6. Berita dan Berpencar

3185 Kata
“Apa kamu tidak terlalu keras pada suami-istri itu, Anjani?” Anjani tidak merespons pertanyaan itu. Ia terlalu sibuk membaca berkas-berkas penyelidikan di tangan. “Tidak,” jawab Anjani tanpa berpaling dari berkas biodata Damien. “Apa yang mereka inginkan di luar batas kemampuan makhluk Sekala. Aneh jika aku tidak keras pada permintaan mustahil mereka.” Dua jam telah berlalu dari saat Markandra dan Ira akhirnya pergi dari kamar Sapta, meninggalkan pemuda itu sekali lagi hanya berdua dengan Anjani yang sibuk membaca kembali berkas-berkas soal Damien yang harus mereka selamatkan. “Kalian urus saja pemberontakan kalian yang sia-sia itu dan biarkan aku di sini mengerjakan masalah yang kalian bawa!” Ucapan tajam Anjani masih terngiang jelas di telinga Sapta. Reaksi terkejut dan tersinggung dari Ira masih terpatri jelas di benaknya. Berikut dengan penolakan Anjani yang datang kemudian, tepat ketika Ira sudah bersusah payah merendahkan diri untuk menawari Anjani bantuan. “Aku tidak butuh bantuan dari pengacau seperti kalian!” Sapta bergidik riskan saat mengingat betapa mudahnya Anjani mengibaskan suami-istri itu: menyuruh mereka untuk pergi secara teratur dari ruangan ini. “Aku tidak butuh bantuan kalian pada makhluk Sekala! Kalian hanya akan jadi beban! Dan kalau kalian lupa, aku sudah punya beban dari kalian, jadi terima kasih!” Sapta menelan semua pikiran itu, menghibur diri dengan mengatakan bahwa ia pantas melihat semua drama tidak perlu itu karena dirinyalah yang membuat Anjani masuk ke dalam semua ini. Murni hanya karena dirinya tidak bisa melihat Ira dan Markandra memberikan semua harta mereka, termasuk kebebasan dan leher mereka kepada Marsose hanya agar satu anggota keluarga mereka selamat. Sapta tidak sanggup melihat pemandangan seperti itu lagi. Menggelengkan kepala untuk membersihkan semua pikiran buruk itu, Sapta pun bertanya kepada Anjani. Sekadar penasaran. “Menurutmu ini mustahil?” “Seberapa besar kemungkinan Siluman bisa menang melawan Detya dan Danawa?” Sapta tidak menjawab. Itu bukan pertanyaan yang butuh jawaban. Anjani menyugar rambutnya frustrasi. “Kamu tahu taruhannya sebesar ini saat menerimanya?” Pandangan Sapta terpaku ke lantai dan sepatu-sepatunya. Tidak sedetik pun ia berani mengangkat kepala untuk menatap Anjani. “Aku— “Kamu tidak tega, itu yang mau kamu bilang?” tukas Anjani dengan dingin. “Karena kamu tidak tega pada satu orang, kamu mengambil misi yang mungkin akan membahaykan nyawamu sendiri? Kamu sadar betapa tololnya itu, Sapta?!” Sapta menggertakkan gigi. Dirinya tahu ia pantas mendapatkan hardikan itu dan segala hinaan itu, tapi di sisi yang lain, ia juga tidak bisa diam saja. “Mereka kehilangan keluarga, Anjani.” Sapta mengepakkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. “Aku mungkin tidak mengerti perasaan mereka yang sampai kehilangan keluarga, tapi jika orang yang aku sayangi direnggut begitu saja, aku juga tidak akan tinggal diam.” Dengan berani, Sapta mendongak. Kali ini ia menatap Anjani. Matanya dipenuhi tekad. Dia tidak akan mundur. Tidak sampai dia sudah merasa berusaha semaksimal mungkin. Dan saat ini, ia merasa belum berusaha maksimal. Anjani mengernyit. Mata birunya terpaku kepada pemuda yang baru menginjak dua puluh tahun itu. Kadangkala Sapta bisa bertindak logis semestinya seorang Jager, tapi untuk hal-hal seperti ini, Sapta bertindak tidak masuk akal dengan memprioritaskan perasaan. Anjani tidak mengerti jalan pikiran pemuda itu. Hingga detik ini. “Jager tidak bisa senaif itu selamanya.” Anjani berdecak. “Kamu hanya akan membahayakan rekan kerjamu nanti. Dewasalah sedikit, Sapta.” “Jika dewasa itu artinya harus meninggalkan orang yang seharusnya bisa aku lindungi, demi sejumput akal sehat….” Sapta membalas, dengan ketenangan dewasa yang menyindir Anjani. “Aku lebih baik tetap seperti ini.” Satu hal yang Anjani benci dari menghabiskan waktu terlalu lama bersama seseorang, mereka akan cukup memahamimu seiring waktu sampai bisa membalas ucapanmu. Seperti Sapta. “Itu t***l namanya.” “Yah, aku memang tolol.” Sapta tertawa canggung. Anjani mendengkus. “Setidaknya kamu t***l yang beruntung,” sahutnya. “Jika ini tidak menyangkut Batavia, aku sudah akan membunuhmu.” Sapta mengangguk paha, berterima kasih kepada Anjani atas kemaklumannya. Namun sejurus kemudian, Anjani menelengkan kepala. Ia bersenandung pelan dan sebelah alisnya terangkat. “Tapi … ada yang tidak beres dengan Damien ini.” Anjani mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu. “Makhluk-makhluk Niskala jarang sekali salah tangkap dan mereka selalu punya alasan bagus. Terdakwa kita ini memang tidak punya alibi pada saat kejadian perkara, tapi aku ragu kekuatan Siluman saja bisa menghancurkan kota dalam satu malam. Terlebih lagi … pilar itu.” Anjani terdiam sejenak. Pandangan wanita itu menerawang jauh ke kejadian setengah tahun lalu. Dirinya dan seluruh saksi mata tidak akan bisa melupakan pancaran atma dalam jumlah besar meledak ke langit di malam itu. Atma dalam berbagai warna yang tidak seharusnya bersatu padu: emas, putih, merah, dan hitam. “Apa kabar, Dyaksa?” Anjani merasakan tengkuk lehernya bergidik. Suara itu tidak pernah mau pergi dari benaknya sejak terdengar setengah tahun lalu. Hari ini Anjani menduga dirinya mulai tidak bisa membedakan mana suara yang asli dan mana suara dalam pikirannya. “Kalau begitu ada kemungkinan Damien ini memang bersalah atas lenyapnya Batavia?” Suara Sapta mengembalikan Anjani ke kenyataan.   “Terlalu cepat menyimpulkan,” Anjani menyanggah. Matanya kembali menyipit. “Jika mengambil kemungkinan kalau dialah pelakunya, itu jelas terlalu mustahil. Siluman tidak bisa membuat kehancuran sebesar itu … dan pilar langit itu jelas bukan perbuatan Siluman.” Anjani menggigit bibir. Sapta memerhatikan rasa frustrasi Anjani, buah dari amarah dan dendam dan ambisi yang dipendam entah berapa lama, entah berapa dalam. “Jika dia pelakunya.” Sapta menggaris bawahi pernyataan Anjani itu sembari berpikir keras. “Tapi Nyonya Ira dan Tuan Markandra bilang, Damien dibawa karena terlibat.” “Artinya bisa jadi dia hanya saksi mata penting,” sambung Anjani. “Dan dia sengaja dibawa karena ada kaum Niskala yang ingin ikut campur.” Sapta berjengit. “Kemungkinan yang mana pun tidak ada yang terdengar bagus.” Wajah Anjani berubah sangat serius. “Tidak ada sama sekali.” Anjani bangkit dari kursi. ia mencampakkan dokumen itu dan menghampiri jendela, membuka sedikit tirainya. Matahari bersinar penuh di luar. Di atas langit biru dengan awan berarak. Di antara awan-awan itu, percikan-percikan merah terlihat. Seperti cahaya dan kilat. Mengalahkan sinar matahari, mereka lebih terang dibandingkan langit biru dan lebih jelas dibandingkan sinar matahari. Di luar percikan-percikan merah itu, para Bhuta dari beberapa klan terbang melintas. Tidak berani mendekat ataupun menyerang. Pelindung masih menyala dengan aman hari ini. Namun malam itu di Batavia, pelindung hancur lebur. Ribuan Asura datang menyerbu masuk. Saat itu juga, Anjani kehilangan jejak Nawadewata pertamanya. Setelah ia begitu yakin Nawadewata ada di jangkauan tangannya, saat itu juga harapannya direnggut. Amarah Anjani masih menyala sampai hari ini akibat kekalahan telak itu. Kekalahan sebelum ia mencoba. Lebih parah lagi, titik Zenith berhasil ditembus oleh cahaya itu. Tidak boleh ada kesalahan lagi. Karena hari-hari mereka hanya tinggal menunggu waktu. “Aku akan pesankan tiket kereta,” ujar Anjani tiba-tiba. “Eh?” Sapta tercengang. “Kereta ke mana? Untuk … siapa?” “Ke Rengasdengklok.” Anjani menunjuk dokumen pemeriksaan di kursi. “Ada alamat rumah Markandra di sana. Aku mau kamu selidiki semua hal soal Damien di sana dan kembalilah saat matahari terbenam. Kita berkumpul di jembatan Bhagasasi pintu air nomor dua, jam enam.” Sapta mengerutkan kening. “Kita mau ke mana malam ini?” Anjani berputar menghadap Sapta. “Aku sudah mengajarimu, bukan? Jager berbeda dari Marsose,” ujar Anjani. “Kita ini berburu. Kita tidak perlu menyelidiki atau mencari kebenaran. Cukup cari tahu lokasi target, temukan target dengan cara apa pun, dan bawa dia ke penyewa kita.” Kedua mata Sapta membelalak lebar. “Kamu tidak bermaksud….” Seringai muncul di bibir Anjani. “Aku dengar rumor, kabut dan monster aneh sering muncul di bekas tanah Batavia saat malam hari.” Lagipula, aku butuh bantuan seseorang di Niskala jika ingin mencapai tempat itu. “Kamu akan ke Niskala?” tanya Sapta tidak percaya. “Sekarang juga?” “Untuk apa menunda-nunda?” “Kamu sudah tahu di mana Damien dibawa?” Sapta maju selangkah. Ketakutan menghantui wajahnya. “Demi Akal Sehat, Anjani, alam Niskala itu luasnya berlapis-lapis. Melintasi semua lapisnya bisa membuatmu— Anjani mengangkat satu tangan. Kemudian, satu jari Anjani bergoyang-goyang di udara. “Aku tidak berniat mati hari ini, Sapta. Jangan lupa itu.” Sapta berhenti tercengang. Pemuda itu memahami sepenuhnya permintaan Anjani. Ia membungkuk sedikit, menaruh tangan kanannya di jantung. “Dan saya akan menemani Anda sampai semuanya selesai.” Anjani tersenyum puas. Pandangannya kembali ke luar jendela. Anjani menunduk, melihat sungai Bhagasasi membentang dari tempatnya memandang. "Sekarang saatnya aku meminta bantuan.” *** Kediaman Frederick Rass ada di weltevreden sayap barat. Untuk ke sana, Anjani perlu naik dua trem dan membayar sebesar tiga gulden. Karena bagian dalam weltevreden secara ekslusif ditujukan bagi kereta kuda dan mobil-mobil para penghuninya, Anjani tidak bisa memasukinya lewat kendaraan umum. Perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Bukan perjalanan yang menjengkelkan, memang, karena jalan di weltevreden telah dibangun seperti jalanan kampung halaman para Londo di Nederland yang halus dan berlapis aspal. Bukan lagi tanah yang lembek saat musim hujan dan retak saat musim kemarau. Mereka bahkan melengkapinya dengan jalus untuk pejalan kaki berada di bahu jalan. Selama Anjani memakai sarung tangan, ia bisa membaur bersama para Londo dan Noni lebih baik daripada pribumi, karena jas dan kemeja miliknya. Mungkin juga karena kulit putihnya dan mata birunya. Di jalan, ia bertemu beberapa Nyai yang mengekor dengan kepala tertunduk di belakang para Meneer mereka, seperti anjing yang patuh. Para opas berjaga di pos rumah masing-masing, beberapa yang malas kedapatan menggoda para babu di sana. Ketika sampai di wilayah sayap barat, di dekat sebuah rumah bergaya Indische beratap hijau, Anjani memutar. Ia berbelok dan berjalan dengan begitu tenang sampai tidak ada yang memerhatikannya. Kemudian setibanya di pagar belakang, Anjani melompat. Dalam satu lompatan, Anjain berhasil melompati gerbang hitam setinggi dua meter yang membatasi rumah bercat putih itu. Tanpa suara, Anjani mengendap-endap ke dekat jendela-jendela kayunya yang dicat hijau. Jendela nomor tiga dari kanan di lantai dua terbuka. Lamar-lamat, telinganya mendengar suara di dalam bangunan, tepat dari ruangan yang ia incar. “Tolong sampaikan …. Aku yang akan ke sana sendiri segera. Hubungi Kopral….” Anjani segera menyingsingkan sedikit lengan jas dan kemejanya yang memang didesain longgar. Dengan cepat, wanita itu mengalirkan atma ke cakar kanannya, mengubah cakar itu menjadi sedikit lebih besar dari ukuran sebelumnya. Lebih kuat. Sekali lagi Anjani melompat. Dengan tangan kanan, ia meraih kusen jendela yang terbuka. Separuh di luar dugaan, bunyi buk pelan darinya, ternyata berhasil menarik perhatian penghuni ruangan itu. Wajah tampan Frederick Rass yang masih berseragam Marsose melongok keluar jendela yang terbuka. Ia menunduk dan mereka pun bersitatap. Anjani tersenyum lebar sambil memberi hormat main-main dengan tangan kiri: sebuah sikap luar biasa kurang ajar jika untuk orang lain, tapi Rass mengenal Anjani lebih dari siapa pun di kesatuan Marsose. “Wah, wah, lihat siapa yang datang ini.” Rass menunduk. “Beruntungnya aku dihampiri seorang wanita cantik— “Menunduk!” Segera setelah berseru, Anjani berputar hampir satu lingkaran penuh. Dengan akurasi tinggi, Anjani berhasil masuk ke dalam ruangan itu. Kaki lebih dulu. Menghunjam bagai bola meriam. Rass menunduk, melengkungkan punggungnya ketika tubuh Anjani melintas di atas wajahnya. Sedetik kemudian, wanita itu mendarat dengan mulus tepat di lantai, hanya tiga langkah dari meja kerja Rass. Beberapa kertas berhamburan akibat angin dari lompatan Anjani. Untunngya, tidak ada property yang dirusak. Hanya beberapa kertas yang sudah susah payah diatur Rass yang sekarang harus kembali berantakan Rass sengaja memasang tampak susah, bermaksud mengeluh, tapi Anjani tidak menanggapinya—atau hanya tidak peduli. Dengan ceria, wanita itu berputar bak penari dan melambaikan tangan kepada Rass yang masih terdiam di tempat, tersenyum penuh arti ke arah Anjani. “Siang, Tuan yang Budiman!” “Seperti biasa selalu memilih cara yang heboh.” Rass berkomentar santai, membereskan semua kekacauan yang dibuat Anjani. “Masih tidak mau lewat pintu?” “Aku lebih suka cara masuk bergaya seperti ini.” Rass memilah-milah dokumen dengan cepat. Kedua tangannya bekerja secepat matanya memindai. Satu per satu dokumen kembali disusunnnya berdasarkan urusan yang diacak Anjani tadi. Anjani meraih salah satu berkas yang dijepit. Setidaknya satu lusin kertas ditempelkan menjadi satu di sana. “Kamu sudah dapat apa yang aku mau?” tanyanya. Rass menarik keluar satu map kuning dari dalam tumpukan berkas dan menyerahkannya kepada Anjani. “Tentu saja.” “Terima kasih.” Namun Anjani tidak langsung menekuri laporannya sendiri. Mata biru wanita itu mengernyit saat membaca laporan milik Rass, terutama di judul dan tanggal kejadian. Baru hari ini. “Ada pembunuhan lagi?” Anjani bertanya penasaran. “Dayuh ini benar-benar aktif ya? Entah dia gila atau memang tidak kenal mati.” “Yang jelas, ia membuat kami semua begadang.” Rass mengambil dokumen itu dari Anjani. “Aku baru mendapat laporan ini dan akan segera berangkat sebentar lagi untuk menyelidiki temuan yang baru ini.” Anjani bertukar laporan dengan Rass. Ia membaca kata demi kata penuh teror yang menggambarkan kondisi dua korban baru di kebun tebu yang menjadi tempat kejadian perkara. Lengkap dengan ciri yang menandakan jika pelakunya adalah Dayuh Girah. Sebuah tulisan dari darah yang dilukiskan di tubuh para korban. Kali ini rupanya Dayuh dari Girah mengambil langkah lebih ekstrim dengan mengukir sendiri namanya di masing-masing perut korban. “Suami istri. Petinggi NISN,” Anjani berkata. “Lagi-lagi Londo?” Rass mengangguk. Senyumnya pudar. “Masih hilang sampai sekarang.” Angin perlahan berembus ke dalam ruangan tempat kerja Rass, membawa terbang berbagai aroma yang datang dari kota di balik tembok tinggi Weltevreden. Aroma laut, kota, aroma khas mesin-meisn Rakta, aroma jutaan manusia, aroma samar dari para Asura, dan aroma pertumpahan darah yang entah ada di mana di suatu titik di negeri ini. Anjani kembali bertukar berkas dengan Rass dan melihat berkasnya sendiri. Sederet catatan sejarah Batavia tercatat secara runut, beberapa disertai foto dan ilustrasi. Anjani tersenyum puas. “Divisi Lima memang benar-benar sesuatu. Mereka merekam segala hal yang tidak terceritakan di dalam buku sejarah. Lihat, mereka bahkan menjelaskan sangat rinci semua percobaan Niskala yang mereka lakukan di sini,” gumamnya, menyadari ada bagian yang hilang dari laporan itu. Sebuah lubang yang seharusnya bisa diisi. “Aku harap kamu tidak menghilang mendadak karena pencarian ini.” Rass tersenyum senang tanpa beban. “Aku anggap itu tantangan.” Anjani terkikik geli. Tangannya menyentuh laporan di tangan Rass. Jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk kertas itu. “Kamu butuh bantuanku untuk yang ini? Aku bisa membantu.” “Tawaran yang menarik.” Rass meraih jari Anjani dan mengecupnya. “Tapi aku harus menjaga harga diriku untuk tetap menawan di mata para gadis, bukan?” “Oh, lelaki yang tangguh dan menawan.” Tangan Anjani menyentuh dagu Rass. Ia mencondongkan badan ke arah pria Londo itu. Dengan sengaja mencubit hidung Rass.  “Kamu tahu, ini saatnya kamu menyingkirkan tanganku untuk tidak mengganggumu di jam-jam kerja.” “Aku suka gangguan saat kerja.” Rass tersenyum lebar. “Yang tidak suka gangguan saat kerja bisa pergi ke Sri Langka.” Anjani tertawa. “Kamu harus mencari yang baru segera, Rass.” Jemari Anjani membelai dagu Rass. “Mumpung aku tidak ada lagi di Salumi sejak hari ini.” Jawaban itu membuat Rass membelalak. “Kamu dipecat lagi?” Bibir Anjani mencibir, mengingat Puspa dan para pria bodoh itu. “Begitulah.” Rass mendebas dengan gaya dramatis. “Orang-orang yang malang.” Rass menggelengkan kepala. “Mereka tidak tahu sudah kehilangan apa.” Tawa Anjani bergaung di seluruh ruangan. Hanya selama sedetik. Kemudian, ia melangkah keluar jendela. Angin yang masuk meniup rambutnya yang tidak diikat apa pun kali ini. Di belakang, Rass berputar menghadap jendela, menatap punggung Anjani. “Tenang saja, Rass,” Anjani berkata. “Dia bukan Dayuh dari Girah yang asli.” “Ah….” Rass manggut-manggut. “Apa itu karena insting Siluman yang sering kamu bangga-banggakan itu, hm?” Anjani tersenyum tipis. Ia sedikit lega Rass masih bisa melemparkan humor di saat seperti ini, ketika Anjani sendiri sudah tidak bisa membuat humor macam apa pun. “Bukan, itu hanya sekadar tebakanku,” Anjani mengelak. “Tapi aku memang mendapat insting bagus soal Dayuh ini.” “Oh ya?” Rass terdengar tertarik. “Apa yang instingmu katakan soal kasus ini?” Anjani tersenyum begitu cerah dan bahagia ketika mulutnya mengatakan tanpa ragu, apa yang ada di kepalanya: “Aku sendiri yang akan membunuh Dayuh dari Girah itu.” *** Sungai Bhagasasi membiru di bawah jembatan penyeberangan besar Jayagiri yang membelah arus sungai. Pintu-pintu air telah ditutup beberapa menit lalu oleh secara otomatis oleh sistem pusat Irigasi Jayagiri. Sungai yang terpotong dari aliran induknya, perlahan mengalir tenang di bawah. Anak-anak dan para orang tua yang tadi bercengkrama di pinggir sungai segera pergi, menyisakan hanya beberapa orang pria yang kelihatannya masih senang berlama-lama di tepian sungai. Angin dingin mulai menyapu daratan. Langit lembayung biru mulai berganti hitam. Megahnya warna merah senja semakin redup di ufuk barat. Suara langkah terdengar di samping Anjani. “Anjani.” Wanita itu menoleh. Sapta telah ada di sisinya. “Aku sudah mengecek beberapa hal yang kamu minta.” Anjani memberi isyarat pada Sapta untuk mengikutinya. “Kita bicarakan sambil jalan.” Sapta menurut dan segera berjalan mengekori Anjani. Berdua, mereka menyusuri jalanan kota Bhagasasi yang pekat. Penerangan bertenaga Rakta telah menyala di seluruh jalan. “Apa yang kamu dapatkan?” Sapta mengeluarkan buku catatan kecil dari saku celananya dan membacanya sembari berjalan. Bersama catatan itu, ia juga menyertakan satu lembar kertas yang setelah dilihat lebih seksama, kelihatan membungkus sesuatu. Tidak hanya secarik kertas. “Latar belakang Damien bersih,” ujar Sapta. “Semua warga di desa itu mengaku mengenal Damien tapi tidak ada satu pun yang bisa menjawab asal muasal Damien. Mereka hanya tahu Damien Siluman dengan organ tubuh mirip klan Garuda.” Anjani mengangguk puas. “Kamu pergi ke rumah mereka seperti yang aku minta?” “Ya.” Sapta menjawab tanpa ragu. “Masih ada polisi yang berjaga di sana, jadi aku menyelinap. Tapi aku berhasil masuk ke kamar Damien.” Sapta menyerahkan bungkusan kertas itu kepada Anjani. “Dan ini aku foto yang aku ambil di kamarnya.” “Luar biasa kamu bisa mengambil foto tanpa ketahuan.” Anjani membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati. Mereka berhenti di pinggir jembatan. Anjani mengerutkan kening di depan foto itu, kehilangan kata-kata. Foto itu berisi peta Nuswantara buatan tangan. Lima pulau besar dengan tiga kepulauan kecil. Meski buatan tangan, peta itu terlihat persis sama dengan peta-peta yang tertera di buku-buku, dengan presisi yang mustahil dikerjakan kecuali oleh mereka yang berpengalaman dalam kartografi. Sebagai pelengkap, ada lingkaran-lingkaran merah tak bernama di pulau-pulau itu. Total ada delapan lingkaran. Di delapan titik yang berbeda di seluruh Nuswantara. Hingga Anjani melihat perbedaan pada satu tempat. Mata Anjani turun ke sudut bawah peta, tempat sekumpulan kepulauan diwarnai hitam. Pulau itu ditandai lingkaran merah secara penuh. Anjani lanjut membuka foto lain, Ada peta Batavia lengkap dengan beberapa foto tempat yang terkenal di Batavia yang kini sudah tinggal sejarah. Gegund-gedung pemerintahan dengan akses sangat terbatas. “Aku rasa akan ada interogasi panjang untuk Damien nanti.” Anjani mengembalikan foto itu kepada Sapta. Sapta mengangguk. Ekspresi wajahnya masih muram. “Delapan tanda yang ada di foto tadi, mungkinkah….” “Terlalu cepat menduga.” Anjani mengelak. “Tapi melingkari delapan kepulauan di antara tujuh belas ribu pulau memang bukan kebetulan yang wajar.” Lima pulau besar mungkin bisa dilingkari karena ukurannya yang besar. Jawa, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. Lima pulau besar yang diklaim oleh Nederland sebagai bagian dari wilayah mereka dan bukan lagi Nuswantara sejak puluhan tahun lalu. Tapi tiga kepulauan kecil yang dilingkari dari tujuh ratus pulau yang sudah ditemukan, itu bukan kebetulan biasa. “Kalau begitu, sebaiknya kita tidak buang-buang waktu.” Sapta menatap ke arah horizon, tempat kabut putih berputar di angkasa. “Kamu yakin itu retakan yang terbuka?” “Hanya ada satu cara memastikan semua raungan itu. Apakah itu Bhuta yang terperangkap di sini, retakan yang terbuka, atau … bingkisan utama.” Anjani menyeringai. “Pastikan tidak ada yang mengganggu nanti ya.” “Eeh?” Sapta memekik. “Aku harus berjaga di luar?” “Tentu saja kan?” Anjani menoleh bingung ke arah Sapta. “Aku tidak mau membawa mayat dari Madyapada.” “Tapi….” Sapta tampak berat hati, tapi sehera mengurungkan niatnya untuk berkata lebih jauh. Anjani benar. Sapta tidak akan apa-apa selain beban jika nekat pergi ke alam Niskala. Di bagian mana pun dari alam Niskala, tidak ada yang bisa dihuni oleh Manusia terlalu lama. Udaranya akan membunuh Manusia dalam hitungan detik. “Dan lagi, aku butuh satu tanganku bebas untuk bisa membebaskan Damien itu.” Anjani mengangkat tangan kanannya. “Menolong dua laki-laki iu terlalu berlebihan. Aku, kan, juga harus menjaga imej untuk tetap anggun, bukan begitu?" Sapta mendebas, tapi tidak menahan diri untuk tertawa pelan. Anjani menyelipkan humor yang tidak terduga, sekali lagi. “Ya, ya, terserah katamu saja, Nona.” Tanpa diduga, Anjani mengulurkan tangan dan mencubit hidung Sapta. Pemuda itu berjengit, tapi tidak menolak bentuk afeksi kecil itu. Anjani melihat sedikit pipi Sapta bersemu merah. Sapta berdeham, mengusir rasa canggung sekaligus memperbaikin harga dirinya yang baru saja remuk karena satu perlakuan manis Anjani. “Apa rencanamu?” Anjani hanya mengulum senyum tipis. Senyum yang tidak bisa ditebak siapa pun kecuali dirinya sendiri. “Rencana yang lumayan bagus.” Benda di dalam saku Anjani mendadak terasa berat. Anjani kembali tersenyum. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN