sana kembali. Bukan padang rumput yang luas, bukan suasana yang sunyi. Aku menunduk, tidak menyaksikan satu pun mayat di kakiku. Tidak ada yang mati. Apa … itu tadi? Aku bermimpi? Kemudian aku sadar, pakaianku masih menguarkan aroma abu yang tajam sementara kulitku masih terasa panas. Tapi atma yang keluar dari tubuhku tidak lagi berwarna emas. Atma yang keluar dari tubuhku kembali berwarna merah sepenuhnya. Atma emas tadi juga … tidak mungkin aku bermimpi kan? Kedua mataku terbuka, tidak mungkin aku bermimpi sembari sadar. Tapi jika bukan mimpi lalu yang tadi itu … apa? Apa atmaku benar berubah keemasan? Kilasan saat pemuda aneh itu kembali muncul dalam pandanganku. Seorang pemuda berambut hitam dan bermata merah. Kata-katanya yang mengerikan terngiang-ngiang dalam kepalaku. “Ingatlah semuanya, Penjaga Brahma!” Penjaga Brahma … apa dia memanggilku dengan nama itu? Apa maksudnya? Dan kenapa … dia menyuruhku mengingat? Ia tahu aku tidak bisa ingat banyak hal? Dari mana ia tahu? Siapa pemuda itu sebenarnya? Mendadak saja dadaku disekap sebuah rasa yang membuatku tercekik dan bergidik di saat yang sama. Ada sesuatu dalam diri pemuda itu yang tidak aku suka. Atma anehnya yang berwarna hitam, mata merahnya yang entah kenapa saat aku melihat ke dalamnya, hanya ada aku dan kegelapan yang bercokol di sana. Ketakutan … kah? Tidak, perasaan ini jauh lebih dalam dari itu. Mata merah itu kembali muncul dalam penglihatanku. Mata merah yang warnanya sekaan berdenyut hidup. Berpendar. Mata merah yang tampak tidak asing. Kenapa? Kenapa aku merasa pernah bertemu dengannya? Tapi di mana? Aku tidak ingat pernah bertemu pemuda itu di mana pun, bahkan di penjara. Semakin aku berpikir, semakin aku tidak mengerti. Semakin aku tertelan pikiran sendiri hingga tidak sadar sepasang mata hitam mengawasiku dari dekat. Aku terlonjak sekali lagi saat sadar Damastra masih ada di sini. Malah, lebih dekat dari sebelumnya. Kilasan-kilasan kenangan tadi kembali. Wajah seorang pria juga hadir bersamaku tadi. Seorang pria dengan wajah yang sangat mirip dengan pria yang ada di hadapanku kali ini. Pria dengan nama yang sama seperti yang diserukan kerumunan di luar sana. “Tuan Damastra! Menjauh dari orang itu!” Aku membelalak kaget ke arah pria di hadapanku. Mataku tidak berkedip sedikit pun saat lima orang bersenjata menghampiri kami, menodongkan senapan laras panjang mereka secara khusus kepadaku. “Jangan bergerak!” Salah seorang dari mereka mengancam. Wajah mereka semua marah dan tampak benar-benar serius. “Berani betul kamu merusak acara penyambutan Tuan Damastra!” “Mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan Damastra.” Salah seorang lelaki yang lain bicara kepada Damastra. “Kami akan mengurus sisanya.” “Kalian jangan terlalu keras kepadanya.” Damastra berkata kepada para pria itu. Dia melirikku sejenak. “Dia mungkin hanya ada di tempat dan waktu yang salah, kan?” “Anda terlalu baik, Tuan.” Seorang Politie berkata. “Tapi kami tidak bisa seperti itu. Dia mungkin saja bermaksud mencelakai Tuan.” “Ayolah, dia tidak terlihat seperti itu,” Damastra menyanggah lagi. “Apa kalian lihat dia bawa pisau?” Aku menatap bolak balik antara lima moncong senapan yang terarah kepadaku dan Damastra yang tampak tenang di hadapanku. Pria itu berdiri tegap tanpa takut di tengah-tengah antara aku dan lima Politie yang sepertinya sangat marah. Tapi aku pun juga tidak merasakan takut, tidak kepada lima moncong itu. Tidak sekarang. Sekarang, aku lebih merasakan bingung karena pria di hadapanku. Karena betapa sama persisnya dia dengan pria yang tadi muncul dan kini menghilang entah ke mana, berubah menjadi pria berjas hitam yang berdiri di hadapanku. Pakaiannya berbeda. Dia tidak mengenakan jubah yang panjang atau rambut yang dikucir. Ia tidak mengenakan gelang leher emas. Tidak pula memiliki tongkat dengan pisau aneh itu. Namun wajahnya sama. Setiap bagian wajahnya, mulai dari mata, bentuk rambut, alis, suaranya, dan caranya berbicara, semuanya sama persis. Dia ... sungguh-sungguh Damastra? Apa dia dan Damastra yang aku lihat tadi sama? Tapi … aku belum pernah bertemu dengannya. Kami belum pernah bertemu sebelum ini … kan? Keraguan dalam kepalaku meninju perutku dalam diam. Aku sendiri tidak percaya pada pikiranku. Bagaimana mungkin aku bisa bertanya-tanya? Kepada siapa aku harus percaya? Apa yang aku lihat tadi sebenarnya? “Tapi….” Seorang Politie menyipitkan mata ke arahku. “Dia Siluman….” “Aku lihat itu.” Ketika mata semua orang tertuju ke kakiku, saat itu juga aku menyembunyikannya. Setengah berharap kaki itu mendadak menghilang atau berubah menjadi kaki Manusia agar tidak ada yang melihat. “Tapi itu tidak bisa membuktikan dia bersalah.” “Tuan….!” Seorang Politie protes. “Tapi dia Siluman. Dia bisa saja punya hubungan dengan Dayuh!” Aku hendak menggeleng. Hendak menyangkal, tapi Damastra mengangkat tangan lebih dulu. “Itu menjadi alasan tambahan kegunaanku di sini sekarang, bukan begitu?” Damastra menyahut dan seketika lima Politie itu terdiam. “Daripada sekadar mengurusi Siluman yang menerobos tembok Batavia.” Para Politie kini terdiam. Mereka saling bertukar pandang, tapi tidak ada yang berkata apa-apa. Tidak ada yang berani. Damastra lantas menatapku. “Sekarang, apa aku bisa percaya padamu, Nak?” Damastra mengajakku bicara. “Aku baru kali ini ke Jayagiri lagi setelah sekian lama dan langsung disodori berita tidak menyenangkan.” Apa? Dia … percaya padaku? Tunggu, bukankah ini … terbalik dari yang dikatakan Sapta? Damastra mengangkat tangan dengan tegas, lalu mengepalkannya. Seketika lima polisi di belakangnya memekik. “Tuan Damastra, tapi….” “Tidak apa-apa. Dari tadi dia tidak menyerang, bukan?” Damastra berbalik, mengalihkan pandang dariku dengan sengaja. “Aku yakin dia tidak berbahaya. Dia hanya di sini di waktu dan tempat yang salah.” “Siluman mana pun patut dicurigai di masa sekarang ini, Tuan.” Sebuah suara terdengar dari atas. Kami semua mendongak. Aku langsung tercengang. Dari atas atap, seseorang melompat turun. Aku buru-buru beringsut mundur dan tepat waktu sebelum kakinya menghantamku. Dengan lembut, sosok itu mendarat di tengah-tengah antara diriku dan Damastra. Tanpa mencederai dirinya sendiri. Ia mendarat dengan kedua kakinya dengan sempurna. Tidak butuh waktu lama baginya untuk berdiri tegap dan berbalik menghadapku. Dan mengacungkan pistol tepat ke wajahku. “Dayuh belum tertangkap, kan? Dia bisa saja menjadi pelakunya, Tuan.” Sosok itu bicara lagi. Dari dekat, suaranya terdengar agak tinggi. Kemudian barulah aku sadari, sosok yang ada di antara kami benar adalah perempuan. Sosok itu berambut panjang yang dikucir di belakang kepalanya. Kulitnya yang coklat tampak kemerahan seperti habis terbakar matahari. Saat ia datang, atma merah memancar dari tubuhnya, bergabung bersama deretan atma merah lain yang mengerumuni atma emas milik Damastra. Siapa gadis ini? Kenapa aku tidak mendengar kedatangannya? Sayang, tidak peduli berapa kali pun aku bertanya-tanya, gadis itu tidak membalas kebingunganku dengan sorot mata yang melunak. Ia justru tampak semakin gahar. Matanya tajam melengkung sementara bibirnya yang ranum dan merah tidak tersenyum sama sekali. Tulang pipinya cekung di bagian sudut bibir dan ketika ia menatapku, kerutan terbentuk di antara dua alisnya yang menekuk turun. Aku melihat ke arah pakaiannya dan buru-buru mengalihkan pandang lagi ke wajahnya. Wanita ini berpakaian sama seperti Anjani. Tidak mengenakan rok, membiarkan kaki-kaki mereka yang panjang dan kurus itu terlihat jelas. Tapi perempuan kali ini bahkan lebih terbuka lagi dengan seluruh lengan terlihat jelas. Memperlihatkan gelang-gelang keemasan yang melingkar di dekat pundaknya. “Biar bagaimanapun, Dayuh dicurigai sebagai Siluman, kan?” Perempuan itu menaruh jarinya di depan pelatuk. “Mohon beri saja izin untuk melumpuhkan dia, Tuan.” “Tenanglah, Btari.” Damastra menepuk pundak wanita itu dengan mudah. Lain dengan nada bicara sang wanita yang dingin dan cenderung marah—meski aku tidak tahu apa alasannya—Damastra cenderung tenang. “Jangan menuduh orang sembarangan. Aku sudah mengajarkannya kepadamu, kan?” “Dia mencurigakan.” Damastra tertawa, pria itu melirikku. “Yah, aku tidak bisa melawan untuk yang satu itu. Dia benar-benar muncul di tengah sebuah kebetulan yang sangat … unik.” Setelah jeda sejenak dari kata-kata itu, Damastra mendekat sekali lagi. Senyum masih mengembang di bibirnya. Senyum hangat yang mengingatkanku pada senyum Markandra. “Bagaimana? Kamu mau ikut baik-baik dan meringankan beban kami?” Damastra bertanya kepadaku. Sekali lagi pria itu mengulurkan tangan. Atma keemasan menguar lembut dari tubuhnya. Seperti benang-benang halus yang menari-nari, tenang dan tidak tersentuh. “Tuan!” Btari memekik, tapi Damastra mengabaikannya. “Daripada kamu dicurigai karena ada di luar sini.” Damastra melirik main-main ke arah Btari dan lima orang yang menanti penuh antisipasi di belakang, seolah mengira akan ada semacam serangan tidak terduga yang akan terjadi dalam waktu dekat. “Aku dengar situasi sekarang cukup berat bagi para Siluman.” Ada apa ini? Dia … tidak terdengar seperti yang dikatakan Sapta. Kenapa orang seperti ini harus dijauhi? Apa yang membuatnya berbahaya? Dia tidak tampak membenci Siluman sama sekali. Dibanding pria ini, wanita di sisinya …. Aku melirik wanita bernama Btari itu dan langsung mendapat balasan pelototan darinya. Wanita itu kelihatan jauh lebih berbahaya. “Tenang, kami tidak akan membawamu ke tempat berbahaya,” Damastra berujar lagi. Damastra berpaling ke arah orang-orang yang menyaksikan kami. Tanpa menarik tangannya dariku. Seolah benar-benar yakin aku tidak akan menyakitinya sekalipun ia mengalihkan perhatiannya. “Kalian akan menjadi saksinya, laki-laki ini sepenuhnya ada dalam perlindunganku. Paham, kan?” “Tuan Damastra….” Seorang dari Politie itu hendak protes, tapi Btari memelototinya. Btari menjadi yang pertama kali mengangguk. “Saya paham.” Ia pun menarik pistolnya dariku. Tapi matanya tidak pernah melunak sedikit pun. “Nah, sekarang sudah tidak ada yang perlu dicemaskan lagi, kan?” Damastra kembali memandangku. Sorot matanya yang hangat dan tulus perlahan mengikis semua keraguanku. “Percayalah pada kami. Kamu akan berada selalu dalam perlindungan kami.” Aku benar-benar tidak mengerti. Bagaimana mungkin Sapta berpikir, pria dengan senyum dan kata-kata sebaik ini … beerbahaya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN