29. Degup dan Dansa

2571 Kata
“Di mana kalian pertama kali bertemu?” “Kami bertemu pertama kali saat Letnan Rass meminta bantuan saya.” Anjani menjawab pertanyaan itu dengan bahasa Londo yang sangat terlatih dan anggun. Membuktikan diri bahwa ia ada di kelas yang sama dengan para Meneer dari segi cara bicara. Sekaligus menyalakan api cemburu di wajah para istri yang tidak sengaja memergoki suami dan pasangan mereka melirik Anjani lebih lama dari yang seharusnya. “Hubungan kalian pasti ditentang.” “Kami sama-sama hidup dan besar sendirian.” Rass menjawab kali ini, sengaja sedikit menambahkan nada bergurau. “Kami hanya punya satu sama lain, jadi kurang lebih tidak ada yang akan menentang kami.” Meski itu bukan lelucon yang sehat, semua orang menyalin suara tawa Rass ketika ia melontarkan lelucon itu. Tidak ada yang berani melawan atau melempad balik dengan ejekan. Hingga berjam-jam lamanya, sampai Anjani pegal tersenyum, sampai kaki mereka berdua terasa sakit, mulut mereka berbusa dan kering saking banyaknya salam yang diucapkan, mereka terus mengucapkan salam kepada berbagai relasi Rass. Mulai dari tentara, sesama Marsose, orang pemerintahan, Ambtenaar, pengusaha yang berpengaruh, bangsawan yang memutuskan untuk menetap di Koloni ini, beberapa rakyat yang memiliki koneksi, hingga sesama Jager. Anjani kembali menjumpai banyak orang dalam satu malam, semua karena hubungan yang ia putuskan untuk jalani dengan Rass setelah pertemuan pertama mereka. Ketika Anjani sudah mati rasa pada semua rasa sakit menjengkelkan yang membebani tubuhnyalah, baru semuanya berhenti dan ia akhirnya bisa menepi di keramaian bersama dengan Rass. Menikmati sedikit buah, kudapan, dan minuman yang disediakan. Anjani tidak ingin mabuk, jadi ia memilih air limun, begitu pula dengan Rass. Anjani duduk di kursi yang disediakan sementara Rass bersikap bak pria jantan yang berjiwa kesatria dengan berdiri di sisi Anjani. Tidak ikut duduk seperti dirinya. Hal ini membuat Anjani sekali lagi dipandangi dengan aneh oleh para tamu. “Apa wanita itu jangan-jangan pemiliknya?” Suara desas-desus senada terus bergema di tengah pesta. Anjani melirik Rass yang mengamati pesta dansa. Wajahnya tidak terbaca, tapi menurut tebakan Anjani, Rass sama tidak minatnya dengan dirinya tentang pesta ini.  “Sudah merasa lelah?” tanya Anjani, setengah menggoda. “Tidak juga.” Rass melirik, setengah tersenyum kali ini. “Aku hanya tidak menyangka disangka pesuruhmu. Pesonamu sepertinya terlalu luar biasa sampai mereka lupa siapa yang lebih menawan di antara kita.” “Pria mungkin bisa mengalahkan perempuan dalam hal menawan,” Anjani melontarkan senyum terbaiknya kepada Rass. “Tapi kamu jelas bukan pria yang bisa mengalahkan pesona perempuan. Apalagi yang sepertiku ini.” “Hm?” Rass mencondongkan badan, sedikit membungkuk untuk berbisik tepat ke telingaku. “Mau coba cari tahu? Siapa yang lebih menawan diantara kita?” Ketika Anjani melirik, Rass tengah menyunggingkan senyum lebar yang menggoda. Anjani membalas senyum itu dengan senyum yang sama dan mengulurkan tangan. “Mari kita lihat.”   Rass membimbing Anjani ke pesta dansa. Senyum merekah di bibir pria itu, tapi bukan Anjani jika tidak bisa melihat bayang-bayang kelam di balik senyum yang senantiasa dipancarkannya kepada para kolega. Ketika lengan mereka saling bersambut dan tubuh mereka berdekatan, Anjani menggenggam tangan Rass lebih erat dari biasanya. Melodi melantun lembut. Bersama selusin pasangan dansa lainnya, mereka menikmati setiap momen. Bersatu dalam harmoni lagu, melebur antara satu pasangan dengan pasangan yang lain. Tidak ada batas. Tidak ada lagi dunia. Segalanya kabur kecuali dunia sempit milik dua insan yang tengah bersatu padu dalam alunan dansa. Ketukan demi ketukan berlalu. Anjani terus setia memegangi tangan Rass sementara pria itu tetap setia memegangi pinggangnya. Keduanya melebur dalam tarian. Pandangan sinis orang-orang dan bisik-bisik penuh kecurigaan lenyap dari sekeliling mereka. Untuk sebuah dunia sempit penuh tirai tipis dan transparan, Anjani cukup menikmati kedamaian semu ini. “Kamu sudah melakukannya dengan baik.” Anjani berbisik sembari melodi Waltz Symphony in D Minor mengiringi setiap langkah dansa mereka dan selusin pasangan lain yang memutuskan untuk berdansa di Societeit malam ini, alih-alih duduk menikmati makanan dan pertemuan bisnis dengan sang penyelenggara acara sendiri. “Sekarang, tinggal nikmati dansa ini dan lihat reaksi orang-orang nanti.” “Nikmati reaksi orang-orang….” Rass mendengkus. “Tadi aku hampir saja lupa kalau pesta dansa ini dibuat oleh seorang pengusaha yang merayakan ekspansi perusahaannya, bukan untuk memuji kecantikanmu.” Anjani tertawa. “Rayuan yang lumayan, tapi tidak cukup baik.” Rass mengembuskan napas dengan wajah penuh kekalahan. “Yah, sekalipun tidak berhasil, setidaknya ada satu hasil yang aku dapatkan malam ini.” Rass mengedipkan sebelah mata, lalu membelai punggung Anjani yang terbuka, tepat ke kancing gaunnya. “Kamu ternyata lumayan juga dalam balutan warna hitam. Walaupun itu membuatmu tampak sedikit menakutkan dan sulit diraih.” Anjani mendengkus. “Kamu perayu yang buruk.” Rass mengedikkan bahu. “Aku masih melajang bukan tanpa alasan.” Kemudian ia mengentakkan kaki, sedikit mengubah tempo dansa dan jadi lebih bersemangat dari pasangan lain. Anjani tiba-tiba merasakan tubuhnya ditarik merapat ke tubuh Rass. Wanita itu mendongak dengan kaget hendak protes, tapi tidak ada waktu untuk itu. Rass sudah lebih dulu membawanya ke dalam tempo dansa yang lebih cepat. Anjani mendecih pelan dan menggerakkan kakinya lebih cepat, mengikuti arah permainan Rass agar tidak mempermalukan dirinya sendiri. Mereka berputar dan melangkah, saling berpadu. Tangan mereka berdua terus terjalin selama dansa berlangsung. Tangan Rass tetap setia ada di pinggang Anjani selama dansa. Meski tanpa kata, tidak pernah sekalipun pegangan itu terlepas. Sementara di bawah sana, kaki mereka tidak pernah sekalipun bersinggungan hingga tempo dansa kembali melambat. Anjani mendebas. “Lain kali bilang kalau ingin mengubah tempo, aku bukannya— Kata-kata Anjani terhenti saat Rass mendekat dan membungkuk sedikit ke arah wajah Anjani. Bibirnya berhenti tepat di depan bibir Anjani. Dari jarak yang demkian dekat, sepasang mata hitam Rass menatap Anjani lekat-lekat, dalam diam memohon untuk diizinkan masuk dan mengintip apa yang tersembunyi di balik warna biru cantik mata Anjani. Dalam mata Anjani, atma milik Rass keluar dari tubuhnya. Bergejolak seperti lautan ombak. Sulur-sulur cahaya merah mengelilingi mereka berdua. Atma milik Anjani dan milik Rass. Bersatu. “Aku merayu karena tidak tahu lagi cara apa yang bisa aku gunakan untuk mendekatimu,” bisik Rass. Anjani merasakan tangan pria itu menggenggam tangannya lembut. Sorot matanya tampak lemah tidak berdaya. “Anjani … apa benar-benar tidak ada kesempatan untukku? Tanpa mengindahkan napas-napas tertahan dari penonton yang memandangi mereka, tanpa peduli dansa mereka yang telah terhenti di tengah aula dan perhatian semua orang yang kini tertuju kepada mereka dan terpaksa menghentikan acara, Rass terus melanjutkan. Dahi mereka bertemu. “Sedikit saja….” Suara Rass berubah menjadi bisikan. Sorot matanya berubah sendu. Seolah diri Rass di dalam benak dan hatinya kini sedang menangis. Memohon. “Tidak adakah … sedikit kesempatan tersisa untukku?” Anjani tidak butuh lebih dari dua detik untuk menjauh dari Rass. “Jawabanku tidak berubah, Rass.” Tapi Anjani tetap tersenyum. “Dan kamu tahu, jawaban itu tidak akan berubah sampai aku mati.” Wajah Rass berubah semakin sendu. Senyum pria itu berubah. Apa yang selama ini disembunyikannya di balik senyum ramah dan berlapis-lapis pengendalian runtuh seketika, menampilkan wajah pria biasa yang ditolak kesekian kali. Wajah pria normal yang patah hati. Tapi juga bukan wajah seseorang yang kalah. “Dia b******n yang beruntung.” Rass melepaskan Anjani, entah sadar atau tidak lagunya telah lama selesai. Pria itu membungkuk. “Aku benar-benar iri sekarang.” “Untuk apa iri padanya?” Anjani menyahut dengan seringai mengejek tercetak di bibirnya. “Aku bukan piala yang sebegitu mengilap dan berharganya untuk diperebutkan dua lelaki. Hanya mereka yang sudah terlalu t***l yang mau barang rongsokan sepertiku.” Kata-kata Anjani berbanding terbalik dengan kata-kata penuh kepercayaan diri yang ia lontarka sebelum dansa. Rass menyadari hal itu. Tapi ia tidak berkomentar. Ia sudah tahu yang mana Anjani yang asli. Ia sudah mengintip ke dalam topeng senyum Anjani. Dan jika ia harus mengakui, ia tidak suka apa yang ia lihat di sana. Tidak sama sekali. “Tolong jangan merendah di depan orang yang statusnya masih melajang ini.” Rass berkata dengan serius. “Kamu menyakitiku lebih dari satu hal tadi. Dan belum lagi jika aku katakan, kamu benar-benar menjengkelkan.” Mata Anjani melebar sejenak saat ia berusaha meresapi kata-kata itu, kemudian ia pun tertaw.a Menyemburkan tawa sementara dansa telah masuk bagian terakhir. Lambat laun lagu berubah sendu dan pelan. “Malah aku bilang, kamu lebih beruntung.” Anjani berkomentar. “Kamu masih melajang. Belum terikat dengan siapa pun. Kamu pria bebas. Bisa memilih wanita mana yang mau kamu tiduri malam selanjutnya. Bahkan mungkin sampai kamu kakek-kakek pun masih akan ada yang mau.” “Maaf pikiranku tidak sejauh itu.” Rass menghela napas. “Tapi menurutku, dia memang pria yang beruntung.” Ia melirik Anjani. “Tidak hanya karena ia menidurimu dan semacamnya, tapi karena … dia berhasil meraih hatimu. Sesuatu yang tidak bisa diraih pria mana pun termasuk pria setampan diriku.” Anjani mencebik. Dia memamerkan wajah jijik. Hanya untuk sesaat. Sebelum akhrinya wajah itu lenyap, berganti dengan wajah penuh keputus asaan yang membara. Sebuah wujud dari jiwa yang telah lama tersiksa dan telah melihat terlalu banyak hal. “Hanya dia yang beruntung.” Kepala Anjani menunduk untuk waktu yang sedikit lebih lama, menatap lantai di bawahnya sembari melihat kembali semua tragedi yang pernah terjadi. “Aku yang sial karena bertemu dengannya.” Kemudian dansa pun berakhir. “Tetap pada rencana?” Anjani mengkonfirmasi seraya tubuhnya membungkuk rendah dan membuka rok gaun lebar-lebar: sebuah sikap untuk pamit kepada teman dansanya. Rass membalas sikap hormat itu dengan membungkuk dalam. Sorot matanya tajam dan serius saat membalas Anjani yang menunggu jawaban di lantai. “Ya.” Suar Rass tidak pernah terdengar lebih yakin dari ini. “Sesuai rencana.” *** Malam telah larut ketika mereka berdua memutuskan untuk keluar dari pesta. Acara sudah hampir usai dan baik Anjani maupun Rass tidak mau membuang-buang waktu. “Menurutmu, mereka akan datang malam ini?” Anjani bertanya ketika mereka sudah melangkah ke pintu keluar, sekali lagi melewati dua automaton Delem yang tidak berguna itu dan dua penjaganya yang lebih tidak berguna lagi. Anjani melambai seadanya kepada dua pria itu. Yang mana lambaian itu mungkin berarti bentuk pemujaan seorang wanita yang tertarik pada pandangan pertama bagi sang pria m***m. Anjani mengumpat dalam hati. Untungnya, pemandangan itu tidak berlangsung lama. “Menurutku, ya,” jawab Rass, menyentuh dagu Anjani sejenak. “Mereka tidak akan melewatkan diri dari pesona secantik ini.” “Aku harap juga begitu.” Anjani menjawab tanpa terpengaruh. “Kalau malam ini gagal, aku benar-benar “Kalau malam ini gagal, aku sendiri yang akan berburu dan mengejar mereka.” Rass tertawa di sampingnya. “Sekarang kamu terdengar berbahaya.” “Kamu tidak tahu?” sahut Anjani pongah. “Semua wanita itu berbahaya— Suara Anjani berhenti secara tiba-tiba. Rass yang menyadari berhentinya Anjani itu bermaksud menegurnya, bertanya apa yang terjadi, tapi Anjani bereaksi lebih cepat. Tangannya yang menggamit lengan Rass langsung memberi ketukan dua kali ke arah lengannya. Sebuah bentuk kode di antara mereka. Sebuah isyarat tanpa suara di antara mereka. Isyarat gerakan yang telah mereka sepakati: dua ketukan di lengan, artinya ada yang mengikuti mereka. Rass langsung mengikuti kesepakatan mereka untuk tidak menoleh dan bersikap seolah mereka tidak tahu apa yang akan menimpa mereka. Selayaknya korban yang tidak bersalah. Anjani menekan dua jari pertamanya ke lengan Rass, tepat saat Rass melihat gang di hadapannya. Hanya beberapa langkah dari tempat parkir. Mereka terpaksa berbelok ke gang yang sepi untuk memancing penguntit mereka agar mengikuti. Saat berbelok, Anjani sengaja memperlihatkan dirinya tanpa sengaja menoleh ke jalan raya. Namun ia tidak menemukan siapa pun ada di sana. Tidak ada seorang pun di jalan selain mereka berdua. Bukan berarti itu tidak wajar. Mereka keluar cukup dini untuk bisa keluar bersama peserta acara yang lain. Dan jam malam telah diberlakukan di Jayagiri, mencegah siapa pun keluar ke jalan selepas jam tujuh malam. Melihat tidak ada mobil patroli yang biasanya berkeliling hanya membuat dingin dan sunyi malam ini semakin terasa. Anjani menahan senyum dalam hatinya saja. Ia merasa yakin umpan mereka telah ditangkap. Bukan oleh sembarang pelaku, tapi oleh pelaku yang tepat. Mereka berdua berjalan ke dalam kegelapan kota Jayagiri yang selalu mencekam sejak kemunculan teror Dayuh. Anjan dan Rass sengaja memarkirkan mobil mereka sedikit lebih jauh dari yang seharusnya malam ini, hanya untuk persiapan jika segalanya berjalan sesuai rencana. Sekarang, hanya tinggal memastikan, apakah rencana mereka berhasil atau tidak. Anjani dan Rass berjalan terus menuju antrian paling belakang dari parkiran mobil. Di sana terparkir mobil Volkswagen dinas milik Rass. Sekitar dua detik setelah tiba di parkiran, Anjani melihat atma lain muncul di belakang mereka. Sebuah atma merah. Seharusnya atma itu biasa di alam Sekala. Tapi Anjani melihat atma itu dan atma miliknya saling bertolak belakang. Tidak sekalipun bersambut dan bersatu dalam satu tarian seperti atma yang sepatutnya. Anjani menyipitkan mata saat sadar atma merah baru itu perlahan-lahan berubah gelap. Tidak seperti atma miliknya. Atma biru kemudian muncul mengelilingi atma merah yang menggelap itu. Keduanya berpadu, masih menolak atma Anjani. Kemudian dalam ketidak beraturan yang aneh itu, kedua atma misterius itu diselimuti warna hitam. Angin dingin berembus di sekeliling mereka. Atma misterius itu semakin kuat dan semakin banyak mengelilingi, tapi belum ada hawa keberadaan maupun langkah kaki yang terdengar. Anjani sengaja merapatkan diri kepada Rass. Tubuh pria itu sedikit tegang karena reaksi Anjani yang tiba-tiba, tapi saat Anjani memberi lirikan penuh arti, Rass seketika langsung paham. Umpan mereka diambil oleh orang yang tepat. Anjani berpura-pura tidak mendengar ketika ada langkah yang mengendap-endap di belakangnya. Ia pun tidak berbalik ketika suara langkah itu berhenti, sementara aroma asing muncul di penciuman Anjani. Aroma tanah dan minyak jelaga. Aroma darah dan abu. Tanah dan api. Anjani tetap berjalan di sisi Rass, menempel kepadanya seperti ulat yang menempel pada daun. Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di pintu samping mobil mereka. Rass meraih gagang pintu mobil ketika langkah yang mengikuti mereka tiba-tiba lenyap. Seluruh indera Anjani berubah siaga. Ia tidak mau mangsa mereka menyerang karena mereka lengah, tapi di saat yang sama, ia lebih tidak mau jika mangsa yang mereka incar kembali berhasil kabur. Sayangnya, sikap Anjani agak terlambat. Tangan Rass turun dengan lesu dari gagang pintu yang telah dipegangnya sebelum ini. Tidak butuh waktu lama, tubuh pria itu tumbang di sisinya. Tangan Anjani lepas dari lengan Rass, membiarkan pria itu jatuh tanpa daya ke tanah. Anjani mengamati kepala pria itu sesaat. Dari kepala pria itu, mengalir darah yang mentes sampai ke pipi. Anjani menahan senyumnya, lalu mengubah wajahnya yang senang menjadi panik dalam sekejap mata. “Rass!” Anjani memekik dengan gaya panik terbaik miliknya, setengah serius untuk menolongnya. Namun ketika pukulan lain mendarat di tengkuknya. Pukulan yang sangat kencang. Sakit. Anjani memaki dan menghina dalam hati, tapi tidak mengatakannya secara lisan. Dari permukaan ia hanya mengaduh dan memekik: “Kyaa!” Anjani bersyukur Rass sudah pingsan. Jika ia masih sadar, ia sudah pasti akan mengejek Anjani habis-habisan karena berteriak seperti perempuan. Sekelebat bayangan jatuh saat Anjani menjatuhkan diri dengan sengaja ke tanah setelah pukulan keras pertama. Darah jelas mengalir dari kepalanya. Anjani merasakan sensasi perih familier di kepala dan cairan hangat yang aneh dan membuat kepalanya sedikit berputar. Tidak diragukan lagi, ia dipukul sampai beradarah. Ketika wajah Anjani menghantam aspal yang dingin dan kotor, sepasang kaki berdiri di belakangnya. Aroma lain masuk ke hidung Anjani. Aroma khas yang dikeluarkan Siluman. Aroma yang entah bagaimana berhasil disamarkan sosok itu dari penciumannya. Seseorang telah datang dan menunjukkan dirinya di hadapan mereka. Atma milik sosok itu hitam pekat, mengalir bagai tangan-tangan gelap, dengan warna hitam yang mengalahkan pekatnya kegalapan malam. Warna yang mengingatkan Anjani kepada masa lalu. Warna dari satu entitas yang menyebabkan semua masalah di Mandala. Warna yang hanya akan muncul jika satu lagi atma sudah berjalan ke arah yang ditentukan oleh Dia. Sang sosok kehancuran. Kali. “Akhirnya akan lengkap juga!” Suara lelaki bergema di dekat Dayuh. Suara dari sosok itu. Suaranya menggema dengan lantang di tengah kesunyian malam. “Dayuh pasti girang mendapat semua ini!” Sambil mengernyit karena heran kenapa tidak ada yang datang meski suara pria itu begitu keras di tengah malam gelap tanpa perlindungan mantra apa pun, Anjani memutuskan untuk mengalah. Wanita itu perlahan menutup matanya. Penyelidikan dengan cara yang paling menjengkelkan telah dimulai. Tanpa diduga, langkah pertama mereka berhasil. Umpan mereka ditangkap oleh mangsa yang selama ini mereka incar. Langkah kedua dimulai. Langkah paling menjengkelkan bagi Anjani: mengalah pada keadaan, bertingkah seperti wanita lemah tidak berguna, dan menuruti ke mana pun penculik satu ini membawa mereka. Demi mengetahui alur kriminal sebenarnya dari sang Dayuh yang terkenal. Legenda Desa Girah ribuan tahun lalu yang berhasil bangkit di masa kini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN