Di satu sisi, Anjani benar-benar jengkel. Sangat jengkel sampai ia tidak tahu kata yang cukup sopan untuk dikatakan.
Namun di satu sisi, ini bukan kejutan tak menyenangkan pertamanya. Anjani bukannya tidak menduga Sapta akan mencoba mengelabuinya. Tindakan baik pastinya memerlukan imbalan. Sapta tidak bodoh. Dia hanya bekerja sesuai apa yang Anjani ajarkan selama bertahun-tahun. Mengelabui Anjani di bidangnya sendiri.
Dan di sinilah mereka berempat sekarang.
Anjani duduk di satu-satunya kursi di dalam sepetak ruang yang dipanggil Sapta sebagai rumah. Ia dengan sengaja membiarkan seorang wanita yang sama bercelana seperti dirinya tidak mendapatkan jatah tempat duduk dan terpaksa duduk di atas selapis kasur lantai lama bersama seorang pria yang datang bersamanya. Kelihatannya wanita itu sudah pernah mendapatkan perlakuan lebih buruk, jadi tidak begitu keberatan duduk nyaris di lantai seperti bersimpuh, sementara Sapta sang pemilik kamar memilih berdiri saja.
Mereka saling tatap dalam diam.
Anjani bisa melihat dua orang itu berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan keadaan kamar. Sayangnya, sang wanita gagal total. Dari tadi ia tidak berhenti melirik selimut yang tergeletak di lantai tanpa terlipat sedikit pun, bantal yang tercampakkan di lantai, setumpuk sampah sarapan yang belum dibuang, dan bertumpuk-tumpuk surat yang dibiarkan menggunung di sudut ruangan. Perempuan itu juga melirik ke arah dua koper Anjani yang diletakkan begitu saja di tengah-tengah ruangan.
Sapta berdeham. Sebuah usaha menyedihkan yang dilihat Anjani sebagai cara pemuda itu untuk meminta maaf. “Perkenalkan, Anjani, mereka adalah Nyonya Ira dan Tuan Markandra,” kata Sapta. “Mereka klien untuk misi kita kali ini.”
Anjani sudah mengernyit ketika Sapta seenaknya bilang “kita”, tapi perhatian Anjani segera teralihkan. Sulur-sulur merah memancar dari sepasang muda-mudi itu.
Merah murni.
Mereka Manusia. Satu hal bagus.
Sang pria mengangguk lebih dulu ke arah Anjani. Salam dan penghormatan ala kadarnya. “Salam … Nona.”
Anjani akan menulikan diri dari keraguan yang muncul di suara pria itu saat memanggil panggilan sopan untuknya.
“Nama saya Markandra. Dan ini….” Ia menunjuk wanita di sebelahnya yang ikut memberi salam dan sedikit menunduk. “Istri saya, Ira.”
“Ah,” Senyum pertama terbit dari bibit Anjani. “Suami istri. Kejutan yang menyenangkan.”
Sepasang Manusia di hadapan Anjani ini berpenampilan bersih—tidak ireng dan kumal seperti rakyat biasa—Meski berbeda jenis kelamin, mereka mengenakan pakaian yang sama: kemeja dan celana, menandakan mereka berada di kasta yang cukup untuk mengunci mulut-mulut orang yang tidak berkepentingan.
Sebuah ciri yang biasa Anjani lihat dari para pemberontak.
Rupanya Simmo tidak bercanda ketika bilang, mereka berurusan dengan pemberontak.
“Aku sudah menolak pekerjaan ini, Sapta,” Anjani memejamkan mata, lalu berujar dalam bahasa Melayu. “Carilah Pemburu yang lain.”
“Kami punya uang!” Ira tiba-tiba memekik.
Anjani langsung melontarkan pelototan tak bersahabat kepada Ira. Wanita itu terkesiap. Markandra buru-buru merentangkan tangan di depan Ira. Pria itu mendelik Anjani dengan tatapan yang tidak bersahabat, mengatakan dalam diam bahwa ia curiga Anjani akan berlaku sesuatu yang buruk kepada mereka.
Anjani mengulum senyum melihat sikap protektif itu. Tangannya mulai memainkan ujung rambutnya yang dikucir.
“Kami dengar Anda Jager terbaik di Jayagiri, Nona.” Markandra berujar dalam bahasa Melayu yang beraksen Sunda. “Kecuali semua rumor bagus soal dirimu memang tidak benar, kami akan segera pergi.”
Anjani mengangkat sebelah alis. Suara halus dari Markandra membelai telinganya dalam lebihd ari satu cara.
Kata-kata itu membuat Anjani memerhatikan Markandra lagi, kali ini lebih seksama. Rupanya pria itu tidak buruk. Secara fisik, Markandra bukan pria yang jelek. Tubuhnya, meski kurus, masih tetap penuh otot. Kulitnya yang kemerahan seperti gula jawa justru membuat dirinya tampak eksotis. Sikap tegas dan protektifnya terhadap Irawati juga menambah nilai pesona baginya. Anjani terpikat.
“Mulutmu manis sekali, Tuan yang Tampan.” Anjani berdiri dan berjalan ke arah Markandra. Melangkah seperti macan betina. “Kamu berhasil membuatku bimbang.”
Tanpa malu, Anjani melemparkan diri ke pelukan Markandra, mengalungkan lengannya ke pundak pria itu, mengundang dua pasang mata membelalak ke arahnya.
“Coba puji aku lagi, hm….” Anjani tersenyum. Tangannya mulai menjelajahi tubuh Markandra. Suara erangan halus keluar dari bibirnya. “Puji aku lagi dan mungkin aku akan mem—
“Apa-apaan Anda?” Ira memekik, memunculkan aksen Sunda dalam suaranya tanpa sengaja. “Apa Anda tidak punya malu?!”
Anjani melirik Ira dengan malas.
“Kalau kalian pernah dengan rumor soal diriku yang jadi Pemburu terhebat….” Sementara matanya terkunci kepada Ira, jari jemari lentik Anjani menjelajahi tubuh Markanda mulai dari pipi dan pelan-pelan turun. Jakun pria itu bergerak naik turun dengan gelisah. “Kalian pasti tahu, kalau pekerjaanku menuntutku untuk tidak tahu malu, kan?”
Ira tampak siap meledak. Siap memuntahkan semua kemarahannya yang beracun, tapi apa yang dikira Anjani akan datang, pada kenyataannya tidak pernah datang. Ira tidak kunjung mengambil tindakan. Wanita itu hanya mengernyit jijik. Tanpa kata. Begitu pula dengan Markandra di pangkuannya. Pria itu menerima saja tanpa tindakan Anjani. Sekalipun ia melakukannya di hadapan sang istri.
Anjani menyeringai semakin lebar. Muda-mudi ini begitu putus asa dan tidak punya pilihan banyak selain menurutinya.
“N-Nona.….” Pada akhirnya, Markandra bicara. Suaranya gugup. “I-ni sedikit berlebihan….”
Ia mencari perlindungan kepada Sapta. Namun tentu saja, Sapta tidak bisa membantu. Tidak mau membantu. Dia yang meminta tolong, dia yang harus bertanggung jawab.
“To-long….” Markandra memohon kali ini. “Sa-saya….”
Dalam sekejap Anjani melepaskan diri. Dengan anggun, ia bangkit berdiri dan berjalan dengan tenang kembali ke kursinya.
“Yah, aku bukannya mau mencicipi pria berkomitmen.” Ia terkikik geli. “Tapi kalau sewaktu-waktu kamu bosan dengan….” Anjani melempar senyum kepada Markandra. “Kamu tahu di mana harus menemuiku.”
“Kami datang untuk memberimu pekerjaan, Nona!” Ira yang tidak tahan, akhirnya menghardik murka. “Tolong bersikaplah sedikit lebih profeional!”
Untuk kali kedua, Anjani berpaling kepada Ira ketika wanita itu sedang naik pitam. Ia memberi senyum terbaiknya kepada wanita itu.
“Ah, akhirnya berhenti bersikap munafik. Sebuah perkembangan yang bagus.” Anjani bersandar di kursinya. “Tapi aku harap kalian tidak tuli atau pikun karena aku baru saja bilang aku sudah menolak misi ini.”
Suasana kamar mendadak sunyi senyap. Aktivitas ramai di luar seolah berhenti. Semua orang membisu di dalam kamar itu.
“Secara teknis….” Tangan Anjani mengepal. Lain dengan senyum merekah berseri di wajahnya, tubuhnya sudah kaku oleh amarah. “Aku sedang diperalat oleh kalian semua di sini. Aku punya segala hak di dunia ini untuk menendang p****t kalian dan membiarkan kalian dilindas mobil di jalanan di luar sana. Tapi….”
Anjani mendelik ke arah tiga orang di hadapannya. Senyum hilang dari wajahnya. Semua sikap menggoda runtuh dari dirinya ketika kata-kata berbisa keluar dari mulutnya.
“Di sinilah kalian bertiga.” Kaki Anjani yang bersepatu mengentak di lantai kayu dengan begitu kencang, hingga kamar Sapta berguncang saking rapuhnya. “Kalian berkaing-kaing memohon dan menggigiti jariku yang sudah menolak dengan sopan. Menyalahkanku. Menuntutku bertindak sesuai standar kalian. Entah kalian ini bodoh atau terlalu putus asa.”
Suasana di dalam kamar berubah dingin. Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani bernapas. Tidak ada yang berani mengangkat wajah dan menatap Anjani. Semua pandangan tertuju ke lantai dengan jarak terbentang sejauh-jauhnya dari Anjani.
Tiba-tiba Anjani menepukkan tangan.
“Nah, itulah keluhanku!” Ekspresi ramah dan bersahabat kembali ke wajah Anjani. Senyum cerah kembali ke bibirnya. Suasana ramai pun kembali ke luar ruangan mereka. Seolah tadi mereka telah terlempat ke dunia lain dan kembali dengan selamat. “Apa masih ada yang perlu ditanyakan?”
Tidak ada jawaban. Anjani pun bertepuk tangan satu kali lagi.
“Jika tidak ada, aku harap kalian segera minggat dari tempat ini karena sekarang aku sangat ingin menendang seseorang.”
Tidak ada yang beranjak. Ira masih menunduk dan menggigit bibir. Sapta menyibukkan diri dengan menatap suami istri itu tanpa berani memandang Anjani. Markandra menunduk menggenggam tangan istrinya.
Anjani menghela napas. Ia sudah cukup lelah.
Bukannya dia tidak bisa menghanguskan pria itu dan semua kesatuan Marsose di Jayagiri menjadi abu, tapi ia juga punya agenda sendiri. Agenda yang membutuhkan koneksi informasi yang dimiliki oleh Marsose. Untuk saat ini.
“Aku heran apa yang kiranya membuat Simmo merasa berhutang nyawa dan rela mengorbankan bawahannya sendiri demi kepentingan kalian,” Anjani berterus terang. “Sama sekali bukan Simmo yang aku kenal jika sampai merepotkan diri untuk berurusan dengan Pemberontak.”
“Bukan seperti itu!” Markandra menghardik marah. “Dia bukan Pemberontak! Dia—
“Tapi kalian pemberontak.” Ucapan itu membungkam Markandra. “Tidak ada bedanya.”
“Tidak, dia tidak bersalah.” Ira gantian, menimpali ucapan suaminya. Sekali lagi, ia memandang Anjani lurus. Menepiskan segala ketakutannya tadi. “Dia tidak bersalah! Kami berani bersumpah ia tidak bersalah dan hanya difitnah! Seseorang pasti ingin dia dipenjara dan memfitnahnya!”
“Kamu punya bukti tertulis untuk itu, Sayang?” Ira membelalak. Wajahnya seperti maling tertangkap basah. Anjani tersenyum puas. “Kalau kau punya bukti bahwa tahanan yang ingin kau bebaskan itu bukan Pemberontak, bukankah lebih cepat jika kau langsung saja ke pihak berwenang dan menyerahkan semua bukti yang kalian punya? Kalian tidak perlu ke mari.”
Suami-istri itu langsung terdiam seribu bahasa. Sementara Sapta duduk tegap di kursinya, jelas tidak suka pada arah topik ini. Tapi ia tetap ingin ikut, menyaksikan segalanya sampai akhir.
“Bukankah kebijakan Jager adalah tidak banyak bertanya?” Ira kemali bicara. “Kenapa Anda jadi banyak bertanya, Nona? Kami memiliki informasi dan bayaran, seharusnya itu sudah cukup kan?”
Anjani bersiul. Tidak biasanya ia melihat wanita begitu berani.
Siulan itu agaknya membuat Ira semakin kesal, menghapus segala rasa segan, jika rasa itu tadi tersisa dalam dirinya. “Apa Jager terbaik di Jayagiri selalu bermain dengan orang lain secara semena-mena seperti ini?”
Anjani mendengkus.
“Aku tersanjung karena kalian berkali-kali bilang aku ini yang terbaik,” ujarnya. “Tapi kalian yang membutuhkanku di sini, jadi sebaiknya kalian yang mulai menjaga mulut jika ingin aku membantu.”
Sekali lagi wajah Ira pias, membuktikan satu lagi dugaan Anjani memang benar. Untuk mendukung dugaan itu, Markandra jugs memasang wajah yang sama. Sama-sama tertangkap basah.
Sayang, seperti sebelumnya, Ira menunjukkan pemberontakan yang tidak biasa berbasis pada harga diri.
“Anda jangan sombong!” hardik Ira. “Kami bisa—
“Tidak,” Anjani menukas sambil menyeringai puas, tahu ke mana pembelaan itu akan bermuara. “Kalian tidak akan menemukan Jager lain di dalam Jayagiri ini. Tapi mengingat kalian tidak mengambil opsi itu padahal aku sudah menekan kalian sejauh ini … kalian pastinya sangat terbatas dalam sumber daya dan waktu.”
Tidak ada jawaban. Markandra dan istrinya hanya bisa saling tatap, kelihatannya tidak mengira serangan semacam ini akan menimpa mereka. Sementara mereka kalah, Anjani menyeringai. Tangannya mulai mengetuk pelan. Menghitung.
“Mari kita jujur saja tanpa ada yang disembunyikan lagi, Tuan dan Nyonya.” Anjani mengatupkan tangan keras-keras. “Ada Jager yang lebih baik dariku di Jayagiri, tapi aku yang dipilih. Kalian bukan memilihku karena prestasi.”
Perlahan, Anjani membuka sarung tangan kanannya, berikut kancing kemeja dan kancing jasnya yang sengaja didesain longgar. Dengan sukarela, ia memperlihatkan tangan yang selama ini bersembunyi dari pandangan semua orang. Dari sensor sortir Jayagiri.
Semua orang membelalak.
Tidak ada jari jemari di sana. Hanya ada cakar raksasa seperti halnya yang dimiliki para Asura. Kuku dan kulitnya hitam pekat dengan gurat-guratsemerah darah membelah kulitnya. Jari jemarinya berbonggol, besar, dan dalam ukuran bisa mencungkil mata seseorang dalam sekali ayun. Ketika ukuran cakar itu membesar tiba-tiba, semua orang memekik.
“Kalian butuh Siluman untuk membebaskan teman kalian.” Anjani mengepalkan cakarnya. “Dan kenapa kalian butuh siluman untuk membebaskan tawanan dari penjara? Jawabannya cukup mudah.”
Aliran Atma berubah di dalam kamar Anjani. Sulur-sulur cahaya biru mengalir keluar, menari bagai untaian benang di sekitar atma merah yang keluar dari tubuh Anjani. Dua warna yang menjadi satu. Dua warna bersinergi, saling menari dalam sulur-sulur cahaya yang hidup tanpa saling berbenturan. Sebuah anomali di tengah atma merah murni di dalam kamar, di luar, dan wilayah ini.
“Tahanan yang ingin kalian bebaskan…” Anjani tersenyum miring. “Dia tidak ditahan di Marcapada, bukan?”
***