7. Menyusup dan Menerobos

3635 Kata
Sejak Batavia rata dengan tanah, banyak kejadian aneh yang dirumorkan terjadi di tanah kosong yang dulunya adalah ibukota seluruh pemerintahan Nuswantara. Di siang hari, hanya ada suara debur laut yang terdengar. Karena lautan dan pelabuhan musnah, suara laut dan jarak pantai ke daratan menjadi lebih pendek. Laut menjadi lebih jelas. Namun di malam hari, suara yang terdengar tidak hanya suara lautan. Rumor yang beredar mengatakan, suara serupa raungan binatang buas, hanya saja jauh lebih keras, kerapkali terdengar dari Batavia. Beberapa orang yang tinggal di hutan antara perbatasan Jayagiri dan Batavia pun bersaksi telah menjadi korban. Mereka atau kawanan ternak atau binatang peliharaan mereka ditemukan tewas pada pagi hari dalam keadaan tercabik seperti dimangsa hewan buas. Namun jejak-jejak yang tertinggal di tempat kejadian sama sekali bukan milik hewan buas. Jejak kaki dan cakaran itu terlalu besar. Salah satu jejak yang tertinggal dan berhasil terekam oleh Soeara Melaijoe memiliki lebar lebih dari dua depa dengan empat jari yang bukan milik binatang mana pun. Akibat penemuan dan kasus-kasus yang semakin banyak dan dikhawatirkan menyebar ke wilayah lain, tembok setinggi lima meter dibangun di sekeliling tanah bekas Batavia. Lengkap dengan para penjaga dari Manusia maupun automaton yang berjaga dua puluh empat jam di sepenjuru tembok. Tidak ada yang boleh masuk. Siapa pun itu. Termasuk Gubernur Jenderal sendiri, menjadikannya sebuah tembok dengan wilayah terlarang yang tidak pernah berhasil ditembus. Malam ini, penjagaan yang konon tidak pernah berhasil ditembus oleh siapa pun dari luar itu akan ditembus oleh dua orang Jager yang—jangan ditanyakan lagi—memang tidak berhak masuk ke tempat itu. “Kamu lihat berapa orang?” Anjani bertanya pada Sapta yang berjaga di di pohon randu sebelahnya yang lebih rendah. Mata wanita itu terpancang ke tembok yang menutupi Batavia. “Aku lihat lima puluh orang berjaga. Dua puluh automaton kelas Delem dan Ajag.” Setelah berlari dan menyusuri jalan menuju Batavia yang telah ditutup dengan alasan keamanan, Anjani dan Sapta kini hanya tinggal beberapa langkah lagi dari Batavia, terpisah oleh tembok dengan sekumpulan penjaga yang selalu berkeliling. Demi alasan keamanan, mereka kini memilih untuk mengamati dari atas pohon tinggi di luar tembok Batavia. Salah satunya adalah pohon beringin berusia dua abad yang dikenal penduduk sebagai pohon angker. “Mereka punya pasukan yang merepotkan juga,” Anjani berkomentar. “Aku benci anjing.” Para penjaga di sekeliling tembok berpatroli setiap lima puluh menit sekali, Anjani memerhatikan. Sistem penjagaannya diselang-seling antara dua atau tiga pengawal dengan satu automaton menjaga, sekaligus menerangi jalan mereka. Senjata tidak terlihat di tubuh para penjaga Manusia, berarti senjata mereka berukuran kecil. “Hati-hati, mereka membawa pistol.” Sapta memperingatkan, menunjuk para tentara berseragam hitam yang berkeliling di sekitar tembok. “Automaton Ajag itu akan merepotkan.” Anjani menggeram. Ekor automaton ajag yang seperti cambuk tidak pernah membuat segalanya lebih mudah. “Aku akan maju lebih dulu.” Sapta memutuskan tiba-tiba, mengundang tatapan heran Anjani. “Aku mengalihkan perhatian mereka sebentar. Kamu bisa memanjat kan? Tentunya tembok lima meter bukan halanganmu.” Anjani memberengut kesal. “Aku tidak takut pada temboknya.” “Aku tahu.” Ucapan Sapta bernada senyum, tetapi Anjani tidak bisa melihat senyum itu. Sapta tertutup setidaknya seribu helai dedaunan dan bayangan pekat kegelapan malam. Sekalipun Anjani punya penglihatan di atas rata-rata Manusia, senyum pemuda itu cukup samar untuk dilihat dalam kegelapan. Tapi wanita itu sudah kenal cukup lama dengan Sapta untuk bisa menerka, senyum macam apa yang ada di wajah pemuda itu sekarang ini. Tidak ada satu pun senyuman Sapta yang disukai Anjani. Setiap kali pemuda itu tersenyum, sesuatu pasti berjalan ke arah yang salah. “Tidak akan aku biarkan kamu memakai kekuatan untuk hal sepele seperti ini, Anjani,” ujarnya. “Kamu masih jauh dari jalan para Dyaksa.” “Tentu saja.” Anjani menjawab dengan suara murung sambil memegang belati di pinggangnya. Belati berbentuk seperti taring seekor Asura. “Aku sudah tahu itu.” “Apa pun rencanamu….” Sapta turun. Kakinya menginjak tanah tanpa suara. Ia mendongak ke arah Anjani dan seperti yang Anjani takutkan—pemuda itu tersenyum ke arahnya. Persis kepadanya meski Anjani yakin pemuda itu tidak bisa melihat wajahnya di tengah banyaknya ranting yang menghalangi. “Aku harap kamu tidak membahayakan dirimu sendiri.” Anjani mengabaikan bulu kuduknya yang berdiri. “Tenang saja.” Anjani ikut turun. Sepatunya bergemerisik di dedaunan. Sapta meliriknya penuh arti. Anjani menyeringai. “Sekarang, alihkan perhatian mereka.” Anjani menoleh dengan cepat ke arah depan. Di kejauhan, terdengar suara derap langkah kaki. Suara langkah cepat seseorang yang berlari mendekat ke arah mereka. Baik Anjani maupun Sapta menghadap ke arah depan. Tangan siap di senjata masing-masing. Kemudian sabetan cambuk besi menyambar ke tengah-tengah mereka berdua. *** Anjani memilih bersembunyi di balik pohon terdekat, sementara Sapta melompat mundur. Dia menjaga jarak agar tidak terlalu jauh dari Sapta. Di jalan, cambuk besi itu melanjutkan serangan yang akurat dengan terus menghantam titik tempat Sapta berdiri. Senjata itu seolah tahu ke mana Sapta melangkah, tapi Sapta dengan lihai selalu berhasil melompat satu detik sebelum cambuk itu mencacah dagingnya. Anjani melepaskan sarung tangan kanannya, tepat ketika cambuk itu melintas ke dekat pohon dan berbelok tajam ke leher Sapta. Sapta lantas mengumpat. Dari balik kabut tipis di depannya, melompatlah sebuah automaton Ajag. Anjani langsung bersembunyi ke balik bayang-bayang. Sepenuhnya tidak bergerak untuk tidak memicu sensor gerak mesin itu. Lampu depan automaton itu yang didesain untuk menatap ke depan, menerangi Sapta sepenuhnya. Memergokinya dan tertuju ke arahnya. Tiruan binatang itu menghunus cakar depannya ke wajah Sapta. Pemuda itu menangkisnya dengan satu tangan dan terpukul mundur. Akibat kelengahan itu, cambuk besi yang menjadi ekor sang ajag berhasil meraih tangan Sapta. Pemuda itu bertindak cepat dengan mencabut pisau. “Cukup sampai di situ!” Anjani membeku, begitu pula Sapta. Pemuda itu berhenti melakukan perlawanan. Mengurungkan niatnya untuk mengambil pistol pegas di pinggangnya. Dari balik kabut, seorang penjaga berseragam hitam merangsek keluar dengan pistol teracung. Seragamnya serupa dengan Veld Politie dengan lebih banyak warna hitam dan garis coklat di kerah lengan dan lehernya. Itu bukan seragam Veld Politie, Anjani menyadari saat kancing di lengan penjaga itu tampak. Melati berkelopak lima dengan batu merah di tengahnya. Ah, Anjani menyeringai, merasa t***l karena tadi dirinya sempat terkejut. Tentu saja mereka ada di sini. Anjani bertanya-tanya, apakah Sapta menyadari keanehan seragam itu juga. Tapi ia kemudian ingat, Sapta bukan orang bodoh. Dia pasti menyadarinya. Tidak ada satuan mana pun di polisi dan tentara yang berseragam seperti itu, tidak bahkan Marsose yang berseragam hitam pekat sekalipun. Mata Anjani merangkak naik ke wajah sang penjaga. Dan terkejut mendapati fitur feminin darinya. Wajah itu bukanlah wajah seorang pria. Anjani kemudian menatap lebih seksama penjaga itu dan menyadari tubuhnya juga bukan tubuh seorang pria. Ada lekuk di bagian-bagian tertentu, pinggang yang terlalu langsing, dan kaki yang jenjang. Dia perempuan. Anjani nyaris tersedak tawa sendiri. Sapta menyerahkan diri untuk ditangkap perempuan. Pemuda itu pasti akan menggerutu seharian setelah ini. “Angkat tanganmu!” Dengan keengganan yang jelas-jelas ditahan sekuat tenaga, Sapta menuruti perintah itu. Satu tangannya yang terikat erat tidak ikut terangkat. Sebuah pemberontakan tahap pertama. Sebelum tawanya menyembur, Anjani mengalihkan perhatian kepada sang prajurit, menyadari satu hal janggal. Pistol Rakta milik penjaga itu adalah pistol jenis semi otomatis. Sulur-sulur atma merah milik penjaga perempuan itu mengalir ke pistol di tangannya dalam kecepatan yang tidak wajar. Anjani berdecak. Ada rakta tertanam di pistol laras panjang itu. “Sebutkan identitasmu!” “Sapta Anjana.” Anjani nyaris memaki. Versi lain dari namanya telah digunakan seenaknya oleh pemuda itu. “Jager dari Jayagiri.” Di balik semua rasa frustrasi yang mendadak ingin meledak, Anjani menahan diri. Ini bukan bagiannya lagi. Sapta sedang melakukan bagiannya. Anjani segera berpaling ke arah tembok Batavia yang menjulang tinggi. Empat puluh langkah, setidaknya. Kabut berubah semakin tebal. Dengan antusiasme menggebu-gebu, Anjani pun berlari. Menembus kabut, mengabaikan Sapta di tangan keberuntungannya sendiri. Ada seorang Siluman yang harus ia selamatkan. *** “Di mana Ratih?” Seorang penjaga berkepala plontos dan berkumis hitam tebal menghampiri penjaga muda yang berdiri paling dekat dengan tempat Anjani bersembunyi. Pria botak itu, meski berwajah pribumi, tinggi tubuhnya dua kali orang normal. Mengingatkan Anjani pada serumpun bambu hutan yang besar dan kokoh di hutan. “Dia sendirian maju menghalau penyusup.” Penjaga itu menyentuh automaton Ajag di dekat kakinya, mengelus kepala besi automaton itu seolah benda itu bisa merasa. Seolah dia Ajag sungguhan yang jinak. “Nomor Dua-Satu miliknya mendeteksi atma mendekat dan langsung mengejar. Karena nomor dua-dua milikku tidak merespons, artinya penyusupnya hanya satu.” “Oh, baiklah.” Pria itu berbalik. “Aku juga akan berkeliling. Kamu tetaplah di sini. Sebaiknya kita jaga-jaga jika mereka berniat masuk.” Pemuda itu memberi hormat. “Ya, aku tahu.” Segera setelah pria botak itu pergi, sang pemuda menyentuh kepala sang automaton. Benda itu membuka moncongnya, memperlihatkan sebuah pengeras suara di dalam mulut itu. [Perlihatkan kartu identias Jager Anda.] Suara penjaga perempuan yang tadi mereka temui bergema dari mulut itu. Ah, Anjani paham. Automaton itu juga berfungsi sebagai pemancar. Seperti pengeras suara raksasa yang terhubung dengan gelombang radio. [Perlihatkan surat misi Anda.] Tidak ada jawaban dari benda itu. [Seluruh Jager di wilayah Hindia-Belanda telah diberitahu hal ini!] Perempuan itu terdengar tidak senang. [Anda selangkah lagi dari melakukan aktivitas ilegal. Berdasarkan surat tugas, saya diharuskan menahan kartu identias Jager Anda selama dua hari dan melaporkan ini kepada Komisaris Jager. Anda paham?] Anjani tengah terfokus sepenuhnya pada obrolan itu ketika tiba-tiba terdengar suara raungan dari dalam Batavia. Raungan binatang buas. Suaranya menggetarkan tanah. Anjani merasa udada ri sekelilingnya berubah berat. Sulit untuk bernapas. Sekumpulan besar atma biru keluar dari balik tembok. Sulur-sulur energi itu membumbung tinggi di udara. Anjani mengernyit pada keanehan itu. Biasanya kumpulan energi hidup dalam bentuk cahaya itu hanya akan menari-nari, tapi kini atma itu ada dalam jumlah yang sangat padat dan menjulang tinggi seperti gelombang. Anjani mengatur napasnya. Atma sebesar itu tidak punya arti bagus. Sementara ia terdiam, penjaga di dekat tembok itu tenang-tenang saja. Namun automaton miliknya merespons lebih buruk dari Anjani. Ajag buatan itu bergoyang limbung dan tampak ringkih pada tekanan samar yang terasa di tanah. Kepalanya bergetar, mengeluarkan suara aneh dan memuntir ke arah yang salah. Awalnya Anjani mengira pemuda itu memang kuat, tapi saat ia melihat lebih seksana, pemuda tanggung itu rupanya banjir keringat. Pundaknya bergetar. Ketika getaran itu berhenti, ia mengembuskan napas lega yang panjang dan kuat. Ia lalu mengelap keringatnya. “Sial….” Pemuda itu memaki. “Tekanannya benar-benar parah!” Anjani tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Secepat angin, Anjani berlari keluar persembunyian. Dia melepaskan kancing tangan kemejanya, lalu mengacungkan tangan kanannya. Atma mengalir deras ke tangan kanan itu dan mengubahnya menjadi cakar yang berukuran dua kali dari tangan normal. Di depan tembok, Anjani menjejak tanah kuat-kuat dan melompat setinggi mungkin. Namun rupanya ia terlalu banyak menggunakan kekuatannya. Lompatannya terlalu tinggi. Di bawah, automaton Ajag itu mendongak. Rakta di dalam badan besi automaton itu mendeteksi penggunaan atma. Pemuda penjaga di bawah sana membelalak dan seketika itu juga, wajahnya berubah menjadi persis anak kecil yang ketakutan saat akan dipergoki ibunya hendak kabur untuk bermain. Anjani tidak mengindahkan pemuda itu. Alih-alih, ia lebih tertuju pada apa yang ada di balik tembok. Pemandangan yang kini bisa ia lihat dengan jelas di udara. Anjani terkejut luar biasa. Dari balik kabut, atma biru memancar kuat, hampir menutupi segalanya. Sesosok bayangan besar tampak bergerak di dalamnya. Seperti berjalan. Kemudian bayangan itu lenyap. Lengah karena sosok bayangan nun jauh di sana, Anjani nyaris tidak bisa menghindari satu lecutan cambuk besi. Ia menunduk. Di bawah, automaton ajag itu sudah maju. Benda itu mencoba memanjat tembok, tapi gagal. Namun cakarnya berhasil menancap ke dinding. Ekor besinya menyambar ke udara, mencoba menyambar Anjani sekali lagi. Kali ini serangannya lebih dekat dan berhasil membuat Anjani oleng. Wanita itu kehilangan momentum di udara dan mendarat lebih cepat dari biasanya. Anjani mendarat di puncak tembok yang datar tidak terlindung apa pun. “Astaga!” Anjani berdecak dan memaki di atas tembok. Ia melotot ke arah automaton itu dan penjaga pemiliknya. “Kamu tidak ragu menyerang perempuan ya? Dasar laki-laki pengecut dan anjingnya yang payah!” Pemuda itu membelalak ke arah Anjani—tepat ke arah tangan kanannya—tapi seperti selayaknya petugas resmi, ia tidak butuh waktu lama untuk bisa mengendalikan wajahnya untuk kelihatan tegas dan tidak berkompromi. Tentu Anjani bukan Siluman pertama yang ia temui punya organ siluman di tangan. Atma murni pemuda itu menyala terang ketika ia menodongkan senapan laras panjangnya ke Anjani. “Anda sendiri, Nona….” Pemuda itu berujar tegas. “Apa yang Anda lakukan di sini?” Anjani tidak menjawab. Alih-alih, ia memerhatikan pemuda itu dengans eksama. Penjaga muda agaknya masih terlalu muda dan naif. Wajahnya tidak tampak lebih tua dari Sapta. Dengan atma merah murni yang mengalir di tubuhnya, Anjani sepenuhnya yakin pemuda itu tidak lebih dua dari pertengahan dua puluh. Dan ia masih terlalu baik. Ia tidak langsung menembaknya. Ia malah bertanya, padahal jelas-jelas Anjani ingin menyelinap masuk melewati penjagaannya menuju wilayah yang dilarang untuk dimasuki siapa pun. “Anda teman pemuda yang ada di depan kan?” Pemuda itu dengan cepat menyimpulkan. “Teman Anda sudah pergi. Saya sarankan Anda ikut bersamanya. Jika Anda keluar baik-baik, saya akan anggap kejadian ini tidak pernah ada.” “Tuan yang baik hati.” Anjani tertawa, meski ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Tapi aku sedang tidak tertarik berdiskusi malam ini.” Pemuda itu membidik Anjani. Automaton Ajag di sebelahnya juga siap kembali menyerang. “Peringatan terakhir, Nona.” Pemuda itu berkata lagi. “Di balik tembok ini berbahaya! Kami ada di sini untuk menjaga agar apa pun yang ada di sana tidak keluar!” Warna atma-nya tidak berubah, Anjani memerhatikan. Dan untuk hal itu, Anjani terkesan. Hanya untuk satu hal itu, sementara marah untuk hal yang lain. “Munafik sekali.” Mata pemuda itu melotot. “Apa?” “Kalau kalian sedang mengurung yang ada di dalam sana.” Anjani sengaja menunjuk Batavia dengan tangan silumannya. “Kalian tidak akan menjaga di sini. Kalian akan bertempur di dalam.” “Itu gila!” Pemuda itu menyahut galak dengan cepat. “Itu sama saja bunuh diri!” “Ah.” Anjani tersenyum miring saat pemuda itu tampak gugup, sadar sudah tidak sengaja membocorkan sesuatu. “Sebahaya itukah di dalam sana?” “Nona, aku benar-benar minta tolong kerja sama Anda.” Pemuda itu memohon. “Tolong turunlah. Jika Anda masuk ke sana, kami tidak— “Seperti kata Anda, tadi, kita anggap saja pertemuan ini tidak pernah ada, Tuan.” Anjani menatap ke arah tanah penuh kabut di seberangnya. Di tanah Batavia yang tidak lagi berisi apa pun. “Anggap saja mulai malam ini, aku sudah mati. Ketika Anjani melirik, pemuda itu tertegun dengan ekspresi yang lucu. Seolah ucapan Anjani telah melukainya. “Bukan pekerjaan yang sulit untuk menganggap seorang Siluman mati kan?” Anjani tersenyum sungguh-sungguh kali ini. “Kami tidak pernah tercatat di kependudukan mana pun.” Anjani pun melompat dengan senyum tetap bertahan di wajahnya. *** Setelah Anjani melompat, pemuda penjaga itu memekik panik. Ia tidak pernah menyangka dalam hidup dan karir singkat nan remehnya sebagai seorang penjaga tembok akan melihat sesuatu seperti itu. “Astaga, astaga, astaga! Aku tidak menyangka—kenapa dia bisa—bagaimana bisa ada manusia senekat itu?!” Penyusup dan orang-orang yang berusaha melanggar sudah jadi santapan malamnya setiap hari. Mereka awalnya berkehendak, tapi ujung-ujungnya, setelah mendengar raungan makhluk-makhluk di dalam sana, mereka mundur teratur. Jika ada yang kurang beruntung, mereka langsung disambar di depan mata. Pemuda itu memutuskan malam ini adalah malam terakhirnya bertugas ketika wanita aneh itu melompat secara sukarela. Bukan berarti dia tidak pernah menemui kasus bunuh diri serupa. Beberapa rekannya mengaku pernah bertemu kasus seperti ini dan petugas jam siang selalu kebagian sial untuk membersihkan sisa-sisa para manusia malang itu. Ia berharap esok pagi bukan gilirannya. Ia tidak mau menambah jumlah trauma yang ia dapatkan. Sudah cukup masa tugasnya di sini. Ia sudah tidak sanggup. “Tenang, tenang—tapi bagaimana aku bisa tenang! Ini bukan saatnya tenang—ini saatnya bertindak cepat!” Ia menyentuh kepala automaton Ajag di dekat kakinya. Benda itu patuh dan membuka mulut. Suara tinggi seperti saat kuku-kuku menggores papan tulis bergema di tengah kesunyian malam. Pemuda itu buru-buru menutupi telinganya yang berdengung sakit. Bunyi derap langkah raksasa terdengar dari kanan dan kiri. Ia segera mematikan alarm dari mulut automaton itu. Selusin penjaga berlari mendekat. Bersama mereka, delapan automaton Delem berjalan berjalan dalam langkah besar yang lambat, tapi bisa sampai bersamaan dengan para Manusia ke hadapanasang pemuda. “Ada apa, Praja?” Menjadi pertanyaan paling mendominasi. Praja dengan cepat menunjuk tembok yang kosong. Tidak ada jejak perempuan itu pernah di sana. Tidak ada cakaran ataupun batu yang bergerak keluar dari tembok. Ia nyaris tidak punya bukti, jika bukan karena rekan perempuannya yang juga menangkap penyusup di saat yang sama. “Salah satu penyusup berhasil masuk!” Ia berseru. “Apa yang harus kita lakukan?” Para penjaga lain saling bertukar pandang. Mereka saling bicara sendiri. Praja menatap mereka tanpa daya. Ia mengira akan mendapat hardikan, teguran, atau pengaduan ke atasan sebagai penutup pahit karirnya malam ini. Tapi ternyata, sebuah dengkusan serempaklah yang diterimanya. Dengkusan dan wajah bosan dari para penjaga rekannya yang lain. “Yah, apa lagi yang bisa kita perbuat?” “Eh?” Praja menatap para rekannya bolak-balik. Penjaga lain berujar dengan muram: “Kita buat laporan dan undi siapa yang akan membantu jaga pagi membereskan— “Dia Siluman!” Praja menukas, menunjuk tangan kanannya sendiri. “Tangannya itu cakar! Warnanya hitam-merah dan aneh sekali! Matanya biru!” Praja sadar ia terlihat seperti laki-laki gila dalam masa histerisnya dan para rekannya saling bertukar pandang dengan bingung kali ini. Tapi ia tidak peduli. Praja benar-benar ingin memorinya dihapus. Ia ingin waktu berputar mundur dan bukan dirinya yang memergoki wanita aneh itu masuk ke dalam tembok dengan tenang. Di kepalanya, masih tercetak dengan jelas wajah sang wanita di bawah terang lampu automaton ajag di kakinya, melompat ke dalam tembok dengan seringai mengerikan di wajah. Seperti seringai penuh obsesi. Seringai kegilaan. “Kita laporkan ini ke Tuan Damastra.” Kesimpulan itu datang tiba-tiba. Lewat perundingan yang tidak ia sadari kapan telah selesai. Praja merasakan sekujur tubuhnya membeku ketika nama itu disebut. Nama sakral yang jika bisa, tidak mau ia dengar sampai masa kerjanya berakhir. Sayang, nasib malang membawanya mendengar nama atasannya malam ini. Malam terakhir tugasnya. “Aku akan segera melaporkannya ke Tuan Damastra.” Salah satu penjaga merelakan diri. “Tuan Damastra masih ada di Vorstenlanden. Jika kita menyampaikan kabar ini, Tuan Damastra pasti bisa datang dengan segera.” “Tapi apa perlu?” Seorang penjaga lain meragukan. “Beliau kepala Divisi Lima, apa harus memanggilnya untuk kejadian seperti ini?” “Justru kita dititipi tugas itu jika ada Siluman atau Asura yang memasuki wilayah ini, kan?” Petugas lain menyahut. “Tuan Damastra sendiri akan menangainya.” Petugas lain saling bertatapan, bimbang, tapi tidak untuk waktu yang lama. Segera mereka semua mengangguk sepaham. Begitu halnya dengan Praja. Ia paham, lenyap sudah catatan baiknya. Bertahun-tahun usahanya untuk menghindari masalah apa pun dengan atasan, berakhir malam ini. Di tangan seorang wanita misterius. Seorang wanita Siluman dengan mata biru setajam langit. *** Sepuluh menit sebelumnya Sapta menyerahkan kartu identitas Jagernya kepada penjaga perempuan yang berhasil meringkusnya. Potongan gaji, surat peringatan, dan sederet konsekuensi yang harus ia tanggung sepulangnya dari sini sudah tergambar jelas di benaknya. Tapi ia sudah siap menangguna semua risiko itu. Anjani dan ia sudah paham semua risiko itu. Lagipula, bukannya ia tidak membawa surat keterangan misi. Von Simmo telah membuat surat serupa dengan surat misi yang biasa mereka terima setelah mendaftarkan diri sebagai pemburu dari satu buronan. Tapi surat itu berisi misi penyelamatan dan isinya sama sekali tidak lebih baik dari kedapatan masuk wilayah terlarang secara ilegal. Lebih baik ia kepergok tidak membawa surat misi daripada menyerahkan surat misi itu kepada orang lain. “Hanya ini yang kamu bawa?” Pemudi di hadapannya bertanya lagi. “Ya.” Sapta memain-mainkan lengannya yang kebas. Tidak sampai terluka parah, memang, tapi cambuk besi tetaplah besi. Sedikit lagi ia akan merasa lengannya terpuntir. Pemudi itu mengawasi Sapta. Ia menatap Sapta dari atas ke bawah, berusaha mencari celah atau kebohongan yang tampak. Sapta tidak repot menyembunyikan rasa tersinggungnya. Ditangkap dan harus mengalah dari seorang perempuan selain Anjani sudah sangat memalukan baginya, jangan sampai malam ini ditutup dengan seoran perempuan menelanjanginya dengan tatapan mata. “Apa?” tantang Sapta. “Curiga aku menyembunyikan sesuatu, Nona?” “Aneh kalau Jager menyelinap ke dalam wilayah terlarang yang jelas-jelas sudah termaktum ke dalam surat perintah gubernur jenderal.” Pemudi itu menerangkan, sambil melihat kartu identitas Jager miliknya. “Tapi kartu ini asli.” Pemudi itu mengelus automaton Ajag di kakinya. Sensor benda itu sudah membuktikan dirinya memang terdaftar di kesatuan Jager kota Jayagiri. “Memangnya Jager tidak boleh melanggar peraturan sesekali?” Suara Sapta miskin dari emosi manusiawi apa pun. Dia memasang topeng paling kaku yang ia punya. “Aku tidak pernah dengar peraturan tidak masuk akal itu.” Penjaga perempuan itu menyipitkan mata, tapi tidak berkata banyak. Ia menyita kartu identitas Sapta, lalu menyuruhnya berjalan menjauh. Tanpa menengok ke belakang. Dia menodongkan pistol ke arah Sapta. “Aku berjanji akan menembakmu jika sampai menengok sedikit saja,” Pemudi itu mengancam. “Berjalanlah dengan patuh. Aku akan berhenti membidikmu ketika kamu sudah di luar radius bahaya.” Dengan amat terpaksa, Sapta menuruti ancaman itu. Selain karena tidak mau ada masalah tidak berarti, dirinya sudah sepakat dengan Anjani. Itulah yang paling utama dan yang menjadi masalah terberat. “Tidak perlu menjemputku.” Sapta terngiang pesan terakhir Anjani sebelum berangkat. “Aku akan langsung sampai ke rumah.” Kekhawatiran bercokol semakin dalam di hati Sapta ketika berbagai kemungkinan soal Anjani menghantuinya. “Tentu saja aku tahu. Sudah pasti akhirnya akan seperti itu.” Anjani berkata dengan percaya diri. “Karena aku bukan akan tepat ke alam Niskala. Aku akan pergi lebih dalam dari itu, kan? Jika sudah di sana, hanya pemilik dimensi itu yang bisa mengeluarkanku. Dan akan aku jamin, dia mengembalikanku ke rumah. Bukan ke Batavia.” Sapta menggertakkan gigi. Semua itu masih hanya kemungkinan. Jika Anjani dikembalikan ke Batavia lagi, bahaya kemungkinan besar akan menantinya. Biar bagaimanapun, rumor tidak pernah menyebutkan ada orang yang kembali dari Batavia dalam keadaan hidup. Jika sampai Anjani hidup, bahaya apa yang akan menantinya jika sampai ketahuan? “Kamu cukup tunggu saja di rumahmu seperti anak baik dan beli apa yang aku daftar di kertas ini.” Anjani berpesan. “Aku mau semuanya siap ketika aku pulang.” Sapta mengeluarkan selembar kertas dari saku. Menatapnya dalam-dalam. Pikirannya masih tertuju pada Anjani. Khawatir pada perempuan itu. “Aku tidak akan tersesat.” Anjani sempat menghibur Sapta. “Hanya ada satu orang dan satu tempat di alam Niskala yang bisa seperti ini.” Tiba-tiba terdengar sebuah ledakan besar. Sapta mendongak dengan kaget. Menatap tepat ke arah asap yang membumbung tinggi di tengah kabut di Batavia. Pemudi yang mengancamnya sepertinya lupa dan memilih langsung pergi ke arah ledakan itu. Peluang yang terbentang di depannya. Menyusul ke dalam ataukah tetap mengikuti rencana. Mementingkan Anjani ataukah keberhasilan misi. Namun jika sesuatu terjadi pada Anjani, misi ini tidak akan ada artinya. “Jika dugaanku benar. Jika ledakan di Batavia hari itu memang benar-benar disebabkan oleh orang yang aku duga….” Sapta ingat Anjani menyeringai gembira saat menduga hal ini. “Nawadewata dari pulau Jawa ini akan ada di tanganku. Segera.” Kedua tangan Sapta mengepal erat. Nawadewata atau Anjani. Sapta tahu betapa Anjani sudah menahan pilu dan menanti hari ketika Nawadewata kembali berkumpul lagi. Taruhannya terlalu besar. Tapi Sapta juga tidak bisa begitu saja mengabaikan Anjani. Keputusan berat diambilnya. Pemuda itu memejamkan mata. Menetapkan hati. Kemudian ia pun pergi menjauh dari tembok, menghilang di balik gelapnya malam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN