Damastra.
Nama itu mendengungkan sesuatu dalam kepalaku. Seperti bunyi dering yang terus berulang. Dan bertambah keras saat aku melongok sekali lagi, menatap wajah pria itu.
Damastra seperti Markandra dan Ira. Berkulit gelap, meski tidak segelap kulitku. Rambutnya hitam dan dipotong pendek, sangat pendek. Aku tidak yakin bisa menggenggam rambut itu dalam genggaman jika mendapat kesempatan.
Wajahnya bersih, tidak seperti Markandra dan Ira yang sedikit memerah. Wajah Damastra nyaris putih. Namun seluruh tubuhnya tegap dan penuh otot, tidak kurus seperti kedua temanku. Pakaiannya ditutupi jas dan mantel hitam yang mengilap di bawah sinar matahari. Senyum pria itu merekah cerah kepada orang-orang saat ia melambaikan tangan. Orang-orang menyambutnya dengan ceria, melambaikan tangan balik dan meneriakkan hal-hal yang tidak aku mengerti.
“Tuan Damastra!”
Semua mengelu-elukan namanya dengan bahagia. Dan Damastra menyambut uluran tangan itu dengan sukacita. Tidak tampak enggan ataupun benci.
Wajah Sapta kembali muncul dalam pandanganku. Wajahnya yang panik dan kata-katanya yang baru aku sadari sekarang, terdengar saling berkejaran, seolah mengatakan info lengkap sudah merupakan perjuangan bagi pemuda itu.
“Damastra dan para Dyaksa tidak akan melepaskan siapa pun yang terlibat dengan mereka.”
Damastra. Benar, Sapta pernah memperingatkanku soal pria itu. Pria yang menurut Sapta tidak akan melepaskan siapa pun yang terlibat dengannya.
“Damastra dan para Dyaksa….”
Apa maksudnya? Damastra ada hubungannya dengan para Dyaksa?
Sementara aku berpikir keras, Markandra dan Ira membeku di tempat. Secara khusus untukku, Ira menekan dadaku keras sekali ke tembok hanya sesaat setelah aku mencoba melongok ke luar. Ia seolah ingin tubuhku ikut menyatu dengan tembok.
“Ada apa?” tanyaku, setengah tertelan kepanikan sendiri. “Siapa itu Damastra?” Aku menunjuk pria di luar, tapi Ira keburu menurunkan tanganku. “Dia Damastra?”
Kini aku tidak hanya bertanya karena bingung. Lebih karena ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku saat mendengar namanya. Sapta sudah memperingatkannya dan kini Ira bersikap sama.
Seolah Damastra adalah orang yang benar-benar berbahaya.
Benarkah itu?
Sesuatu memakiku dalam hati saat pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Rasanya seakan berani mempertanyakannya saja sudah merupakan kesalahan fatal. Seharusnya aku tidak bertanya, meski pada kenyataannya ingatanku sendiri tidak bisa dipercaya. Tapi aku tidak tahu. Tidak peduli seberapa bingung dan sakit melihat pria aneh itu, aku tetap tidak mengenalnya.
Meski tubuhku kelihatannya punya ingatan yang lebih bagus.
Ira menempelkan jarinya di bibir. Diikuti oleh Markandra.
“Merapatlah dan jangan bergerak sampai mereka pergi!” bisik Ira dengan nada penuh kewaspadaan yang cenderung terdengar seperti … ketakutan.
Ira. Ketakutan.
Degup jantungku meningkat hanya dengan satu kenyataan itu. Terlebih saat sadar wajah Markandra juga tidak lebih baik dari istrinya. Kakiku yang lemas sedikit menekuk, tidak mampu terus menerus berdiri ketika tenaga malah semakin lama semakin menguap dari tubuhku.
“Damastra … seberbahaya ini?”
Markandra menatapku. Ekspresinya tampak marah, entah kepada siapa. Ia lantas melongok sekali lagi ke luar. “Damastra bukan sekadar berbahaya,” ujarnya. “Jangan sampai dia melihatmu. Jika dia atau orang-orangnya melihat Siluman bebas di jalan, kamu bsia ditangkap.”
“Kenapa?” Aku ditangkap? Apa aku berbuat salah?
“Kamu ditangkap karena kamu Siluman. TIdak kurang, tidak lebih. Karena kamu berbeda,” Ira menjelaskan. Menekan tubuhuk semakin rapat ke tembok. “Semua yang ditangkap Damastra dan orang-orangnya tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Mereka tidak kembali.”
“Maksudmu mereka….” Mati?
“Tidak ada yang bisa memastikan,” Wajah Markandra semakin gelap. “Tidak pernah ada bukti yang menjelaskan. Tidak pernah ada orang yang berani melawan.”
“Semua yang berani melawan Damastra juga bernasib sama,” Ira berkata dengan suara yang lebih pelan. “Kami tidak mau kehilangan orang lagi di tangan Anupramala miliknya.”
Sekali lagi kepalaku diserang pening. “Prama…?”
Ada dengung yang menyahut saat mulutku mengucapkan nama itu. Seolah meneriakkan sesuatu yang sayangnya tidak bisa aku pahami.
“Sebuah organisasi di bawah pemerintahan yang mencurigakan yang tidak jelas apa tujuannya.” Ira menjawab dengan kemarahan yang dingin dalam suaranya. “Tidak seperti Jager dan Marsose yang jelas, semua aktivitas Anupramala tidak pernah jelas. Lima divisi mereka mengurusi soal Rakta dan berbagai aktivitas Niskala di dunia ini, tapi Divisi Lima merekalah yang paling berbahaya. Divisi Lima menangkapi Siluman entah untuk apa.”
Divisi lima, aku akan mengingat nama itu.
“Dia mungkin bukan orang yang menguasai Prama sekarang.” Markandra menimpali. “Tapi tetap saja dia yang membuat Prama seberingas sekarang.”
Sementara Markandra perlu melongok, aku tidak perlu memanjangkan leher seperti Markandra. Karena beberapa saat kemudian, sosok pria bernama Damastra itu keluar ke jalan, tepat berjalan ke arah sebuah mobil yang telah menunggunya. Orang-orang di kanan dan kiri jalan bersorak sorai untuknya. Tapi kemudian aku sadar, yang bersorak sorai hanya mereka yang berdiri di barisan depan.
Orang-orang yang berdiri di barisan belakang, yang tersembunyi di balik sorak sorai yang meriah dari orang-orang yang berbahagia menyambut Damastra hanya terdiam dengan wajah-wajah masam. Mereka yang berdiri paling belakang memilih mundur pelan-pelan dengan wajah-wajah penuh kerutan yang mengingatkanku pada wajah orang-orang kala melihatku di jalan.
Wajah marah. Wajah ketakutan. Wajah jijik.
Kenapa? Kenapa orang-orang di belakang sana tidak sama seperti orang-orang yang menyambut Damastra di barisan depan? Seperti ada dua sisi yang berlawanan: gelap dan terang. Mereka yang terasing di kegelapan seperti kami, tidak satu pun menatap senang ke arah Damastra. Semuanya menatap dengan kesal.
Kenapa?
Apa Damastra Siluman, makanya orang-orang memerhatikannya seperti itu? Tapi pria itu bukan Siluman kan? Markandra bilang, ia menangkap Siluman. Tidak mungkin … Siluman menangkap Siluman juga kan?
Ah, tidak, apa yang aku pikirkan? Kemungkinan itu tetap ada, kan? Manusia menangkap manusia. Itu terjadi setiap hari.
“Kamu tidak tahu kalau mereka akan datang?” Ira berbisik kepada Markandra.
Markandra menggeleng. “Aku tidak mendengar ada kunjungan resmi apa pun hari ini. Mungkinkah ia melakukannya tanpa pemberitahuan?”
“Kunjungan dadakan yang tidak resmi?” Ira menyahut dengan nada tidak percaya. Tatapannya sengit. “Untuk apa? Minum teh dengan Capellen?”
“Kalau begitu kenapa….?” Markandra berpikir dan kelihatannya menemui jalan buntu.
Pertanyaan yang sama denganku. Jalan buntu yang sama. Keduanya lantas diam, terpekur.
“Sebaiknya kita pikirkan jalan keluar dari sini dulu, sebelum mencari sebabnya” Markandra memutuskan. “Kalau sampai kita keluar dan mereka melihat kita … kita bisa dalam bahaya.”
Jantungku mencelus. “Dia mengenali kalian?”
“Tidak,” Ira menjawab cepat. Wanita itu mendongak, memandang tembok di belakangnya yang tinggi. “Kami hanya menghindari berbagai konfrontasi dengan orang-orang seperti dia.”
Konfrontasi dengan Damastra? Tapi kita tidak mencari masalah dengan pria itu, kan? Bagaimana bisa mengkonfrontasi seseorang seperti itu? Seseorang yang tidak terlibat masalah sama sekali dengan kita?
“Tembok itu terlalu tinggi untuk diraih.” Markandra bicara dengan ira.
“Apa kamu punya jalan lain?”
Ira menoleh antara tembok tinggi di belakangnya dan kerumunan di depannya .
“Menurutmu mereka masih akan lama?”
“Mungkin tidak,” Markandra menjawab. “Tapi kereta kita berangkat lima menit lagi. Aku tidak yakin kita bisa menembus kerumunan itu dalam lima menit tanpa masalah.”
“Kereta selanjutnya?”
Markandra menggeleng. “Akan berangkat besok pagi. Tidak ada waktu untuk menunda.”
Atau ada orang-orang yang akan mati di Semarang, jawaban itu bergema dalam kepalaku. Darah mereka akan selamanya membebani Markandra dan Ira seumur hidup mereka.
Aku menatap tembok di belakang kami. Tidak ada banyak halangan yang merintangi. Hanya ada beberapa kotak kayu yang sudah ditinggalkan. Lalu aku menatap kakiku sendiri. Jika aku bisa melompat cukup tinggi, membawa mereka tanpa masalah melewati tembok itu, semua akan baik-baik saja.
“Kalian bisa lewat tembok itu dan temukan jalan menuju stasiun?”
“Seharusnya bisa,” jawab Markandra. “Ini masih wilayah stasiun. Kami tinggal masuk ke dalam kereta.”
“Baik.” Aku melangkah ke dalam gang, tepat ke arah tembok itu. “Aku akan membantu kaliam melompat.”
“Damien?!” Ira memekik.
“Aku yang meminta untuk menemani kalian sampai sini” ujarku, segera berdiri di tepi tembok. “Sekarang beritahu aku, bagaimana caranya aku membantu kalian lompat?”
Markandra dan Ira sempat bertukar pandang sebelum menatapku lagi.
“Berjanjilah kamu tidak akan tertangkap,” Markandra meminta. “Kami akan segera kembali dan kami harap kamu ada di sini selamat saat kami kembali.”
Aku mengangguk meski tidak yakin. “Aku akan berusaha.”
“Kalau begitu, coba berlutut dengan satu lutut tegak lurus. Sebaiknya lututmu yang lebih kuat.” Markandra memberi arahan. “Kalau kamu tidak bisa, aku yang akan duduk di sana dan melontarkan kalian semua.
Ancaman itu berhasil membuatku tergesa-gesa sampai tidak menyadari Ira berlari menghampiriku lebih dulu. Markandra mendorongnya untuk menjadi yang pertama melompat. Wanita itu dengan enggan berlari menghampiri. Ia menuntunku bersiap seperti arahan Markandra. Satu tanganku siap di atas lutut.
“Aku tinggal melontarkan kalian?” ulangku ragu. “Kalian yakin itu akan berhasil.”
“Belum pernah gagal sejauh ini,” jawab Ira. “Asal kamu melempar kami cukup kuat.”
Ira kelihatan tidak takut sama sekali pada rencana ini, jadi bolehkah aku asumsikan ini bukan kali pertama mereka kabur dengan cara ini? “Baiklah.”
Ira mengambil ancang-ancang mundur tiga langkah. Kemudian ia berlari dan memijak telapak tanganku yang terbuka dengan satu kaki. Aku melontarkannya sesuai arahan Markandra. Tubuh Ira terlontar keluar tembok.
Dan mendarat dengan gaduh di sisi lain.
“Ira?!” Aku buru-buru berdiri dan memastikan. “Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa.” Ira menjawab dari seberang tembok. “Sekarang, cepatlah! Aku mendarat dengan berisik dan beberapa Politie melirik ke sini!”
Aku bersitatap dengan Markandra. Pria itu mengangguk dan bersiap. Namun sebelum mengambil langkah mundur, Markandra menyerahkan selembar kertas kepadaku. Kertas yang telah menguning dengan aroma yang mengingatkanku pada aroma markas.
“Ini alamat rumah kami di Dengklok,” ujarnya. “Rumah yang biasa kamu tinggali ketika kami tidak ada. Rumah yang akan selalu jadi rumah keduamu, Damien.”
Aku meraih kertas itu dengan ragu.
Benarkah begitu? Rumah? Aku punya rumah?
“Kuncinya ada di lubang di pohon beringin yang ada di sebelah rumah,” tambah Markandra seraya melangkah mundur, tapi pandangannya tetap terkunci kepadaku. “Tanyakan saja kereta menuju Dengklok ke semua orang. Mereka akan tahu. Itu bukan alamat yang sulit. Banyak orang yang tahu dan ketika kamu sampai di alamat itu, kamu akan menemukannya dengan mudah.”
Aku menggenggam kertas itu erat-erat, lalu memasukkannya ke dalam saku. Saat Markandra mengangguk kepadaku, aku pun mengangguk. Percaya satu sama lain.
Tiba-tiba denyut aneh mencekik jantungku.
Denyutnya kuat dan dalam. Mencengkam dadaku seperti sebuah tekanan yang kuat. Degup dalam dadaku semakin cepat. Napasku tertahan, tercekik di d**a. Panas menjalar di seluruh tubuhku. Tangan kiriku mencengkam dinding tempatku bersembunyi. Kepalaku diserang sakit lagi.
“Damien?!”
Sebuah bunyi denting bergema dalam kepalaku. Denting yang mengalun lembut, berkali-kali, dalam kecepatan stabil. Menambah rasa sakit yang aku rasakan di kepala.
“Tidak apa-apa….” Aku kembali bersiap, berlutut seperti arahan Markandra sebelumnya.
“Kamu tidak kelihatan baik-baik saja!” Markandra berseru sedikit lebih keras.
“Sudahlah, melompat saja!” Sebelum rasa sakit ini bertambah parah! “Rasa sakit ini akan reda sendiri! Tapi waktu bagimu sudah sangat terbatas!”
Markandra enggan bergerak. Ia justru menghampiri dan mencoba menenangkan.
Kali ini, aku menepis tangannya.
“Damien….?”
Di kejauhan, aku mendengar suara derap langkah kaki. Derap langkah beberapa orang, berlari mendekati tempat ini. Aku membelalak kaget dan mencengkam lengan Markandra. Ia terlonjak dan tidak sempat menghindar ketika aku mencengkam lengan bajunya.
“Cepatlah….! Tidak ada waktu lagi!”
Markandra meringis, kemudian saat aku sadari, kedua tanganku yang menyentuh bajunya, rupanya ikut membakar pakaiannya.
Aku buru-buru menarik tangan itu darinya dengan napas yang terengah-engah. Degup di dadaku semakin keras dan menyakitkan. Sakit kepalaku semakin parah. Denting itu semakin kencang. Sementara panas di tubuhku semakin tidak terhentikan. Aku menatap tangan sendiri, menyaksikannya berubah kemerahan. Atma merah dan biru keluar, mengalir deras dari dalam tubuhku. Semuanya terkumpul di kedua tanganku. Menunduk, aku melihat jejak hitam telapak tangan muncul di dinding dan di tanah tempatku berpijak.
Ada apa lagi ini?
Tidak, ini bukan saatnya bingung!
Aku menggeleng kuat-kuat, mencoba menyingkirkan semua itu, kemudian menatap ke arah temanku satu itu.
“Markandra!” Aku mendesis, kembali berlutut ke posisi semula. Kali ini lebih hati-hati agar panas di tanganku tidak membakar pakaianku sendiri ini. “Cepatlah!
Markandra melihat bolak-balik antara jalan dan aku. Wajahnya berubah. Sepertinya ia juga mendengar suara yang datang. Dan ia sadar waktunya menyempit. Tanpa kata-kata lagi, Markandra berlari. Kakinya tepat menginjak telapak tanganku. Panas yang ada di sana langsung membakar sepatunya. Sebelum api itu membakar kakinya, aku buru-buru melontarkannya melewati tembok.
Suara buk pelan terdengar di sisi lain tembok. Aku berdiri dan dengan panik menatap tembok, terus menatap dinding itu seolah mataku bisa menembus ke dalamnya. Sulur-sulur atma memang menyala dari sana. Atma merah. Tapi aku tidak bisa memastikan. Sulur-sulur atma itu banyak sekali. Jelas bukan hanya milik Markandra dan letaknya saling berdekatan.
“Aku tidak apa-apa!” Markandra menjawab dari balik tembok. “Sekarang, kamu larilah!”
Aku mengangguk, tapi sadar Markandra tidak bisa lihat, aku pun berkata. “Ya.”
Lalu berbalik.
Tepat waktu untuk menghadapi enam pria berseragam kelabu. Mereka semua mengacungkan senapan kepadaku.
“Jangan bergerak, Pencuri!”
Hah? Aku termangu. Pencuri? Pencuri itu maksudnya ... orang yang mencuri barang dari orang lain, kan?
Aku melirik kanan kiri. Tidak ada orang maupun barang di sekelilingku yang bisa dicuri ataupun yang merasa dicuri. Satu-satnuya yang aku bawa hanya tas di badan. Apa maksud mereka aku ini pencuri?
“Sa-saya bukan pencuri!” bantahku sementara tubuhku semakin panas. Tanganku semakin memerah. Kepalaku semakin sakit. Atma merah dan biru semakin tumpah ruah keluar dari tubuhku. “Sa-saya….”
Mendadak saja mulutku terkunci. Saya … apa? Aku bisa bilang apa? Aku membantu dua temanku lari dari Damastra?
“Hei, lihat kakinya!” Salah satu petugas itu menuding senapannya ke kakiku. Matanya lantas mendelik ke arahku. “Makhluk sialan! Beraninya mengganggu penyambutan Tuan Damastra!”
“Tu-tunggu!”
Tapi mereka tidak mendengar. Mereka menembakkan senapan mereka langsung ke arahku. Aku menunduk, menghindari dua tembakan pertama. Tapi dua tembakan lain menyusul, membuatku berguling di tanah. Tembakan ketiga menyusul dan aku merapat ke tembok, berlindung di balik kotak-kotak kayu untuk sementara.
“Tu-tunggu, ini salah paham!” seruku mencoba membela diri. Aku memutar otak, mencari alasan yang masuk akal. “Saya bukan pencusi—saya hanya mencari makan di sini!”
“Siluman banyak alasan!” Mereka tidak mendengar. Mereka terus menembak.
Suara dentuman senapan semakin kencang dan semakin ramai. Kotak-kotak kayu yang menjadi tempat perlindungan sementara, semakin tidak bisa menyamai kekuatan senapan. Serpihan kayu yang pecah menghujaniku. Beberapa peluru berhasil menembus dan melukai tubuhku. Tapi mereka tidak juga berhenti.
Mereka terus bertanya. Terus menuduhku.
“Aku tidak menghancurkan apa-apa….” Kenangan-kenangan gelap, wajah Bajrandhaksa yang menyeringai, rasa sakit yang mencambuki seluruh tubuh, dan ruang yang sempit, semua perasaan itu kembali menghantamku. Kali ini lebih parah. “Aku tidak … menghancurkan Jayakarta….”
Panas di tanganku mulai terasa membakar. Aku menunduk, melihat api kembali keluar, tapi kali ini mereka keluar langsung dari telapak tanganku. Suara dentuman senapan yang semakin ramai membuat sakit kepalaku semakin tidak terkendali.
“Hentikan, aku mohon….” Api itu semakin membakar. Atma semakin keluar dari tubuhku. “Aku tidak bersalah. Aku tidak tahu apa-apa….”
Merah dan biru perlahan menyatu. Sulur-sulur atma itu saling melengkapi dan menyala. Warnanya berubah. Kilasan-kilasan gelap dalam kepalaku diterangi cahaya itu. Wajah Bajrandhaksa memudar, begitu pula panas dan rasa sakit di kepala. Semuanya lenyap. Perlahan tapi pasti, warna atma milikku semakin terang. Semakin banyak.
Berubah keemasan.
Kemudian api dari tanganku meledak.
Apinya membakar semua kotak kayu itu dan meledak. Enam orang itu terlempar ke jalan raya. Aku mendengar orang-orang memekik kaget di luar. Suara lebih banyak orang yang berlarian terdengar. Di saat yang sama, aku juga mendengar suara orang berlari mendekat. Di belakang, suara peluit kereta terdengar nyaring. Kemudian tanah sedikit bergetar saat aku mendengar deru yang perlahan semakin menjauh.
Sakit kepalaku mereda. Panas dari tubuhku pun perlahan sirna, meninggalkan bekas-bekas hangus di pakaianku dan tembok di belakang tubuhu. Bercak hitamnya terlihat jelas. Aroma hangusnya menusuk hidung.
Tapi tidak di tubuh maupun kulitku. Aku mengerjap tidak percaya. Baik pada tubuhku sendiri maupun pada petugas yang kini entah ada di mana, tergantikan oleh lusinan pasang mata yang mengintip ke dalam gang tempatku berada dengan takut. Aku buru-buru bersembunyi di balik apa yang tersisa dari tumpukan kayu itu. Berharap menghilang atau sekalian menyatu dengan tembok, tapi tentu saja semuanya tidak semudah itu.
Aku menatap dua tangan sendiri yang kini tidak lagi memerah. Mereka tampak normal di mataku. Semuanya kecuali atma meas yang mengalir dari sana. Atma keemasan yang terang benderang.
Ini … atma?
Aku menatap tidak percaya untaian benang-benang emas itu. Mereka benar keluar dari tubuku. Tidak teraih dan bergerak-gerak cepat di udara, seperri menari. Seperti hidup, layaknya atma.
Atma macam apa ini? Warnanya … emas? Bukan merah maupun biru. Kenapa—bagaimana bisa atma ini keluar dari tubuhku?
Perlahan, atma itu kembali berubah menjadi merah dan biru. Kemudian atma biru itu pun lenyap.
Apa … apa yang baru saja terjadi?
“Tadi itu apa? Asalnya dari dalam sini!”
“Ada Politie terlempar! Sepertinya ada yang meledak!”
Suara orang-orang kian ramai di jalan raya, membuatku panik seketika. Sadar akan kondisi sendiri.
Astaga, astaga, astaga.
Aku buru-buru berdiri lagi. Sekarang aku terjebak. Mau lari ke depan, orang-orang mungkin akan langsung meringkusku. Dengan cepat, aku menoleh ke arah tembok yang ada di sebelahku. Melewati tembok ini mungkin akan membawaku pada keselamatan. Tapi … apa aku bisa melompatinya tepat waktu?
Sebelum orang-orang datang dan kembali menembakku?
“Nah, karena inilah, aku meminta kalian untuk mundur saja….” Sebuah suara terdengar dari jalan raya.
Jantungku mencelus. Sudah terlambat. Atma lain datang ke arahku.
Namun aku lantas mendapat kenyataan, napasku tertahan dan tubuhku mematung saat menyaksikan atma yang mendekat ke arahku, bukanlah warna atma yang biasa. Atma itu bukan warna merah maupun biru.
Atma itu berwarna kuning keemasan.
Seperti warna atma milikku tadi.
Tubuhku berubah kaku saat kepalaku menoleh ke arah jalan masuk gang. Tepat saat seorang pria bertubuh tegap, bersetelan hitam lengkap, melangkah masuk dengan keanggunan yang aneh. Atma emas yang mengelilingi tubuhnya membuatku menahan napas. Atma itu melimpah ruah, menutupi seluruh ruang di sekeliling kami. Mencekik atma merah yang keluar dari tubuhku.
“Sekarang, apa yang kita dapat di sini?” Ketika sepasang mata hitam Damastra menatap ke arah kakiku, semua peringatan yang pernah dikatakan orang-orang kepadaku, kembali bergema. “Wah, wah….”
Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasakan desakan yang kuat yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Sebuah desakan yang meledak-ledak dalam diri. Sesuatu yang kembali membuat kepalaku sakit dan pening.
Damastra tersenyum menatap kakiku, sebelum mata kami kembali bertemu. Senyumnya mengembang semakin lebar. “Sepertinya kamu bukan pencuri biasa.”
***