Ledakan besar itu menggetarkan seluruh Mandala.
Tidak hanya daratan, tidak hanya lautan, dan benua. Tapi juga angkasa dan jagad raya. Seluruh penyusun alam semesta yang luas. Angkasa memerah darah oleh api yang membara. Tanah hancur berkeping-keping oleh ledakan yang memusnahkan segalanya.
Gunung-gunung memuntahkan laharnya. Petir bergemuruh menyambar-nyambar dari angkasa. Dari balik tanah yang terbelah, keluar pilar-pilar lava yang memancar bak mata air kematian, membakar semua yang ada. Angin berembus dalam tekanan yang kencang dan menghancurkan segalanya, menghantam semua benda yang menghalangi hingga bumi tidak lagi ubahnya padang kosong yang gersang.
Rumput, tumbuhan, hewan, dan rumah tidak ada yang selamat. Semuanya rata dan hangus tidak bersisa. Rerumputan menghitam, tumbuhan mengabu, hewan tinggal tulang belulang, sementara mayat manusia bergelimpangan.
Mayat dalam jumlah tidak terkira bergelimpangan bagai sampah yang tidak berarti di seluruh tanah yang hancur. Sungai dan danau menguap dan jika ada yang selamat, berubah menjadi lautan darah dan mayat. Tumpukan tubuh yang berlumuran darah, terpotong, dan hangus terpanggang menumpuk, jika tidak bernasib sial terbawa aliran lava dan jadi abu.
Sementara di tengah tanah yang hancur itu, seorang pemuda berdiri tegap. Kedua tangannya terkatup rapat dalam sikap seperti berdoa. Kedua kakinya terbuka lebar dalam kuda-kuda yang sempurna, tapi kini perlahan bergetar dan runtuh. Peluh membasahi tubuhnya yang penuh luka dan darah. Matanya menyala merah. Bola matanya berubah hitam. Sementara kulitnya memucat.
“Hentikan!” Seorang wanita, berusaha mendekati pemuda itu, melawan semua gelombang angin dan menghindari semua petir yang muncul. “Sudah cukup, kamu tidak perlu melakukan semua ini!”
“Aku harus!” Pemuda itu bersikeras. “Aku-tidak ingin-dunia ini….” Mata pemuda itu mengeluarkan darah. “…sampai hancur!”
Angin semakin kencang dan kilat semakin menyambar-nyambar. Wanita itu memandang sekeliling dengan liar ketika sisa-sisa dari peradaban yang ia kenal, terbawa kehancuran sampai tidak bersisa. Lantai tempatnya berpijak telah berubah menajadi tanah. Atap tempatnya bernaung telah raib bersama dengan pilar-pilarnya yang sempat kokoh berdiri. Dan orang-orang itu … orang-orang jahanan itu tidak lagi terlihat.
Ia berharap sepenuh hati, orang-orang itu sudah mati dalam kekacauan ini.
Tetapi jika pun mereka mati, apakah dirinya dan pemuda itu bisa selamat?
Ia harus mengusahakannya lebih dulu.
Jadi ia melangkah lebih dekat. Sayang tenaganya yang sudah habis tidak bersisa, tidak membawanya ke mana-mana. Namun ia tidak berhenti. Ketika kakinya tidak bisa melangkah lagi, bahkan ketika tubuhnya jatuh, ia menggunakan tangannya untuk mendekat ke arah sang pemuda.
Tiba-tiba petir menyambar. Jatuh tepat di dekat tangannya. Ia tertegun. Sudah lama sekali ia tidak merasa takut pada petir. Sekarang setelah semua yang terjadi, ia merasa begitu lemah dan tidak berguna. Seorang wanita yang terbuang yang tidak berguna dan takut pada semua hal. Seorang perempuan yang lemah dalam arti sebenarnya.
“Jangan mendekat!” Pemuda itu menjerit, mengacungkan tangan yang terkatup rapat ke arah dirinya. “Aku-masih … bisa menghentikan … tadi, tapi mungkin … tidak bisa … lagi!”
Pemuda itu merintih kesakitan. Atma hitam keluar dari tubuhnya.
Melihatnya, wanita itu pun kembali merangkak mendekat. Tapi sekali lagi, petir menghalangi jalannya. Tiba-tiba, api memancar dari tanah dan daratan retak terbelah di bawah kakinya. Mencegahnya lebih jauh untuk mendekat.
“Hentikan … aku mohon … aku tidak mau….” Pemuda itu merintih sekarang. Darah semakin deras keluar dari matanya. “Aku tidak mau … menyakiti Ibu….”
Wanita itu menitikkan air mata. Tangannya menembus api dan mencakari tanah. Dagingnya terbakar dan tulang belulangnya meleleh. Tapi ia tidak merasakan sakit ataupun panas. Ia sudah tidak merasakannya lagi sejak semua ini dimulai.
“Kalau begitu hentikan semua ini!” Wanita itu berteriak marah. “Hentikan semua ini dan pulanglah bersama Ibu!”
“Tidak….” Sang putra menolak. Suaranya kian melemah. Kian berubah. “Aku tidak … bisa….”
Wanita itu menggenggam tanah dengan tangannya yang bebas. Sementara tangan kanannya yang habis terbakar api tidak lagi bisa menggapai apa pun.
“Kenapa?!” Perempuan itu meraung marah. “Kenapa kamu berjuang sebegini besarnya untuk dunia busuk ini? Untuk manusia-manusia terkutuk yang sudah jelas ingin membinasakanmu?!”
Pemuda itu terdiam. Ia hanya tersenyum kepada sang wanita, kepada ibunya. Senyum yang begitu tulus, menyayat hati dan perasaan sang ibu. Mendadak saja, rasa sakit apa pun di dunia ini terasa tidak lagi berarti bagi sang ibu. Segalanya terasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan rasa sakitnya sekarang ini, dengan kenyataan yang menjemput bahwa mereka tidak akan selamat dari sini.
Mereka akan berakhir bersama dengan dunia ini. Dengan cara paling hina dari yang bisa dipikirkan. Tapi putranya rupanya masih keras kepala ingin menyelamatkan dunia yang sudah menginjak semua martabatnya.
“Kalau kamu menyayangi Ibu, hentikan ini sekarang juga!” Dalam linangan air mata, wanita itu berujar mutlak. “Dunia ini tidak layak diselamatkan! Manusia-manusia ini layak dihancurkan! Biarkan Kali bangkit dan mengakhiri dunia ini seperti yang seharusnya!”
Dari mulut pemuda itu mengalir darah yang berwarna hitam pekat. “Aku … tidak mau … Ibu mati….”
“Aku lebih tidak mau putraku mati lebih dulu! Kamu akan menyakitiku selamanya jika pergi lebih dulu!” Wanita itu sudah putus asa. Semua harapanya musnah satu per satu. Di hadapan putranya yang tidak mendengarkan ataupun memedulikannya sama sekali, wanita itu tidak pernah merasa sangat tidak berarti. “Kamu dengar itu, Wiranata?”
Tiba-tiba api yang membakar tangan wanita berubah menjadi hitam. Saat itu barulah ia menjerit.
“I-bu….!”
Ia merasakan rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa sakit yang mencabik-cabik tubuhnya dari dalam. Ia ingin menarik tangannya dari api itu, tapi api itu seakan menahannya.
Kemudian ia mendengar suara tawa dari dalam api.
Suara tawa menakutkan. Sang wanita melongok ke dalam api, melihat sepasang mata merah raksasa seperti nyala api yang membara menatapnya balik dari dalam api hitam. Sepasang mata itu melengkung ke atas, seperti sepasang mata kala tersenyum.
Kemudian tangan sang wanita yang sebelumnya terperangkap di dalam api, terempas kuat. Melemparkan tubuhnya jauh-jauh dari Wiranata putranya. Tubuhnya terlempar kencang menembus salah satu pilar api dan terserak ke tanah, jauh dari tempatnya berada. Semakin jauh dari putranya.
Ketika sadar, punggung wanita itu perih. Tapi ia tidak banyak ambil pusing. Sekali lagi ia berjalan. Keputus asaan sudah menguasai seluruh pikirannya, tapi itu tidak akan membuatnya berhenti. Tidak, sedikit pun.
Di kejauhan, Wiranata jatuh berlutut. Sang wanita melihat putranya memuntahkan cairan hitam ke tanah. Bilur-bilur kehitaman merambat naik ke tubuhnya. Dan ketika ia mendongak, sang wanita sadar, mata itu bukan lagi milik putranya. Atma hitam tumpah semakin banyak dari tubuh itu.
Namun, berkebalikan dengan mata yang merah menyala itu, senyum yang merekah di bibirnya masih senyum hangat yang sama. Sang wanita menangis semakin keras. Ia semakin kencang berjalan. Berusaha berlari meski kedua kakinya telah melepuh dan berdarah.
Diiringi air mata hitam yang membuat Wiranata tampak seperti sedang menangis, pemuda itu pun menarik sebuah pisau dari pinggangnya. Pisau dengan bilah yang melengkung persis taring hewan buas. Kemudian ia mengarahkan bilah pisau itu ke arah perutnya sendiri.
“Ibu….” Suara Wiranata terdengar. Entah bagaimana, suara itu menembus kekacauan di sekeliling mereka. Membuat semua kegaduhan di sekeliling mereka seolah tiada berarti. “Aku … mencintai … dunia ini….”
Wanita itu menggeleng kuat-kuat. Ia berlari mendekat, melintasi setiap retakan, menghindari setiap pilar api, dan berkelit dari semua sambaran petir. Dari suaranya, terucap nama sang pemuda. Berulang kali. Dari matanya, keluar kesedihan yang tidak akan berakhir.
Tapi hal itu tidak menghentikan sang pemuda dari menancapkan pisau itu perlahan-lahan ke perutnya. Sepercik cahaya keemasan muncul di sana. Sisa-sisa atmanya yang belum tercemas. Sisa-sisa atma itu perlahan masuk ke dalam bilah pisau. Singkat sekali, sebelum akhirnya meredup dan lenyap.
“Aku ingin … melindungi dunia ini….” Pemuda itu bergumam. “Aku ingin … Ibu melihat … dunia seperti … yang aku lihat. Dunia yang Ibu … berikan….”
Sang pemuda menggertakkan gigi. Kesedihan muncul di wajahnya.
“Tapi sekarang … sudah tidak bisa….” Pemuda itu mendongak, menatap ibunya dengan kesediahan yang tidak lagi terbendung. Meski air matanya hitam pekat, meski perlahan kemanusiaan lenyap meninggalkannya, Wiranata tetap berusaha memandang ibunya, hingga detik-detik terakhir. “Maaf … harus membebani Ibu … dengan cara seperti ini….”
Pemuda itu lantas menunduk, menatap pisau yang membelah perutnya. Kesedihan dalam matanya berubah menjadi kemarahan.
“Aku tidak akan biarkan … kamu menghancurkan dunia ini!” Kemudian ia menyobek perutnya.
***
“Anjani?”
Kegelapan yang menutupi pandangan Anjani perlahan-lahan menyingkir oleh cahaya. Anjani membuka mata, pipinya bergerak perlahan dari permukaan yang dingin dan kasar. Ketika wanita itu mengerjap dan membuka mata, sadarlah ia bahwa ia sudah tidur di atas meja.
Dengan setumpuk dokumen berceceran di depan matanya.
Dokumen-dokumen penting itu beberapa bernasib buruk dengan kejatuhan air liur yang tidak sengaja jatuh.
“Kebiasaanmu jelek sekali saat bangun tidur.” Rass duduk bersandar di tepi meja, persis di sebelahnya. Senyum mengembang di wajah pria itu ketika ia menyentuh kepala Anjani, merapihkan anak-anak rambutnya yang berantakan. “Mimpimu indah?”
Tiba-tiba wajah Anjani berubah sewot. “Aku tidak pernah bermimpi indah.”
“Oh, sekali pun?” Rass mendekat ke wajah Anjani. “Bahkan tentang aku?”
Anjani melemparkan senyum terbaiknye kepada Rass. “Aku malah berharap tidak pernah bermimpi tentang dirimu.”
“Menyakitkan sekali.” Rass menyentuh dadanya dengan wajah sakit hati yang main-main. “Untung saja aku sudah terbukti tahan banting bersamamu.”
Pikiran Anjani masih mengambang untuk beberapa lama. Huruf-huruf dokumen di hadapannya tampak tidak berarti untuk sejenak sebelum akhirnya berubah jelas. Tangan Anjani segera merapihkan dokumen-dokumen penyelidikan itu meski sambil menguap lebar.
Anjani menoleh ke arah jendela, melihat langit sudah gelap gulita. Ddalam batas Pelindung, bintang gemintang tidak terlihat. Angin dingin masuk melalui jendelanya yang terbuka sedikit.
“Sudah jam berapa?”
Rass mengeluarkan jam sakunya. “Sudah jam delapan malam.”
“Aku sudah tertidur dua jam?” Rass mengangguk. “Dan kamu tidak repot-repot mau membangunkanku?”
“Membangunkan tidur seorang wanita sama sekali bukan gayaku.” Rass berkata dengan serius. “Dan menruutku itu hampir kriminal.”
Anjani merenggangkan tubuh dan membersihkan semua air liur yang tersisa di wajahnya. “Lebih buruk dari pemberontak?”
Keseriusan Rass pecah menjadi tawa. “Tidak seserius itu.” Kemudian ia meraih dokumen Anjani yang berantakan. “Apa kamu sudah selesai mempelajari ini semua?”
“Hm.” Anjani mengiyakan seadanya.
“Termasuk agenda acara dansa malam ini?” Rass memperlihatkan selembar kertas kepada Anjani berisi nama-nama tamu yang harus disapa oleh dirinya nanti di pesta.
“Haruskah aku menghapalnya juga?” Anjani menyahut dengan wajah jengkel. “Aku hanya akan jadi boneka pengantarmu saja. Cukup berpenampilan cantik dan tetap diam saat dikatai gundik saja, kan?”
“Benar sekali.” Rass menyahut dengan santai sambil meletakkan dokumen dansa kembali ke tempatnya. “Tapi bukan berarti kamu bisa bersantai lho.”
“Kamu terlalu muda seratus tahun untuk menasihatiku.”
Rass tertawa puas. Setelah tawanya mereda, ia menunjuk dokumen yang belum dirapihkan di atas meja. Semua sisa dokumen milik Anjnai. “Boleh aku merapihkannya?’
Sekali lagi, Anjani mengiyakan seadanya dan langsung bangun dari kursi. Tanpa mengindahkan Rass, Anjani berjalan ke ranjang tunggal yang mereka sewa bersama di dalam Motel. Di atas seprai putih mereka yang masih belum ditiduri, satu kotak putih tergeletak. Anjani membuka kotak itu, melihat sebuah gaun hitam dengan aksen bunga mawar merah terlipat rapih di dalamnya.
Anjani membentangkan gaun itu. Gaun itu terikat pada dua pundaknya. Mawar merekah di bagian dekat jantung. Sementara roknya melebar di bawah sampai tepat ke kaki Anjani. Tidak terlalu lebar seperti tenda, tapi juga tidak terlalu ramping seperti seorang biduanita. Anjani tersenyum puas pada kilau yang terlihat di kaki gaun.
“Kamu suka?”
“Lumayan.” Anjani menahan senyum puasnya. Lalu melongok ke dalam kotak. Masih ada sepasang anting putih di sana, lengkap dengan sepasang sarung tangan yang panjang. Anjani melihat panjang sarung tangan itu dan membandingkan.
Ia lantas melepas sarung tangannya sendiri di sebelah kiri dan mengenakan sarung tangan barunya itu. Sarung tangan itu berwarna putih bersih. Saat dipakai, sarung tangan itu membungkus pas jari jemarinya, tidak membuat jarinya tampak gemuk berlipat. Alih-alih, lentik dan menawan. Pas untuk digenggam para lelaki. Anjani melihat ujung sarung tangan yang berenda, berakhir di atas sikunya. Menutupi seluruhnya tangannya yang Siluman.
“Aku lihat kamu tidak lupa pesananku.” Anjani tersenyum puas sungguhan kali ini.
“Kalau kamu harus bolak-balik mencari Motel yang menerima Siluman selama dua hari penuh,” Rass selesai merapihkan dokumen di atas meja dalam sekejap mata. “Kamu tidak akan lupa dengan mudah.”
Anjani melangkah menghampiri Rass. Wanita itu berjingjit, melingkarkan tangannya ke leher Rass.
“Pria yang pintar.”
Rass melingkarkan lengannya di pinggang Anjani. “Dan pria inilah yang akan beruntung menjadi pasanganmu malam ini.”
***
Di luar Societeit de Chandelier, beberapa petugas menghalangi Anjani dan Rass ketika hendak masuk. Pagar-pagar pembatas dari para Politie dipasang tinggi. Mereka dan sepasang automaton kelas Sangut milik mereka yang tampak mengancam karena dibangun setinggi dua meter, mendekat dan menyambut orang-orang yang datang.
“Ah, pengamanan yang cukup ketat.” Anjani berujar ketika dirinya dan Rass berjalan menghampri pintu masuk utama Societeit. “Seseorang sepertinya lupa memberitahuku soal ini.”
“Untuk apa membawamu ke pesta tanpa memberimu sedikit kejutan?” Rass menyahut dengan enteng di sisinya.
“Oh, Rass sayang,” Anjani sekarang mencengkam lengan Rass yang berbalut jas hitam rapih kuat-kuat. Bahan elegan itu langsung kusut di bawah genggaman Anjani, beserta ujung-ujung kain sarung tangannya yang mahal. “Kamu tahu jantungku yang lemah ini tidak bisa menangani kejutan terlalu sering, kan, hm?”
Rass yang malam ini menjelma menjadi perwira yang berpenampilan bak utusan pangeran dari kerajaan Eropa, tersenyum elegan di samping Anjani. Dengan jas hitam mahal, kemeja putih berkerah tinggi, dan sepatu hitam yang disemir mengilap, pria itu menggamit lengan Anjani sebagai pasangannya dan berjalan dengan anggun dari pelataran parkir menuju gedung utama yang hanya berjarak lima langkah saja, sementara mobil mereka diparkirkan oleh jasa penyelenggara acara.
Sementara Anjani malam ini tampil anggun dengan guan hitamnya. Sepasang sepatu berhak rendah yang ia kenakan pun tidak banyak terlihat karena panjang gaunnya yang merepotkan. Untuk acara formal ini, rambut Anjani digelung formal dengan penjepit berupa pin rambut dengan permata dan bulu burung berwarna merah. Sementara leher putih Anjani terbuka lebar. Leher rampingnya dihiasi kalung perak menawan dengan butiran permata biru yang tampak seperti air mata.
“Oh, apa kamu pikir aku semiskin itu sampai tidak bisa membayar tagihanmu jika sampai masuk rumah sakit, hm?” Rass melirik Anjani dengan sorot jahil.
“Ah, tidak.” Anjani tertawa anggun. “Tapi aku merasa kamu tidak akan senang jika kejutanmu membuat refleksku yang luar biasa ini tidak sengaja memotong-motong tubuhmu, kan?”
Rass tertawa renyah mendengar lelucon yang tidak sepenuhnya lelucon itu.
“Aku tidak berani mencobanya,” ujarnya dan kali ini ia serius.
Baru sedetik kemudian, tangan Anjani kembali meremas lengan Rass di sampingnya ketika matanya menangkap lampu detektor yang berkedip di badan para raksasa besi penjaga pintu utama.
“Dan lihat kejutan manis apa lagi itu?” Remasan Anjani semakin kencang hingga Rass yakin kulitnya sudah tersayat di balik pakaian ini. “Itu detektor khusus untuk Siluman. Pengamanan gedung ini luar biasa sekali, bukan begitu, Sayang?”
Rass hanya bisa tertawa. Sungguh penjagaan ini juga di luar dugaannya. Dia hanya mendengar penjaga ditempatkan, tidak termasuk detektor anti-Siluman. Tapi ketika remasan Anjani berubah menjadi cengkaman mematikan yang menyiksa ototnya, Rass sudah tidak bisa lagi tersenyum dengan benar.
“Anjani, tolong-aku masih ingin tanganku utuh.” Rass menahan sakit luar biasa di lengannya.
Anjani justru menanamkan cakarnya lebih dalam lagi. Sengaja menggunakan tangan kanannya. “Kamu punya dua. Itu sudah terlalu banyak.”
“Aku butuh dua-duanya. Untuk keperluan dasar yang mendesak dan tidak tergantikan.”
Sekarang Anjani ikut menggunakan tangan kirinya. “Ah, tanganmu masih akan utuh untuk dansa malam ini. Tenang saja, Sayang.”
“Aku butuh tanganku untuk utuh seterusnya.” Rass kembali meminta. Kali ini ia menatap Anjani. “Tolong?”
Anjani mendecih. Cakarnya mengendur dan Rass tidak perlu malu-malu untuk mengembuskan napas lega. Wajahnya sudah banjir keringat dan angin malam Jayagiri yang malam itu lebih dingin dari biasa tidak membuat Rass merasa lebih baik.
“Mereka terlalu berlebihan.” Anjani mencebik. “Mereka pikir siapa, melarang Siluman masuk ke pesta dansa ini?”
“Dayuh masih berkeliaran, kamu lupa?” Rass mengingatkan dengan lembut. “Mereka hanya melakukan pencegahan yang mereka rasa akan menenangkan hati mereka malam ini. Hanya agar terlihat meyakinkan.”
“Tentu saja, karena pada kenyataannya ini sama sekali tidak berguna,” Anjani berkomentar. “Semua p*********n dilakukan di luar tempat yang dijaga. Tempat-tempat dan waktu yang tidak diduga oleh para korban, sepertinya.”
“Dan penjagaan seperti ini secara tidak langsung hanya menciptakan celah di tempat lain, begitu maksudmu, kan?” Rass berbisik. “Lubang yang tertutup rapat di satu tempat pasti butuh tanah dari tempat lain, kan?”
Anjani menggelayuti lengan Rass dengan mesra. “Sayangku memang pintar,” ujarnya. “Tapi bisa tolong ingatkan aku lagi, Sayang, kenapa acara tidak berguna ini diadakan di tengah situasi mencekam? Apa penyelenggara pesta sedang menyiapkan umpan besar-besaran atau dia memang sudah gila?”
Rass sedikit mendesis. Matanya melirik ke arah jalanan dan belakang mereka dengan waspada. Tidak ada yang berjalan di belakang mereka, tapi telinga orang-orang biasanya lebih panjang daripada seharusnya.
“Anjani, tolong kasihanilah aku malam ini,” ujar Rass, setengah memohon. “Kamu tidak keberatan, kan?”
“Sama sekali tidak,” jawab Anjani ringan. “Tadi itu aku hanya iseng saja.”
Rass mendebas. Matanya kembali menatap ke arah jalan dan pintu utama gedung yang berkilau keemasan dari luar. “Penyelenggara acara sedang merayakan ekspansi pabrik kina mereka di wilayah Paris van Java. Belakangan ini Kina sangat laku di daerah terutama bagian Barat Jayagiri.”
Anjani mendengkus. “Tentu saja. Ekspansi bisnis.” Ia memutar bola mata terang-terangan. “Abaikan saja pembunuh gila yang sedang berkeliaran di luar sana karena kamu cukup kaya.”
Rass kali ini tidak menghentikan Anjani. Ia malah ikut tertawa. Namun para penjaga dan automaton semakin dekat dengan mereka. Mereka masih sibuk dengan antrian di depan Anjani, tapi hanya tinggal tunggu waktu sebelum mata para penjaga tertuju pada mereka. Jika itu sudah terjadi, para automaton mungkin akan mengetahui keberadaan Anjani dan segalanya sudah akan terlambat.
“Lalu?” Suara Rass berubah serius. “Kamu bisa menyingkir dari hadapan mereka?”
Dalam diam, Anjani tersenyum. Lebar sekali. “Tentu saja.”
Senyum Anjani lantas berubah menjadi anggun dan percaya diri. Selayaknya seorang wanita bangsawan yang hendak datang ke pesta yang secara khusus diadakan untuknya.
Dengan percaya diri, Anjani mengeluarkan sedikit atma dari tubuhnya. Atma yang berwarna merah. Anjani memejamkan mata sejenak dan ketika membuka mata, dunia yang lain terbuka di hadapannya.
Dunia penuh tulisan cahaya keemasan yang tidak terhingga. Bentuknya seperti titik-titik tidak terhingga. Seperti serbuk emas yang melayang-layang. Namun Anjani tahu itu bukan sekadar titik emas atau pandangannya yang bermasalah.
Titik emas itu adalah aliran penyusun dunia. Aliran yang hanya bisa dilihat oleh mata Siluman. Aliran yang seharusnya hanya bisa dikendalikan oleh Siluman.
Benak Anjani meraih gugusan mantra itu. Pikirannya merangkai dan membaca semua gugusan mantra satu per satu. Ia mengkuti sebuah garis. Dalam pandangannya, gugusan yang ia pilih, menyala dalam rangkaian yang berlangsung simultan, membentuk sebuah untaian baru yang menyala. Menyelubunginya. Membentuk sebuah barisan mantra yang bisa dibaca oleh matanya. Meski tidak harus membacanya, meski segalanya bisa berjalan hanya dengan pikirannya, Anjani butuh menghemat atma-nya untuk malam ini.
Angin yang menyerpih.
Bawalah sukma dan benih.
Terbang menuju tempat yang baru.
Dengan atma terpisah dari tubuh.
Atma lain terpanggil dari dalam tubuh Anjani. Sulur-sulur atma berwarna merah yang keluar dari tubuhnya perlahan berubah menjadi emas. Anjani melangkah mendekati dua automaton itu tanpa ragu maupun takut.
“Ibu! Lihat itu! Lihat perempuan itu!” Anjani melirik. Tidak jauh darinya, seorang anak laki-laki kecil menunjuk ke arah Anjani. “Perempuan itu bercahaya! Ada cahaya keluar darinya, Bu!”
Wanita yang sepertinya ibu dari anak itu segera menariknya menjauh. Pandangan wanita Londo itu sempat bertemu dengan Anjani dan menilai penampilannya dari atas ke bawah: menatap gaun hitam yang menempel dengan rok lebar di pinggangnya. Pandangan tajam wanita itu betah sekali menempel di tubuhnya lama. Saat pandangan mata mereka bertemu, Anjani mengedipkan sebelah mata. Dalam diam menangkap basah tatapan wanita itu.
Sang wanita memalingkan pandang lebih dulu.
“Teddy, bersikaplah yang lebih baik!” Wanita itu memperingatkan anaknya. “Itu bukan cahaya! Itu gaunnya! Kamu mempermalukan Ibu!”
Anjani terkikik geli, lalu menatap automaton di samping kanan dan kirinya yang diam tidak bereaksi. Beberapa orang yang anti automaton mungkin sudah mengajukan protes, tapi mengingat kondisi keamanan bagi kalangan Londo belakangan, Anjani tidak yakin laporan keluhan itu akan diproses lebih jauh.
Lagipula daripada automaton ini, Anjani punya hal yang lebih mendesak untuk dikhawatirkan. Anjani memerhatikan reaksi dari orang-orang di sekelilingnya. Tidak ada lagi tatapan aneh ataupun komentar-komentar dadakan, tapi bukan berarti tidak ada bahaya.
Tapi jika ada yang melihat, justru semakin baik. Anjani tidak berniat mengulur-ngulur waktu lebih lama lagi.
Dua petugas yang berjaga di pintu depan memeriksa mereka. Dua automaton di sisi mereka terdiam dengan mata terpaku kepada Anjani. Sensor-sensor merah mereka menyala terang, tapi tidak ada reaksi. Anjani menahan senyum puas.
Petugas di hadapan mereka mengulurkan tangan. Wajahnya yang tanpa senyum tampak kaku meski bersih dari segala rambut wajah. Meski rambutnya tampak seperti lelehan gula aren, postur dan tinggi pria itu membuat pria sekelas Rass pun langsung memasang sikap tubuh siaga.
“Mohon tunjukkan kartu identitas kalian.” Suaranya yang kaku meminta dalam nada yang jika didengar dalam kondisi buruk, akan Anjani artikan sebagai nada mengancam.
Rass menyerahkan kartu identitasnya tanpa banyak bicara, begitu pula dengan Anjani.
Namun seperti biasa, para pria yang bertugas di bagian pemeriksaan senang berlama-lama memeriksa kartu identitas Anjani. Seitdaknya meski pria kaku di hadapannya bisa bersikap layak, rekan kerjanya malam ini mendapat nilai nol besar.
Sepasang mata hitam itu sudah membelalak lebar saat menyaksikan Anjani datang bersama Rass. Dan kini mata itu menjelajahi wajah dan tubuh Anjani dengan lapar. Dalam diam, Anjani merasa jijik. Rasanya dilecehkan lewat pandangan sama sekali tidak akan ia sukai.
“Jager, huh?” Petugas yang memandangi Anjani itu merebut kartu identitas miliknya dari sang pria kaku. Tingkahnya yang seenanya dan sang pria besar yang tidak melawan meski sang pria m***m berukuran separuh tubuhnya, membuat Anjani berkesimpulan kalau pria m***m itu memiliki jabatan lebih tinggi.
Yah, jataban yang lebih tinggi berisi orang-orang yang lebih kurang ajar, Anjani mengakui dalam hati.
“Bukan pilihan pekerjaan yang biasa, Nona.”
Anjani tersenyum senang kepada para petugas itu, sementara Rass menahan kikik geli di sampingnya. Tanpa kata, Anjani mengulurkan tangannya dan meraih kartu identitas itu. Namun sang penjaga perbatasan dengan sengaja memegang jari Anjani terlalu lama. Anjani tersenyum miring dan memutuskan untuk menggoda lebih jauh dengan mengecup jari jemari itu.
Petugas itu semakin menegaskan posisinya sebagai pria bermental kotor saat menyunggingkan senyum m***m tepat ke arah Anjani, mengabaikan Rass yang terang-terangan ada di sisinya.
Jelas sekali di pikiran pria itu, Anjani hanya wanita penghibur yang disewa. Seorang gundik yang bisa dipindah tangankan jika Rass tidak lagi mau.
Dia tidak sepenuhnya salah, jadi Anjani tidak mau protes pada pandangan melecehkan itu.
Anjani menarik tangannya dengan anggun dari mulut bau bir murahan itu. Ia memberi catatan kepada diri sendiri untuk mencuci sarung tangannya tujuh kali di rumah nanti. Rass kemudian menariknya cepat-cepat dari pintu masuk, sambil terkikik geli. Mereka tidak lagi menoleh ke belakang, tapi Anjani masih merasakan tatapan m***m sang pria mengikuti mereka sampai menghilang ke balik kerumunan.
“Aku tidak mau kamu membahas yang tadi.” Anjani mengancam dengan gigi geligi bergemeretak. “Selamanya.”
Rass terkikik geli di sebelahnya. “Percaya diri sekali. Kamu yakin aku akan membahasnya?”
“Yakin sekali.”
Rass mendekati beberapa tamu dan menggandeng Anjani mesra, seperti pasangan dalam pesta dansa.
“Yah, aku tidak menyalahkan petugas malang itu,” ujar Rass. “Tidak ada yang cukup kuat menolak pesonamu malam ini, Meisje.”
Pujian itu tidak membuat Anjani tersipu. Alih-alih, Anjani fokus ke ara selusin pria dan wanita yang sedang saling bercengkrama yang sedang mereka hampiri saat ini.
“Ah, Letnan Rass, sebuah kehormatan bisa menemukan Anda di sini malam ini!” Seorang pria berkumis dan berambut pirang yang disisir rapih menggunakan pomade menyapa mereka lebih dulu. Bahasa Belandanya masih apik seperti orang yang baru datang ke tanah ini. “Senangnya menjadi perwira muda yang pemberani!”
Di sisi pria itu, seorang Madam berdiri dengan kipas bulu menutupi separuh wajahnya. Anjani tersenyum kepada sang Madam. Kipas boleh saja menutupi separuh wajah wanita itu, tapi mata hitamnya yang menatap rendah ke Anjani tidak akan bisa ditutupi riasan paling tebal sekalipun.
“Ah, kau masih ingat istriku?” Pria itu memperkenalkan sang madam. “
“Aku belum pernah bertemu perempuan yang ini, Letnan.” Wanita itu berkata, sengaja menekankan kalau Anjani bukan yang pertama maupun satu-satunya.
Oh, kamu p*****r Rass yang baru, Anjani seolah bisa mendengar kata-kata itu, tidak hanya dari mulut wanita di hadapannya, tapi juga orang-orang di belakang mereka. Anjani melirik ke belakang, mendengar bisik-bisik dari semua orang. Rass tidak bereaksi jadi Anjani pun menirunya.
“Oh, tentu.” Rass merangkul pundaknya. Bibir pria itu menempel ke pelipisnya. “Aku tidak punya hobi memamerkan orang-orang yang aku sayangi ke hadapan orang banyak.”
Pria berambut pirang itu tertawa. “Ah, tapi bukankah membawanya ketika situasi begini adalah tindakan ceroboh, Letnan?”
“Tidak juga,” Rass berujar bangga. “Aku rasa penting bagi orang-orang garis depan sepertiku untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita masih baik-baik saja. Kestabilan juga penting.”
Anjani nyaris tidak bisa menahan tawa.
“Ah, dan ngomong-ngomong,” Rass melirik kepadanya dan menunjuk madam itu. “Anjani, perkenalkan Meneer Van Gilles dan istrinya.”
Wajah suami-istri itu berubah memerah, karena marah dan malu. Anjani hanya bisa tersenyum puas, menahan tawa yang sudah hampir meledak di bibirnya. Kemudian dengan sopan ia pun menggamit lengan Rass lebih mesra lagi.
“Senang bertemu dengan kalian.” Anjani memutuskan untuk tersenyum, tanpa menunduk sama sekali. Mengabaikan semua pelajaran tata karma yang telah ia terima sampai detik ini.
Bisik-bisik orang di belakang mereka segera terhenti. Anjani melirik sekeliling lagi, memastikan tidak ada yang bertindak aneh. Tapi keramaian yang terlalu padat dan di luar dugaan di tengah situasi ini membuat mata Anjani sedikit terhalangi.
Yah, tidak apalah. Anjani memutuskan untuk tenang-tenang saja. Jika pun malam ini tidak sukses, mereka tinggal lakukan lagi nanti. Sama seperti pemburu yang tidak kenal menyerah, mereka juga tidak akan menyerah.
Pasangan itu pergi dari hadapan Rass. Dengan wajah tertekuk menahan amarah, tentu saja. Baik Anjani maupun Rass bersenang-senang dengan reaksi itu, jadi mereka tidak banyak ambil pusing. Mereka berdua mengajak ngobrol pasangan dan orang-orang yang lain. Tanpa beban, tanpa mengungkit kejadian kecil tadi sedikit pun.
Di sepanjang pesta, senyum seolah sudah terjahit abadi di bibir Anjani, hingga ketika ia menyambut obrolan dari para Londo, menerima pujian maupun sindiran mereka akan statusnya, Anjani tetap tersenyum.
Karena ia sudah memutuskan, tidak akan menangis lagi. Tidak untuk hal seperti ini.
***