Jayagiri, dua puluh menit sebelumnya
“Anjani?”
“Apa?”
Sapta menoleh ke arah Anjani yang berlari di sisinya, sejenak berpaling dari jalanan sepi Jayagiri yang berlalu. “Ada yang menggangguku.”
“Soal?”
“Kehancuran Jayakarta.” Sapta menggunakan nama yang telah lama ditinggalkan dari kota Batavia. Nama yang hanya digunakan oleh para pemberontak di masa kini, tapi entah kenapa terus menempel di lidah anak itu seperti lintah. “Menurutmu Damien ini … adalah pelakunya?”
Anjani melirik pemuda itu dengan kernyitan di dahi. Ia memperlambat laju larinya.
“Seperti katamu, para penghuni Niskala bukannya asal tangkap. Mereka pasti sudah punya bukti.” Sapta mengatakan kegundahan hatinya. “Tapi Ira dan Markandra bilang, Damien dituduh terlibat, bukannya pelaku.”
Mereka berbelok di jalan yang lebih sempit, menghindari jalan utama yang dijaga oleh sekumpulan Politie yang berjaga malam bersama automaton-automaton mereka.
“Jika mereka hanya ingin menanyai Damien, bukankah membawanya ke alam Niskala agak terlalu rumit?” lanjut Sapta. “Rasanya hampir seolah … mereka ingin langsung menjatuhkan hukuman kepadanya.”
“Mungkin Damien memiliki karma yang tidak bisa menunggu?” Anjani menjawab asal sambil memandangi langit malam. “Entahlah, mungkin juga ia bisa saja dijebak kan?”
Sapta tidak menyukai kemungkinan itu. Di sebelahnya, Anjani kembali diam. Mereka melompati sebuah tembok yang mengarah ke hutan perbatasan Jayagiri dan Batavia. Aroma lembab dan tanah gambut khas rawa-rawa langsung masuk ke penciuman mereka saat kaki mereka mencapai tanah.
“Kemungkinan mana pun tidak ada yang bagus ya?” Sapta bergumam. “Atma emas kahyangan, hawa keberadaan nawadewata yang meledak, dan titik zenith yang lepas…..” Pemuda itu mengepalkan tangan. Pandangannya terpaku ke tanah yang gelap di bawah kaki mereka. “Apa yang sebenarnya terjadi malam itu di Batavia?”
Di sekeliling mereka, malam terasa sunyi. Bulan bersinar redup di atas langit yang berlapiskan Pelindung. Kapal-kapal udara telah berhenti berenang di langit sejak matahari terbenam, sementara aktivitas Asura di luar dinding Pelindung meningkat. Sapta mendongak ketika suara kepakan sayap terdengar. Asura klan Garuda melintas, berkaok di atas kepala mereka. Aliran listrik yang menyala dari Pelindung merespons keberadaan atma Niskala dan mengalirkan pelindung lapis pertama.
Sapta mengernyit. Cahaya Pelindung jauh lebih terang dan pekat dibanding enam bulan lalu. Seakan batu-batu Rakta menguat di luar sana dan memang itu kenyataannya.
Jurnal dan laporan dari Lembaga Energi Nuswantara di Bandung mengungkapkan hal itu. Efisiensi dan efektivitas Rakta meningkat setelah Batavia musnah, memunculkan ide bagi para peneliti untuk menata ulang kota untuk menghindari dugaan Rakta akan hilang dalam lima puluh tahun ke depan jika penggunaannya tetap berjalan dalam tingkatan saat ini.
Semua orang seolah luput dari memerhatikan makhluk-makhluk Niskala yang semakin banyak juga di luar Pelindung dan semakin rajin menunjukkan taring di depan Pelindung.
“Kamu tidak perlu memikirkannya terlalu jauh.” Anjani berujar tiba-tiba. “Sekarang, yang perlu kamu pikirkan cuma bantu aku dalam misi yang sudah kamu bebankan seenaknya kepadaku ini.”
“Kamu punya rencana?” Ketika Sapta kembali bertanya, mereka telah tiba di hutan perbatasan dekat Batavia.
“Punya.” Anjani mengakui.
“Rencana macam apa?” Sapta bertanya, setengah mendesak. Suaranya terdengar gelisah, terlebih ketika Anjani tidak juga menjawab. “Anjani?”
Namun Anjani tidak pernah menjawab.
***
Anjani menjejak tanah yang lembab beraroma gambut. Seperti sebagaimana Batavia sebelum menjadi pusat peradaban. Jauh sebelum bastion pertama dibangun di tanah ini. Anjani buru-buru membersihkan noda yang menempal di jas dan celananya
Tepat ketika suara raungan itu kembali bergema.
Anjani mendongak. Sulur-sulur atma berwarna biru memenuhi udara. Mata Anjani mengikuti aliran atma itu hingga ke balik kabut putih yang mengepungnya.
Tanpa membuang waktu, Anjani berlari ke tempat sulur-sulur itu berasal. Atma dalam darahnya ikut mendidih, seakan terpanggil dan menjawab degup atma biru yang ada di dekatnya.
Kabut putih sama sekali tidak menghambat langkahnya. Matanya melihat segala hal di dalam kegelapan sejelas siang hari. Jauh ke dalam kabut, ia berlari mengikuti asal atma yang semakin lama semakin padat itu. Semaikin memenuhi udara, menghangatkannya.
Kemudian satu cakar raksasa menghantam tanah.
Bumi bergetar. Anjani melompat dan berkelit dengan cepat. Cakar miliknya membantu Anjani mengerem laju tubuh agar tidak terlempar terlalu jauh saat berkelit. Udara memburai di sekeliling Anjani, terempas oleh angin dampak serangan yang menyebar dengan cepat. Anjani menyeringai gembira ketika sesosok makhluk raksasa berbulu hitam lebat dan bermata merah melotot memandangnya. Makhluk itu muncul mendadak dari balik kabut.
Seekor Asura.
Tidak diragukan lagi, atma biru yang dikejar Anjani berasal dari Asura itu.
Makhluk itu berukuran sebesar gajah dengan tinggi yang menyamai pohon kelapa. Wajahnya seperti kera dengan rambut yang terlalu banyak dan taring yang terlalu panjang. Bulu hitam di sekujur tubuh dan wajahnya berdiri dalam kemarahan. Makhluk itu meraung murka ke arah Anjani. Enam taring di dalam mulutnya muncul ketika mulut itu membuka, seperti taring yang bisa dimasukkan dan dikeluarkan sesuai kehendak.
“Jadi kamu rupanya.” Anjani berputar menghadapi makhluk itu dan berkacak pinggang. Ia melongok ke balik tubuh Asura raksasa itu. “Di mana teman-temanmu, Wanara?”
Asura klan Wanara itu tidak menjawab. Ia langsung berlari dengan empat kakinya ke arah, hendak menyerang Anjani. Persis kera yang marah.
“Tidak bisa bicara ya?” kata Anjani santai sementara tanah di bawah kakinya bergetar. “Kuharap seluruh klan Wanara tidak menganggap ini masalah besar.”
Anjani melompat saat makhluk itu menerjangnya. Cakar besar makhluk itu menghantam tanah hingga bumi terbelah. Tanah-tanah terangkat bagai tombak-tombak dari peperangan di masa lampau.
Mata Anjani memandangi belakang makhluk itu. Rupanya ada satu pusat atma lagi yang jauh lebih besar. Asura klan Wanara itu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan jumlah atma yang baru ini.
Sebuah retakan dimensi.
Retakan itu berwarna merah darah, merekah di tanah seperti sebuah retakan biasa, namun dengan pancaran atma yang membara seperti jilatan api unggun raksasa. Terang warna birunya memenuhi pandangan Anjani, tapi kegelapan malam di sekelilingnya sama sekali tidak berkutik. Sebuah paradoks yang tidak bisa dijelaskan siapa pun hingga kini.
“Di sana gerbangnya.”
Anjani melirik Asura itu. Sang Wanara tidak hilang akal setelah Anjani menghindari jebakannya yang pertama. Makhluk itu melompat. Kedua tangannya terbuka lebar, hendak meraih Anjani dengan kedua tangannya.
“Maaf ya.” Anjani mengangkat cakarnya tinggi-tinggi, mengalirkan atma-nya ke setiap jari jemari mematikan itu. Panas membakar cakar miliknya. “Aku tidak punya waktu bermain-main dengan monyet!”
Tepat sebelum cakar itu menangkap dirinya seperti lalat, cakar Anjani menyobek tangan Wanara itu. Darah memancar, memercik ke wajah dan pakaian Anjani saat telapak tangan Wanara itu terbelah dan dua jarinya terpotong. Asura itu mengeluarkan raungan, perpaduan antara kesakitan dan kemarahan. Namun dia tidak tumbang. Anjani mengambil langkah lebih jauh dengan melompat di tangan Asura itu dan melayangkan satu cakaran ke matanya.
Asura itu menjerit semakin kencang. Sambil memegangi matanya yang buta, ia melompat ke sana ke mari, meninju segala arah dengan membabi buta dengan mulut yang menganga lebar meneriakkan raungan yang membelah angkasa.
“Kamu beruntung sekali,” ujar Anjani saat makhluk itu meraung kesakitan. “Aku tidak berniat menghabiskan atma malam ini.”
Asura itu sepertinya mendengar kata-kata Anjani. Mendadak ia berputar menghadap Anjani. Meski dengan dua mata tidak bisa lagi melihat, ia tidak mau menyerah dulu. Ia meraung kencang. Tangannya yang terluka menepuk-nepuk d**a dengan keras, seolah tidak merasakan sakit meski sudah kehilangan dua jari.
“Kamu bahkan tidak sadar jari-jarimu tidak pulih ya?” Anjani mendengkus. “Astaga, malam baru dimulai dan aku sudah harus berurusan dengan seekor Bhuta!”
Makhluk itu menerjang lagi. Ia menghantamkan tinjunya ke tanah. Tapi bahkan kali ini tinjunya tidak tepat sama sekali. Anjani hampir tidak butuh usaha untuk menyingkir dari jangkauan serangannya maupun angin dampak serangan itu. Sang Bhuta menghantamkan wajahnya ke tanah dengan cara yang paling menyedihkan. Anjani melompat sekuat tenaga dan mengacungkan tangannya menjadi tinju.
“Selamat tinggal,” ujarnya. “Jangan dendam padaku, ya, Wanara.”
Tinju Anjani menghantam kepala Bhuta itu. Guncangan akibat serangannya menggetarkan bumi dua kali lebih hebat daripada apa yang tadi dilakukan oleh sang Wanara. Kabut menyingkir dari sekeliling mereka, terkena dampak serangan yang brutal. Tanah retak dan merekah di sekelilling Anjani tatkala Bhuta itu tenggelam ke ceruk yang tercipta di tanah.
Anjani buru-buru menyingkir dari tubuh berbulu raksasa itu dan kembali mendarat di tanah yang masih stabil.
Bhuta itu tidak lagi bergerak.
Anjani tersenyum lega. “Akhirnya selesai.”
Ia mengelap peluh yang tanpa sadar sudah memenuhi wajah dan lehernya. Anjani kemudian menoleh ke arah retakan yang terbuka. Kabut kembali merayap dari kejauhan, mencoba menutupi retakan itu sekali lagi. Sementara retakan di tanah berubah semakin kecil dari sebelumnya.
“Ah, aku harus cepat-cepat.” Anjani meredam atma miliknya dan menutupi tangan kanannya dengan sarung tangan.
Mendadak saja, Anjani mendebas. Di kepalanya membentang berbagai kemungkinan yang tidak enak. Termasuk jika harus mendarat di tempat yang sama sekali tidak enak.
Anjani menggeram. “Kenapa retakan tidak bisa diperhitungkan dan dibuat seperti mantra?” Ia mengacak-acak rambutnya kesal.
Alam Niskala bukan alam Sekala yang bisa mengalami perbuahan setiap saat. Mereka alam yang stabil. Tangannya yang biasanya bisa merusak sedikit hukum alam di Sekala tidak akan berdaya banyak di alam Niskala. Anjani ragu bisa menyerang satu Bhuta dengan ukuran yang sama seperti ini di alam Niskala nanti.
Tiba-tiba aroma menyengat masuk ke hidung Anjani. Wanita itu menunduk, melihat kemeja dan celananya sendiri yang terciprat darah, daging, dan cairan tubuh Bhuta Wanara tadi. Ia berjengit jijik. Penampilannya ini bisa menimbulkan efek yang tidak ia inginkan nanti. Akan ada masalah. Tapi ia juga tidak bisa pulang dan membetulkan kemejanya.
Anjani mendebas pasrah. “Yah, apa boleh buat lah,” dengkusnya. “Langsung sikat saja.”
Anjani memejamkan mata, lalu melangkah ke dalam retakan yang terbuka.
***
Anjani merasakan atma mengalir ke seluruh tubuhnya, setiap aspek penyusun dirinya disusun ulang dalam lorong merah dan biru antar dimensi.
Atma dari luar mengalir di sekeliling tubuhnya. Atma pertemuan antara Niskala dan Sekala. Atma ketika segalanya melebur, dalam jumlah melimpah dan membunuh setiap aspek dalam dirinya, meleburkannya menjadi tiada.
Anjani sibuk mempertahankan jalur dan laju dirinya sendiri agar tidak terurai dalam garis dimensi. Ia terus menggambar garis batas yang jelas antara atma penyusun dirinya dan atma penyusun semesta yang melimpah menjaga ruang antar dimensi.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Gadis Yang Dikutuk.” Sebuah suara bergema dalam kepalanya. “Apa yang kamu inginkan kali ini, hm?”
Anjani membuka mata, menghadapi ruang antar dimensi yang berusaha menelannya. Sebuah lubang di antara atma semesta terbuka. Anjani merasakan energi mengalir dari sana dan mengambil semua atma dari alam ini.
“Yang jelas bukan meladenimu!” Anjani menjawab dengan tegas. “Diamlah kami di dalam sana sampai aku membungkammu lagi!”
“Membungkamku?” Suara itu menyahut dengan tawa keji yang menggema di dalam kepalanya. “Kamu tahu apa yang baru saja terjadi kan?”
Delapan penjuru atma menyala terang dalam atma berwarna emas. Beratap dan beralaskan lapisan atma yang lain.
Dua penjuru kemudian berhenti, menyisakan hanya enam penjuru tersisa. Enam gerbang untuk ditutup. Sesuatu kemudian mendorong semua atma itu. Sesuatu yang tidak terlihat, pekat, dan ingin dunia itu tenggelam ke dalam lautan atma. Kemudian lapisan atma yang menaungi enam lubang semesta itu meredup. Lenyap.
Tiba-tiba, sebuah ledakan atma terjadi. Memecah ke berbagai arah. Sebuah pilar menyembur ke angkasa, terbuat dari atma emas yang sama.
“Salah satu Nawadewata mengamuk dan apa akibatnya? Titik Zenith yang susah payah dipasang oleh puteramu sampai mengorbankan nyawanya….” Sebuah atma hitam menyeruak keluar dari lubang yang menganga di semesta. Sepasang mata merah memelototi Anjani. Dia tertawa bahagia. “Semuanya sia-sia saja! Gelarmu tidak lebih dari lelucon memalukan yang dibuat para Dewa yang t***l itu! Lucu, bukan, Hei, Dyaksa?”
“Kamu percaya diri sekali, Hei, Iblis busuk!” Anjani meraih atma itu, mencoba mencegahnya membanjir keluar. “Terlalu cepat bagimu untuk senang saat dunia masih belum juga ada di genggamanmu, kan?”
Anjani berhasil meraih, namun apa yang ia dapatkan bukanlah atma panas yang membakar, melainkan atma yang mengamuk, menghancurkannya. Ia mengabaikan semua rasa sakit itu, demi mencengkam atma hitam itu kuat-kuat. Menghancurkannya balik, tidak peduli walau ia harus ikut hancur sekalipun.
“Ah, kamu berniat menghancurkanku? Atau menghancurkan dunia?” Sosok itu terpingkal-pingkal. Wujudnya berubah menjadi asap. Sepasang mata itu lenyap. Kemudian di sisi Anjani, sesuatu mewujud. Atma hitam yang menebal, Kegelapan yang mewujud menjadi nyata. “Apa itu sebuah tantangan, Wahai Gadis yang dipilih Dewa? Kalau itu tantangan, aku akan dengan senang hati menerimanya!”
Anjani tidak termakan umpan itu. Ia tetap terfokus. “Entahlah ya.” Ia menyeringai. “Tapi kalau aku jadi dirimu, aku akan bersiap untuk mencari cara menutup mata dalam waktu yang lama. Karena … ruang hampa itu bukan sesuatu yang menyenangkan dilihat kan? Apalagi sampai akhir Kali Yuga….”
Kegelapan itu menyambarnya. Atma hitam segera mengelilingi Anjani. Kemarahan menjalar dari atma itu, menjalar hingga ke kulit dan tulang belulang Anjani. Cekikan di lehernya menguat dan Anjani pun sadar, kegelapan itu telah mewujud lebih nyata. Lebih padat. Berbentuk tangan sepenuhnya.
Kegelapan di hadapannya tidak lagi berwujud hanya kegelapan. Ia sekarang memiliki tubuh, tangan, kaki, dan wajah … yang datang perlahan dari balik kegelapan. Seperti terlahir kembali.
Anjani mencelus. Tangan kanannya balas mencengkam tangan kurang ajar itu, tapi perlawanannya sia-sia. Tangan itu bahkan tidak bergetar meski Anjani mengeluarkan tenaga penuh.
“Ucapan yang sombong sekali.” Sepasang mata dari balik kegelapan itu membuka, menatap Anjani dengan sepasang mata merah yang asing … lewat mata yang sangat dikenal Anjani. “Ketika kamu bahkan tidak bisa menatap mata ini baik-baik … Anjani!”
Rasa sakit yang tidak terperi menyakiti seluruh diri Anjani ketika sosok itu menjadi semakin jelas. Melangkah sepenuhnya ke dalam pandangan Anjani.
Sosok itu berwujud seorang pemuda. Berambut hitam dan bermata merah. Sepasang tanduk hitam mencuat dari kepalanya. Seringai yang mengerikan membelah wajahnya, menampakkan deretan taring yang tajam luar biasa di balik bibirnya yang menghitam.
“Sampai bertemu di Marcapada.” Sosok itu mendekat, berbisik ke telinga Anjani, membiarkan wanita itu merasakan ketidak berdayaan menikamnya hingga ke sumsum tulang. “Ibu.”
***