10. Elegi dan Eksekusi

3900 Kata
Aku tidak bisa lagi merasakan tubuhku. Jiwaku terombang-ambing, seolah tidak menyatu dengan raga yang selama ini menopangku. Ingatanku teracak-acak, pudar satu demi satu menjadi abu yang tidak lagi bisa dilihat dengan jelas. Menjadi tidak penting. Tidak lagi bisa aku ingat. Aku mengerutkan kening kuat-kuat, mencoba mengingat apa yang baru saja terlintas di mataku sekejap lalu. Semua warna, suara, ledakan, dan jejak perasaan yang sebelumnya membanjiriku tanpa ampun. Orang-orang memanggilku dengan nama yang tidak aku kenal. Tidak bisa aku ingat lagi. Aku yakin melihat wajah seorang wanita yang tersenyum kepadaku, seorang pemuda berambut hitam yang mengulurkan tangan kepadaku, langit yang berubah merah, tanah yang terbelah, delapan cahaya merah menjulang bagai pilar. Namun semua itu berubah tidak berarti. “Kesalahan masa lalu tidak boleh diulang.” “Kedamaian akhirnya tiba, setelah sekian lama.” Aku meraih sebanyak mungkin serpihan yang masih bisa aku kenali, tapi nihil. Kehampaan ini bahkan lebih berat dari sebelumnya. Lebih menyiksa dari perasaan bersalah yang sebelumnya seolah menghancurkan setiap tulang di tubuhku. Dengan tubuh remuk dan ingatan yang tercarut-marut, aku merasa segalanya tidak akan jadi lebih buruk. Tidak mungkin bisa jadi lebih buruk. Tapi pria itu masih ada di sini. Jadi tidak mungkin keadaan tidak bertambah buruk. “Akhirnya! Aku heran kenapa tidak ada yang mau menggunakan metode ini sejak awal.” Pria itu mencabut paksa sisa tenaga terakhirnya pada tubuhku. Menyobek entah apa dari kepalaku. “Nah, aku sudah dapat apa yang aku mau! Terima kasih atas kerja samamu selama ini, Nomor Tiga-Enam.” Aku tidak menjawab. Tidak bisa. Lidahku terluka, rahangku remuk, dan mulutku sobek. Bagian dalam mulutku dipenuhi cairan yang terasa pahit luatr biasa. Mataku tidak bisa melihat. Dengung aneh memenuhi telingaku. Sementara suara pria itu, entah bagaimana, dapat berdengung sampai ke dalam kepalaku, menembus segala suara lainnya. Seakan tidak ada yang bisa menghalanginya dari masuk ke dalam kepalaku, menjajah dan mencacahnya sampai celah terkecil. Rambutku ditarik. Embusan dingin terasa di kulitku. Tidak butuh membuka mata untuk tahu pria itu kini ada di hadapanku. Mungkin sambil tersenyum. “Sampai jumpa di tanah eksekusi mati, Monster Licik.” Kemudian, kepalaku kembali dicampakkannya, dibiarkan tergantung lemah menempel di d**a. Rasa sakit berdenyut-denyut di setiap tempat di tubuhku, bahkan di tempat-tempat yang sebelumnya tidak aku ketahui. Dan itu membuatku pusing. Suara lemah yang aneh keluar dari mulutku. Suara yang tidak bisa aku kenali, namun entah bagaimana masih bisa keluar walau mulutku babak belur tak bisa membentuk satu kata dengan benar. Aku mencoba menggerakkan tangan yang tergantung maupun kaki yang terikat. Percuma. Jari jemari yang patah dan tubuh yang terpuntir, tidak akan bisa melakukan banyak hal. Sial. Ada aroma besi tercium, tapi mungkin aku menciumnya karena hidungku patah dan tersumbat darah sendiri. Aku mencoba mendongak. Ternyata butuh mengeluarkan semua tenaga yang tersisa untuk melakukannya, sekadar untuk melirik sedikit ke atas kepala. Mataku yang tertutup darah dan lengket membuka pelan-pelan. Rasa sakit menyengatnya. Sepertinya ada luka yang masih membuka di kelopak mataku, tapi aku bisa mengabaikannya dengan cepat. Seuntai rambut menghalangi pandangan mataku dari terbuka sempurna, tetapi sekalipun aku membuka mata lebar-lebar, pemandangan penjara tidak akan berubah. Ruangan ini masih gelap dan pekat dengan dinding-dinding batu hitam aneh yang memancarkan cahaya biru tanpa henti. Atapnya terasa lebih mengimpit dan dinding-dindingnya terasa lebih menyesakkan sekarang, setelah aku menyadari betapa sempitnya tempat ini, bahkan hanya untuk sekadar berdiri. Kenapa aku ditahan di sini? Aku kembali ke titik awal. Sebelum pria yang bahkan tidak aku ketahui namanya itu datang. Sebelum rasa sakit bertubi-tubi darinya merajah tubuh ini. Aku kembali ke titik ketika ingatan dan diri ini perlahan kehilangan segalanya. Tidak lagi mengingat apa-apa selain ruang penjara sendiri dan kondisi yang seolah tak berakhir ini. Apa yang tadi aku ingat? Kehampaan menyerangku dalam keadaan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Kegelapan semakin pekat dalam diriku, mengiringiku ke dalam kegelapan abadi, seiring dengan hilangnya ingatan-ingatan yang semakin samar, membawa semua perasaan yang sempat aku rasakan pergi menjauh tak pernah kembali. Siapa yang tadi aku muncul dalam kepalaku? Mataku kembali terpejam, mencoba merasakan sisa-sisa emosi yang tadi hadir di dalam diri ini. “Saya berjanji akan selalu bersama….” Sebuah rasa bersalah yang amat besar, membebani dadaku hingga rasanya sulit sekali bernapas. Lalu datang sebuah penyesalan yang seolah tidak berujung, membelah tubuhku menjadi dua. Kemudian sebuah kemarahan yang tidak aku tahu apa sebabnya membelah kepalaku. “Saya percaya….” Aku ingin menjerit. Aku ingin murka. Tapi sekadar bicara saja, sampai detik ini, aku tidak bisa. “Aku ingin percaya….” Sesuatu rasanya pernah hilang dari dalam diriku. Sesuatu yang amat berharga, seperti separuh napasku. Selayaknya seluruh darah dalam tubuhku. Separuh jiwaku. Wajahnya sempat hadir, mengisi ingatanku dengan senyuman dan cahaya terang yang tidak bertahan lama. Kini aku tidak bisa lagi mengingatnya. Tanpa aku bisa hentikan, air mata yang tidak mengenal alasan turun mengalir di pipiku, menangisi hal-hal yang aku sendiri tidak bisa ingat. Anehnya, hal-hal yang telah hilang itu masih meninggalkan rasa sakit yang nyata. Aku hanya bisa mengira seberapa beratnya hal yang telah hilang itu. Pastinya sangat berharga. Kini semua sudah tiada. Aku tidak bisa melindungi bahkan ingatan-ingatanku sendiri. Kini, segalanya kembali tanpa sebab. Tanpa alasan dan tanpa akhir. Aku terus menyesalinya, terus bertanya-tanya, terus merasa sakit atas luka dan derita yang tidak sempat aku rasa, tapi begitu lama singgah lewat rasa sakit dan aniaya. Air mataku kembali menetes, semakin deras, seiring luka yang terasa semakin dalam. Kemudian, aku tidak lagi bisa menahannya. Aku terisak, menangis untuk sebuah pilu yang tidak aku tahu. Namun rasa sakitnya justru semakin besar. Semakin sakit dan tidak tertahankan. *** “Hei, bangun….!” Seseorang memanggilku. Suaranya lembut, mengalun, seperti angin di hujan yang baru saja datang setelah kemarau panjang. Sejuk menentramkan. Aku tidak bisa mendengar namaku dipanggil. Tapi aku yakin ia memanggilku. Sesuatu dalam diriku ikut mengiyakan panggilan itu, datang tepat kepadanya, membuka mata untuknya, dan mengerjap pelan menyambut seberkas sinar lembut yang masuk. Sekelebat bayangan menyejukkan menutupi pandanganku. Sinar matahari menyinari sosoknya, membuatnya bagai gerhana. Sepenuhnya dari siluet hitam yang tidak terlalu terlihat jelas. Meski tidak bisa melihat wajahnya, entah kenapa, aku merasa sangat rindu. Terlebih ketika ia mengulurkan tangan, menyentuh pundakku. Rasa rindu yang menyesakkan d**a ini tidak bisa ditahan lagi. “Kok malah melamun? Ayo, bangun, ini sudah pagi. Kanda sudah ditunggu hari ini, kan?” Ia meraih tanganku berusaha menarikku dari pembaringan yang nyaman ini. “A-aduh, Kakanda menangis? A-apa saya sudah terlalu memaksa—Kakanda sakit? Tidak enak badan? Kanda mau dibuatkan apa?” Aku bermimpi buruk. “Ka-kalau Kanda belum siap, Kanda bisa tidur lagi.” Ia menggenggam tanganku. Kelembutan tangannya menghangatkanku. Jadi aku membalas genggaman tangannya. “Biar saya buatkan teh dulu.” Aku menggeleng. Tidak perlu. Tulang-tulangku yang lemah dan tubuhku yang letih perlahan bangun. Ah, betapa tangannya terlalu kecil, tapi telapak tangannya terasa kasar. Aroma kunyit, kapulaga, kayu manis, dan melati menguar dari tubuhnya. Aku mencium tangan itu, merasakan bulir-bulir keringat dan aroma harum yang tidak akan pernah aku temukan di tempat mana pun di dunia ini. Hanya di dirinya. Karena itulah ia begitu tidak terganti. Aku bermimpi kamu pergi. Jauh sekali, lama sekali, dan aku sendirian. Di tempat yang sangat gelap, sendirian. Kesakitan. Ia bergeser, pindah ke sisiku. Rasa malu yang tidak aku kenal merangsek masuk dan aku pun menunduk. Tidak berani mendongak untuk emnatap matanya walau rasa rindu ini kian menyiksaku. Sekali saja, aku ingin menatap matanya. Memastikan bahwa ini bukan mimpi. Bahwa rasa sakit yang tadi aku deritalah yang mimpi. Namun aku tidak sanggup. Aku merasa tidak pantas. Ia menggenggam tanganku lembut sementara tangannya yang lain merangkul tubuhku. Mendekapku hangat. “Mungkin suatu hari nanti memang yang demikian akan terjadi … tapi tidak sekarang.” Aku merasakan kecupan di puncak kepalaku sementara ia berucap dengan yakin. “Sekarang saya ada di sini. Saya berjanji akan selalu bersama Kakanda.” Aku menggenggam tangan itu. Membelai dan mengecup jari jemarinya yang sejuk. Aku menggenggam tangannya lebih erat. Dahi kami bertemu dan aku menutup mata. “Kakanda tidak panas, tapi Kakanda berkeringat dingin,” bisiknya lembut ke wajahku. “Apa sebaiknya saya bilang kepada mereka untuk menunda acaranya?” Aku ingin mengangguk, mengiyakan ucapan itu, tapi tidak bisa. Tubuhku tiba-tiba terasa sangat berat. Di sini saja … aku hanya ingin di sini bersamamu sebentar saja … aku rindu padamu. Dadaku sesak. Napasku yang terenggut kembali terasa sakit. Air mata sekali lagi lolos dan mengalir di wajahku. Bibirku bergetar, gigiku bergemeretak, suara keluar dari mulutku dalam bentuk isakan. Tercekik, lemah, dan menyedihkan. “Ka-Kanda menangis? Apa ada yang sakit?” Suara wanita itu berubah panik. “Perlu saya bawakan sesuatu?” Aku menggeleng. Aku tidak butuh apa pun. Aku hanya butuh dirimu. Saat ini aku hanya butuh … semua ini. “Kakanda … tatap saya sebentar.” Dengan berat hati, aku membuka mata. Ia pun mendorongku perlahan untuk menjauh: sebuah permintaan dalam diam yang terpaksa aku turuti. Dan ternyata aku tidak menyesalinya. Di sisiku, duduk seorang gadis paling cantik yang pernah aku lihat. Kulitnya kecoklatan dengan rona merah di pipi. Alis matanya tebal dengan bulu mata yang lentik. Sepasang mata hitam di wajahnya berbinar oleh nyala api kehidupan. Anak-anak rambut berjatuhan dari gelungan kerasnya ketika ia mendekat, bergerak menghapus peluh dari dahiku. Tanganku terulur, ikut merapihkan anak-anak rambutnya dan turun … membelai lembut pipinya. Apakah ia nyata? Tanganku dibekap rasa sejuk yang menenangkan ketika aku menyentuh pipinya. Ia nyata. Bukan semata ilusi. Aku benar-benar bisa menyentuhnya. Hanya dengan sejumput kenyataan itu, sekali lagi aku menangis. Gadis itu tersenyum, mencium jari jemariku dan menggenggamnya erat. “Pasti mimpi yang sangat buruk ya?” Aku mengangguk. Aku … merindukanmu. Tanpa sedikit pun melepaskan genggaman tangan kami, aku mendekat. Isak tangisku semakin jelas. Napasku semakin sesak dan air mata semakin berurai. Maafkan aku. “Ke-kenapa Kanda minta maaf?” Gadis itu tergagap lagi. “Kanda tidak bersalah. Kanda tidak salah apa-apa.” Aku menggeleng. Maafkan aku … untuk segalanya. Jika … ada kesalahan yang pernah aku perbuat … aku benar-benar minta maaf. Aku ingin memeluknya. Mendekapnya erat-erat tanpa melepasnya. Tapi tubuhku terasa sangat berat. Aku tidak sanggup menyentuhnya lebih dari ini. Aku merasa tidak pantas meraihnya. “Kakanda mau cerita?” Gadis itu bertanya lagi. “Saya siap mendengarkan.” Lagi, aku menggeleng. Aku tidak ingin merusak momen ini. Itu hanya mimpi…. “Benar, itu hanya mimpi. Kakanda ada di sini sekarang, aman bersama kami semua.” Gadis itu tertawa pelan. “Itu semua hanya mimpi buruk.” Gadis itu mendekapku lebih erat. Ia memberiku ruang yang tidak sanggup aku raih sebelumnya, ruangan tempat hanya kami berdua yang ada. Bersama dan tidak terpisahkan. “Sudah tidak apa-apa.” Ia menggenggam tanganku. Hush, hush, suaranya menenangkan. Seperti belaian seorang ibu. Aman dan kedamaian bersamanya. “Segalanya akan baik-baik saja sekarang.” Kedua tanganku balas mendekapnya. Seerat yang aku bisa. Menenggelamkan diri semakin dalam ke kedamaian ini. Aku tidak mau momen ini berakhir. Tidak sekarang. Tidak kapan pun. Hingga sebuah ketukan terdengar. Kami berdua sama-sama melepaskan diri dan menoleh. Awalnya aku menduga ketukan itu berasal dari pintu yang hanya dua langkah di depan kami, tapi aku sadar, ketukan itu berasal dari pintu yang lain. Ketukan itu terdengar jauh. Kami bertatapan dalam suasana yang lebih tenang. Namun kehampaan dengan cepat mengisiku sekali lagi, menggerus semua kehangatan yang tadi sudah mendamaikanku. “Ibu? Ibu ada di dalam?” Sebuah suara memanggilku. Suara yang berbeda, milik seorang laki-laki. Kedua kakiku bergerak tanpa sadar, mengarah ke pintu. “Apa Ayah sudah siap?” Rasa rindu yang baru menyerangku. Ayah. Benar, aku seorang ayah. Aku punya anak. Aku punya seorang putera.  Aku juga ingin menemuinya. Suara itu harus aku jawab. Aku butuh bertemu dengannya. Ia beranjak lebih dulu, meraih gagang pintu. Namun sebelum membuka, ia sekali lagi menoleh kepadaku. Memberiku satu senyuman … senyum yang aku tidak ingin lihat berlama-lama. Ia menepuk tanganku pelan, seolah ingin membesarkan hatiku. Aku ingin bangkit berdiri, mencegahnya, meraihnya kembali ke dalam pelukan, tapi tubuhku sekali lagi tidak mau bergerak. Kemudian gadis itu berhenti tepat di ambang pintu. Ia tidak berbalik, tapi aku melihat pundaknya turun. “Ah, mungkin … Kakanda bermimpi buruk karena pertengkaran kita semalam?” Ketika gadis itu berbalik, ia tersenyum sedih. “Tenang saja, saya tidak marah.” Tidak. Jangan tersenyum kepadaku seperti itu. Aku tidak mau melihatmu sedih seperti itu. Sayang, tidak peduli seberapa keras pun aku menjerit di dalam hati, mulutku tidak pernah bisa menyampaikannya. Lidahku kelu. Bibirku menutup rapat secara tiba-tiba. “Perselisihan itu wajar terjadi bagi suami-istri.” Dadaku kembali sesak. Aku menggigit bibir, lidah, atau apa saja agar bisa teriak. Tapi percuma. Aku tidak bisa berteriak. Aku tidak bisa bersuara. Tidak bisa menghentikannya. “Dyaksa lain mungkin sudah menunggu Kanda. Akan saya sampaikan Kanda tidak bisa hadir.” Daun pintu mengayun membuka. Gadis itu pun melangkah keluar meninggalkanku. Saat itulah, aku terlambat menyadari kekosongan dalam kepalaku. Sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Aku tidak mengingat nama gadis itu. Pintu kemudian membuka lebih lebar, memperlihatkan kepadaku seseorang telah menunggu di depan pintu: seorang pemuda. Mata pemuda itu terpaku kepadaku. Ia tidak tersenyum. “Bangunlah dan hadapi kenyataan….” Mulut pemuda itu bergerak. Matanya perlahan berubah merah. “Ayah.” *** Rasa sakit kembali menyentak tubuhku, membangunkanku di dalam kegelapan yang familier. Napasku terengah. Titik-titik peluh berjatuhan ke lantai, tertelan dalam sekejap oleh batu gelap di bawah kakiku. Sulur-sulur cahaya biru menyala terang di sekelilingku. Apa … aku merasa ada yang aku lupakan. Ya, aku merasa sudah melupakan sesuatu. Aku yakin. Sesuatu yang penting…. Sayang, tidak peduli sekeras apa pun mencoba, aku tidak bisa mengingat apa pun yang aku alami. Seperti ada kekosongan aneh di dalam kepalaku, membentang antara setelah semua interogasi itu selesai sampai sedetik tadi aku membuka mata. Apa aku tertidur tadi? Aku kehilangan kesadaran? Sekali lagi rambutku ditarik kuat-kuat hingga kepalaku mendongak, menatap seorang pria lain yang tidak aku kenal. Sulur-sulur cahaya biru menyala di sekelilingnya, menyelubungi dan menelan cahaya merah yang keluar dari tubuhku. Jangan lupa. Kata-kata itu berbisik dalam diriku. Sejenak, aku tidak memahami apa maksudnya, sampai salah satu sulur biru itu menyentuh pelupuk mataku. Merenggut cahaya merah dari tubuhku. Melenyapkannya. Jangan sekali-kali lupa. Benar. Jangan lupa. Sulur-sulur cahaya aneh ini membuatku lupa. Mereka akan memakanku jika aku tidak mengingatkan diri. “Selamat pagi, Tukang Tidur.” Pria itu menyapa dengan keceriaan yang tidak biasa. “Kamu sepertinya tidur nyenyak.” Satu tinju tiba-tiba mendarat ke wajahku. Kepalaku tersentak ke samping dengan bunyi yang memekakkan telinga. Rasa sakit menerpa wajahku sekali lagi. “Nah, itu baru yang aku sebut salam selamat pagi.” Aku menggertakkan gigi. Lisanku ingin membalas, tapi sebelum bibirku sempat terbuka, muncul topeng besi yang mengikat rahangku. Menutup hingga separuh wajahku. Kemudian menutup seluruh kepalaku. Menelanku ke dalam kurungan yang jauh lebih buruk dari penjara di sekeliling kami. Bau tajam menusuk hidungku. Bau yang menyengat sampai membuat air keluar dari mataku. Pria itu berdecak. “Jangan bicara, jika aku jadi dirimu.” Pada saat itu, tanpa sengaja, aku menggerakkan rahang. Dan topeng besi itu pun semakin erat di wajahku. “Ah, aku senang melihat rahang yang terikat kuat.” Pria itu bertepuk tangan dua kali. “Ayo, cepat! Kita tidak boleh terlambat!” Tiba-tiba, tubuhku bergerak sendiri. Rantai-rantai bergemericing di atas kepalaku. Tangan dan kedua kakiku ditarik. Kepalaku mendongak dengan paksa. Topeng di kepalaku menarik kepalaku hingga hampir tegak berdiri. Kemudian, aku menyaksikan rantai yang menggantung di langit-langit telah lenyap. Namun kedua tanganku tidak serta merta bebas. Sebaliknya, kedua tangan dan kakiku justru terikat semakin erat, saling menempel oleh satu belenggu kuat. Sulur-sulur cahaya biru berkumpul di sekitar tangan dan kakiku. Merekalah yang menarikku. Tanpa bisa berbuat apa-apa, tubuhku ditarik dan serta merta berdiri sampai kepala dan wajahku menghantam langit-langit dan kakiku tertekuk karena rendahnya atap di atas. Belenggu di tanganku berubah semakin kuat. Begitu pula dengan belenggu di kakiku. Keduanya menebal. Berdiri tegap adalah siksaan terbesar yang bisa terjadi sekarang. Tapi pria di hadapanku memastikan tubuhku tidak limbung, tidak di hadapannya. Aku melirik dirinya, menyaksikannya mengulurkan tangan. Sulur-sulur biru berkumpul di tangannya, kemudian dari udara kosong, segenggam rantai muncul di tangannya, terhubung langsung ke belenggu yang mencekik leherku. “Bergembiralah, Nomor Tiga-Enam.” Pria itu merentangkan tangan. Seketika ruang gelap di sekelilingku lenyap. Ia menyeringai. “Eksekusimu akan segera dimulai.” *** Segala kesempitan yang tadi mengurungku sirna. Langit-langit yang sempit berganti langit merah tanpa batas. Kesendirian berganti keramaian dengan ratusan pasang mata mengawasi. Belenggu yang tadi mengikatku berganti tekanan yang meremukkan tubuhku dari berbagai penjuru. Ratusan pasang mata itu menghakimiku. Kebencian mereka mengepung dan meremukkan seluruh tubuhku pelan-pelan. Tubuhku panas membara. Kaki-kakiku terbakar oleh tanah yang menyala merah, tapi aku tidak bisa bergerak untuk mengelak dari panas itu. Tubuhku terdiam membatu, memaksaku menerima semua rasa sakit itu tanpa perlawanan. Di sisiku, pria asing itu membungkuk hormat, dengan rantai masih di tangannya. Bersamaan dengan dirinya, tubuhku ikut dipaksa membungkuk dengan sendirinya. Sekali lagi, tubuhku bergerak di luar kendali. “Salam hormat kami kepada Yang Mulia penguasa Setra Gandamayu.” Seketika, udara terasa berat. Aku tidak bisa bernapas. Rasa sesaknya menyiksa. Keringat membanjiri tubuhku. Panas yang aneh tiba-tiba saja menyerang. Sesuatu ada di hadapanku. Berdiri menjulang. Bayangannya begitu tinggi hingga seluruh diriku tertelan ke dalamnya. Sesuatu dalam diriku bilang, siapa pun yang sedang berdiri di hadapanku ini … ia lebih dari sanggup untuk menghancurkanku di tempat. Tanganku gemetaran hebat. Aku mencoba mengepalkan kedua tangan, sekadar untuk terliaht tangguh, tapi percuma. Aku masih tetap gemetaran. Kedua kakiku lemas, tapi sulur-sulur biru yang mengurungku membuat tubuhku tetap tegap di tengah segala impitan. “Bangunlah.” Suara itu bergema dalam kepalaku, dalam udara di sekelilingku. Seakan ia ada di mana-mana, menyatu dengan semua hal yang ada di sekelilingku. Aku mendongak, bersitatap dengan sesuatu yang tidak bisa aku deskripsikan dengan kata lain selain: ketakutan. Sosok itu menjulang tinggi di hadapanku. Lama terkurung di dalam ruangan berlangit-langit sempit membuat sosok yang berdiri di hadapanku ini tampak lebih tinggi dan lebih menakutkan dari tingginya yang sebenarnya. Namun aku tidak akan mengetahui itu sekarang. Untuk saat ini, yang aku tahu, dia menjulang seperti langit itu sendiri. Tubuhnya tertutup baju zirah merah dengan ratusan rantai mengikatnya ke dalam tanah. Enam tangannya yang bercakar hitam mencakari udara dengan ukuran yang tidak diragukan lagi, bisa meremukkanku menjadi sekumpulan noda hitam di tanah. Dalam genggama keenam tangan itu, masing-masing senjata berdiam dari kiri ke nana, atas ke bawah: gada, cambuk, pedang, palu, tombak, dan rantai. Empat taring mencuat dari bibir yang hitam itu. Kedua matanya merah menyala di tengah warna hitam. Satu mata lagi di dahinya melotot kepadaku. Ketiga mata itu menatapku bersamaan. “Tidak merasa bersalah, sama seperti saat pertama bertemu. Makhluk yang benar-benar tidak tahu diri….” Suara makhluk itu merupakan perpaduan antara geraman dan desisan yang bergema. Suaranya bertalu-talu dalam kepalaku berulang kali hingga kedua kakiku meleleh. “Makhluk Sekala memang tidak pernah belajar. Karena itulah tempat ini selalu sesak oleh kalian.” Tangan makhluk itu yang memegang rantai naik. Tanah bergerak di bawah kakiku. Kemudian, tirai dari air berwarna merah memancar di sekeliling kami. Tubuhku semakin panas. Air itu berhenti memerciki kami semua dalam tumpahan air panas sebelum akhirnya mereda dan hilang. Meninggalkan retakan-retakan yang terbuka di seluruh bagian tanah. Dari dalam retakan panjang itu, perlahan muncul ratusan tangan berwarna merah dan hitam. Tangan-tangan itu naik, menggapai permukaan tanah tempatku berdiri. Kemudian, ratusan makhluk yang tidak bisa aku kenali memanjat keluar dari retakan besar yang menganga. Seluruh tubuh mereka menyala dalam warna merah, hampir seperti manusia dengan dua tangan, muka, dan tubuh. Namun mulut serta mata mereka kosong dan dari dalamnya mengalir air mata hitam yang tidak henti-henti keluar. Serempak, mereka memanjat keluar dari dalam retakan. “Kamu merusak segalanya!” “Kembalikan keluargaku! Kembalikan semua yang kamu renggut!” Suara itu saling sahut menyahut sementara mereka bergerak terus dan perlahan-lahan membentuk jajaran berundak yang teratur. Jeritan mereka semakin meraung-raung. Jari jemari merah mereka semua menunjuk ke arahku. Mata mereka menatapku dengan sepasang lubang kosong yang menganga. Sebelumnya, aku mengira ketakutan tidak akan lebih buruk. Sekarang aku sadar betapa salahnya itu. “Diam.” Serentak semua suara itu diam. Mulut-mulut mereka masih membuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Seolah suara direnggut dari tubuh mereka saat itu juga. “Apa kamu tidak ingat mereka?” Sosok di hadapanku terdengar lebih murka dari sebelumnya. Langit di atas kepalaku berubah semakin gelap sementara mata sosok sang penguasa berpendar semakin terang. “Kamu tidak merasa sedikit pun bersalah setelah membunuh mereka semua? Demi ambisi sampah dan keserahanmu yang menjijikkan itu, Siluman?” Sosok itu mengetukkan tombaknya satu kali ke tanah. Topeng besi yang membelenggu kepalaku pun lenyap. Kendati demikian, aku masih tidak bisa berbicara. “Kamu menyaksikan mereka semua terbunuh. Kamu tidak melakukan apa-apa.” Sosok itu kembali berkata. “Setelah membuat banyak orang terbunuh, sekarang kamu diam saja, bahkan kamu berani membuat dunia ini sekali lagi terancam setelah pengorbanan besar yang kalian lakukan! Makhluk yang benar-benar …. TIDAK TAHU DIRI!” Dalam diam, aku memandangi ratusan makhluk merah itu. Wajah mereka semua sama: tanpa rambut, tanpa mata, tanpa suara. Bahkan ukuran mereka pun sama semua. Namun melihat mata-mata bolong mereka dan air mata hitam yang mengalir dari lubang di wajah mereka, dadaku seakan tercabik. Rasa yang asing merayap di dalam dadaku, naik ke leherku, dan mencekikku. Aku tidak ingat mereka … aku yakin tidak ingat mereka, tapi … aku juga tidak bisa mengelak. Entah kenapa … aku merasa tidak bisa mengelak sedikit pun. “Tidak bisa mengingatnya, ya?” Sosok agung di hadapanku memelecutkan cambuknya ke tanah. “Akan aku buat kamu mengingatnya sekali lagi, Pendosa!” Makhluk-makhluk itu meraung marah kembali. Aku menunduk dan memejamkan mata kuat-kuat, berusaha menghindar dari suara paduan teriakan yang memekakkan telinga itu, tapi percuma. Kedua tanganku terikat. Suara mereka merasuk langsung ke dalam kepalaku dan bergema di sana berkali-kali. Rasa sakit di dadaku bertambah berlipat ganda. “Beraninya kamu lupa!” “Akan kubuat kamu mengingat semua kesalahanmu, Iblis!” Tanah di sekelillingku kembali berguncang. Retakan muncul, perlahan merambat mengelilingiku. Asap hitam keluar dari dalam sana, bercampur dengan atma perpaduan antara cahaya biru dan asap hitam yang baru kali ini aku lihat. Napasku yang tertahan tiba-tiba saja mengalir keluar ketika asap itu menjalar naik dengan cepat, masuk ke hidungku. Kilasan-kilasan yang tidak aku kenal, muncul. Perasaan familier menonjok wajahku. Rasanya aku pernah mengalami ini di suatu masa, tapi aku tidak bisa mengingatnya. *** Sebuah ledakan besar, membelah angkasa dari delapan penjuru. Langit memerah darah, daratan terbelah, langit penuh gemuruh petir, orang-orang berteriak dan berlarian, mayat-mayat bergelimpangan. Kemudian satu pilar cahaya menjulang ke angkasa. Pilar berwarna emas. Ombak cahaya merah melingkari pilar itu bagai pelindung. Sementara aku terdiam menyaksikan semua itu. “Pengkhianat.” Sebuah suara bergema dalam kepalaku. “Kalian semua pembohong dan penipu. Kalian merampok hak orang lain atas nama Dewa.” Di hadapanku, seseorang berdiri. Cahaya terang menutupi wajahnya, menjadikan hanya siluetnya saja yang terlihat. Ia menangis. Tetes demi tetes air matanya mengalir bersama dengan … darah. ia terluka. Sekujur tubuhnya penuh luka. “Jangan panggil aku dengan nama itu!” Dia tiba-tiba berteriak. “Dia sudah lama mati!” Suaranya yang penuh kemarahan membuatku menangis. “Kalian ingin Sandhikala? Akan aku berikan Sandhikala pada kalian! Akan aku biarkan kalian melihat Sandhikala saat dunia ini hancur!” Suara itu berteriak di dalam kepalaku. Penuh kemarahan yang membuat kepalaku seakan terbelah oleh gejolak kemurkaannya. “Kalian semua musuhku. Dunia yang terkutuk dan kotor ini musuhku … Semuanya … lebih baik musnah saja!” Sekelilingku meledak menjadi sekumpulan warna merah. Kapan? Batinku bertanya-tanya tanpa menemukan jawabannya. Aku yakin pernah mengalami semua itu. Sesuatu dalam diriku mengenal rasa sakit ini, tapi tidak peduli seberapa keras pun mencoba, aku tetap tidak bisa mengingat apa-apa. Kapan aku pernah melihat semua ini? Mendengar semua ini? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sedikit pun? Tiba-tiba ledakan itu kembali. Suaranya memekakkan telinga. Makhluk-makhluk di sekelilingku menjerit nyaring. Sebuah pilar cahaya menjulang ke angkasa. Pilar itu berubah merah. Kemudian dari balik cahaya merah itu, sesuatu keluar. Sesuatu yang menjejakkan kaki dengan anggun ke atas tanah. “Mohon tunggu sebentar.” Rasa sakit di tubuhku berhenti seketika. Jeritan dan ledakan yang tadi meledak-ledak, mendadak sunyi. Aku tertunduk dengan seluruh energi terkuras. Napasku terengah. Aku baru hendak memejamkan mata ketika sadar, ada sepasang kaki lain berdiri di hadapanku. Kaki bersepatu yang tidak aku kenal. Aku mendongak. Di hadapanku telah berdiri seseorang. Jasnya berayun pelan. Rambutnya hitam panjang dengan kucir pita di lehernya berayun sekilas. Pakaiannya mengayun lembut dalam setiap gerakan, sementara pundaknya—tidak sepertiku—tegap dan kokoh. Dan ia menatap sang penguasa di hadapanku dengan berani, tepat ke matanya. “Berani sekali kamu mengganggu penghakiman….!” Orang itu mengangkat tangan di depan makhluk itu, tanpa takut dengan kenyataan bahwa ia sekarang sedang berdiri antara aku dan sang penguasa. “Maaf mengganggu.” Suaranya tinggi. Suara perempuan, aku menyadari. “Tapi saya ada keperluan dengan pemuda ini, Khalikamaya.” Sosok itu lantas berputar. Kami bersitatap dan untuk pertama kalinya sejauh ingatanku dapat membentang, aku terpaku dalam cara yang berbeda. Di luar ketakutan dan kegelisahan. Itu sepasang mata paling indah yang pernah aku lihat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN