“Beraninya mereka!” Suara menggelegar itu membahana ke seluruh rumah.
Sang Putri bisa mendengar para Sisya ikut terlonjak. Ayam-ayam yang dipelihara di belakang rumah berkokok nyaring karena kaget, sementara getaran aneh mengguncang seluruh kediamannya. Getaran bumi maupun spiritual yang dirasakan oleh batin setiap orang.
Di hadapan kemarahan menggelegar itu, Sang Putri hanya bisa terduduk diam di dalam ruang tengah rumah. Sementara di depan matanya, sang ibu terengah-engah dengan tinju menghantam lantai rumah. Retakan tercipta di lantai rumah, tidak lain akibat tinju sang ibu yang meradang penuh kemurkaan.
“Menjadikan statusmu yang Siluman sebagai sebuah ejekan dan menyebarkannya ke seluruh kampung saja sudah kelewatan!” Sang Ibu berujar dengan nada berapi-api bak melantunkan kutukan. “Sekarang mereka menyebarkan kabar burung kalau kamu menjadi Siluman karena karmaku! Benar-benar lancang! Tidak akan aku ampuni!”
Sang Putri tidak bisa menjawab. Ia tidak punya daya. Sukmanya merendah, jiwanya sudah terlalu malu. Hatinya terlalu sakit. Ia hanya bisa menatap tangan kanannya yang dibalut lilitan kain putih kecil yang ditumpuk dan dililitkan ke seluruh lengan seperti sebuah bebat. Tatapannya pilu.
Tangan kanannya. Tangan kanan sumber dari semua masalah. Sumber rasa benci baik dari warga desa maupun dari dirinya sendiri.
Bukti nyata bahwa ia bukan Manusia.
Sang Putri selalu percaya, menyalahkan bukan solusi. Ia tidak pernah menganggap itu sebuah solusi. Menyalahkan dirinya sendiri dalam perkara ini sama saja menyalahkan keberadaannya sendiri sebagai makhluk hidup. Ia merasa perbuatan seperti itu seperti mengutuk anugerah Sang Hyang Widhi sendiri karena telah memberinya napas dan terutama kepada ibunya sendiri yang melahirkannya.
Tapi kini kebenaran hatinya bimbang di tengah semua tuduhan dan mata jahat para warga desa. Percakapan menyakitkan mereka yang dilakukan terang-terangan di depan mukanya saat berkunjung ke pasar tadi masih membekas di ingatannya. Segar dan berdarah.
“Dia Siluman anak janda sakti itu, kan?”
“Yang dikutuk sebagai tumbal ilmu ibunya.”
Tidak.
“Kasihan, tapi salah ibunya juga, sampai mempraktikkan ilmu hitam.”
Tidak.
“Untuk apa kasihan? Ibunya membunuh banyak orang demi kesaktiannya! Tidak perlu merasa kasihan!”
Dengan ragu, pandangan Sang Putri naik menatap sang ibu yang masih berapi-api. Namun ia tidak menatap sang ibu untuk waktu lama. Ia takut kena pelototan juga, walau kemungkinannya kecil sekali.
Ibunya tidak pernah tahan memelototinya lebih dari satu degup jantung. Apalagi memarahinya.
Ibunya biasanya langsung memberi hukuman.
“Ini kali terakhir, Putriku!” Ibunya membentak dengan suara paling keras yang pernah Sang Putri dengar. “Ini kali terakhir kamu merahasiakan hal sepenting ini dari Ibu, kamu dengar?”
Sang Putri kembali menundukkan kepala, menempelkan pandangan matanya ke arah lantai. “Ya, Ibu.”
Pandangan Sang Putri kembali menggelap. Atma milik ibunya yang memancar dalam bentuk benang-benang merah dan hitam, menjalar di udara dan lantai di sekeliling Sang Putri. Ia mengulurkan tangan, menyentuh salah satu sulur atma dan merasakan kehangatan menyala di ujung jemarinya. Seulas senyum merekah di bibirnya.
“Anak aneh itu selalu memandang udara kosong sambil tersenyum.” Suara-suara hinaan dari masa lalunya kembali menghantui. “Pasti ia sedang bicara dengan memedi.”
Senyumnya seketika sirna. Tangannya beranjak dari ujung sulur atma itu dengan d**a yang terasa sakit nan menyempit.
Kenangan akan tatapan benci yang diterimanya dari seluruh warga desa sejak pagi tadi masih membekas. Beberapa bercak tanah masih tersisa di jari jemarinya yang bernoda merah, hasil dari memungut buah-buah yang dilempar para pedagang yang benci melihatnya muncul di pasar. Meski Sang Putri hanya berniat membeli buah para pedagang yang hampir terlalu masak untuk dijual.
“Pergi dan bawa semua yang kamu sentuh itu! Semua yang kamu sentuh pasti sudah dikutuk!”
Satu kesalahan yang para pedagang itu lakukan adalah melakukan semuanya di depan mata Rarung yang menyaksikan. Dan kesalahan terbesar Sang Putri adalah membawa sang Sisya ibunya yang paling setia bersamanya ke pasar. Seharusnya ia menolak, meski Rarung adalah syarat ia diperbolehkan keluar. Seharusnya ia menolak saja.
Sang Putri sudah merahasiakan hal itu dari ibunya, berharap ibunya tidak melampiaskan kekesalan kepada apa pun atau siapa pun, tapi para Sisya ibunya jauh lebih setia kepada sang ibu daripada dirinya.
Dalam hati Sang Putri merasa iri. Ingin sekali ia menjadi Sisya sang ibu. Ia ingin bisa menjadi setia seperti itu, kepada ibunya, kepercayaan ibunya, dan sumpah setia ibunya.
Tapi dia bukan orang seperti itu. Jauh di dalam hati, ia tahu, dirinya tidak sesuci itu.
Ia tidak bisa setuju dengan perbuatan ibunya. Kekuatannya tidak pernah selaras dengan ibunya, tidak peduli berapa kali pun ibunya mencoba untuk menyelaraskan atma Anjani yang kadang meledak-ledak tidak terkendali. Seolah dirinya dan sang ibu terbuat dari materi yang berbeda. Beberapa kali ia berpikir, mungkin dirinya tidak dibuat dari Bhuana Agung. Tapi setiap kali ia menjatuhkan diri sendiri seperti itu, sang ibu selalu menghiburnya.
“Itu hanya karena sisi Siluman milikmu.” Kata-kata penghiburan ibunya kembali bergema, membuat Sang Putri merasakan sedikit kehangatan dalam dadanya. “Siluman memang memiliki aliran atma seperti penghuni Niskala. Tidak butuh nasib beruntung agar dilahirkan bisa memancarkan atma. Kamu bisa mengubah struktur penyusun Mandala tanpa perlu merapalkan mantra.”
Sang Putri selalu suka cara ibunya menjelaskan sistem mantra dan penyusun dunia. Sebuah sistem yang menyusun hierarki kekuatan di Mandala. Ibunya selalu membuatnya merasa istimewa setiap kali topik ini dibahas.
Namun semuanya selalu terasa sia-sia. Segalanya tidak pernah berubah. Selalu sama. Dirinya selalu tidak pernah bisa berkembang dari sebuah wadah atma yang tidak stabil. Sehingga kini rasanya, semakin lama dicoba, ia semakin merasa bahwa semuanya semakin sia-sia.
Sang Putri menatp tangannya sendiri. Tangan yang senantiasa meledak-ledak setiap kali ia latihan. Setiap kali ia mencoba mengeluarkan atma dengan benar. Identitasnya sebagai seorang Siluman.
“Sepertinya teror malam yang sebelumnya tidak cukup membuat mereka gentar, ya? Sudah aku duga saranmu benar-benar lembek, Putriku.” Sang Putri mendongak dengan kaget. Wajah ibunya menggelap oleh amarah. Atma hitam semakin kental menyelimuti tubuh ibunya, menelan semua sisa atma merah yang ada padanya. “Orang-orang itu harus diberi hukuma yang lebih berat sekarang.”
Sang Putri merasakan seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Kecemasan melanda batinnya. Dirinya segera memohon ampun.
“Semua ini karena ketidak becusan Ananda, Ibu. Tolong hukum saja Ananda dan bukannya warga desa….” Sang Putri menengadahkan tangannya dalam posisi memohon. “Tolong jangan hukum warga desa lagi, Ibu. Mereka hanya sekumpulan orang ketakutan….”
“Jangan membela mereka lagi! Sampai kapan matamu itu mau dibutakan kasih sayang semu, Putriku?!”
Sang Putri terisak. Di saat seperti inilah ia merasa paling tidak berdaya. Ia tidak akan sanggup menghentikan amukan ibunya yang dijanjikan akan lebih hebat lagi kali ini.
Jika itu sampai terjadi, akan semakin banyak darah yang mengotori tangan Sang Putri, membebani kedua pundaknya dengan dosa yang tidak terampuni. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika hal yang sama—bahkan lebih buruk—dari teror malam para memedi suruhan Sang ibu terjadi kepada warga desa.
“Itu bukan ketakutan! Putriku, apa kamu sebegitu butanya pada dunia sampai kamu tidak bisa membedakan mana rasa takut dan mana kejahatan?” Ibunya kembali berapi-api. “Mereka itu jahat! Hanya karena kamu terlahir berbeda, mereka mengolok-olokmu setiap hari! Jangan kamu sangka ibu tidak tahu kamu dilecehkan di pasar pagi ini!”
Tangan Sang Putri mendadak saja terasa panas saat ibunya memberitahukan rahasia yang disembunyikannya. Seharusnya Sang Putri sudah tahu, tidak akan ada gunanya merahasiakan segala hal dari ibunya.
Tapi tetap saja ia melakukannya.
Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Kini yang terjadi justru apa yang ia takutkan selama ini. Sang Putri melirik tangan kanannya yang panas. Atma mulai mengalir bocor dari sana. Merah dan biru, sulur-sulur cahaya itu menjadi satu saat keluar dari organ Siluman Sang Putri.
Anugerah, ibunya berkata. Siluman bisa menguasai atma alam Sekala dan Niskala. Lahir segaia Siluman artinya kita telah dipilih oleh Mandala dan sepenjuru kahyangan.
Tapi dipilih untuk apa?
Warga desa agaknya berpikir sama dengan Sang Putri dan tidak sependapat dengan sang ibu. Keraguan mereka berubah menjadi ketakutan dan tuduhan ketika ada kesialan yang tiba-tiba menimpa mereka. Musibah yang sebenarnya bisa dicerna dengan akal sehat seandainya mereka cukup tenang berpikir.
Mereka menganggap semua musibah itu sebagai kutukan, lupa pada Sang Hyang Widhi, hanya karena sang ibu selalu menjatuhkan bencana kepada warga desa setiap kali ada yang membuatnya murka. Dan itu bukan sekadar rumor. Ia secara rutin melihat ibunya melantunkan lagu-lagu aneh setiap kali purnama. Lagu-lagu yang membuat kepalanya senantiasa sakit dan hatinya teriris. Setelahnya, pada pagi hari, warga akan diserang wabah aneh. Wabah dengan banyak sekali cahaya biru mengelilingi tanah dan langit.
Warna Niskala, demikian ia diajarkan oleh sang ibu. Warna yang menjadi bukti bahwa ibunya memang adalah biang keladi dari semua kemalangan yang menimpa warga desa, kemalangan yang terpaksa ditanggung oleh dirinya sampai detik ini.
“Ananda tidak apa-apa, Ibu,” ujarnya selembut mungkin, tidak ingin menyulut amarah sang ibu lebih jauh dari ini. “Selama bukan ibu yang dihina … Ananda tidak apa-apa.”
“Menghina seorang puteri sama saja seperti menghina ibunya sekalian! Kamu mungkin berpikir Ibu keterlaluan, tapi kelak ketika kamu punya anak, kamu akan mengerti rasa sakit ini!” Ibunya berdiri. “Aku tidak akan membiarkan desa Girah berbahagia lebih dari ini! Berani mereka bilang putri tunggalku akan jadi perawan tua, akan aku laknat mereka empat puluh hari!”
Ia mendongak terpukul. Sambil bersimpuh, ia berusaha meraih kaki sang ibu. “Tolong, Ibu, Adinda mohon untuk dipikirkan sekali lagi—
Suara permohonan itu terpotong oleh suara ketukan di luar kamar. Ia dan sang ibu menoleh ke arah pintu yang tertutup. Tidak ada orang, tapi ia melihat sulur-sulur atma merah menembus celah pintu. Sang Putri mencoba mengendus udara, tapi tidak ada yang bisa ia cium.
Sekali lagi, Sang Putri jengkel. Semua orang di rumah ini sudah terlatih untuk menyembunyikan hawa keberadaan dan aroma mereka. Sang Putri jadi tidak bisa menebak mereka ada di mana, ataupun bersembunyi di mana saat dirinya berangkat ke depan khalayak ramai.
“Ada apa?!” Suara sang Ibu masih meraung murka, kendati suara yang menyapa itu begitu sopan.
Suara yang familier bagi sang Putri maupun sang Ibu.
“Maaf mengganggu, Ni Ayu.” Suara Nyi Rarung bergema ke dalam ruangan yang telah porak poranda itu. “Ada tamu yang ingin bertemu dengan Ni Ayu.”
“Siapa?” Amarah ibunya terdengar luluh sedikit.
“Seorang pria,” Nyi Rarung menjawab. “Dari kerajaan Kediri.”
“Bunuh saja.” Sekali lagi, ia terkejut. Begitu mudahnya perintah menghilangkan nyawa orang keluar dari mulut ibunya. “Jika Kediri meminta perang karena ini, kobarkanlah jika mereka memang berani. Aku tidak takut.”
Mendengar kabar yang meluluh lantakkan raga itu, sang putri segera hendak memohon kepada sang ibu untuk tidak menambah masalah, tepat ketika Nyi Rarung di luar kembali berbicara.
“Mohon ampun, Ni Ayu. Beliau berpesan bahwa beliau datang untuk menemui Ni Ayu bersama dengan Ni Putri.”
Sekarang ibunya mengernyit. “Siapa nama lelaki itu? Dan apa maunya ke mari?”
“Beliau mengaku sebagai utusan Mpu Bahula, Ni Ayu.” Rarung menjawab. “Dan Beliau ke sini hendak mempersunting Ni Putri.”
***
Anjani terbangun dengan perasaan kesal setengah mati.
Ada rasa sakit tak enak di belakang lehernya. Untuk sesaat, ia mengira lehernya baru saja patah. Anjani berharap itu nyata dan lehernya lebih baik patah saja, sampai ia sadar, keinginan itu tidak terkabul.
Wajahnya ada di lantai yang bau lumut dan darah. Bukan perpaduan favorit Anjani. Dan dengan suhu dingin nan lembab yang membekap tubuh, aroma tanah yang sepertinya masuk ke hidungnya, dan aroma apak manusia yang entah sudah berapa lama tidak mandi, Anjani harus berusaha agar tidak muntah di tempat.
Ia mencoba menggerakkan kaki dan tangan. Terikat.
Ia mencoba membuka mulut, disumpal.
Anjani menyumpah serapah. Semoga sumpalan mulutnya tidak sebau yang hidungnya cium. Jika ya, dirinya akan benar-benar marah.
“Ah, lihat, siapa yang sudah bangun?” Suara seorang pria terdengar di atas kepala Anjani.
Seseorang menghampiri tubuh Anjani yang terbaring. Sekelebat bayangan hitam ang tidak tampak wajahnya akibat pancaran sinar yang membutakan menerangi punggungnya. Anjani mencoba menghibur diri bahwa sosok itu tampak bagai dewa palsu yang bersinar dengan cahaya di belakangnya.
Tapi menghibur diri di tengah situasi begini benar-benar menyedihkan.
“Bagaimana?” Pria itu bertanya lagi. “Tidur Anda nyenyak, Nona Manis?”
Anjani sadar tangan dan kakinya terikat kuat ketika sosok itu berjongkok di hadapannya. Tidak hanya itu, dirinya juga masih memakai gaun pesta yang tadi dikenakannya sebelum dipukul. Gaun itu sudah tidak berbentuk lagi di tubuhnya. Kotor dan rusak parah. Tidak bisa diperbaiki. Tidak terkira berapa biaya yang harus ia ganti ke Rass nanti dan ia tidak mau memikirkanya. Tidak saat ini. Tidak saat kepalanya sudah sangat sakit karena memikirkan strategi.
“Nyenyak sekali,” Anjani berkata sambil tersenyum manis. Dia tidak perlu berusaha untuk tampil pemberani. Dia hanya perlu berusaha untuk tidak berdiri dan menendang wajah siapa pun yang ada di hadapannya ini tapi pipinya yang mencium tanah yang kasar dan beraroma seperti lumut membuat segalanya semakin sulit. “Dan mungkin akan lebih nyenyak jika saya tidak ada di tempat ini.”
“Banyak bicara. Itu bagus.” Satu kaki mendarat di kepala Anjani. Membuat hidung dan mulut Anjani berselimut tanah. Senyum Anjani seketika sirna. Kemarahannya justru semakin memuncak. “Semuanya selalu banyak bicara di awal. Berteriak, memohon, menangis, bertanya. Tapi baru kali ini ada yang menyapa. Kamu lucu sekali. Aku hampir menyukaimu.”
Mengesampingkan kenyataan kaki yang sedang menginjaknya dan amarahnya yang sudah tidak bisa ditahan, Anjani mencoba mengenali situasi.
Ketika kaki itu menyingkir, Anjani meludahkan beberapa serpih tanah dari hidung dan mulutnya. Sekali lagi ia tersenyum kepada bayangan tinggi hitma yang menjulang di atas tubuhnya.
“Menyukai tidak akan membuatmu menginjak kepalaku, Tuan yang Manis.”
Sekali lagi kepala Anjani diinjak. “Tipikal wanita. Menganggap kata ‘menyukai’ sebatas cinta.” Pria itu terkekeh. “Menyukai dalam kehidupan ini memiliki banyak arti, Nona. Tidak selamanya menyukai selalu berarti cinta. Aku menyukaimu karena kamu sesuai untuk keinginanku.”
Tangannya menyentuh sisi wajah Anjani. Wanita itu langsung mengernyit heran saat tangan yang menyentuhnya rupanya berkulit aneh dengan warna hitam pekat dengan corak merah yang berpendar dan tampak hidup. Persis seperti tangannya sendiri.
Tangan itu menepuk-nepuk pipi Anjani. “Jangan membiarkan kepalamu begitu sempit, Manusia.”
Anjani hampir tidak tahan untuk menggeram. Tidak hanya karena rasa sakit dan rasa terhina yang hampir tidak tertahankan dalam dirinya, tapi juga karena hidungnya tidak tahan terus menerus mencium tanah. Aroma lembab yang kuat memenuhi hidungnya dari tadi. Membuatnya nyaris muntah saking kuatnya. Aroma ini berasal dari lumut yang tumbuh di tanah di dekat wajahnya.
Hal itu hanya berarti dirinya berada di sebuah tempat yang gembur. Tanah yang lembab di bawah wajahnya juga beraroma jamur. Matanya melihat beberapa serbuk yang ia sadar adalah serbuk tanaman menempel. Kondisi seperti ini mungkin terjadi karena tidak adanya sinar matahari.
Di mana? Di mana kiranya tempat ini?
Anjani berusaha keras berpikir, namun lampu yang bercahaya putih di atas mereka membuat penglihatan Anjani yang belum terbiasa terasa sakit.
Di tengah kemelut pikiran itu, tiba-tiba, Anjani merasakan tangan kanannya berdenyut. Senada dengan detak jantungnya yang entah kenapa—berlawanan dengan keadaannya yang baru saja bangun dari mimpi—malah berdegup cepat.
Anjani lantas bertanya-tanya: sejak kapan aku ketiduran?
Ia mencoba mengingat-ingat dan sadar, ingatan terakhirnya adalah menuruti kehendak sang penculik. Anjani ingat tubuhnya dibawa, disentuh, dan dimasukkan ke dalam sebuah tempat sempit yang gelap. Tubuhnya berjubel di dalam kotak gelap itu bersama sesuatu yang aromanya mirip Rass. Mungkin juga memang pria itu.
Kemudian ia ingat tangan kanannya sakit. Benar-benar sakit. Diserang sebuah rasa sakit yang tidak asing. Rasa sakit yang bukan kali pertama ini ia alami.
Lalu dengan segera, ia tidak ingat apa-apa lagi.
Anjani mengumpat. Bisa-bisanya ia dengan percaya dirinya mengatakan ingin meringkus pelaku semua ini ketika pada kenyataannya, ia justru kesakitan sendiri dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Ia mengira dirinya sudah tidak akan terpengaruh rasa sakit apa-apa lagi.
Sepertinya rasa sakit dari Kali bukan rasa sakit biasa. Dan rasa sakit itu berulang dalam pola yang sama setiap kali terjadi. Seperti sekarang ini.
Anjani melirik semampunya ke atas untuk melihat cahaya lampu listrik yang putih di atas mereka. Dari lampu itu, keluar sulur-sulur atma merah yang menari-nari di udara. Tampak seperti mengejeknya walau hal itu tidak benar. Tidak ada atma yang bisa mengejek. Tidak sekalipun atma itu keluar dari entitas yang paling suka mengejek segala makhluk hidup di Mandala ini.
Anjani sekali lagi mengumpat.
Rakta.
Seharusnya Anjani sudah bisa menduga akan ada Rakta. Tidak banyak orang yang tidak mau pakai Rakta di Mandala sekarang. Hanya para pemberontak yang tidak memakainya, itu pun dengan anggapan bahwa Rakta adalah teknologi yang diciptakan oleh para Penjajah. Pendapat yang t***l, menurut Anjani, tapi dia bukannya menampik bahwa dirinya sedikit bersyukur kalangan pemberontak menolak memakainya.
Setidaknya ia tahu masih ada tempat di dunia ini untuk dirinya beristirahat dengan tenang tanpa terus menerus merasakan kesakitan.
Namun tempat itu bukan di sini.
“Mendadak diam.” Tiba-tiba rambut Anjani ditarik. Semua riasan yang ia kenakan pada rambut itu porak poranda dalam sekejap mata. “Kenapa mendadak diam?”
Kepalanya terangkat begitu kuat sampai lehernya tidak lagi menyentuh tanah. Anjani tidak merasakan sakit yang mengganggu, tapi jika ia menunjukkan wajah tenang, siksaan hanya akan semakin bertambah. Sehingga ia mengernyit, sekadar untuk membuat semua rasa sakit tampak nyata di wajahnya.
Tidak perlu waktu lama bagi Anjani untuk melihat wajah penculiknya.
Wajah itu tidak dikenalnya. Namun wajah itu jelas wajah pemuda. Dengan sedikit dari apa yang Anjani rasa adalah darah orang Jawa yang tersisa dari dirinya. Tubuh pemuda itu sebenarnya tidak besar, . Malah hanya berbeda sedikit dengan Anjani. Tapi Anjani bisa melihat otot-otot memenuhi tubuh pemuda itu, terutama di kedua lengannya. Urat-urat kebiruan menonjol dari sana di atas kulit yang tampak kemerahan di bawah pancaran sinar lampu.
Kembali Anjani memerhatikan wajah pemuda itu. Wanita itu mengerutkan kening. Ada sesuatu yang membuat garis-garis wajahnya lebih tegas, matanya lebih cekung dan pipinya lebih tirus dibanding semua pemuda di usianya. Anjani bukannya tidak kenal gurat-gurat kesedihan itu. Ia sudah melihatnya terlalu sering untuk bisa begitu saja mengabaikannya.
Wajah dari seseorang yang berperang.
Wajah dari mereka yang menyaksikan pahitnya peperangan dan selamat untuk memberikan kisah itu, baik dari wajah maupun kata-katanya.
Sekarang, jika saja memang hanya semudah itu yang terjadi.
Atma merah dan hitam muncul di tubuh pemuda itu. Mengelilinginya seperti benang-benang halus kepompong. Matanya merah berpendar di dalam cekungan tempat bola matanya berada. Sementara tangannya. Tangan yang kurus dengan jari jemari keriting itu menggenggam rambutnya kuat-kuat tanpa belas kasih, menariknya seakan ingin mencabut semua helai itu dari kepalanya, tidak peduli jika kulit kepalanya ikut tercerabut sekalian.
“Apa kamu sedang membuat rencana, hm?’
Pemuda itu mengangkat tangannya yang hitam. Tangannya yang memiliki lima cakar. Tangan yang serupa seperti milik Anjani.
“Sayang sekali, Nona yang mencoba menjadi pintar.” Ia menyentuh salah satu sisi wajah Anjani dengan tangan itu. Anjani berjengit jijik dan menghindari sentuhannya. “Tempat ini tidak akan ditemukan. Tidak jika Sang Dayuh tidak berkehendak.” Ia terkekeh. “Biar bagaimanapun, ia pemilik tempat ini. Ia yang melindungiku yang menjadi pengikut setianya selama ini….”
Dayuh. Anjani hampir saja menggigit tangan itu jika saja emosinya tidak terkendali dengan baik.
“Tidak mungkin….” Anjani berkata, setengah marah, setengah tidak percaya. “Dayuh sudah ma—
Wajah Anjani mendadak dibanting ke tanah.
“Dayuh tidak mati! Sang Dayuh masih hidup! Dia telah kembali!” Pemuda itu berteriak lantang. “Dan ia akan membawa kegelapan ke dunia ini seperti janjinya! Seperti yang pernah ia lakukan bertahun-tahun lalu di desa Girah! Dia selalu mewujudkan kata-katanya! Ia tidak pernah berdusta kepada para pengikutnya!”
Anjani tersenyum di balik rasa sakit. Di tengah-tengah tanah dan batu yang menyelubunginya, Anjani tertawa pelan. Sepertinya agak terlalu keras. Karena tidak lama kemudian, kepalanya kembali diangkat. Kembali menghadap pria asing itu.
“Jadi kamu … yang mengaku sebagai Dayuh belakangan ini?” Kendati wajahnya dihantamkan ke tanah, kendati mukanya belepotan oleh tanah yang hitam dan bau, Anjani tidak menemukan masalah sama sekali dalam bicara. Mungkin tulangnya sempat retak. Mungkin darah keluar dari hidungnya. Mungkin juga rahangnya patah, tapi sekarang semua itu sudah pulih. Dan ia siap untuk mengkonfrontasi sosok ini lebih jauh lagi. “Karena itulah kamu menculikku? Karena ingin mempersembahkanku kepada Sang Dayuh?”
“Ya! Ya! Beliau pasti akan gembira!” Wajah Anjani dicampakkan saat pemuda itu berdiri. Kembali, wajah Anjani menghantam tanah, tapi kali ini wanita itu berhasil mengerem tubuhnya agar tidak membentur tanah terlalu keras. Ia menyumpah serapah dalam hati dan menyapihkan tanah dari wajahnya ketika pemuda itu berbalik memunggunginya. Jelas-jelas meremehkannya.
Anjani bangun dengan jengkel dan duduk. Tanpa mengindahkan kata-kata sang pemuda yang telah dianggapnya gila, Anjani mengamati lingkungan sekitar.
Dirinya berada di tempat yang gelap. Dinding di atas kepalanya melengukng mirip kubah dengan atap dan rangka besi yang telah patah bertumpuk atau menggantung di udara. Beberapa dalam keadaan saling silang dan membuat pedang-pedang dari rangka besi atap yang tidak lagi punya penyambung.
Di bawah hanya ada dirinya, sang pemuda dan—Anjani menoleh, mendapati Rass masih berbaring di sisinya. Sebelah alis Anjani terangkat, tidak percaya jika Rass begitu saja dikalahkan. Setidaknya minimal sadar lebih lama daripada dirinya.
Tapi saat sadar mata Rass sedikit berkedip, Anjani sadar ia tidak sendirian. Rass sudah sadar dan berpura-pura pingsan. Rass sepertinya tahu kalau dirinya sudah sadar, sehingga membiarkan dirinya mengirim isyarat sejelas itu.
Oh, pria yang menjengkelkan. Anjani memaki, sambil memutar bola mata dan memandang sekeliling.
Ruangan tempatnya berada cukup luas dengan atap yang terlampau tinggi. Membuat Anjani menduga mereka disembunyikan di semacam gudang yang tidak terpakai. Tidak ada orang di sini selain mereka dan Anjani tidak mendengar ada suara siapa pun di luar.
Lewat mata yang tertuutp tanah, Anjani memandangi lubang-lubang di dinding yang ia kira tadinya berfungsi sebagai jendela.
Sulur-sulur atma merah dengan noktah-noktah menyala tampak berpendar di luar. Anjani mengernyit, mencoba memastikan pandangannya tidak salah dan memang tidak.
Itu mantra.
Ia melirik pemuda yang masih mengoceh di depan sana. Setidaknya pemuda itu tidak berbohong soal mantra.
Ada beberapa tumpukan kurungan baja berukuran sebesar beruang madu di dekat mereka. Anjani mencoba membaui udara, tapi sulit karena hidungnya tertutup tanah. Beberapa rantai tampak menggantung di beberapa sudut. Anjani menajamkan mata saat menatap rantai-rantai itu, sadar ada yang salah dari warna rantai itu, bahkan di tengah kegelapan sekalipun.
Warna rantai itu mungkin dulunya keperakan, tapi sekarang sudah dimakan karat, sehingga berubah kemerahan. Namun ujung dari rantai itu yang berupa kait menarik minat Anjani.
Kait itu bernoda hitam.
Padahal pangkal kait berwarna putih.
Anjani melihat-likat sekeliling lagi. Kemudian ia sadar di kandang beruang itu masih tersangkut beberapa potong kain putih. Dan noda hitam sama m*****i beberapa batang pilar. Di lantai di bawah kandang itu, bercak-bercak hitam juga terlihat.
Anjani tidak perlu jadi pintar untuk tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di sini.
“Dan aku merasakannya!” Anjani melirik dengan malas ke depan. Tepat waktu saat pemuda itu kembali menghadapnya. Dengan mata yang melebar seperti orang gila dan senyum yang membelah wajah, pemuda itu datang menghampirinya lagi. “Ketika aku melihatmu keluar dari pesta menjijikkan itu! Aku merasakannya!”
Tangannya menuding Rass. “Aku ingin membunuh pria itu! Tapi ketika melihatmu, ada sesuatu dalam diriku yang bergelora!”
Anjani mengernyit. “Itu seperti….”
“Benar! Seperti ditakdirkan!”
Anjani mengernyit semakin dalam ketika pemuda itu mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.
Padahal ia mau bilang ‘seperti orang m***m’. Tapi pemuda itu sudah salah paham lebih dulu. Anjani tidak habis pikir.
“Rasanya ada sesuatu di dalam tubuhku yang merasa begitu senang saat bertemu denganmu!” Kedua mata Anjani membuka lebar-lebar saat warna hitam dan merah dari atma pemuda itu menyatu, melebur dan berubah dengan cepat menjadi hitam sepenuhnya. Hitam pekat. “Ada sesuatu yang bergema, bergetar dalam dadaku ini saat melihatmu, Nona!”
Pemuda itu mengacungkan tangannya ke depan wajah Anjani. Tangan itu dengan cepat berubah menjadi cakar. Ujung cakar hitamnya menggores pipi Anjani. Darah mengalir di atas pipi wanita itu.
Rasanya hangat, Anjani mendapati dirinya hampir tertawa karena detail kecil itu. Sebegitu banyak waktu telah berlalu dan darahnya rupanya belum juga membeku.
Mata Anjani kemudian terpaku ke mata merah pemuda itu, menyaksikan perubahan warna bola matanya yang putih, menjadi hitam pekat.
“Saat itulah aku memutuskan untuk mengubah pikiran!” Tangannya yang normal mencengkam rahang Anjani. Kernyitan dalam kembali muncul di wajah Anjani saat tangan yang dirasanya menjijikkan itu menyentuhnya seenak hati. Tapi Anjani menahan diri.
Tidak sekarang, ujarnya kepada diri sendiri. Tidak sekarang.
“Aku akan mempersembahkanmu juga!” Pemuda itu berkata tepat di depan matanya. “Aku yakin Sang Dayuh akan senang! Entah siapa dirimu baginya, tapi jika dia merasa sesenang ini hanya karena melihatmu, dia pasti akan senang menerimamu juga, kan?” Pria itu tertawa. “Aku benar-benar lelaki yang beruntung!”
Sekali lagi ia mencampakkan Anjani. Dengan kebahagiaan yang tidak wajar, pemuda itu menari-nari di tengah ruangan luas sambil memeluk tubuhnya sendiri.
“Tidak hanya dipilih oleh Sang Dayuh sendiri, tapi aku juga mendapat kehormatan untuk membunuh mereka semua dengan tanganku sendiri!”
Anjani mendebas pelan. Kelihatannya ia tidak butuh keluar keringat untuk memeras informasi dari pria satu ini. “Dan kamu melakukannya di sini?”
“Benar sekali!” Pria itu berputar menghadap Anjani. Kelihatannya tidak begitu keberatan mendengar Anjani ikut berbicara.
Ia merentangkan tangan lebar-lebar. “Aku melakukannya di sini atas inisiatifku sendiri! Sang Dayuh tidak pernah meminta, tapi aku yang meminta. Dan Beliau mengabulkannya! Oh, betapa murah hatinya!”
Anjani melirik ke kanan dan kiri. Ada lebih banyak rantai dan belenggu. Kemudian, tersembunyi di antara tumukan rangka besi dan rongsokan yang tertutup kain, Anjani melihat kilatan pisau di lantai, tersembunyi dari pandangan mata yang tidak awas.
“Aku tidak melihat Sang Dayuh di mana pun.”
Tiba-tiba Anjani merasakan tekanan udara berubah. Ia menoleh, bersitatap dengan pemuda itu yang telah berubah. Senyumnya sirna. Matanya yang sebelumnya penuh kebahagiaan, kini penuh dengan kemarahan.
“Apa maksudmu? Sang Dayuh ada di sini.” Ia menyentuh dadanya sendiri. “Ia ada di dalam diriku. Ia menyaksikan semua ini!” Kembali, ia tertawa. Kali ini suara tawanya menggema lebih kencang dari sebelumnya. “Dia ada di mana-mana! Menyaksikan segalanya! Menanti dengan sabar saat kebangkitannya!”
Amarah di dalam diri Anjani sudah tidak dapat ditahan. Ia tidak perlu mendengar lebih jauh. Ia sudah merasa cukup. Tidak perlu tahu metode pembunuhan. Mereka sudah tahu di mana para korban disembunyikan sebelum dilempar begitu saja ke hadapan umum agar mata orang dapat melihat.
Ia sudah mendengar cukup bukti dari keterlibatan Kali dalam semua ini.
“Kamu….” Anjani mengepalkan tangan kuat-kuat. Atma menjalar keluar dari tubuhnya, semakin lama semakin deras. Warna merah dan biru menjadi satu. Anjani mendelik ke arah pemuda itu. “Berani-beraninya….”
Tiba-tiba suara batuk terdengar.
***