Seperti kata-kata Btari, keesokan paginya, dia membangunkanku ketika matahari belum lagi muncul. Kami bersiap. Dia memberiku pakaian baru yang lain dari kemarin. Aku sempat menolak karena tidak enak hati, tapi Btari bersikeras. “Kamu akan menemui Tuan Damastra dalam kondisi resmi. Tanpa borgol di tangan.” Btari lalu melirik kedua tanganku yang bebas. “Kecuali kamu mau diborgol kembali dan datang sebagai tahanan.” Ekspresi Btari ketika mengatakan tawaran mengerikan itu membekas lama dalam benakku. Bagaimana ia bisa setenang itu dan bagaimana tawaran itu bisa keluar begitu mudah dari mulutnya, seolah aku akan mengiyakan. Seolah itu hanyalah tawaran sewajar pakaian mana yang akan aku kenakan pagi ini. “Tidak akan ada yang protes juga,” imbuh Btari, seolah memang ia merasak menambahkan ta

