Perjalanan kami berakhir di sebuah atap bangunan yang tidak aku kenali. Tidak seberapa jauh dari tempat kami berada tadi, tapi di atas atap yang datar ini, dengan mata orang-orang yang tidak tertuju ke arah kami dan langit yang terasa sangat dekat, satu-satunya gangguan yang bisa aku terima adalah pening di kepala. Aku mendongak ke angkasa, tepat ke arah langit yang dipenuhi kilat merah. Langit terlihat lebih biru dari jarak sedekat ini. Dan petir-petir itu terlihat semakin merah. Menyala semakin terang. Selama sesaat, aku mengingat petir raksasa bak pilar yang membelah daratan kemarin. Cahaya terang itu berbeda dengan cahaya yang sekarang sedang aku nikmati, lain dengan aliran petir yang menjalar di langit di atas kepalaku. Aneh. Sebelum ini aku tidak pernah menyadarinya. Bagaimana

