9. Tamu dan Tiba

3814 Kata
“Madyapada itu apa?” Anjani memalingkan pandang dari langit cerah di luar jendela dan menatap seorang bocah laki-laki di sisinya, bocah laki-laki berusia sepuluh tahun yang mendongak membalas tatapannya dengan sorot penuh rasa ingin tahu. Sepasang mata hitamnya berbinar penuh antusiasme dan rasa penasaran khas anak kecil. Anjani mengabaikan pemuda itu terang-terangan. Ia kembali melihat langit, tapi kali ini bukan warna biru dan awan putih yang ia lihat. Pandangan dan hatinya tidak berada di satu tempat yang sama. Wanita itu melirik lagi. Bocah tanggung itu masih ada sisinya, berlutut seperti anak yang sedang memohon. Dia tidak bicara lagi, tapi matanya sudah mengatakan lebih banyak dari mulut yang diam itu. Sebelah baju kain belacu miliknya melorot karena tubuhnya yang terlalu kurus. Di lehernya berkas merah bekas kalung belenggu masih terlihat jelas, enggan untuk pudar. Jari jemari kurus anak itu memegang buku bertuliskan tulisan kuno yang bertuliskan “Mandala dan Segala Isinya”. Anjani memerhatikan jari jemari anak itu. Tampak keriting dengan kuku-kuku kotor dan pecah. Tangannya gemetar, seolah memegang buku saja sudah memakan banyak tenaga. Namun berlainan dengan gemmetaran tubuhnya, binar mata anak itu berkilau. Penuh oleh semangat muda yang tiga hari lalu belum ada.  “Bagian dari alam Niskala. “Bagian kecilnya, tempat makhluk-makhluk lain tinggal. Selain Manusia.” “Maksudmu … Dewa?” Suara bocah itu terdengar penuh harap. Anjani mengernyit ke arahnya. “Madyapada tidak dihuni oleh Dewa.” Antusiasme anak itu separuh lenyap. Anjani bisa melihat ia sudah menduga ke mana arah jawaban yang akan ia berikan. “Ka-kalau begitu….” “Asura,” jawab Anjani tanpa ampun. Ia menyeringai senang. “Tempat makhluk-makhluk raksasa mengerikan bisa mencabik-cabik tubuhmu, membakarmu, dan menjadikanmu debu saat kamu meledak.” Sementara Anjani terkikik, wajah anak lelaki itu memucat. “Bagian kecil….” Tanpa diduga, bocah itu bicara lagi. “Apa maksudmu bagian kecil? Artinya bukan semua alam Niskala itu Madyapada?” Debasan lembut keluar dari bibir Anjani. Wanita itu mengulurkan tangan, meminta buku di tangan anak itu. Dilihatnya pembatas pada buku itu. Rupanya masih di awal. Anak itu belum membaca banyak halaman. Anjani menutup buku itu. “Kamu tahu kalau Marcapada terbentuk dari laut, daratan, dan langit kan?” Bocah itu mengangguk. “Hal yang sama juga berlaku untuk Madyapada, tapi dalam skala yang lebih besar.” Sapta menelengkan kepala. Tidak paham. “Begini, kita ibaratkan sebuah kue.” Anjani menggambar lingkaran di atas meja yang berdebu. Anak itu mendekat untuk memerhatikan. Ia berjingjit di tepi meja, berhati-hati dalam bernapas agar gambar Anjani tidak pudar.   Anjani memotong lingkaran itu menjadi beberapa bagian. Tangannya menunjuk lingkaran itu. “Ini kue apa?” “Kue bulat.” Anjani menjawab asal-asalan. “Pie?” “Hm….” Anjani menggumam, mengiyakan. “Belahan di kue ini— “Ah, aku pernah lihat kue yang sama bulatnya!” Anak itu tiba-tiba memotong dengan semangat. Ia menunjuk kue buatan Anjani. “Seharusnya ada titik-titik di sini. Lalu ada kacan, lalu ada— “Apa sekarang kita sedang membicarakan kue?” “Anda yang memulainya.” Anjani menggeram jengkel. “Pokoknya ini kue. Bayangkan saja begitu!” Ia menunjuk belahan kue yang ia buat. “Kue ini adalah alam Niskala. Dan pecahan-pecahan ini adalah bagian dari alam Niskala.” “Seperti benua?” Mendengar anak itu bisa mengerti sedikit, Anjani mendengkus. Sedikit lega. “Tapi tidak seperti Marcapada, jika ingin pergi dari satu benua ke benua lain di Niskala, kamu memerlukan bantuan.” “Karena jaraknya jauh?” “Bukan,” jawab Anjani. “Karena masing-masing tempat itu memiliki aturan yang berbeda. Seperti dunia kecil yang tidak bisa diganggu satu sama lain.” “Kedengarannya merepotkan.” Anjani tersenyum miring. “Bukankah dunia kita sekarang ini tidak ada bedanya?” Anak itu mengerjap. “Aku tidak tahu….” ujarnya polos. “Anjani … apa dunia yang dulu … dunia tempat Anjani dilahirkan … berbeda dari dunia yang sekarang?” “Sangat berbeda.” Anjani kembali menunjuk kue yang dibuatnya yang sudah mulai pudar karena terpaan angin. Ia menunjuk satu per satu belahan kue itu. “Sebagian besar tempat di alam Niskala dihuni oleh masing-masing klan Asura, tapi ada satu tempat … satu tempat yang tidak akan didekati oleh siapa pun di alam Niskala. Oleh siapa pun.” “Tempat yang ditakuti Asura?” Anjani mengangguk. “Semua penghuni alam Niskala.” Anak itu terlihat semakin penasaran. “Tempat apa itu?” “Tempat hukuman dijatuhkan.” Anjani tersenyum. “Tempat Sang Penyiksa menghukum siapa saja yang melanggar hukum tiga dunia. Tidak peduli siapa pun, apa pun, yang melanggar peraturan itu. Wahana, Asura, bahkan Dewa pada suatu hari nanti….” Anjani merasakan kepuasan dalam dirinya saat mengatakan hal itu. Kepuasan yang tidak bisa diukur dengan kata-kata. Membayangkan ia akan menjebloskan semua orang yang ia benci ke dalam sana benar-benar menyenangkan. Tanpa terpengaruh senyum Anjani, bocah itu terus bertanya dengan sorot antusias yang sama. “Apa tempat itu punya nama?” “Tentu saja punya,” jawab Anjani. “Apa tempat itu bisa didatangi?” “Hm….” Anjani berpikir sejenak. “Bisa, tapi pastinya kamu perlu bantuan, agar bisa masuk. Agar bisa keluar.” Anak itu berhenti berjingjit. Nyalinya tampak menciut. Antusiasmenya luntur. “Artinya kita tidak bisa masuk ke sana?” “Aku tidak bilang begitu,” sanggah Anjani. “Aku hanya bilang, akan butuh bantuan seseorang untuk bisa ke sana, masuk maupun keluar.” “Artinya mustahil kan?” Anak itu menyipit curiga. “TIdak mustahil,” Anjani sekali lagi menyanggah. “Selama kamu tahu harus minta tolong ke orang yang tepat.” “Dan Anda tahu ke mana harus meminta tolong?” “Kenapa kamu ingin sekali tahu?” Anjani mencondongkan badan, mendekati anak itu sambil memain-mainkan alisnya. “Apa ada orang yang ingin kamu selamatkan di sana, hm?” “T-tentu saja tidak!” Anak itu membantah dengan cepat. “Kemarin Anda sendiri yang bilang kalau Manusia tidak akan bisa masuk kea lam Niskala tanpa mati.” “Ah, rupanya kamu masih ingat. Baguslah.” Anjani berhenti bermain-main. “Dan, ya, aku memang tahu siapa yang bisa membantuku ke sana.” Anak itu menunduk. Merasa tidak akan ada lagi pertanyaan, Anjani pun hendak kembali melanjutkan penjelasannya, tapi tiba-tiba anak itu meraih ujung kemejanya dan mendongak sekali lagi. “Apa nama tempat itu?” tanyanya. “Tempat … penghakiman itu?” “Sebenarnya nama itu ada di buku. Kamu tinggal baca sampai ke bab yang membahas tentang tempat itu dan jawaban dari pertanyaanmu itu akan terjawab dengan sendirinya….” Anjani menunjuk buku di tangan anak itu, lalu ia tersenyum. “Tapi karena kamu kelihatannya penasaran sekali, aku akan memberitahumu.” Anak itu menatap buku di tangannya dan Anjani secara bergantian saat mulut Anjani berbicara lambat-lambat, sengaja agar anak itu menangkap dan tidak melupakan apa yang hendak ia sampaikan sekarang. “Nama tempat itu…..” Anjani menyeringai lebar. “Setra Gandamayu.” *** Langitnya berwarna merah. Pekat seperti darah. Tidak ada awan, matahari, maupun bulan dan bintang. Hampa. Tanahnya hitam, pekat seperti jelaga. Strukturnya keras seperti batuan kali paling kokoh. Suhu udaranya panas dan kering atau dingin menggigit, tergantung di mana tempat mendaratnya. Aroma udara tajam seperti aroma bangkai yang dibakar sampai menjadi arang. Terdapat sisa aroma daging dan api yang kental melapisi sekitar bibir. Anjani mengumpat sambil menggosok bibir. “Rasanya benar-benar tidak berubah.” Ia meludah, lalu memandang sekeliling, mengamati kehampaan yang membentang tanpa ujung di sekelilingnya. Tebing-tebing menjulang dalam ukuran yang sama sekali tidak masuk akal di sekelilingnya. Lima kali ukuran tebing paling tinggi yang pernah ia jumpai di patahan di pulau Jawa. Ia mengerjapkan mata, membiarkan matanya beradaptasi dengan kadar cahaya yang berbeda di alam Niskala. Sejauh yang ia ingat, tidak pernah ada perubahan warna antara yang ia lihat di Madyapada maupun Marcapada yang berlangit biru, entah karena apa. Sekarang pun sama. Tidak ada kontur, pemandangan, ataupun tanah yang berubah, sekalipun para penghuninya bisa melenyapkan satu planet di Marcapada jika mau. Anjani mengedarkan pandang. Sepanjang matanya memandang, tidak ada tanaman, tidak ada sungai yang mengalir. “Ini buruk….” gumamnya. Tidak ada tanaman dan air hanya berarti satu hal: “Aku salah mendarat!” Namun Anjani tidak bisa mengenali langsung tempat mana yang ia datangi sekarang. Karena langitnya merah, ia bukan ada di tempat yang aneh. Tapi ia juga tidak langsung berada di Setra Gandamayu. Paling baik, ia mendarat di tempat klan Wanara. Tiba-tiba bunyi langkah terdengar di belakang. Anjani menoleh dengan cepat, tepat waktu untuk menyadari sesuatu berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu menyipit, melihat sesuatu itu berwujud seekor rubah raksasa berbulu abu-abu dengan ekor biru yang berkobar laksana api. Rubah itu berlari ke arahnya.   “Sial.” Anjani mengumpat, lalu segera berlari. Ia sekarang tahu di wilayah klan mana ia mendarat. “Yaksa!” Langsung saja, Anjani berlari dari tempat itu. Sekencang yang ia bisa. [Bau Manusia….] Suara dalam kepala Anjani berdengung. Tidak diragukan, suara Yaksa rubah itu. [Bau Wanara….] Anjani melihat bajunya. Darah sudah mengering di sana, tapi jejak aroma klan Wanara masih tertinggal. Ini tidak akan berakhir baik. Ia tidak bisa melawan di dalam Madyapada, tidak tanpa mengusik satu klan. “Sial!” Anjani berlari hingga mencapat salah satu tebing yang mencuat tinggi. Tanpa menoleh ke belakang, ia berlari ke arah tebing itu dan berhenti ketika sudah sampai di puncak. Ia mengamati sekitar, tanpa terganggu suara angin ataupun cahaya yang berlebihan. Tidak ada angin ataupun matahari di sini. Seperti daratan, langitnya pun selalu konstan. Tidak ada yang runtuh maupun terbentuk. Segalanya selalu sama seperti para Asura yang abadi. Di berbagai arah, berbagai pemandangan berbeda membentang. Terpisahkan oleh daratan kosong tempat kehampaan bermuara dan akan mengancam siapa pun yang nekat menyeberanginya, terdapat benua-benua lain beraneka ragam yang membentang dari kanan ke kiri. Benua dengan daratan melayang, benua dengan gunung-gunung menjulang, benua dengan daratan biru, benua dengan tanah membara, semua mewakili unsur pembentuk masing-masing klan. Unsur dari sesuatu yang berada di luar pemahaman mantra dan atma Manusia. Tiba-tiba sulur-sulur biru yang banyak muncul di depan mata Anjani. Wanita itu menunduk, melihat retakan muncul di tebing di bawahnya. Tidak berapa jauh dari tempatnya berdiri. Atma biru memancar dari retakan itu seperti tempat Anjani masuk tadi. Biru dan bukannya merah. Artinya itu tidak mengarah ke mana pun ke Niskala. Namun kemudian Anjani mengingat kejadian saat terakhir ia berpindah. Ia menggertakkan gigi kesal. Mempertaruhkan diri untuk bertemu hal yang tidak ia inginkan atau sebagian besar atma miliknya? Perjalanannya bahkan belum dimulai. Suara geraman sang Asura bergema di belakangnya. Yaksa itu berhasil menyusulnya dengan cepat. Tanpa takut, Anjani berlari ke depan, ke arah jurang yang menurun curam di depan matanya. “Sial!” Kemudian, wanita itu pun melompat. *** Perjalanan di alam Niskala tidak pernah memakan waktu singkat. Stamina Anjani habis, energi dan kekuatannya tidak berguna, dan terlalu banyak Asura yang berkeliaran. Anjani hampir serapuh Manusia biasa di tempat ini. Selesai berpindah yang untungnya tidak membuatnya mengalami hal-hal aneh untuk kali kedua, Anjani bersembunyi di balik salah satu batu raksasa. “Lagi-lagi salah mendarat…..” Anjani mendebas, menatap dataran di sekelilingnya yang ditutupi hutan bebatuan yang menjulang. Anjani menyentuh belati di pinggang. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. “Kamu kesulitan?” Seketika, Anjani menghunus belatinya. Tepat ke arah leher seorang perempuan yang tanpa suara, sudah ada di sampingnya. Datang dari arah yang sama sekali tidak diduganya. Wanita itu mengerjap dan membelalak, tampak kaget, tapi Anjani bisa melihat sedikit kebohongan di mata itu. Ia tidak benar-benar terkejut, meski wanita itu terlonjak mundur. “Astaga, bisakah kamu berhati-hati?” Wanita itu memprotes. “Mengacungkan senjata seperrti itu pada orang yang salah dan kamu bisa langsung kehilangan kepalamu.” “Aku akan mengambil risiko itu.” Wanita asing itu mengernyit. Kali ini tampak jujur, tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu di depan matanya sendiri. Ia lantas mengamati Anjani dari atas ke bawah. Tidak mau menjadi korban yang diamati, Anjani balas melihat wanita itu dari atas ke bawah.  Sulur-sulur biru mengalir dari tubuh wanita itu, menandakan dengan jelas bahwa dia bukan makhluk alam Sekala. Secara fisik, ia memiliki sosok yang tidak begitu berbeda dari wanita normal di Sekala. Rambutnya panjang, tangannya berjari jemari lentik, kulitnya putih, tubuhnya langsing, dan suaranya merdu. Namun mereka yang jeli akan melihat rambut gelap itu memiliki kilau kehijauan bahkan di dalam suasana merah seperti Niskala. Kulit pucat itu tampak kekuningan dan berpendar, matanya keemasan dengan pupil tipis seperti binatang. Pakaian yang dikenakan wanita itu, persis seperti gaun lebar para Noni dengan satu terusan saja. Gaun wanita itu hijau gelap, menutupi mulai batas d**a hingga kakinya. Manusia mana pun yang memiliki insting sedikit lebih peka dan mata tajam akan melihat perbedaan tidak wajar itu dalam sekali pandang. Tapi mereka yang tidak waras, akan mengabaikan semua tanda-tanda itu, bahkan ketika jelas-jelas kaki wanita itu adalah ekor panjang seekor ular dan bukannya sepasang kaki. Klan Ananta. Melihat wujudnya yang hampir serupa Manusia dan kemampuannya untuk bicara bahasa Manusia, wanita itu tidak diragukan lagi, berasal dari salah satu kelas tertinggi Asura. Kelas Danawa. Mata keemasan dari wanita itu menatap belati di tangan Anjani.   “Kamu memiliki sesuatu yang menarik di sini.” Wanita itu berbahasa seperti gadis Melayu ningrat. Sikap, cara bicara, dan nada bicaranya lembut nan anggun. “Boleh aku sedikit melihatnya?” Jari wanita yang lentik berkuku hitam itu hendak menyentuh belati Anjani, tapi bahkan sebelum sempat ujung jarinya menyentuh, percikan kilat kecil memancar dari belati Anjani. Menyambar jari jemari sang wanita klan Ananta, menghanguskan tangannya seketika. Hanya selama sekejap, sebelum tangan itu pulih kembali tanpa cela. Wanita itu menutupi mulutnya dengan satu tangan. Sesaat, ia tampak ketakutan, tapi kemudian wajahnya yang pucat bersemu merah. Matanya yang terkejut, kini berbinar penuh antusiasme. “Ah, sudah berapa warsa lamanya?” Ekornya naik dan merayap di tanah, mendekat. Mengurung Anjani. Mata Asura klan Ananta itu mengunci Anjani dengan sorot penuh obsesi. “Berapa lama kiranya aku tidak melihat pemegang Nawadewata bermain ke alam Niskala yang kotor dan buruk rupa ini?” “Minggir, Danawa,” titah Anjani seraya menghunuskan belatinya sekali lagi ke leher wanita itu. “Aku tida punya urusan denganmu atau klanmu di sini.” “Kenapa buru-buru sekali?” Suara wanita itu mengalun merdu. “Bukan urusanmu.” Wanita klan Ananta itu mendorong bobot tubuhnya untuk naik, menjulang di atas Anjani. Sebuah sikap mengancam, dengan maksud untuk menunjukkan superioritas. “Aku bisa memberimu imbalan jika kamu mau memberitahu tujuanmu. Sebuah timbal balik yang adil.” Anjani tidak terpancing. “Tiga…..” Ia mengalirkan atma ke belati di tangannya. “Kamu yakin?” Wanita itu merayap, membawa tubuh setengah ularnya ke atas batu yang ada di atas kepala Anjani, melingkar dan beristirahat di sana. “Kamu tidak mau meminta bantuanku? Aku bisa mengantarkanmu ke tempat tujuanmu.” “Aku tidak perlu bantuan Asura. Tidak dari klanmu,” Anjani tersenyum. “Apalagi hanya untuk pergi ke Setra Gandamayu.” “Ah, menemui para Algojo.” Suara wanita itu berubah menjadi desisan. Ekornya merayap di hadapan Anjani, menyingkir dalam kecepatan yang tidak tertahankan. “Siapa yang mau kamu tebus dengan waktumu yang sempit itu, Sayang?” Anjani tidak menjawab. “Aku memang merasakan hawa yang berbeda sejak beberapa waktu lalu di sini. Sebuah aroma unik perpaduan Niskala dan Sekala.” Seperti layaknya seekor ular, wanita asura itu terus menggoda. “Apakah itu Siluman, ya? Hm …  Entahlah.” Anjani menjaga emosi dan sikap tubuhnya tidak berubah. “Diakah yang ingin kamu bebaskan, Sayang?” Ujung ekor wanita itu membelai pipinya. Anjani mengayunkan belati sebagai respons. Danawa itu menghindar sambil cekikikan geli. “Dengan kecepatan tangan seperti itu, kamu tidak akan bisa bertahan di sana.” Sekali lagi, Anjani terdiam. “Kamu berbau Wanara. Apa kamu baru membunuh salah satunya, hm?” Wanita klan Ananta itu kembali bicara. “Kamu yakin para Algojo akan membiarkanmu pulang setelah melihat bukti kejahatanmu begitu nyata?” Sekali lagi, Anjani tidak peduli. Ia hanya ingin tahu kapan wanita ini akan menyingkir. Saat ekor Ananta itu akhirnya terangkat dari hadapannya, Anjan mengambil satu langkah. Namun jalannya sekali lagi ditutup oleh ekor wanita itu. Anjani berada di batas kesabaran. Ia merasa seperti tikus yang dipermainkan oleh seekor predator. Dan predator ini juga bukan yang terbaik di kelasnya, membuat Anjani dua kali merasa terhina di saat yang sama. “Aku tidak tahu Moksala telah ada pemegang yang baru.” Ananta wanita itu berkata. “Aku dengar pemilik Moksala Rudra yang baru adalah seorang pria. Hm … apa informasi yang aku dapat salah atau waktu di Sekala sudah berlalu lebih cepat dari dugaanku?” Menjaga emosi untuk tidak muncul di wajah semakin sulit saja setiap detiknya. “Ah, ya, aku dengar sesuatu yang buruk soal pemilik Moksala Rudra sebelumnya. Dia cukup banyak dibicarakan….” Anjani bisa merasakan satu urat di kepalanya mengencang begitu kuat. Sangat kuat sampai rasanya hampir pecah. “Ah, benar. Sang Pengkhianat….” Sambaran petir membelah angkasa. Cahayanya menerangi langit yang kemerahan. Kilatnya membelah angkasa seperti kaca. Gemuruhnya menggetarkan tanah. Anjani mengacungkan tangan kosong ke udara. Lima depa darinya, bekas hangus dan api membara di cekungan besar. Kawah itu muncul seketika setelah sebelumnya tidak ada sama sekali. Sementara Danawa wanita yang ada di hadapan Anjani membelalak kaget. Atma birunya bergetar dan memudar ketika atma emas keluar dari tubuh Anjani, mengalir hingga ke ujung telapak tangannya. “Hei, Ular kadut betina….” Suara Anjani penuh dengan ancaman. Udara di sekelilingnya berubah berat karena konsentrasi atma yang meningkat. Langit di atas mereka ikut menggelap dan bergemuruh. Warna merah di langit berubah perlahan menjadi hitam. “Kalau kamu berani sekali lagi menyebut nama pemilik Moksala Rudra sebagai pengkhianat, kubakar tubuhmu itu sampai hangus.” Tanah seolah bergetar lagi akibat ancaman Anjani. Atma emas mengalir semakin kuat dari dalam tubuhnya. Tangan Anjani menggenggam udara dan tersentak. Moksala Rudra sudah kembali ke tangannya. Petir masih menyelimuti benda itu, tapi sepertinya hal itu tidak mengganggu Anjani sama sekali. “Persetan dengan Anantaboga.” Anjani menghunuskan belati itu ke hadapan sang Danawa. “Melawannya sekalipun untuk cacing kremi sepertimu akan aku layani. Paham kau?” Mata danawa itu menyala terang. Warna emas matanya perlahan berubah menjadi merah. Taring muncul dari bibir wanita itu. Anjani sudah mengacungkan belatinya lagi. Petir sekali lagi mengalir dari tangannya, menuju senjata itu. Atma emas mengalir deras lagi dari tubuhnya. Siap bertempur. Kemudian tiba-tiba wanita danawa itu merayap mundur, menarik tubuh separuh ularnya menyingkir dari jalan Anjani. Ia menundukkan kepala. Tampak menahan malu dan amarah saat melakukannya. “Saya … tidak akan berani melakukannya.” Anjani mendengkus. Atma emas dari tubuhnya perlahan berangsur-angsur menjadi merah kembali. Tanpa menyarungkan Moksala Rudra kembali, Anjani berjalan di hadapan ananta itu, sengaja tidak menaruh hormat sama sekali kepadanya. Tepat setelah dua langkah Anjani pergi dari hadapannya, wanita itu kembali berbicara. “Kamu wanita yang sama sekali tidak ramah.” Ia mengeluh, terdengar sangat jengkel. “Aku yakin kamu tidak punya teman di Sekala.” “Teman?” Anjani mendengkus. “Aku baru kali ini mendengar kata itu.” Di depan sana, Anjani melihat satu lagi pancaran atma biru yang besar. Anjani kembali mengubah struktur atma miliknya. Atma merah di tubuhnya kembali berubah menjadi emas. Ia siap mengambil risiko kehilangan seluruh atma-nya sekarang. Ia tidak bisa salah lagi kali ini. *** Ada satu sungai di Madyapada. Sungai itu tidak berhulu ataupun hilir. Tidak mengenal awal maupun akhir. Warna airnya merah. Arus airnya tenang dan nyaris tidak terlihat. Di bawah permukaannya, tinggal klan Matsyan yang akan memangsa apa pun yang berani masuk ke dalam air. Kini Anjani berdiri di tepi sungai itu. Menunggu, sementara para anggota klan Matsyan sedari tadi berusaha menariknya ke dalam air dalam berbagai cara. Awalnya bujukan dengan rupa dan nyanyian penuh kerinduan—padahal Anjani yakin tidak pernah bertemu dengan satu pun klan Matsyan di bawah sana—hingga akhirnya berubah menjadi kekerasan seperti sekarang ini. Anjani menghajar satu Matsyan berwajah ikan dengan banyak taring, mendorongnya kembali ke dalam air, ketika satu lagi Matsyan berbentuk buaya raksasa menganga, hendak menerkamnya. “Masih belum mau menyerah, eh?” Anjani mengalirkan atma ke belatinya, bersiap untuk mengalirkan saja seluruh petir ke dalam air. “Baiklah kalau begitu! Bersiaplah untuk ompong, Buaya Bau!” “Tolong jangan rontokkan gigi anggota klan-ku, Anjani.” Buaya itu serta merta mengatupkan mulutnya. Mata terang Asura itu menengok ke tepian sungai. Ia membelalak dan langsung berbalik mundur kembali ke dalam air dan tidak pernah timbul lagi. Diikuti oleh semua Asura klan Matsyan yang langsung menyelam kembali ke dalam air. Anjani mendengkus. “Kamu agak datang terlambat, bukan begitu, Yang Mulia?” Di dekat kaki Anjani, seorang gadis muda berenang mendekat. Rambut biru gadis itu mengingatkan Anjani pada warna air laut di tepi pantai. Ia tampak kontras dengan air yang berwarna merah, tapi dengan tenangnya, gadis itu bisa berenang. Hanya separuh badannya yang tampak di permukaan air. Gerakan renang gadis itu aneh. Tidak ada riak yang berlebih saat ia bergerak. Seolah ia adalah air itu sendiri. Gadis itu menepi, menyandarkan tubuhnya ke tepi sungai dan mendongak menatap Anjani dengan santai. Senyum merekah di bibirnya. “Ini sambutanmu kepadaku setelah beberapa waktu tidak bertamu?” Wanita itu tampak sakit hati. Anjani terdiam. Senyum wanita itu berbeda dari kata-kata pedas yang dilontarkannya. Berbeda dengan senyum klan Ananta yang tadi ia temui. Senyum wanita itu disertai kehangatan yang tidak biasa di tengah dunia merah alam Niskala. “Sayan sebenarnya juga ingin menyapa Anda. Mungkin sekalian memakan beberapa manisan milik Anda.” Anjani mengakui. “Tapi saya sedang berkejaran dengan waktu, Nona Suvannamaccha.” Suvannamacha sang raja klan Matsyan mengetuk-ngetukkan jarinya yang berkuku hitam ke pinggir kolam. Cemberut di wajahnya semakin parah, tapi memang dasarnya para Matsyan berwajah rupawan, sekalipun ia sedang marah, Suvannamaccha tetap saja menawan. “Tidak seru,” ujarnya merajuk, membuat Anjani sadar, betapa muda wujud yang dipilih sang Matsyan kali ini. “Sudah lama tidak bersua dan kamu ingin buru-buru pergi.” Anjani mengangguk sedikit. “Saya hendak meminta bantuan Anda, Nona Suvanna. Kita bisa bicarakan soal menghabiskan waktu bersama setelah ini.” Ekspresi Suvannamacha langsung berubah. Senyumnya redup. Matanya yang berwarna sebiru air menyipit ke arah Anjani. Bibirnya tipis, mengatup rapat. “Anjani.” Suara ramah Matsyan itu lenyap. Kemudian ia menatap Anjani. “Apa sekali lagi kamu berurusan dengan sesuatu yang berbahaya?” “Kemungkinan begitu,” jawab Anjani. “Saya sendiri mau memastikan.” Suvanna bersandar ke tepi. Matanya menatap suram ke arah air yang tenang di sekelilingnya. “Kamu merasakannya juga?” Anjani tidak yakin pada apa yang hendak disampaikan Sang Matsyan itu, jadi ia menelengkan kepala. “Merasakan apa?” “Ledakan besar yang terasa sampai sini beberapa waktu lalu,” ujar Suvanna. “Aku tidak tahu ledakan itu apa, tapi aku merasakannya dengan jelas.” Mata biru itu lantas berpaling kepada Anjani. Tatapannya serius. “Salah satu segel telah terlepas.” Kedua tangan Anjani terkepal. Kenangan saat pilar cahaya membelah langit Batavia, perasaan yang begitu tidak berdaya, dan dirinya yang hanya bisa tercengang mengamati itu semua dari pinggir kota tanpa bisa berbuat apa-apa, terlalu terlambat untuk bertindak ataupun menghentikannya, tidak akan bisa hilang dari benaknya. Dia tidak mau mengulangi kesalahan itu untuk kali kedua. Tidak akan ada lain kali. Anjani mengangguk. “Saya tahu.” Suvanna menatap ke arah langit. “Tempat itu bukan urusan kami sama sekali, tapi jika Khalikamaya sampai merenggut orang dari Sekala, dia juga pasti sedang gelisah.” “Semua orang sedang gelisah sekarang.” Anjani mengakui. “Klan Garuda sudah mengalami dampaknya lebih dulu, karena mereka lebih dekat dengan titik Zenith.” Di kejauhan, Anjani seakan bisa mendengar kaokan para klan Garuda. “Hanya tinggal tunggu waktu sampai klan kami dan yang lain juga kena.” Anjani tidak bisa mengelak. “Saya akan berusaha sebaik mungkin.” “Tidak, kamu belum berusaha dengan baik.” Ucapan itu menohok Anjani. “Aku tahu apa yang sudah menimpamu. Tapi nasib dunia ini ada di atas segalanya, Anjani. Jangan sia-siakan pengorbanan Wiranata.” Mendengar nama itu hanya membuat emosi Anjani bergejolak. Anjani menggertakkan gigi. Selama sesaat, ia lupa, betapa tidak menyenangkannya meminta tolong kepara para Asura, sekalipun dia adalah Asura yang sudah seperti rekan sendiri. “Kami akan membantu agar tidak ada yang menyeberang terlalu banyak ke Marcapada,” Suvanna membuat kesepakatan sepihak. “Tapi cepatlah. Waktumu tidak banyak. Mereka sudah bergerak, bukan?” Anjani menyeringai. “Akan segera saya selesaikan salah satu yang paling mengganggu.” Meski tidak melihat langsung, Anjani yakin Suvanna tersenyum tipis. Kemudian, tangan Suvanna terulur ke hadapan Anjani. “Cepatlah,” ujar sang raja. “Sebentar lagi akan dimulai.” “Sidang. Ah, sebenarnya itu mungkin akan jadi eksekusi.” “Kamu diundang?” Suvannamacha mengangguk. “Eksekusi publik?” “Tidak biasa, bukan?” “Sangat tidak biasa.” Anjani melangkah ke tepi sungai. “Hampir seolah dia ingin ada seseorang datang di tengah acara eksekusi.” Ketika Suvanna menyeringai, taring-taringnya tampak jelas. “Aku tidak bisa tahu siapa orang itu.” Di bawah permukaan air, ia melihat ratusan pasang mata menyala, berpendar dalam air merah serupa darah. Para Matsyan yang kelaparan menantinya dengan sabar. Anjani melongok pemandangan itu dengan waspada. “Klan-mu kelihatannya sangat kelaparan di bawah sana.” Suvanna tertawa anggun. Ia menarik tangan dari Anjan sambil tersenyum jahil. “Sungguh? Kamu pikir aku akan mengumpankanmu ke mereka?” “Kamu pemimpin mereka.” Anjani menunjuk bajunya. “Dan aku ke sini berbau darah Wanara. Kalian sekutu, kan?” “Memang, tapi kami bukannya punya hubungan yang buruk denganmu.” Sekali lagi pemimpin klan Matsyan itu mengulurkan tangan. “Kamu bisa menghapus aroma itu sementara kita pergi ke sana kan?” “Kamu membuat ini terdengar menyenangkan.” “Aku? Tidak terlalu.” Suvannamacha menyanggah. “Tapi Nona Khalikamaya mungkin lain urusan.” “Khalikamaya sang algojo Gandamayu menungguku,” Anjani terkekeh sinis. “Aku harap semua ini tidak bisa lebih konyol lagi.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN