Anjani tersenyum puas saat dua orang di hadapannya pucat pasi.
“Aku anggap kalian mengiyakan,” Anjani memutuskan sepihak. “Sekarang pertanyaanku adalah, apa Simmo mengetahui detail kecil ini?”
Suami istri itu bungkam. Mereka saling bertukar pandang, tapi tidak memberi jawaban. Anjani melirik Sapta.
“Tidak,” Pemuda itu menjawab dengan nada yang terlalu tenang sampai Anjani mengangkat sebelah alis ke arahnya.
Tidak ada keraguan atau emosi apa pun yang menandakan pemuda itu sudah dibohongi. Hal itu hanya bisa berarti satu hal: Sapta sudah tahu detail ini. Hanya dia. Simmo tidak menyuruh Sapta membujuknya ikut misi ini. Trik murahan ini benar-benar berasal dari kepala kecilnya. Sambil menahan kekesalan, Anjani memelototi suami istri di hadapannya.
“Kalian tahu betapa berbahayanya ini?”Anjani bertanya dengan serius. “Kalian melanggar kode operasi kami.”
Detik pertama Anjani menerima amplop itu, ia melihat atma biru murni mengelilinginya. Atma khas alam Niskala.
Ini bukan lagi soal satu dunia atau menolong satu tertuduh narapidana agar bebas dari tahanan. Ini soal menentang hukum dua dunia dan menyelamatkan orang yang sepertinya punya alasan bagus untuk ditahan. Buruknya, Simmo selaku pemimpin tidak tahu menahu soal ini. Ia akan sepenuhnya sendirian tanpa ada siapa pun yang bertanggung jawab jika semua berjalan tidak sesuai rencana.
Meski bukan berarti Anjani akan membiarkan dirinya dalam bahaya juga.
“Bukankah kami sudah bilang kami akan membayar?” Ira menyahut sengit. Keputus asaan terdengar jelas dari suaranya sekarang. “Kami tahu kami tidak jujur saat mengajukan misi ini, tapi bayaran kami jujur. Akan kami bayarkan dengan layak.”
“Dan kalau aku mati di Madyapada, uang-uang itu tidak akan jadi berguna.” Anjani berubah galak. “Menyelamatkan Siluman dari Marcapada saja sudah sulit sekali, apalagi menyelamatkannya di alam Niskala!”
Mendengar kata ‘Siluman’, dua orang di hadapan Anjani sekali lagi terperanjat.
“A-Anda tahu?” Ira tergagap, mengundang perhatian Anjani yang justru menatap balik wanita itu dengan bingung.
“Itu kesimpulan yang mudah, kan?” Anjani tidak percaya kliennya bisa sebodoh itu. “Simmo tidak mungkin menunjukku jika yang ingin ia selamatkan sekadar Manusia. Lagipula Manusia yang datang ke alam Niskala sudah pasti mati, sekalipun yang ia masuki itu alam Dewa.”
Kata-kata itu membuat Ira dan Markandra bergidik ngeri.
“Karena itulah, kalian pasti ingin menyelamatkan Siluman,” Anjani menyimpulkan dan menarik tangan kanannya ke udara. “Lucu, jika kalian tanya pendapatku. Sementara kalian masih takut pada organ seperti ini.”
“Memangnya kenapa kalau kami takut?” Ira membalas. “Kamu orang asing. Yang ingin kami selamatkan di sini adalah teman kami.”
“Memang tidak aneh.” Anjani terkekeh pada penyangkalan Ira pada ketakutannya sendiri. “Yang aneh adalah kalian yang meminta teman kalian diselamatkan dari alam Niskala.”
“Ada apa?” Markandra bertanya. Wajahnya berubah cemas. “Apa … itu mustahil?”
“Di luar persentasi kemungkinan berhasilnya….” Anjani mengoreksi. “Alam Niskala tidak asal tangkap seseorang, apalagi jika orang itu ada di Marcapada. Mereka punya sistem pengadilan yang mudah dan selalu akurat. Jadi jika teman kalian ditangkap ke alam Niskala, mereka pasti punya alasan bagus. Tidak mungkin asal fitnah kecuali teman kalian berteman dengan beberapa Asura kelas tinggi.”
Pernyataan itu sukses membuat wajah Ira pias sementara wajah Markandra seperti orang yang baru saja ditikam. Anjani menyipitkan mata, mencium satu lagi gelagat tidak beres dari suami-istri itu. Anjani merasa kesabarannya sudah hambir habis.
“Sekarang, kalian jawab aku.” Anjani menyentuh belati di pinggangnya kali ini, untuk menekankan betapa serius dia sekarang. “Kenapa teman kalian bisa ditahan di alam Niskala?”
Markandra dan Ira bertukar pandang.
“Apa yang sudah dia lakukan?”
Sekali lagi tidak ada jawaban.
Anjani menghela napas. “Aku rasa semua sudah jelas.” Ia melirik Sapta. “Sekarang aku bisa pergi kan? Aku lapar. Mau cari sarapan.”
“Batavia!”
Satu kata itu membekukan udara di seluruh ruangan. Anjani, Septian, bahkan Ira pun membelalak. Tidak menduga jawaban yang keluar secara tiba-tiba dari Markandra. Sepasang mata biru Anjani berpendar ketika ia memelototi Markandra.
“Apa maksudmu?”
Hawa dingin menusuk tiba-tiba datang di ruang sempit yang seharusnya panas dan pengap itu. Semua orang di ruangan itu dapat merasakan bekunya amarah Anjani menusuk tulang demi tulang mereka dan membekukan mereka dari dalam.
“Teman kami….” Markandra menelan ludah. “Malam itu dia dibawa makhluk yang menuduhnya menghancurkan Batavia.”
***
Anjani menyobek amplop dari Sapta dengan tidak sabar.
Di kantor Marsose Jayagiri, ia tidak membuka amplop itu. Ia tidak mau. Misi ini membuat Jager Jayagiri melanggar semua kode etik yang mereka miliki. Jika Komisaris atas Marsose sampai mengetahui tindakan ini, sanksi berat bisa dijatuhkan. Dan Anjani mungkin akan terkena imbas paling berat, kehilangan sumber informasi yang berharga di masa ini.
Tangan kiri Anjani menarik keluar beberapa lembar berkas penyelidikan Veld Politie. Sebuah catatan penyelidikan dari sebuah alamat yang terletak di Rengasdengklok.
“Dia di Dengklok saat ia ditangkap?”
Markandra mengangguk. “Di rumah kami.”
Anjani menaikkan sebelah alis. Dalam diam, bertanya apa maksud Markandra.
“Dia … dia tidak bilang detailnya—dia memang tinggal di Batavia sebelum ini.” Markandra dengan ragu menambahkan. “Tapi dua bulan sebelum kejadian, Damien pindah ke Dengklok dan tinggal bersama kami.”
Anjani menelengkan kepala. “Dia bukan pribumi?”
“Dia pribumi.” Ira menjawab dengan cepat. “Tapi dia lahir tanpa nama. Dia memilih sendiri nama itu.”
Oh.
Bukan hal aneh jika ada Siluman yang tidak bernama dan malah namanya berbeda dari orang kebanyakan meski terlahir dan besar di negeri ini. Banyak yang tidak mau mengurus Siluman. Membiarkan mereka lahir tanpa bicara atau bahkan besar tanpa bisa bicara sama sekali. Siulman bernama Damien ini beruntung bisa memilih namanya sendiri.
“Pasti orangnya tampan.” Anjani melemparkan gurauan, sayangnya gurauan itu tidak disambut baik oleh Markandra yang langsung pasang tampang heran dan Ira yang melotot. Anjani mengabaikan mereka. “Dia ada di Dengklok pada saat Batavia hancur?”
Sekali lagi diam.
“Kalian tidak tahu?”
“Damien … tidak begitu terbuka kepada kami sejak sebelum pindah ke Dengklok.” Markanda menjelaskan dengan keraguan yang terlalu jelas. “Dia memang jadi sedikit tertutup….”
“Tapi tidak mungkin seorang Siluman bisa menghancurkan Batavia kan? Demi Gusti Allah, itu satu kota besar!” Ira menambahkan dengan berapi-api. “Dia pikir teman kami itu apa? Detya?”
Markandra merangkul pundak istrinya.
“Dia sudah menyelamatkan kami berkali-kali … jadi kami merasa perlu menolongnya juga kali ini.” Markandra menambahkan. “Kami sudah menyelidiki catatan kriminalnya—
“Dan hasilnya nihil.” Anjani menimpali, yang diaminkan oleh suami istri itu.
Sekali lagi, Anjani menekuri berkas di tangan. Di sana tertera keterangan bahwa Damien adalah Siluman dengan ciri berupa mata merah, lidah hitam, rambut putih, kulit gelap, dan sebelah kaki yang berupa cakar. Anjani membolak balik halaman demi halaman dan tidak menemukan satu hal janggal.
“Tidak ada foto?”
Ira menggeleng dengan sedih. “Damien tidak pernah mau.”
“Beberapa kali kami sempat menawarinya untuk mengambil foto.” Markandra mengimbuhkan. “Tapi dia menolak. Dia bilang uang untuk menyewa foto itu sebaiknya kami gunakan untuk keperluan … kami.”
“Kalian punya teman yang tolol.” Anjani sudah bisa membayangkan sekacau apa misi ini dan apa saja yang akan menimpanya nanti. Ia membalik lembar penyelidikan “Kalian melaporkan ini kepada Stats Politie? Dan … mereka tidak curiga pada kalian?”
“Kami tidak punya pilihan lain yang lebih baik.” Markandra menjawab muram. “Kami merasa mungkin polisi mungkin bisa menemukan sesuatu yang tidak bisa kami temukan. Tapi hasilnya sama saja.”
“Hm.” Anjani bisa membayangkannya. “Mereka bilang apa?”
Markandra menggeleng. “Tidak ada yang tidak kami ketahui.”
“Mereka lalu mulai mengorek latar belakang kami, soal kenapa Damien bisa ditangkap. Sebelum mereka curiga lebih jauh, kami langsung kabur dari Dengklok." Irawati meneruskan. “Kami menemui Simmo, orang yang pernah Laskar dan kami tolong beberapa kali.”
Anjani menjentikkan jari, menghentikan sementara penjelasan mereka.
“Kenapa Simmo bisa berurusan dengan kalian?” Anjani bertanya, hanya sekadar penasaran. “Bagaimana bisa?”
“Anda tidak tahu? Dulu Meneer Simmo adalah simpatisan.” Ira menjawab. ‘Tapi itu dulu.”
Oh.
“Sepertinya Simmo mendapat gaji yang lebih layak di Marsose, kalau begitu.” Anjani melirik suami-istri itu. “Tapi tetap saja aneh, melihat kalian masih mau membantu orang yang mungkin nanti akan mengejar kalian demi sekantung gulden.”
“Hari ini adalah hari ini, esok adalah esok,” kata Ira dengan tegas.
Anjani tersenyum miring. “Kata-kata yang bagus. Tapi aku sarankan kalian tetap membayar Simmo lebih tinggi dari gajinya saat ini jika aku berhasil menyelesaikan permintaan kalian. Siapa yang tahu sampai kapan mulut Simmo bisa dijaga?”
Mengabaikan muka ngeri dari suami-istri itu, Anjani kembali menekuri berkas pelaporan yang meski pelapornya sudah melanggar kode etik, laporannya sangat memenuhi standar laporan untuk Jager.
Anjani dipermudah dengan kenyataan bahwa Damien tidak melakukan kejahatan apa pun yang bersinggungan dengan pemerintah. Catatan kriminalnya hanya dinodai beberapa perusakan kebun dan fasilitas pangan dilaporkan oleh Cultur Politie, tapi itu lebih karena kekuatannya sebagai Siluman.
Anjani berhenti di nomor registrasi yang tertera di berkas; tanda Damien menggunakan Belenggu Rakta dan terdaftar sebagai Siluman dalam perlindungan.
“Damien berada dalam perlindungan kalian?”
“Ya.” Mereka berdua menjawab dengan kompak. Kemudian Markandra menjawab: “Aku patron resminya.”
Anjani sedikit terkejut. “Dia mendukung penuh kalian?” Aneh sekali bila ada Siluman yang mendukung pemberontakan. Hukuman mati akan menjadi satu-satunya akhir bagi mereka jika sampai berani berpihak pada pemberontak.
“Dia tahu segalanya tentang kami.” Ira menjawab. “Dia Simpatisan.” Kemudian wanita itu cepat menambahkan. “Tapi dia tidak melakukan kejahatan apa pun.”
“Belum.” Anjani mengoreksi santai. “Sulut saja semangatnya dan dia akan membantu kalian. Semua pemberontak dan Simpatisan seperti itu.”
Lembar selanjutnya dari berkas itu berisikan sebuah kantung kulit. Atma biru mengalir dari kantung itu. Anjani membukanya dan menarik isinya dengan tangan kanan.
Tangan kanannya tersambar.
Ira memekik kaget, Markandra tersentak dan buru-buru merangkul istrinya ke dalam dekapan perlindungan, sementara Sapta mencabut pisau dari pinggangnya dan siap menyerang. Anjani mengangkat tangan ke arah Sapta, menyuruhnya tetap tenang di tempat. Dengan tenang, wanita itu mengamati sepercik kain berwarna hitam melilit dua jari cakarnya kuat-kuat.
Dua jari dari cakar Anjani tercekik dalam lilitan kain hitam. Darah perlahan menetes dari sana. Bunyi berderak terdengar. Bentuk dua hari itu semakin janggal, tapi Anjani tetap tenang seola tidak merasakan sakit sedikit pun.
Di mata Anjani, atma biru murni mengalir keluar dari sepercik kain hitam itu. Ia mengacungkan dua jari itu ke depan Sapta. “Singkirkan ini.”
Pemuda itu menurut dan melangkah maju.
“Tu-tunggu, apa yang mau Anda lakukan? Anda tidak serius, kan, Tuan Sapta?” Markandra mencoba mencegah saat Sapta, tapi Sapta mengabaikannya. Pemuda itu justru berlari semakin kencang. “Tunggu! Tuan Sapta, Anda—
Bunyi sayatan bergema di tengah ruangan sempit itu.
Dua orang terperangah, sementara dua lagi tenang saat dua jari yang terputus dari sendinya jatuh melayang ke tanah. Dengan sisa jari, Anjani meraih dua jari itu dan memasukkannya ke dalam kantung kulit.
Ia masih tenang seperti sebelumnya. Sementara Ira dan Markandra yang menyaksikan kejadian itu tampak mual.
Markandra melotot ke arah Sapta. “Apa Anda sudah gila? Bagaimana Anda bisa—bagaimana mungkin Anda tega?”
Sapta tidak mengacuhkan kata-kata itu dan lebih memilih menyarungkan kembali pisaunya. Dia berdiri di sisi Anjani, bertindak cepat dengan mengikat kuat kantung kulit itu dan menyingkirkannya dari pandangan semua orang.
Sadar dirinya sudah membuat keributan, Sapta menaruh jarinya di tengah bibir. Dengan gaya yang benar-benar tenang. “Tunggu dan perhatikan.”
Di hadapan mereka, Anjani mengangkat tangan kanannya dengan santai. Suami-istri itu terheran-heran sesaat, bertanya-tanya apa kiranya maksud Sapta mempertontonkan jari yang baru putus kepada mereka. Namun rasa mual dan heran mereka segera tertelan kembali ketika luka di jari Anjani berhenti berdarah.
Dan jari yang putus tumbuh kembali dalam sekejap mata.
Anjani mengecek dua jarinya sebentar. Memain-mainkan jari itu untuk mengecek kondisinya. Setelah puas, Anjani berpaling ke arah suami-istri yang tercengang di depannya.
Ia tersenyum ramah dan ceria.
“Maaf, ya, Tuan dan Nyonya,” ujarnya bahagia. “Aku sudah menunjukkan hal yang tidak pantas kepada kalian.”
Ira tercengang. Masih syok, sama seperti suaminya. Tapi tidak seperti Ira yang kehilangan kata-kata, Markandra bisa mengendalikan diri lebih baik.
“I-itu … apa?” Markandra menatap ngeri ke arah Sapta. Matanya bolak balik menatap antara Sapta dan cakar Anjani. “A-Anda … ba-bagaimana bisa?”
“Apa? Tanganku?” Anjani menunjukkan cakarnya yang utuh. “Ah, ini memang bukan atribut biasa bagi Siluman. Aku termasuk yang beruntung memiliki kemampuan seperti ini.” Ia lantas melirik Sapta. “Tapi yang kalian dapatkan tadi sedikit berbahaya.”
“Benda itu….” Ira kembali bisa bicara. Suaranya bergetar. “D-dia tidak menyerang kami saat kami mengambilnya—tapi kenapa tadi … benda apa itu sebenarnya?”
“Itu petunjuk.” Senyum Anjani berubah masam. “Dan harus aku katakan, kalian berurusan dengan sesuatu yang lumayan merepotkan.”
Markandra dan Ira bertukar pandang. Sama-sama waspada dan ketakutan, meski tidak setakut tadi.
“Sekarang, bisa kalian bisa ceritakan bagaimana saat Damien ditangkap?” Ia tiba-tiba mengalihkan topik, membalas tanya dengan tanya. “Bagaimana prosesnya, siapa yang menangkapnya….”
Kesepakatan dalam diam terlihat dari mata Markandra dan Ira. Anjani berharap kesepakatan apa pun itu, kali ini tidak ada kebohongan yang terlibat.
“Kami tidak begitu mengerti,” Markandra bercerita lebih dulu. “Malam itu hanya ada satu orang yang datang. Orang yang aneh. Dia berpakaian aneh. Pakaiannya seperti hidup.”
“Bahasanya juga aneh,” Ira menimpali dan Anjani bisa mendengar getar ketakutan dalam suaranya. “Dia berbahasa Jawa tapi ada sesuatu yang … aku tidak tahu—
“Apa yang ia katakan?” Anjani menukas dengan cepat. Wajahnya kembali serius.
“Dia tidak bilang banyak hal.” Markandra mencoba mengingat, mencoba untuk tidak terlalu gugup. “Mereka hanya bilang, Damien terlibat dalam penghancuran Batavia."
Di lembar terakhir berkas, terdapat potongan artikel soal kehancuran Batavia yang telah jutaan kali didengar oleh Anjani. Sekumpulan teori disatukan dalam potongan artikel itu: pemberontak, percobaan Rakta yang gagal, ledakan gas alam, hingga rumor tidak berdasar soal Dayuh dari Girah yang tiba-tiba bangkit kembali setelah ratusan tahun lenyap—tepat setelah teror Dayuh dari Girah merebak di masyarakat.
“A-anu … saya mau tanya….” Anjani mendogak, melihat Ira yang ternyata angkat bicara. Wanita itu menunjuk tangan Anjani. “Yang tadi menyerangmu itu … kenapa dia menyerangmu dan bukan kami saat pertama kali memungutnya?”
Anjani bersedekap. “Kalian tidak tahu benda itu?”
Ira dan Markandra menggeleng bersamaan.
“Itu atma yang dipadatkan.” Jawaban itu membuat dua wajah berkerut penuh kebingungan.
“Kami belum pernah mendengarnya.” Markandra berkata. “Atma itu … tidak bisa dilihat. Tidak berwujud. Bagaimana bisa….?”
“Kalian tidak pernah mendengarnya karena hal itu tidak bisa dilakukan oleh makhluk alam Sekala termasuk aku sendiri.” Anjani menerangkan. “Pemadatan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh penghuni Niskala. Dan bukan sembarang Niskala yang bisa memadatkan atma sampai ke tahap perubahan wujud seperti itu.”
“Apa maksud Anda….?” Markandra bertanya cemas. “Karena itukah … benda itu menyerang Anda? Tapi apa hubungannya….?”
“Benda itu mampu menyerangku karena sebagian dari diriku adalah Niskala,” jelas Anjani. “Semua Siluman seperti itu. Karena itu kalian tidak diserang.”
“Kenapa?” Ira gantian bertanya. “Bukankah makhluk Niskala juga bisa menyerang Manusia?”
Mendengar pertanyaan itu, Anjani memamerkan senyum yang tidak biasa. Senyum yang membuat orang-orang di ruangan itu bingung. Sebuah senyuman yang sulit diartikan. Terlihat sedih, tapi juga bahagia, pilu tapi juga haru. Sebuah senyum semu penuh arti yang hanya bisa dipahami oleh pemiliknya sendiri.
“Pernahkah kalian mendengar soal Pergolakan?” Suara Anjani lembut mengalun. “Tiga guncangan besar yang menimpa dunia ini?”
Dua orang di hadapan Anjani mengangguk. Anjani memejamkan mata dengan kepuasan terlukis di wajahnya yang saat itu, terlihat sangat damai.
“Jauh sebelum Pergolakan itu, ada perjanjian yang dibuat,” Ia melanjutkan. “Sebuah perjanjian yang dibuat oleh Sang Hyang Wisnu sendiri agar tiga dunia terpisah selamanya dan tidak ada yang saling menyakiti.”
“Aku pernah dengar soal itu.” Ira menyahut. “Perjanjian itu berisi aturan bahwa Asura dari Madyapada yang lemah masih bisa ada di sini karena Manusia bisa melawan mereka dan menang. Sementara Asura yang kuat akan tetap di Madyapada. Tidak bisa mengganggu Sekala dan para penghuninya.”
Anjani mengangguk. “Karena itulah kalian tidak bisa diserang. Perjanjian itu melarang kalian sebagai penghuni Sekala murni disakiti dalam bentuk apa pun oleh para penghuni Niskala,” ungkap Anjani. “Meski memang ada celah dalam perjanjian itu, seperti serangan tidak langsung,”
“Lalu pemadatan Atma yang Anda maksud….” Markandra tampak berpikir. “Anda bilang pemadatan atma seperti itu bukan milik makhluk Niskala yang biasa. Kalau begitu siapa….”
“Siapa lagi?” Anjani mencondongkan badan ke arah Markandra dan Ira. “Asura tingkat tinggi yang bisa memanipulasi unsur pembentuk dunia sampai wujud atma itu berubah wujud menjadi bentuk yang benar-benar lain.”
“Kamu bukan mau bilang….” Markandra tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Kemungkinan itu terlalu mengerikan.
“Persis seperti yang kamu bayangkan,” Anjani menyeringai sampai gigi-giginya terlihat. “Yang menemui dan menangkap teman kalian malam itu, entah dia Asura dari kelas Danawa atau … asura kelas tertinggi: Detya.”
***