11. Pertemuan dan Pernikahan

1854 Kata
Tidak ada dari kami berdua yang berkedip atau memalingkan pandang. Kami saling tatap seolah hanya ada kami berdua di dunia ini. Tidak ada seratus makhluk-makhluk api yang hendak menghancurkanku ataupun makhluk raksasa bertangan enam di belakangnya yang menatap kami dengan pandangan membunuh. Di tengah kesunyian, sulur-sulur cahaya merah dan biru menari di tengah, kanan, dan kiri, mengelilingi kami. Warna-warna yang timbul indah, berpadu menjadi satu, saling melengkapi dalam gerakan aneh yang membuaiku. Merah dan biru. Aku mengerjap. Sulur-sulur cahaya merah keluar dari tubuh gadis itu, berputar di sekelilingnya seperti aliran angin. Merah murni di antara jutaan warna biru yang mengelilingi. Sekala, kata itu bergema dalam kepalaku. Sedikit ingatanku menyeruak sekali lagi. Dunia yang tampak. Sakit kepala tiba-tiba menyerangku. Telingaku berdengung saat pening itu kian menjadi, membuatku meringis dan memegangi kepala karena tidak tahan. “Atma merah adalah milik alam Sekala.” Sebuah suara bergema dalam kepalaku. Aku lantas memandangi gadis itu, keheranan dan bingung kini. Sulur-sulur cahaya masih mengelilingi kami. Ah, bukan. Bukan sulur cahaya. Ini … ini atma. Tapi apa itu atma? Sebelum pertanyaan itu sempat terjawab, atma biru di sekeliling kami menyala semakin terang. “Sementara atma biru adalah milik alam Niskala.” Suara lain bergema dalam diriku. Sekala dan Niskala … apa itu maksudnya? Aku tidak mengerti. Suara di kepalaku ini … suara milik siapa? Aku tidak mengenalnya sama sekali. Suara laki-laki ... atau suara perempuan? Aku tidak tahu. Merah dan biru. Mereka berbeda kan? Mereka berasal dari dunia yang berbeda kan? Kalau begitu bagaimana bisa….? Aku mengamati tubuh sendiri. Sekalipun terbelenggu, sekalipun tida bisa berbuat apa-apa, sulut cahaya atma itu masih mengalir keluar dari tubuhku. Merah dan biru. Keduanya mengalir, keluar bersamaan dari tubuhku, mengelilingiku. Mereka saling menelan dan mengikat dalam satu tarian abadi di tengah-tengah kami. Aku mengamati gadis itu sekali lagi. Atma merah miliknya murni. Tidak ada warna lain yang bercampur dalam sulur-sulur cahaya merah yang menyelubunginya. Kemudian aku melihat diriku sendiri. Atma merah dan biru. Aku tidak berhalusinasi. Memang demikian kenyataannya. Aku memiliki dua atma. Kenapa….? Bagaimana bisa….? Dan … apa artinya itu? “Sekala dan Niskala itu berbeda.” Suara itu bergema lagi di dalam kepalaku. Sekali lagi memberiku pertanyaan tidak terjawab. Jika Sekala dan Niskala berbeda…. Aku mengamati dunia di sekeliling kami. Atma biru mengelilingi dunia in. Mungkinkah tempat ini adalah Niskala? Tapi kalau tempat ini Niskala … bagaimana mungkin ada gadis dari Sekala di tempat ini? Kenapa … gadis ini ada di sini? Tiba-tiba, binar menyala di sepasang mata biru milik gadis itu. Di tengah warna merah yang membara, warna biru matanya berpendar dalam cara yang aneh. Kemudian ia tersenyum. Gadis itu tersenyum kepadaku. “Ternyata kamu ada di sini.” Suara itu menyentak sesuatu dalam diriku. Alunannya lembut, tapi ketukan yang diakibatkannya terasa nyata. Seperti tinju pelan yang bahkan tidak aku mengerti kenapa alasannya. Suaranya indah … seperti pernah aku dengar di suatu tempat tapi … di mana? Sebuah rasa sesak yang baru menyempitkan dadaku. Suara gadis itu bergema dalam kepalaku dengan cara yang berbeda dari suara sang makhluk raksasa ataupun suara makhluk-makhluk merah di sekeliling kami. Suarnaya bergema seperti denting, jauh lebih ringan dari gemericing rantai yang mengikat tubuhku. Selembut tetesan air. “Ternyata kamu ada di sini.” Eh? Aku mengerjap bingung. Tunggu sebentar, ia mencariku?! Sayangnya, belum sempat aku bertanya, gadis itu sudah lebih dulu menyambar tanganku. Dia menggenggam tanganku dengan tenaga sedikit terlalu erat. Kecepatan dan kekuatannya … apa-apaan gadis ini? Kenapa … dia bisa secepat dan sekuat ini? Ah, tidak, apa … aku saja yang terlalu lemah? Pergelangan tanganku yang terbelenggu sedikit nyeri karena kuatnya tarikannya, tapi entah dia tidak menyadari atau tidak peduli, gadis itu justru menarik tanganku semakin kuat. Kemudian tanpa malu, ia mencondongkan badan mendekat. Sangat dekat hingga hidung kami nyaris bersentuhan. Aku langsung terlonjak mundur. Kaget dan gugup menjadi satu. Degup jantungku berdentam-dentam, jauh lebih parah dan mengalahkan rasa sakit yang kini entah kenapa sudah memudar dari kepalaku. Sulur-sulur atma menyala terang di sekeliling kami. Merah dan biru saling mengikat, seolah menyindirku. Gadis itu menyentuh wajahku. “Aku sudah lama menunggumu.” Sekali lagi, sebelum aku bertanya, gadis itu sudah bergerak lebih dulu. Sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk bergerak. Dan kali ini dia menyambar mulutku. Sekujur tubuhku seketika membeku. Mataku membelalak lebar, hampir melompat dari rongganya ketika rasa manis bibirnya mengunci bibirku dalam buaian aneh yang belum pernah aku rasa. Gadis itu memejamkan mata, tangannya menarik rambutku, sementara tangannya membelai pipiku ketika ia menarik diri semakin dekat. Sebelah tangannya menggenggam jari jemariku, seolah menggenggamku dan memang harus aku akui, kakiku lemas luar biasa karenanya. Ketika gadis itu menarik diri, aku bahkan tidak ingat apa yang tadi mau aku tanyakan. Gadis itu tersenyum miring. Ia menjilat bibir. “Rasamu benar-benar menyenangkan!” Kedua mata biru gadis itu membulat. Senyum riang terkembang di bibirnya. “Aku suka padamu!” Kemudian, ia menggenggam erat tanganku sekali lagi dengan kedua tangannya. Lalu sembari tersenyum lebar penu kebahagiaan—meski aku tidak tahu apa alasannya—ia pun berkata dengan lantang ke depan wajahku: “Menikahlah denganku!” Ada kesunyian yang cukup panjang di antara kami. Rasanya dunia berubah sunyi seketika. Di hadapanku, gadis itu tetap setia tersenyum sementara aku terdiam, memproses segala yang telah terjadi termasuk kata-katanya yang baru saja ia ucapkan, meyakinkan diri bahwa semua ucapan itu bukan halusinasi. Bahwa ia benar-benar baru saja memintaku menikah dengannya. Menikah…. Kata itu bergema dalam kepalaku selama beberapa detik. Kemudian saat ingat apa makna kata itu, aku tidak bisa menghentikan diri dari menganga selebar-lebarnya. “Hah?!” *** “Kamu tidak tahu? Menikah itu artinya berjanji seumur hidup!” Gadis itu menjelaskan bahkan tanpa perlu aku minta. Bahkan dengan senyum yang luar biasa cerah! “Kita menjadi suami-istri!” Entah apa yang terjadi pada kepalaku. Sebelumnya, mengingat hal-hal yang mudah terasa sangat mustahil, tapi anehnya untuk masalah ini dan hanya untuk satu kata itu, dalam beberapa detik saja, aku langsung bisa mengingatnya. Menikah. Menjadi suami-istri. Artinya aku terjebak dalam perjanjian seumur hidup dengan gadis ini. Selama aku hidup. Mata berbinat itu menyedotku. Warna birunya yang cerah menarikku tanpa memberiku jalan untuk keluar. Aku tidak tahu apa alasan sampai aku tidak bisa berpaling dari wajah itu, tapi aku tidak bisa mengelak. Dia memang … berbeda. Aku mengamati wajahnya, kulit putihnya, alisnya yang melengkung tajam, matanya yang berbinar, bibirnya yang melengkung penuh membentuk senyum … bibir yang … terasa begitu manis. Aku menunduk malu, mengutuk diri sendiri karena bisa-bisanya berpikir seperti itu. Tetapi kemudian perhatianku tertuju ke hal lain. Awalnya aku melihat sepatunya yang hitam mengilap, tetapi kemudian aku sadar satu hal lain yang membuatku semakin malu. Kaki gadis ini terlihat jelas sekali! Buru-buru aku menutup mata. “A-anu … No-nona, i-itu….” Aku ingin menunjuk, tapi tanganku yang terbelenggu dan digenggam erat olehnya, tidak bisa berbuat banyak. “B-bisakah— Suara menggelegar memotong pembicaraan kami—tepatnya, pernyataan gadis itu yang tidak terjawab. Tanah di bawah kaki kami bergejolak. Aku yang terbelenggu tidak bisa berbuat banyak ketika tubuh ini limbung dan jatuh. Namun aku tidak sempat terjatuh. Lengan gadis itu keburu mendekapku. Menyelamatkanku dari jatuh secara memalukan. “Aku menangkapmu.” Berbeda dari saat bicara di depan wajahku, gadis itu berbisik lembut saat ada di dekat telingaku. Jantungku semakin bertalu-talu. “Apa ada yang terasa sakit? Kamu terluka?” Karena masih diliputi keterkejutan, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi sekalipun aku sudah tidak begitu kaget, degup jantungku yang menderu membuatku susah berkata-kata. “A-anu … ma-maaf … tapi bisa-bisakah to-tolong….” “Makhluk Lancang!” Kata-kataku terpotong suara yang menggelegar marah. Aku mendongak, melihat sang makhluk raksasa itu kini menggeram marah ke arah kami. Ketiga matanya membuka lebar-lebar. Sulur-sulur atma niskala mengalir ke seluruh tubuhnya. Enam tangannya membuka lebar-lebar. Semua senjata di tangannya dalam keadaan terhunus siap menyerang. Cambuk melecut turun, gada menghantam tanah, palu terangkat tinggi-tinggi. Di sekeliling kami, ratusan makhluk merah itu meraung marah. Mereka semua berlari menghampiri. Di atas kepalaku, langit bergemuruh. Kumpulan awan hitam muncul di langit yang merah membara. Awan-awan itu bergerak cepat, berkumpul tepat di atas kepala kami. “Beraninya makhluk sepertimu mengganggu penghakiman di Setra Gandamayu ini!” Sosok itu meraung murka. “Anjani!” Raungannya menggema dan makhluk-makhluk merah di sekeliling kami merespons kemarahan itu, seperti gema yang menyusul setelah suara sang makhluk raksasa. “Habisi mereka yang m*****i tempat ini!” Secara bersamaan, makhluk-makhluk merah itu merangsek maju. “LANCANG!” Mereka semua meneriakkan kata yang sama. “MAKHLUK LANCANG!” Sementara itu, di atas kepalaku, awan-awan hitam berkumpul. Guntur dan gemuruh berbunyi di atas sana. Udara semakin sesak dan panas. Kedua kakiku lemas, nyaris tidak bisa menopang tubuh. Jantungku berdegup cepat oleh ketakuan yang baru. Namun sepertinya gadis yang memelukku tidak berpikiran sama. Di tengah semua kekacauan itu, ia melepaskanku dengan tenang. Bukan melemparku seenaknya, tapi hanya melepaskan pelukan. Matanya mengerjap ke arahku dan aku yang sedang ketakutan pun hanya bisa membalas kedipan bingung itu. “Oh, ya, benar juga!” Gadis itu bertepuk tangan satu kali. Lain dari situasi tegang di sekeliling kami, gadis itu masih bisa tersenyum santai dan bahagia, seakan tidak terpengaruh sedikit pun kondisi di sekeliling kami. “Astaga, di mana sopan santunku?!” Awan berputar semakin cepat. Langit semakin gelap. Di bawah, tanah berguncang semakin hebat. Tubuhku mulai limbung sekali lagi. Tangan-tangan dari manusia merah itu semakin dekat denganku. Jari jemari mereka yang panas membara menularkan panasnya ke tubuhku meski mereka belum dapat menggapaiku. Pandanganku menggelap, kilasan-kilasan merah yang tadi muncul kembali menari-nari di dalam pandangan mataku. Semua ini mirip, benakku menyamakan kondisi sekarang dengan semua kilasan tadi: langit merah, tanah hitam, orang-orang yang bergelimpangan dalam keadaan memerah. “Pengkhianat.” “Sekarang, perlihatkan kepadaku apa yang kau lihat dan dengar hari itu. Hari ketika kau menghancurkan Jayakarta sampai rata dengan tanah.” Pertanyaan dalam diriku akan selamanya menjadi pertanyaan. Ada yang aku lupakan. Ada yang hilang dariku dan aku mengetahuinya, tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengambil kembali semua itu. Aku akan mati dengan semua tuduhan itu tanpa tahu alasannya. Gadis di hadapanku menarik keluar sebuah kotak dari sakunya. Ia membuka kotak itu dan aku bisa melihat ada sesuatu yang berkilau di dalam kotak itu. “Ini cincinmu, Suami— “Ya!” Jawaban itu keluar tanpa pernah aku pikirkan. Tidak penting, pikirku, yang penting aku bisa keluar dari sini. Yang penting aku bisa lolos dari semua ini. Dan mencari semua hal yang telah hilang dariku. Mencari tahu alasanku bisa ditahan di sini. Namun aku lupa menyadari, gadis ini mungkin tidak bisa membantuku. Apa daya gadis ini untuk mengeluarkanku? Dia mungkin bisa menatap dan bicara dengan makhluk-makhluk ini, tapi kekuatannya tidak mungkin bisa sama. Tubuhnya bahkan lebih kecil dari tubuhku. Ia tidak akan bisa melakukan apa-apa di hadapan raksasa bertangan enam seperti makhluk yang ada di hadapan kami sekarang ini. “Oh, Cintaku!” Tanpa aku duga, gadis itu justru berseru dengan mata berkaca-kaca penuh kebahagiaan. Eh? Dia tidak takut. Tidak ada ketakutan yang aku lihat di matanya. Dia bahkan tidak repot menoleh untuk melihat betapa keadaan di sekeliling kami telah berubah kacau. Sepenuhnya, ia hanya tertuju pada pernikahan yang tiba-tiba ia ajukan. “Kamu bahkan menjawabnya sebelum aku sempat menyerahkan cincin!” Gadis itu berseru riang. “Aku benar-benar terharu, Suamiku!” Ia tanpa ragu memelukku. Mendekapku erat, menciumi seluruh wajahku, tidak memeudlikan sama sekali bahaya yang semakin mengepung kami dan sosok raksasa di belakangnya yang sudah mengangkat palu tinggi-tinggi. Ketika gadis itu melepaskan pelukannya, matanya berbinar semakin terang. “Jadi,” Ia menatapku penuh kasih. Sama sekali tidak mengacuhkan makhluk-makhluk merah yang mendekati kami. “Kapan kita akan melangsungkan pernikahan kita, Suamiku Tersayang?” Palu sudah ada di atas kepala kami. Bayangannya sudah menutupi kami berdua. Aku memejamkan mata. Ini sudah berakhir. Tidak ada waktu lagi! “Ka-kapan pun kamu mau!” Sekali lagi, jawaban yang tidak aku pikirkan sebelumnya. Jawaban yang keluar dari mulut yang dikendalikan keputus asaan. “Baiklah!” Gadis itu berseru riang dan sekali lagi memelukku. “Sudah diputuskan!” Kemudian palu raksasa itu menghantam kami berdua. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN