Sebuah kota tidak pernah terdiri dari satu wajah. Di pinggiran, Jayagiri adalah kota yang terlalu padat dengan segala fasilitas yang buruk. Tapi di pusat kota, Jayagiri adalah denyut nadi calon pengganti Batavia yang telah tinggal sejarah.
Kendati belum bisa mengalahkan Semarang, Yogyakarta, maupun Surabaya mengenai besar dan ramainya aktivitas, Jayagiri mulai dipertimbangkan sebagai jalur perdagangan semenjak Batavia tidak boleh lagi diinjak kehidupan.
Berbagai aktivitas mewarnai denyut kota, mulai dari perdagangan hingga sektor industri. Pemerintahan hingga pemberontakan.
Di tengah denyut tak beraturan itu, sebuah kantor Marsose berdiri di tepi stasiun Bhagasasi. Sementara trem-trem lewat dan kereta uap berbunyi nyaring dua menit sekali, sebuah gedung bergaya Indische menyepi di tengah pusat keramaian.
Di pintu masuknya, Anjani berjalan tenang. Tidak ada tulisan di atas dinding. tidak ada monumen ciri khas, tapi semua orang yang memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh kesatuan-kesatuan Politie—polisi—akan pergi ke tempat ini.
Hoofdkwartier Marechaussee van Jayagiri—Markas Besar Kesatuan Polisi Militer kota Jayagiri.
Lonceng yang ditempel di atas pintu berdenting ketika Anjani membukanya. Wajah-wajah berbagai ekspresi langsung berpaling ke arahnya, menatapnya dari atas ke bawah dengan satu pandangan bingung yang sama. Mata mereka meneliti penampilan Anjani yang tidak biasa: matanya, tangannya, rambutnya, dan penampilannya secara keseluruhan. Anjani tidak memedulikan semua tatapan itu. Alih-alih, ia langsung menuju papan pengumuman.
Mata birunya meneliti semua kertas berisi nama dan harga buronan. Tidak ada yang menarik. Semua hanya berpusat di pencurian, pelanggaran jam kerja, b***k yang kabur, penyelundupan beberapa kilo tebu, dan orang yang mangkir pajak. Tidak ada yang keluar Jayagiri.
“Ini aneh….” Biasanya lembar-lembara buronan lebih bervariasi dari ini. Entah apa yang terjadi selama dua belas jam ia tidak di sini, tapi kemarin masih ada misi di luar Jayagiri dengan harga sampai lima digit gulden. Sekarang semua seolah lenyap dan seragam.
Anjani menoleh ke meja depan. Seorang pemuda berkulit kuning langsat bekerja dengan tenang di balik meja penerima tamu.
Detik pertama Anjani menghampiri pemuda itu, mata coklatnya langsung mendongak ke wajah Anjani. Lesung pipitnya merekah saat mengoleskan senyum profesional ke hadapan Anjani.
Anjani tertegun sejenak. Sosok pemuda itu berkilau bahkan dari pintu masuk. Sama sekali tidak terlihat kalau dulu ia pernah diangkut di dalam satu kapal udara maut dari Borneo.
“Pagi, Anjani,” sapa pemuda itu ketika Anjani tiba di meja resepsionis.
“Hai, Mantikei.” Anjani menyapa tanpa minat. “Upahku?”
“Sudah dikirim ke tabunganmu.” Mantikei melaporkan dengan senyum profesionalitas merekah lebar di wajahnya. “Hari ini apa ada yang bisa kami bantu?”
Anjani melirik sekilas ke balik meja resepsionis. Matanya melirik tabung komunikasi tempat kertas-kertas memo melompat keluar. Telepon terdiam di samping Mantikei tidak diusik sama sekali. Buku dan pena tergeletak terbuka di hadapan pemuda itu. Anjani iseng membaca tulisan nama di dalam buku ketika tangan Mantikei menepuk buku pelanggan itu, menghalangi pandangan Anjani seketika.
“Ada yang bisa aku bantu?” Satu tingkat kesopanan Mantikei telah luntur.
“Ya.” Anjani mendebas, tidak bisa berbuat banyak pada sikap kaku Mantikei. “Apa tidak ada misi ke luar Jayagiri?”
Entah apa yang salah dari kata-kata itu hingga mendadak saja, terdengar bisik-bisik di belakang. Anjani melirik, melihat orang-orang menatapnya dengan heran.
“Ke luar Jayagiri? Apa dia tuli atau memang tidak peduli?”
“Apa Siluman tidak takut pada hal-hal seperti ini ya?”
“Mungkin dia tidak peduli pada nyawanya sendiri.”
Mantikei, dengan wajah kaku, melirik kerumunan di belakang Anjani. Seketika mereka semua terdiam. Setelahnya, pemuda itu kembali menatap Anjani.
“Aku baru menerima memonya pagi ini. Komisaris Higgins tidak menyarankan lagi Jager berburu di luar kota masing-masing. Pemeriksaan juga diperketat di berbagai perbatasan.” jelas pemuda itu. “Marsose tidak mau mengambil risiko dicurigai terlibat dengan p*********n Dayuh Girah.”
“Ah, ya, tentu saja.” Anjani manggut-manggut paham. “Mengerikan sekali. Pelakunya masih belum tertangkap?”
“Belum ada titik terang.” Anjani sedikit terkejut saat untuk pertama kalinya, ia melihat sedikit kesedihan di wajah Mantikei yang biasanya sekaku batu. “Belum lagi surat ancaman itu. Walaupun sudah terbukti palsu, beberapa Jager jadi enggan mengambil pekerjaan. Mereka takut Jager akan jadi target selanjutnya.”
Hanya satu kata “oh” yang keluar dari mulut Anjani.
“Aku dengar Governor Capellen bahkan sudah memberikan perintah.”
“Perintah apa?”
“Untuk menangkap Dayuh dan memberikan imbalan sampai tiga juta gulden bagi siapa pun yang bisa memberi informasi soal dirinya,” jelas Mantikei dengan ekspresi murung yang tidak cocok saat membahas hadiah seperti ini. “Aku dengar imbalan jika bisa menangkapnya lebih besar lagi.”
“Tapi tidak ada yang mengambilnya?”
Mantikei menggeleng. “Tidak ada yang berani.”
Anjani manggut-manggut bersimpati. Tapi sedetik kemudian, seolah simpati tidak pernah benar-benar hadir di wajahnya, wanita itu mengulangi tersenyum cerah kepada Mantikei.
“Kalau begitu aku mau ambil—
“Ada misi lain untukmu.” Mantikei menukas tiba-tiba, membuat Anjani tergugu.
“Hah?”
Mantikei segera meraih satu memo di atas mejanya dan menunjukkannya ke Anjani. Tanda tangan khas Von Simmo tercetak segar di sana, meminta Anjani segera ke ruangannya saat ia datang. Sebuah misi baru khusus untuknya.
Anjani berjengit. Jika sudah berurusan dengan bosnya, ia tidak yakin misi itu akan berjalan baik. “Boleh aku meminta misi Dayuh Girah saja?” Wanita itu sudah menengadahkan tangan kepada Mantikei, siap meminta. “Tolong?”
“Komisaris sudah melarangku memberimu misi selain misi darinya.”
Wajah Anjani menghantam pelan meja resepsionis. Dia benar-benar tidak suka ini.
“Aku sarankan kamu segera menemui Komisaris.” Mantikei berbisik. “Dia sudah menunggu sejak pagi.”
Anjani menghela napas lelah. Ia hanya bisa memikirkan satu penyebab misi itu jadi sedemikian istimewanya. “Kamu tahu apa misinya?”
Mantikei menggeleng. “Aku hanya resepsionis.” ujarnya. “Kalau kamu mau tahu detailnya, kamu sebaiknya temui Sapta.”
Anjani mengerutkan kening mendengar jawaban itu. “Kenapa Sapta?”
“Dia juga ditunjuk untuk ikut bersamamu,” jelasnya. “Ia sudah datang lebih dulu dan sudah menemui Komisaris. Tapi Komisaris masih meminta kehadiranmu.”
Wajah Anjani tertekuk. Jelas ia tidak suka pada perkembangan cerita ini. Sementara Mantikei jelas tidak melihat—atau tidak peduli—tanda-tanda tidak senang yang jelas-jelas ditunjukkan Anjani. Pemuda itu malah menuding salah satu lorong ke sayap barat, tempat pribadi para Jager.
“Aku melihat Sapta pergi ke sana.” Ia berkata. “Jika kamu tidak mau menemui Simmo.”
Sambil menggerutu kesal, Anjani pergi meninggalkan meja resepsionis. Ia melangkah, mengentk-entakkan kaki secara brutal melintasi koridor yang ramai oleh lalu lalang pegawai dan perwira Marsose. Berbagai wajah, berbagai ekspresi, berbagai suara, dan berbagai bau menyaru menjadi satu aroma yang membuat Anjani pening. Semakin parah karena dirinya dipaksa melakukan misi yang tidak ia ketahui.
Di ujung lorong, tempat sebuah aula terbuka membentang sampai ke lantai bawah tanah, Anjani berbelok. Ia berhenti di sebuah pintu yang berdiri di sebelah kirinya. Pintu itu terbuat dari kayu jati. Tingginya satu setengah pal dan dicat hijau.
Anjani mengetuk pintu tiga kali.
“Siapa?” Sebuah suara berat pria terdengar dari dalam ruangan yang tertutup. Dari balik pintu, Anjani bisa mendengar bunyi tabung-tabung pesan yang berbunyi ping dan pong, bunyi mesin ketik, dan bunyi cap yang dihantamkan ke setumpuk kertas.
“Anjani.”
Jawaban yang kemudian terdengar, tidak sampai satu detik lamanya. “Masuk.”
Anjani pun membuka pintu.
Lebih tepatnya, Anjani membanting pintu sekeras mungkin hingga terbuka. Tanpa memutar kenop.
“Hai, Komisarisku yang paling baik hati!”
Sebuah bunyi buk kasar berdentam di dalam ruangan tepat ketika seruan Anjani membahana ke dalam ruang kerja itu. Seorang pria Londo dari balik meja tampak berkerut-kerut. Kumisnya berkedut, seolah bibirnya tengah berjuang menahan apa pun yang sudah tertanam di ujung lidah. Urat di kepala plontosnya timbul dan Anjani berani bersumpah urat itu berkedut.
“Apa kabar Anda hari ini?” Anjani membanting pintu di belakangnya hingga tertutup kembali. Lebih keras dari saat ia membukanya. “Apa Anda merindukan saya semalaman?”
Anjani berlari kecil mendekati pria itu. Lengkap dengan gaya yang dimaksudkan mirip ballerina pemula tapi pada kenyataannya membuatnya seperti penari patah-patah yang terserang encok.
“Ah, bagaimana minyak penumbuh rambut yang aku kirimkan kemarin? Rekomendasi dari Rass.” Anjani berhenti tepat di depan meja pria itu. Dia membungkuk, bertopang dagu dengan santai di sana. “Rambutnya tumbuh lebat dan bahkan dia sampai punya kumis hanya tiga hari setelah memakainya. Tapi pagi ini aku dengar rambut ketiaknya juga tumbuh lebat karena minyak itu. Ah, apa rambut ket—
BUUGH!
Sapaan Anjani dihentikan satu bantingan keras di meja. Von Simmo melotot kepadanya. “Bisakah kamu masuk dengan cara yang normal sekali saja, Wanita Gila?!”
Anjani melongo. Ia lalu melongok ke mesin ketik di hadapan Von Simmo. Rupanya ia tanpa sengaja sudah membuat huruf R yang sedang diketik pria itu merembet hingga delapan kali lebih banyak dari yang seharusnya.
Anjani tertawa terpingkal-pingkal. Tanpa merasa bersalah, ia berputar dengan anggun dan duduk bersandar santai di tepi meja. Memunggungi Von Simmo.
“Oh, ayolah, Komisaris, untuk satu hari saja, jangan terlalu kaku!” Jarinya menuding celah di antara dua alis pria itu. “Lihat, ada kerutan tambahan di sini! Kamu bertambah tua setiap harinya!”
BUGH!
Sekali lagi kepalan tinju pria paruh baya itu mendarat di atas meja. Kali ini Anjani bahkan berani bersumpah ada bunyi retak terdengar. “Anjani ... kamu ini benar-benar….”
Suara penuh ancaman itu tentu saja tidak membuat Anjani takut. Alih-alih, tawa wanita itu semakin menjadi. Tapi karena tidak mau bersikap kurang ajar, Anjani pun menjauh dari meja dan memilih berdiri di hadapan pria itu.
“Apa Anda mau menghukum saya, Komisaris?” Anjani menyeringai. Tangannya yang tertutup menyentuh kepala botak Von Simmo. Mengelusnya seperti anak kucing. “Bukankah Anda membutuhkan saya?”
Komisaris Von Simmo menggertakkan gigi. Amarahnya yang nyaris meledak, tertahan di dalam mulutnya yang sepertinya sebentar lagi akan mengepulkan asap. Anjani terpingkal-pingkal.
Simmo sedikit berbeda dari kebanyakan petinggi di kalangan institusi pemerintahan di Nuswantara. Sementara para pegawai sudah terkontaminasi penyakit malas, korupsi, dan diskriminasi, Von Simmo termasuk orang yang harus menderita karena tidak menerapkan hukum busuk yang sama di instansinya, membuatnya terjebak di satu kantor seharian penuh tanpa bisa jatah liburan yang layak ataupun para pegawai yang menghormatinya.
Akibatnya, kulit Londo itu lebih pucat dari Londo kebanyakan dan lebih tua lima kali dari usia sebenarnya. Belum lagi kasus-kasus p*********n yang ditujukan kepadanya setiap kali ada kesempatan. Sekilas, Anjani melemparkan pandang ke sekeliling ruangan. Beberapa tambalan di dinding dan langit-langit masih bisa terlihat sampai detik ini.
“Jadi, Tuan Komisaris,” Anjani memutuskan untuk langsung ke inti. “Misi apa yang Anda hendak berikan?”
Von Simmo mengerutkan kening. Wajahnya yang sudah keriput dan tua akibat terlalu banyak bekerja mengurusi dua belas Jager aktif di Jayagiri semakin tambah tua. Dia belum menyentuh kepala lima, tapi Anjani merasa pria itu dan mentalnya sudah berusia delapan puluh tahun.
“Ekspresi Anda mengatakan banyak hal, Meneer.” Anjani menggoda. “Apakah ini pemberontakan yang lain? Nama-nama yang banyak seperti Perang Paderi? Atau buronan politik Bandung lagi?”
“Bukan.” Simmo berkata dengan mudah. Tangannya merogoh ke dalam laci di bawah meja lalu metelakkan sebuah amplop coklat ke atas meja.
Anjani mengernyit. Senyumnya lenyap sudah. Ini sudah di atas tidak normal.
Prosedur pengambilan misi biasanya dimulai dari para Jager memilih target mereka di sekumpulan lembaran target buronan yang tertempel di lobi depan. Mantikei atau resepsionis lainnya akan memberikan detail dan salinan dokumen soal buronan itu lalu para Jager seperti Anjani tinggal menjalankan misi.
Sekarang, tidak hanya dipanggil ke kantor Komisaris, tapi juga menerima dokumen langsung darinya.
“Pasti misi yang penting.” Anjani meraih amplop itu, mencari-cari nomor seri misi yang biasanya tertera di salah satu bagian amplop, tapi nihil. Tangan Anjani baru saja akan membuka berkas itu ketika Simmo berkata:
“Hutang budi.”
Seketika itu juga, Anjani membeku. Matanya melirik Von Simmo. Namun pria itu terang-terangan mengabaikannya, malah sibuk mengganti kertas di mesin ketik, tapi kali ini dalam gaya kikuk yang lebih seperti menyibukkan diri alih-alih benar sibuk.
Mendadak saja Anjani terjebak antara pilihan ingin berteriak atau menampar atasannya itu. Untungnya yang keluar hanya sebuah ekspresi heran, alis yang berkerut, dan sebuah suara pelan penuh tanda tanya: “Hah?”
“Aku pernah berhutang nyawa pada … beberapa orang.” Jeda mencurigakan di jawaban Simmo membuat Anjani nyaris berdecak. Aroma amis sudah menusuk hidungnya. Sekalipun pria di hadapannya bisa mengendalikan diri dengan baik dan pura-pura sibuk memasang kertas baru ke mesin ketik, Anjani yakin ada yang tidak beres.
Sesuatu menyangkut prinsip Jager dan Marsose.
“Sekarang mereka meminta balasannya.”
“Biar saya tebak,” Anjani menghentikan tangannya dari membuak dokumen itu. “Pemberontak, kan?”
“Laskar Pejuang.” Simmo membetulkan jawaban Anjani dengan suara yang sedikit direndahkan. Dalam bahasa Melayu paling halus. Anjani mengangkat sebelah alis dan Simmo pun berdeham. “Aku hanya mencoba menghormati.”
“Misi apa ini, Simmo?” Anjani berhenti menggunakan formalitas. Kekesalannya naik beberapa tingkat.
“Misi penyelamatan.”
Sekarang Anjani benar-benar jijik. “Meneer….” Suara Anjani berubah dingin. Gantian kini dia yang menahan emosi mati-matian. “Paham, kan kalau kita setiap harinya menyeret para pejuang ini ke pemerintah?”
“Bukan.” Simmo mengoreksi. “Meski misi ini datang dari salah satu anggota Laskar, kamu tidak akan menyelamatkan anggota mereka. Jadi secara teknis, orang yang akan kamu selamatkan ini adalah warga sipil yang salah tangkap.”
“Tapi….?” Anjani yakin ada kelanjutan dari kalimat itu. Simmo mengangkat sebelah alis. Tampak tersinggung dan bingung. Anjani berdecak tak sabar. “Kita anggap saja siapa pun yang Anda klaim salah tangkap di sini benar tidak bersalah. Jika benar, kita tinggal menyerahkan bukti yang kita punya ke para Politie atau Komisaris bagian penyelidikan. Tapi….”
Anjani mencondongkan badan ke arah Simmo. “Kelihatannya tidak hanya itu kan?”
Suasana berubah tegang di dalam ruangan itu. Simmo pun menghela napas. Merasa kalah.
“Kamu seharusnya tahu kenapa kamu dipilih dan bukan yang lain.” Simmo menghindari pertanyaan Anjani. Wanita itu merasa salah satu urat di kepalanya pecah karena kesal. Terutama karena melihat Simmo seolah tidak yakin dan terganggu dengan ucapannya sendiri. “Mereka bilang teman mereka yang warga sipil ditangkap atas tuduhan tidak masuk akal. Murni warga sipil. Mereka butuh bantuanmu dan hanya dirimu.”
“Ah, ya….” Mendadak saja, Anjani merasa tangan kanannya berdenyut, merasakan keganjilan yang sama seperti dirinya. “Saya paham maksud Anda.”
Anjani mengendus amplop itu. Sekilas tidak ada aroma mencurigakan, tapi samar-samar, Anjani mencium aroma yang lain. Aroma yang membuatnya berjengit. Aroma yang sama sekali tidak berasal dari Marcapada.
“Bukan karena saya yang bisa. Tapi hanya saya yang mungkin mau mengambil misi ini,” ujar Anjani. “Dari semua Jager yang tersedia, jauh lebih baik, dan memungkinkan untuk ditugaskan….”
Simmo gantian mengerutkan kening. Konflik bersatu padu dalam wajah pria itu: kemarahan, kegusaran, gundah, dan bingung, saling bertempur memperebutkan posisi untuk bisa menguasai emosi sang pria Londo.
Tekanan balik dari Anjani dan ia sudah terpojok. Mengakui sejujurnya atau memohon, yang mana pun sama-sama merendahkan harga dirinya sebagia Komisaris.
“Kamu tidak akan menangani ini sendirian.” Rupanya Simon masih punya jalan yang lain: membujuk. Berkompromi dengan memberikan keringanan kepada wanita itu. “Aku menugaskan Sapta bersamamu. Kalian sudah cukup terbiasa satu sama lain kan?”
“Benar, Sapta memang cocok.” Anjani mengakui. “Aku tidak begitu bisa berhubungan dengan klien sebaik Sapta. Dia tidak pilih-pilih. Bantuan yang cocok.”
Sudut-sudut bibir Simmo naik. Sepercik harapan menyala di matanya. “Biaklah, kamu akan—
BUGH!
Ucapan Simmo dipotong oleh bunyi berdebam yang bergema. Anjani membanting amplop itu di meja Simmo, sekuat tenaga. Simmo terkesiap, melompat dari kursinya dan menodongkan senjata ke kepala Anjani.
Namun Anjani menanggapi denagn tenang ancaman itu. Ia menatap Simon tepat di matanya dan berkata tanpa keraguan:
“Aku menolak.”
Tanpa basa-basi, Anjani mmebanting pintu ruangan Simmo dan bergegas pergi dari Markas Marsose Jayagiri.
Wanita itu tidak mengindahkan pandangan bingung dan prasangka yang bergulir semenjak kepergiannya yang tiba-tiba. Ia terlalu sibuk berjalan dan berjalan melintasi keramaian Jayagiri sendirian. Trem membawanya pergi lebih cepat dari pusat kota menuju timur Jayagiri, tempat dia yakin akan mendapatkan istirahat yang layak.
Sayangnya, kenyataan tidak pernah semulus itu.
Di penginapannya di Meester Flemkhlin: sebuah gang terpencil yang jauh dari hingar bingar pusat perdagangan dan hiburan kota Jayagiri, Anjani mendapat kejutan yang tidak menyenangkan.
Ada dua koper diletakkan di lobi utama Hotel Puranda. Koper-koper itu bermerk impor dari Nederland. Tampak familier. Ketika Anjani menunduk, ukiran nama “Anjani” tertempel di badan koper itu seakan menertawainya. Sebagai pelengkap dari semua bencana pagi hari ini, di dinding tepat di atas koper, sebuah kertas ditempelkan di atas dua koper itu.
DITOEJOEKAN KEPADA TAMU KAMAR 104
Itu nomor kamar Anjani. Kamar itu seharusnya masih dikunci. Dia bahkan masih memegang kunci kamarnya di saku. Tapi entah bagaimana koper-kopernya kini terisi penuh dan tergeletak di lobi. Di belakang dan sekelilingnya, orang-orang tertawa dan berbisik-bisik.
“Kasihan sekali.”
“Itu akibatnya jika tidak tahu diri.”
Ia menoleh ke lorong dan koridor, mencari-cari staff yang hendak menjelaskan situasi kepadanya, tapi nihil. Kesal, Anjani pun meraih dua koper itu dan mengangkatnya dengan mudah. Ia pun berbalik arah ke lorong yang mengarah ke kamar-kamar. Tepat sebelum ia mengambil langkah, seseorang berseru dari lobi depan.
“Hei, kau pikir kau mau ke mana, hah?” Suara itu berkata dalam bahasa Nederland yang lancar. Anjani melirik ke balik bahunya. Seorang pria pribumi bertampang Melayu berseragam petugas, melotot ke arahnya.
Anjani berputar menghadap pria itu. “Saya tamu di sini.” Anjani merogoh ke dalam saku celana. Memperlihatkan kunci kamar. “Ini kunci kamar—
“Letakkan kunci itu di lantai! Itu kunci milik hotel ini!” Pria itu melotot semakin galak. “Dan segeralah pergi dari tempat ini! Jangan pernah kembali!”
Anjani terdiam di tempat. “Apa kau mau memberi tahu kenapa aku diperlakukan begini?” Ia bertanya dalam bahasa Londo juga.
“Kau Siluman, jangan banyak tanya! Kalian tidak berhak bertanya!” Pria itu membentak. “Gara-gara dirimu, aku mendapat peringatan dari Meneer! Padahal ini bukan kesalahanaku! Kau yang seenaknya menyusup ke mari padahal kau tahu hotel ini tidak menerima Siluman! Dasar makhluk licik!”
Anjani mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia sudah memastikan tidak ada kegiatan tidak normal yang dilakukannya selama menginap di hotel ini. Ia menjaga rahasia rapat-rapat. Tapi ternyata itu tidak cukup. Pada akhirnya ia didepak juga. Anjani menjatuhkan kunci hotel itu ke lantai.
“Yah, terserah.” Ia pun mengangkat kedua koper itu, membawana ke lobi.
Tanpa konflik berarti, ia keluar dari lobi hotel dengan disaksikan oleh semua penghuni yang hadir dan meliriknya dengan pandangan penuh prasangka.
Ia bisa mendengar suara tawa di tengah-tengah ratusan suara yang membisikkan praduga tak masuk akal. Lamat-lamat, Anjani mendengar suara-suara tawa yang familier. Ia melirik dan melihat para pria yang tadi pagi mengkonfrontasinya, duduk-duduk santai di lobi depan hotel.
Tidak mau pusing-pusing, Anjani pun memberi senyumannya yang paling cerah ke para pria itu. Kebingungan segera terbit di wajah mereka, tapi Anjani tidak melirik lagi. Wanita itu berjalan dengan tenang ke arah pintu keluar, dengan semua orang menghindari dan menjauhinya seperti pasien Tuberkulosis.
Saat menginjakkan kaki ke luar, Anjani melirik tulisan hotel Puranda yang dicetak dalam papan putih besar yang dipaku di atas pintu masuk. Bangunan dengan gaya arsitektur Indische berlantai tiga itu bukannya menjadi tempat favoritnya, tapi waktu yang dia habiskan tiga minggu di sana bukanlah waktu yang singkat. Itu termasuk salah satu rekor menginapnya yang paling lama.
“Diusir lagi?”
Anjani tidak siap mendengar suara itu di saat seperti ini. Tapi Anjani sendirilah yang menengok. Dan pemuda itu ada tepat dalam pandangan matanya, berdiri santai di sebelah pintu masuk Hotel Puranda.
Pemuda yang paling tidak ingin Anjani temui saat ini. Anjani sudah akan melempar tuduhan ketika melihat bulir-bulir keringat muncul di pipinya dan kulitnya yang biasanya kuning langsat berubah kemerahan. Pemuda itu sudah menunggu cukup lama.
“Kamu mau aku tanya bagaimana kamu di sini dan apa alasamu muncul, atau….” Anjani melotot seketika. “Kamu mau aku tendang sampai Krakatau, Sapta?”
Sapta mengedikkan bahu. “Atas alasan apa kamu menendangku? Ini jalanan umum. Tidak bolehkah aku berdiri bersandar di sini?”
Mendengarnya menyinggung kata umum, membuat Anjani melirik. Bebrapa orang yang punya tendensi untuk ikut campur berhenti di pinggir jalan dan mulai melirik mereka. Semuanya bertukar tatapan curiga dan bisik-bisik bernada tajam. Satu orang bahkan pergi terlalu cepat sambil menggumamkan soal melapor ke politie.
Anjani mendebas, sekali lagi mengulangi kata-kata yang baru saja ia ucapkan tadi: “Terserah.”
Anjani hendak mengambil kopernya, tapi Sapta sudah bergerak lebih dulu dan merebut dua koper itu darinya. Persis ketika wanita itu lengah.
Anjani melotot, tapi Sapta bahkan tidak berkedip. Pemuda itu mengangkat dua koper Anjani dengan mudah. “Biar aku yang bawa.” Ia menawari diri dengan sangat terlambat. “Mau ke mana hari ini, Nona?”
“Hati-hati dengan nada bicaramu.” Anjani menyipitkan mata. “Aku hampir mengira kamu yang menyebarkan rumor ini.”
Itu bohong, tentu. Anjani sudah tahu siapa yang menyebarkan rumor itu, tapi ia tidak bisa tidak melampiaskan kekesalannya pada satu.
“Bisa diterima.” Pemuda itu menjawab tenang. Ia melirik Anjani sekali lagi. “Sekarang, apa kamu punya alternatif hotel lain?”
“Tidak.” Anjani menolak tegas.
Ia mencium gelagat yang tidak enak. Bukan berarti ini pertama kalinya ia diusir dari tempat penginapan karena kenyataan bahwa dirinya bukan manusia tersebar, tapi kemunculan bantuan setelah kesulitan itu benar-benar tidak bisa diterima akal. Sebuah kebetulan yang terlalu sempurna. Terlebih karena pemuda ini sudah mengetahui soal misinya.
Anjani yakin ada udang di balik batu.
“Turunkan itu,” tolaknya. “Aku masih bisa membawanya sendiri.”
Namun pemuda itu tidak mendengarkan. Ia tetap membawa koper Anjani pergi.
“Hei!” Anjani naik pitam. “Aku bilang—
“Kamu mau ke tempatku?”
Sekali lagi, Anjani menyipitkan mata. Tawaran yang terlalu kebetulan. Penukasan pemuda itu bukan hal yang wajar dilakukan. Anjani tidak suka ditukas. Tapi melihat Sapta berani begitu mudah, Anjani hanya bisa menduga sesuatu sedang terjadi. Sesuatu yang tidak diketahuinya. Sesuatu yang dikendalikan Sapta, sementara ia terjebak untuk mengikuti arus.
Pemuda itu menatap Anjani sungguh-sungguh. “Aku masih ada tempat kosong. Kamu sewa seperti biasa, kan?”
Anjani tidak bisa menahan wajahnya untuk tidak membuat ekspresi aneh di depan pemuda itu dan segala manipulasi kecil yang sedang ia mainkan. Jika Sapta ingin bermain kotor, tentunya ia harus mencoba lebih baik dari ini.
“Kamu sadar kalau kamu sekarang terdengar mencurigakan, kan, Bocah Tengik?”
Sapta tidak menampik tuduhan itu. Alih-alih, ia menambahkan: “Tarif biasa.”
Kata-kata Simmo kembali bergema dalam kepalanya. Manipulasi ini terlihat terlalu nyata. Murahan. Jika pun Sapta hanya bermaksud memanfaatkan momen, Anjani tahu cara yang lebih baik.
Anjani ingin memaki sesuatu. Ia baru saja mengeluh apda cara kotor, cara paling wajar yang dikenalnya untuk bertahan hidup. Ia pasti sudah tidak waras.
Kelihatannya memang tidak ada cara lolos dari ini. “Sepakat.”
Mereka berdua pun berjalan bersisian dengan tenang. Anjani berbelok melewati jalanan yang lebih kecil dan sepi, menghindari perhatian dari jalanan utama. Pemuda itu tetap mengikuti Anjani dengan setia seperti anak anjing.
Seperti di masa lalu.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” Sapta bertanya.
“Apa?” sahut Anjani tanpa sedikit pun kesan ramah dalam suaranya.
“Kenapa kamu tidak mau mengambil misi dari Simmo?”
Anjani sudah menduga masalah itu akan dibahas. Ia hanya tidak menduga akan dibahas secepat ini.
“Itu masalah pribadi Simmo,” Anjani menjawab mudah. “Aku tidak mau dilibatkan ke dalam masalah pribadi dan hutang budi pria itu.”
“Sekalipun aku akan membantumu?”
“Lebih-lebih karena itu.”
Udara terasa seidkit berat di tengah mereka. Sapta menunduk dan terdiam karena jawaban Anjani, sementara wanita itu tidak banyak ambil pusing.
Jika tidak mau sakit, tidak perlu mengajak bicara orang lain. Sapta seharusnya sudah cukup tua untuk belajar hal itu dan menerima ganjaran dari perbuatan nekatnya sendiri.
Jalanan sepi mereka bermuara di salah satu jalan besar. Mereka menyeberang setelah menunggu satu gerbong trem lewat. Distrik perkantoran telah berlalu, berganti distrik perdagangan yang ramai.
Toko-toko dari berbagai kelas, mulai dari kelontong hingga toko yang menjajakan keramik mewah membuka lebar-lebar pintu dagang mereka. Para pemilik toko kecil menjajakan barang-barang dagangan yang harus habis di hari itu, sementara penjaja barang yang tahan lama menunggu di toko sembari menyesap tembakau atau candu yang mereka dapatkan dari para Centeng.
Anjani dan Sapta melewati semua hiruk pikuk tanpa melirik satu toko pun. Beberapa penjaja mangga dan rambutan yang tengah panen raya menghampiri mereka. Anjani menolak tawaran halus itu. Mereka berbelok ke salah satu gang di belakang toko batik. Satu lagi gang yang sepi dari mata yang mengamati.
“Aku sudah memutuskan untuk tinggal.” Sapta tiba-tiba berkata. “Aku merasa takdirku ada bersama Jager.”
Anjani mendengkus. “Dan membiarkan Divisi Lima memburumu suatu hari nanti? Itu cara mati yang konyol.”
“Kamu mau aku meninggalkanmu sendirian di Jager?” Sapta melirik Anjani. “Yakin kamu tidak akan kesepian? Dan tanpa aku membantumu, kamu yakin bisa menyelesaikan semua masala sendiri? Kamu kan tidak pernah dibayar klien kalau tidak bersamaku.”
“Jangan sombong. Kamu tahu lebih baik dari siapa pun, aku tidak butuh uang.” Anjani berdecak. “Jadi jangan memperlakukanku seperti anak kecil ketika kamu saja masih butuh makan.”
“Yah, kamu pikir bagaimana perasaanku setiap kali kamu memperlakukanku seperti bocah?” Sapta balas menyahut dengan nada satu tingkat lebih tinggi. “Demi Tuhan, umurku sudah dua puluh tahun bulan ini, Anjani!”
“Oh.” Anjani mendengkus. “Jadi ini balas dendam?”
“Bukan itu intinya.” Sapta melangkah maju, berdiri di hadapan Anjani sembari membawa koper milik wanita itu.
Pandangan mereka berdua bertemu. Sapta tampak antusias dalam tingkatan yang tidak wajar, sementara Anjani terlampau tenang. Sudah berulang kali ia menghadapi rajukan seperti ini, tapi harus ia akui, Sapta-lah yang paling gigih.
“Buat aku berguna!” Pemuda itu berujar.
“Makanya aku bilang, carilah pekerjaan.” Berlawanan dengan tekad berapi-api itu, Anjani menjawab dengan tenang.
“Berguna untukmu!” Sapta menambahkan. Lalu kembali berjalan dengan benar di sisi Anjani. “Berguna untuk orang yang menolongku. Satu kali saja. Hanya itu … hanya itu yang aku mau….”
Suara pemuda itu berubah lesu di akhir kalimatnya. Pundak Sapta turun. Dari punggung saja, ia tampak sangat kecil dan rapuh, seperti saat Anjani menemukannya bertahun-tahun lalu. Melihatnya memicu sesuatu dalam diri Anjani dan wanita itu mengutuk diri sendiri karenanya.
“Bukankah kita sudah menjad rekanan beberapa kali?” tanya Anjani. “Apa itu tidak cukup membuatmu puas?”
“Dalam misi remeh temeh yang tidak perlu aku,” Sapta mengoreksi. “Selalu satu arah, Anjani.”
Kata-kata itu mengingatkan Anjani pada hari-hari ketika ia menyerahkan misi seperti mengejar pencopet, maling kebun, dan pemberontak kecil-kecilan yang memengaruhi warga untuk mogok kerja
“Sekali saja, bisakah kita menjadi rekan sungguhan yang saling membantu?” Sekali lagi Sapta menoleh kepadanya. “Tanpa aku atau dirimu sepenuhnya yang menangani misi itu?”
Sejujurnya, tidak. Anjani tidak punya alasan menerima tawaran tidak masuk akal itu. Tidak ada setetes pun minat dalam diri Anjani untuk bergantung kepada orang lain. Tidak lagi.
“Atau apa?” tantang Anjani, melirik koper di tangan Sapta. “Mengambil koperku?”
Sapta melirik koper di tangannya dan menghela napas dengan wajah lelah. “Kamu tahu aku tidak akan memakai trik semurah itu kan?”
Anjani tidak merespon balasan itu. Ia tidak sempat. Gang tempat mereka berjalan telah mencapai ujungnya.
Sedetik kemudian, mereka tiba di sederet penginapan dan tempat tinggal yang disusun menjadi satu. Susunan ini mirip dengan Pemukiman Rakyat yang menyedihkan di kawasan kumuh perbatasan Batavia di masa lampau, tapi dengan tembok yang dibangun sepenuhnya dari bata dan semen, dengan jendela-jendela kayu. Ukuran wajar bagi setiap pondok tinggal hanya layak untuk menampung dua orang—sementara kenyataannya empat orang adalah jumlah minimal dalam satu unit tempat tinggal—tapi di sini adalah rumah bagi Sapta. Rumah bagi ratusan warga menengah dan Jager dengan jam terbang rendah di Marsose.
Anjani sengaja membiarkan Sapta berjalan lebih dulu ke tempat tinggal itu sementara ia mengikuti satu langkah di belakang.
Di sini, tatapan orang-orang tidak pernah jatuh kepadanya. Tidak ada yang menghakimi di tempat ini. Semua terlalu sibuk mengurus hidup masing-masing. Tidak akan ada yang mengkritik cara berpakaian Anjani ketika mereka saja hampir tidak punya pakaian. Tidak ada yang mengkritik mata Anjani ketika beberapa dari mereka memiliki cakar dan ekor. Tidak ada yang mengkritik penampilan Anjani yang menipu ketika beberapa lelaki di sini hobi memakai gincu.
Maka, Anjani dan Sapta melangkah dengan damai ke lantai dua .Melintasi gang sempit berisi pria-pria perokok yang memenuhi jalan dengan dengan aroma tembakau, para wanita yang sibuk mencari kutu anak-anak mereka, dan anak-anak kecil yang sibuk mengelupas kurap dan koreng di kaki mereka yang kotor.
Di kamar ketiga dari ujung kiri, Sapta membuka pintu yang rupanya tidak dikunci.
Sebuah kejutan rupanya sekali lagi, telah menanti Anjani.
Wanita itu melemparkan senyum kepada Sapta di sisinya yang kini tampak gelisah, mengabaikan sepenuhnya sepasang muda-mudi di dalam kamar yang berdiri serempak saat mereka datang.
“Coba ulangi apa katamu tadi, Sapta.” Anjani berkata dengan nada manis yang berbisa. “Tidak pakai trik murahan, katamu?”
***