31. Amarah dan Adu Tanding

3699 Kata
Semua orang menoleh ke asal suara itu. Arahnya dari samping Anjani. Baik sang wanita maupun sang pemuda gila, menoleh ke arah yang sama, di saat yang sama. Tepat ke arah seorang pria yang mendadak terbatuk-batuk. Padahal semenit lalu ia masih belum sadarkan diri. Tergeletak tidak bergerak di sana bagaikan seonggok jasad tidak bernyawa. “Kenapa … kami?” Tanpa masalah, bahkan jauh lebih cepat, sosok itu bangun sendiri. Ia duduk dengan santai, meski kedua tangan dan kakinya diikat tali. Rass mendongak, menatap kedua orang yang ada bersamanya saat itu. Pandangannya sedikit mengawang pada awalnya, seperti mencoba mengenali. Matanya bersirobok dengan Anjani dan wanita itu bisa melihat sudut-sudut bibir Rass berkedut di balik tanah dan debu yang menyelimuti wajah tampannya. Pria itu sedang mati-matian menahan senyum. Untuk alasan yang benar-benar bagus. Sudut bibir Rass berdarah dan sobek. Mungkin ia sempat diseret sebelum ini dan tidak seperti Anjani, luka Rass tidak pulih. Kemudian Rass menatap ke arah sang pemuda gila. Sorot matanya dipenuhi tekad yang membeku. Anjani mengenali sorot itu. Rass hanya akan berwajah seperti itu ketika ia sedang sangat serius. “Kenapa … kami?” Rass mengulangi pertanyaan itu, diakhiri dengan sedikit batuk. Beberapa saat kemudian ia menyapihkan sesuatu dengan wajah tersiksa. Sepertinya ia kemasukan tanah sementara tidak sadar tadi. “Kamu masih bertanya?” Pemuda itu mencebik. “Kamu benar-benar bodoh! Gelar itu sepertinya terlalu bagus untukmu, Tuan Rass Frederic yang terhormat!” Kami berdua membelalak. Aku dan Rass bertukar pandang sejenak sebelum Rass kembali bicara lebih dulu. “Oh.” Suara pria itu kini diselimuti sedikit keangkuhan yang agak-agak salah tempat. “Kamu mengenalku. Tuan … Entah siapa namamu?” “Aku mengenalmu. Aku mengenal semua makhluk yang tidak bernama. Sang Dayuh memberiku banyak pengetahuan! Lebih banyak dari para Dewa palsu itu janjikan kepada kita semua!” Pria itu mendongak ke arah langit-langit dengan wajah penuh pemujaan. Anjani bisa melihat pipinya bersemu merah, mirip seseorang yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dalam cara yang paling salah dan gila. “Tidak hanya itu!’ Pemuda itu menambahkan. “Sang Dayuh mencabut namaku, menjadikanku di atas para Manusia! Aku tidak seperti kalian! Aku tidak memiliki nama! Aku tidak akan diingat! Kepala kalian semua terlalu kecil untuk mengingatku setelah semua ini selesai!” “Semua ini….?” Rass mengulangi kata-kata itu, secara tidak langsung membenarkan kata-kata sang pemuda, bahwa dirinya bodoh dan tidak sebagus gelar yang ia miliki. “Jadi benar … kamu yang membunuh semua orang itu? Kamu … Dayuh?” Pemuda itu tertawa. Perlahan pelan, lalu berubah semakin kencang. “Benar, aku yang melakukannya!” Pemuda itu mengakui dengan mudah. “Aku yang melakukannya atas perintah Beliau! Sang Dayuh yang agung sendiri yang membisikkannya di kepalaku setiap malam! Bunuh semua orang-orang asing di tanah ini! Begitu perintahnya! Semua yang darahnya ternoda! Semuanya! Semua akan selesai saat kalian semua mati!” “Yang ternoda darahnya….” Anjani merasakan tatapan Rass jatuh kepadanya. Suara Rass yang dingin berubah menajdi tidak berdaya secara tiba-tiba. Anjani menahan dengkusan kesalnya tetap di d**a. Permainan ini akan bergulir ke arah yang tidak ia inginkan. “Tapi kekasihku ini bukan orang asing! Lepaskan dia! Biarkan dia setidaknya bebas!” Anjani berjanji akan menghajar Rass habis-habisan setelah ini. Tanpa diduga, pemuda itu sudah bergerak ke arah Rass. Anjani menengok dengan kaget ketika pemuda itu menerjang Rass, menendang pria itu hingga terpental. Anjani memekikkan nama Rass dengan cara yang sengaja dibuat kikuk, seperti kemauan Rass. “Beraninya kamu menyuruhku!” Emosi pemuda itu meledak secara tiba-tiba. Tidak hanya satu kali, ia terus menendang Rass. Berkali-kali. “Orang asing! Pencuri! Perampok yang seenaknya menjarah tanah ini dari semua orang yang berhak di atasnya! Kalian semua mengatai kami bodoh dan rendah! Sekarang lihat siapa yang rendah! Siapa yang bodoh!” Satu tendangan pamungkas yang luar biasa kuatnya mengakhiri penyiksaan itu. Rass terlempar hingga membentur kandang besi. Anjani memekik, tapi suaranya teredam oleh suara rantai-rantai di atas atap bergemericing saat tubuh Rass melayang melewati bijih-bijih rantai itu dan tersaruk mendarat di atas tanah. “Kamu keterlaluan!” Anjani terus memainkan perannya. Setidaknya ia bisa meluapkan sedikit emosinya, walau bukan dengan cara yang ia harapkan. Anjani ingin sedikit lebih bebas. Tapi apa daya, ia harus berperan sebagai wanita rapuh nan lemah sekarang. “Kalau kamu membenci orang yang darahnya ternoda, aku juga bukannya suci! Aku ini Siluman!” Anjani bersumpah mendengar kikik tawa pelan Rass di sela rintihannya di kejauhan sana. Ia bersumpah akan menghajar Rass setelah ini. “Aku tahu.” Pemuda itu berpaling dari Rass dan menatap Anjani. Ia tersenyum lebar, terlihat gembira. Sekali lagi memperlihatkan perubahan emosi mendadak yang membuat Anjani semakin sulit menahan rasa jijik tetap tersembunyi di dalam hatinya. “Aku tahu kamu ini Siluman.” Pemuda itu menunjuk matanya sendiri. “Aku bisa melihatnya.” Kemudian tangannya menuding Anjani. “Sama seperti Anda, benar, kan?” Anjani tidak repot menyembunyikan keterkejutannya. Seikit banyak, ia tidak menduga hal ini. “Semua Siluman memiliki ini, kan?” Pemuda itu menujuk matanya. “INi luar biasa! Dunia seakan penuh dengan warna! Merah dan biru! Semuanya indah sekali! Tapi yang paling indah adalah ini…” Atma pemuda itu membara. Seperti ajilatan api yang membara pada api unggung, atmanya berkobar. Warna hitma pekat miliknya menghalangi terangnya lampu. Mengubah ruangan luas yang diterangi lampu sepenuhnya gelap. Anjani mengernyit saat tangannya berdenyut sakit. Semakin sakit dari sebelumnya. “Ah, kalian dengar itu?” Pemuda itu menelengkan kepala, seoperti mendengar sesuatu. “Suara itu. Suara Sang Dayuh yang terbangun!” Ia mendongak. “Aku memang membenci kalian para orang asing…” Ia melirik Rass sesaat sebelum kembali melirik lampu yang menyala redup di atas kepalanya. Atma dari lampu itu semakin lama semakin menyala. Semakin deras keluar. “Tapi kalian membuat sesuatu yang luar biasa di sini. Sesuatu yang menghubungkan kembali Sang Dayuh dengan dunia ini!” “Maksudmu … Rakta?” tanya Anjani. “Benar!” Jari keriting pemuda itu menuding Anjani sekali lagi. “Batu yang perkasa! Batu yang membuat dunia ini selangkah lebih dekat menjadi kehendak Sang Dayuh yang Agung! Ia yang akan mengakhiri segala kegelapan di dunia ini dan membawa cahaya!” Omong kosong! Benak Anjani menjerit. Omong kosong. Omong kosong. Omong kosong! “Beliau memberitahuku bahwa Pergolakan ketiga adalah sebuah langkah awal! Sebuah awal dari zaman yang baru!’ Pemuda itu merentangkan tangannya yang berbentuk cakar. Atma mengalir ke tangan itu. Atma hitam dalam jumlah yang banyak. “Sekarang beliau memilihku untuk menyelesaikannya dan akan aku lakukan dengan senang hati!” Cakarnya teracung di udara. “Senang mengenalmu, Nona yang Manis.” Samar-samar, Anjani mendengar gemuruh di luar. Tanah di bawahnya bergetar. Pelan, hampir tidak terasa. Tapi ia yang duduk di tanah bisa merasakannya. Dan ia merasa cukup hanya merasakan. Dengan sedikit tenaga lebih, Anjani melepaskan tangannya tanpa masalah. Atma merah berkobar dari dirinya, memenuhi udara hingga terasa hangat. Atma miliknya dan atma milik pemuda itu saling berseteru tanpa pernah menyatu. Pemuda itu membelalak kaget. “A-apa?” Mulutnya terbata-bata. “Ba-bagaimana bisa? Seharusnya tali itu tidak bisa— “Rass….?” Anjani melepaskan sarung tangan kanannya, memotong kata-kata sang pemuda tanpa menghiraukannya sama sekali. Sang pemuda terdiam seketika. “Ta-tangan itu … tidak mungkin! Ka-kamu … bagaimana bisa … tapi kamu tidak memiliki….” “Diam.” Udara seketika menjadi berat. Sulit untuk bernapas di tengah udara yang terasa mencekik. Suhu ruangan, meski bertambah panas, tapi yang dirasakan semua orang di sana adalah rasa dingin yang menusuk tulang. Sebuah bentuk anomali suhu yang tidak biasa. Semua orang sadar nada suara Anjani berubah. “Apa hukuman yang menanti untuk penebar teror sang Dayuh dari Girah, katamu?” tanya Anjani seraya berdiri dengan tenang. Ia menyibak gaunnya, membuat gaun itu mekar lebih lebar, membuat gerakannya menjadi lebih leluasa. “Katakan lagi. Aku lupa.” Anjani mendengar Rass terbatuk-batuk di belakang. Terdengar bunyi beberapa barang jatuh, tapi tidak butuh waktu lama bagi Rass untuk kembali bersuara: “Tidak sulit. Mustahil kamu bisa lupa. Tapi aku akan ulangi.” Rass melangkah ke sisi Anjani. Tampak sudah melepaskan ikatan di kaki dan tangannya. Rass memutar-mutar pergelangan tangannya yang memerah. “Bunuh di tempat.” Anjani menyeringai. “Bagus.” Cakar Anjani tumbuh semakin besar hingga dua kali tangannya yang biasa. Semburat warna merah menyala berpendar persis batu-batu Rakta yang menghidupi energi di tempat ini. Kulit tangannya berubah semakin hitam dan kelam. “Sesuai perjanjian kita, Rass.” Anjani mengingatkan. “Aku tahu….” Dari sudut mata, Anjani melihat Rass tersenyum. “Jangan ikut campur dan….” “Katakan pada Governor Capellen, aku sudah menyingkirkan Dayuh sang penebar teror malam ini.” “Lancang….!” Pemuda itu mengacungkan cakarnya dalam gesture mengancam. “Memangnya kamu siapa sampai berani bilang teror Sang Dayuh akan berakhir malam ini? Tuanku tidak akan kalah semudah itu! Jika bukan aku, akan ada— “Diam.” Anjani kembali memotong ucapan pemuda itu. “Aku sudah bilang itu, kan?” Anjani maju satu langkah. “Kamu ingin membunuhku, kan?” tanyanya. “Sudah berkoar-koar memalukan begitu, kamu mau menghabiskan waktu-waktu terakhirku dengan bicara? Pembunuh macam apa kamu ini?”  Dengan cakar itu, Anjani memberi isyarat menantang kepada sang pemuda gila. “Majulah,” tantang Anjani seraya menyeringai lebar. Berkat percakapan mereka yang banyak memakan waktu, Anjani jadi tahu harus menekan di tombol sebelah mana agar pemuda itu langsung menyerangnya tanpa berbalik menyerang Anjani sendiri. “Hei, kamu titisan Dayuh palsu.” Provokasi itu berhasil menyulut sang pemuda, seperti dugaan Anjani. Pemuda yang mentalnya telah hancur mudah sekali dipancing dengan sedikit sekali usaha. “Wanita lancang!” “Rass, mundurlah.” Hanya dengan satu perintah itu, Rass mundur. Namun tidak cukup cepat untuk menghindari pertarungan yang dimulai. Sang pemud telah lebih dulu menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa. Mata Anjani mungkin masih bisa mengikutinya, tapi kecepatan Rass tidak sebegitu bagusnya sehingga pria itu harus rela terlempar dari pertarungan dan sekali lagi mendarat entah di sudut mana di dalam tempat itu. Anjani mendengar bunyi barang-barang berjatuhan di belakangnya, tapi ia tidak menghiraukannya. Ia tidak punya waktu. Cakarnya teracung di udara, menangkis tepat waktu cakar sang pemuda yang hampir mencabik kepalanya jadi dua. “Aku tidak tahu bagaimana kamu memiliki cakar ini….” Pemuda itu mengayunkan cakarnya dengan sepenuh tenaga. Anjani menyilangkan tangan untuk menahan serangannya. Cakar itu mengepal menjadi tinju dan menimpa Anjani, menghantamkan seluruh bobot tubuhnya ke tanah tanpa ampun. “Tapi bagi makhluk yang tidak mewarisi atma dari Beliau, kamu tidak pantas memperlihatkan tangan kotormu!” Tinjunya menghantam Anjani betubi-tubi. “Kamu seharusnya malu! Dasar penipu! Wanita kotor yang tidak tahu terima kasih! Kamu seharusnya merelakan dirimu mati demi Beliau!” “Mati demi Beliau?” Ketika tinju pria itu terangkat ke udara, Anjani menggenggamnya dengan tangan kanan. Menghentikan serangan seketika. Mereka bersitatap sekali lagi. Mata merah Anjani bertatapan dengan mata merah sang pemuda dengan bola matanya yang hitam dan menakutkan. Sang pemuda tertegun. Agaknya ia menantikan ketakutan muncul di wajah Anjani saat bertatapan dengannya. Tapi hal itu tidak ia dapatkan. Malahan, Anjani menatapnya balik tanpa ragu. Seakan bola mata hitam dan mata merah menyala, lengkap dengan atma hitam dari seorang Siluman bercakar raksasa sudah biasa ia saksikan sehari-hari. “Memangnya siapa yang menentukan hal itu?” Sang pemuda membelalak, sadar akan bahaya yang akan menimpanya. Namun ia terlambat. Tangannya sudah ada di tangan Anjani. Sudah tidak ada jalan lari ketika Anjani sudah mendapatkannya. Seketika itu juga, Anjani membanting tubuh pemuda itu ke tanah. Sekeras yang ia bisa. Sekuat yang ia mampu. Tanah berdentum keras di bawah kaki Anjani. Getarannya sanggup meruntuhkan semua tumpukan rongsokan yang ditumpuk di setiap sudut. Rantai-rantai di atas kepala mereka bergemericing kencang. Beberapa jatuh karena rangka besi di atas tidak kuat menopang dampak pertarungan yang terjadi. Angin dari empasan Anjani menerbangkan semua kain yang menutupi rongsokan, membuka aib dari sekumpulan mesin yang telah teronggok dimakan karat dan usia entah untuk berapa lama. Anjani mengabaikan semua barang di sekitarnya dan fokus hanya kepada pemuda yang kini terbaring di tanah di dekat kakinya. Anjani mengabaikan semua barang di sekitarnya dan fokus hanya kepada pemuda yang kini terbaring di tanah di dekat kakinya.  “Benar-benar pembunuh amatiran yang hanya tahu menumpahkan darah.” Anjani mencibir. “Kalau aku yang menjadi pembunuh di sini, aku sudah akan membunuhmu tanpa mengatakan apa-apa.” Anjani menginjak tubuh pemuda itu. “Hukumanmu belum selesai.” Anjani menarik kakinya ke atas dan menghantamkan satu tendangan lain, mengarah tepat ke perut sang pemuda. “Bangun.” Sang pemuda bangun tepat waktu. Ia berdiri. Cakarnya mengarah ke wajah Anjani. Wanita itu menghindar dengan mudah, tapi kemudian matanya membelalak sedikit saat melihat tangan kiri pemuda itu juga perlahan berubah menjadi cakar. Cakar itu membua langkah Anjani mundur dan oleng. Dirinya terjatuh ke belakang. Sang pemuda menyeringai di atas tubuh Anjani. Ia melompat dan mengayunkan cakar sekali lagi. Senyum sang pemuda lantas memudar. Ia sadar ada yang aneh. Wajah Anjani terlalu tenang. Kemudia ia melihat cakar Anjani menancap di lantai. Ia terlambat menyadari. Kaki Anjani menghantam punggung pemuda itu. Menghantamkannya ke ujung lain ruangan. Suara berdebum keras kembali memenuhi ruangan luas itu. Debu-debu berhamburan semakin tebal karena semakin banyak barang yang hancur. “Ah, aku harap aku tidak harus mengganti kerugian untuk semua ini,” gumam Anjani, lalu menoleh ke arah sang pemuda terjatuh. “Jika ada yang harus mengganti rugi, itu adalah kamu, Dayuh palsu.” “Jangan memanggilku dengan hinaan aneh itu!” Dari balik asap, sang pemuda kembali melesat. Anjani terlonjak dan mundur. Cakar pemuda itu yang penuh atma mengayun keras menghantam tanah di bawah Anjani. Bumi retak terbelah karena cakar itu. Lampu berkedip-kedip kasar di atas kepala Anjani. Wanita itu melirik atap dengan khawatir. Beberapa pilar baja dari atas mulai berjatuhan. Serpihan-serpihan atap mulai berjatuhan, menimpa hidung Anjani yang sudah jengkel karena tertutup aroma tanah terus menerus, semakin jengkel karena tertuutp aroma besi dan karatnya yang tajam. Di luar atap, pendaran mantra menyala Mantra masih aktif. Atma hitam menyelimuti mantra itu. Anjani melirik pemuda di hadapannya. Tangan Anjani sekali lagi berdenyut sakit. Siluman tidak bisa menggunakan mantra. Mereka mengubah struktur Bhuana Agung dengan mengintervensinya langsung. Jika butuh mantra untuk mengubahnya, pemuda itu bukan Siluman dari lahir. “Aku hampir merasa kasihan.” Anjani terkekeh. “Kamu hanya dimanfaatkan oleh Tuan yang kamu panggil Dayuh itu.” Pemuda itu menggertakkan gigi. Tampak benar-benar murka. “Akan aku pastikan kematianmu lama dan menyakitkan, Perempuan Lancang!” Ketika sang pemuda melompat dan menerjangnya lagi, Anjani tidak menghindarinya kali ini. Ia menahannya. Mereka berdua beradu kekuatan. Cakar mereka bertemu. Namun Anjani kekurangan satu cakar. Satu cakar sang pemuda masih bebas. Pemuda itu menyeringai penuh kemenangan. Ia mengayunkan cakar ke sisi tubuh Anjani yang terbuka. “Ini kemenanganku,” ujar sang pemuda. Anjani tersenyum miring. “Terlalu cepat untuk menyatakan kemenangan, Bocah.” Tangan kiri Anjani menendang kepala sang pemuda. Di saat tangan mereka berdua masih bertaut. Tendangan itu menghantam cakar sang pemuda yang bebas. Pemuda itu bergerak cepat dengan mencengkam tangan Anjani semakin kuat, memperparah denyut yang sudah sangat menjengkelkan di sana. Pemuda itu sekali lagi menyeringai lebar. Sangat yakin kalau dirinya menang. Anjani membala seringai itu dengan senyuman yang tidak kalah bahagianya. Rasanya merebut kemenangan dari seseorang yang telah yakin menggenggamnya tidak pernah berhenti membuat Anjani ketagihan. “Sayang sekali.” Sementara tubuh Anjani masih di udara, Anjani meraih ke balik gaunnya. Meraih sebilah belati dari sana. Sebuah mata tombak berbentuk taring yang melengkung. Moksala miliknya. “Aku sedang ingin bermain-main denganmu lebih lama … Bocah.” Anjani melemparkan Moksala miliknya ke cakar milik pemuda itu. Seketika menyambarnya. Pemuda itu menjerit keras-keras saat dari dalam senjata itu, keluar petir yang langsung menyala, membakar tubuhnya. Nyala petirnya terang membutakan. Gemuruhnya keras membahana dan menulikan telinga siapa pun yang lacing mendengarkan. Tanah bergetar saking kuatnya sambaran petir itu. Ledakannya menggelegar, hampir tidak mampu diredam oleh tanah di bawahnya. Ledakan sebesar itu seharusnya sanggup menerbangkan seluruh gudang dan menghancurkan segalanya menjadi tidak lebih dari kepulan abu, termasuk Rass yang berdiri tidak jauh dari sana. Tapi pengendalian diri Anjani tidak bertahan lama tanpa alasan. Beberapa saat kemudian, cahaya itu mereda dan tanah tidak lagi bergetar. Suara gemuruhnya yang memekakkan telinga telah selesai. Cahayanya yang membutakan tidak lagi ada. “Astaga…” Anjani memandangi gaunnya sendiri. Gaun itu compang-camping dengan hanya menyisakan beberapa bagian untuk menutupi segala kehormatan Anjani. Warna birunya tertutup oleh bara yang masih menyala di beberapa tempat. Aroma hangus memenuhi tubuh Anjani. Bukan berarti Anjani peduli pada kehormatannya yang mungkin sudah tidak bersisa secuil pun. Tapi gaun itu harus ia ganti nanti. Anjani melirik sekeliling. Sadar banyak besi di sekeliling mereka. “Ah, mungkin karena banyak konduktor di sini.” Anjani mengedikkan bahu, tidak mau memikirkan kerugian dulu saat ini. Kemudian, ia kembali fokus pada pemuda di hadapannya. Seharusnya ledakan seperti itu sanggup menghanguskan Manusia maupun Siluman menjadi abu. Bahkan beberapa yang tubuhnya cukup kecil tidak seharusnya bersisa. Namun sebagai Siluman dan bawahan dari iblis abadi, pemuda itu tidak langsung hangus terbakar jadi abu meski petir yang menyambarnya bercahaya sampai hampir putih. “Wah, wah, luar biasa. Bawahan Kali memang harus aku akui, punya tubuh yang sangat berguna. Aku sampai iri….” Anjani bertepuk tangan pelan, sembari menyaksikan dengan paus ketika tubuh pemuda itu yang hanya menderita sedikit luka bakar, masih kokoh berdiri. Meski pakaiannya telah berubah compang-camping, dengan beberapa bekas hangus yang masih membara di kain itu dan tubuhnya, luka bakar di sekujur tubuh yang membuatnya tampak meleleh, dan beberapa bagian kepala dan wajah yang terbakar, pemuda itu berusaha tetap berdiri. Kedua cakar raksasanya menopang tubuhnya untuk tetap tegap di tanah. Pemuda itu mendongak. Sekali lagi mereka bertatapan. Mata merah pemuda itu dipenuhi tekad yang tidak kunjung padam. Anjani tersenyum menyaksikannya berjuang. Tangannya yang bebas memutar-mutar Moksala Rudra di tangan. Tanpa memedulikan sang pemuda, Anjani mendongak menatap langit-langit. “Mantra yang hebat,” ujar Anjani, tulus memuji untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai. “JIka ini bangunan biasa, bangunan ini sudah akan rata dengan tanah. Mungkin berikut juga bangunan-bangunan yang lain di sekitar sini.” “Kenapa….?” Pemuda itu mencengkam tanah dengan cakarnya. “Apa-apaa itu tadi … tidak mungkin kamu yang bukan orang terpilih … bisa melakukannya. Seharusnya hanya aku yang … aku seharusnya bisa menang mudah….” Anjani terkikik geli. “Kamu suka serangan petir tadi? Mau melihatnya lagi?” Tanpa segan, wanita itu menunjukkan Moksala Rudra ke depan mata sang pemuda. Sepasang mata merah itu mengikuti arah Moksalanya pergi. “Oh, ada apa? Kamu tertarik dengan senjata ini?” Anjani sengaja membuka tangan, memperlihatkan seolah senjata itu tidak berpelindung dan bisa diambil dengan mudah. “Silakan ambil.” Pemuda itu menggertakkan gigi. Ia maju, menggunakan tendangan kaki kali ini. Pisau terlempar dari tangan Anjani. Moksala itu melayang di udara. Sang pemuda melompat lebih dulu dari Anjani. Gerakannya jadi lebih cepat dari sebelumnya, padahal pada kenyatananya tubuhnya terluka. Lalu sang pemuda meraih pisau itu. Ia menyeringai ke arah Anjani yang berdiri di bawahnya. Ia mengenggam pisau kecil itu dengan tangan penuh. Anjani sedikit terkejut. Bukannya menggenggam untuk mengambil alih, pemuda itu menggenggam dengan tujuan untuk menghancurkannya. Darah hitam memancar dari tangan sang pemuda yang dengan nekat menggenggam Moksala Rudra dengan tangan kosong itu. Tapi ia bahkan tidak repot memikirkan tangannya yang terluka parah. “Dengan ini, kamu tidak akan punya kekuatan apa-apa lagi, perempuan kotor!” “Perempuan kotor, ya? Aku sudah terlalu sering mendengarnya…” Anjani tersenyum. Matanya menyipit saking lebarnya ia tersenyum ketika tangan pemuda itu menggenggam Moksala Rudra miliknya. “Bocah bodoh.” Tiba-tiba saja sekujur tubuh pemuda itu tergores dalam ledakan dan embusan angin yang kencang. Daging dan kulitnya tersayat-sayat, seolah ada pisau tidak terlihat mencacah tubuhnya dari segala penjuru. Tidak hanya itu, tubuh sang pemuda juga kejang di udara. Seperti tersengar listrik. Tidak seperti sebelumnya, pemuda itu kali ini bergerak dengan cepat. Ia bereaksi lebih dulu dan melepaskan pisau itu. Tidak lupa, ia sedikit melemparnya. Dan ia mendarat dengan langkah bijaksana: mengambil jarak aman dengan Anjani. Tapi bagi Anjani, kebijaksanaan pemuda itu sudah terlambat. Di atas kepala mereka, Moksala melayang-layang. Benda itu tidak pernah sekali pun terlempar seperti yang dikehendari sang pemuda. Anjani menyaksikan benda itu di sana selama sesaat sebelum mengacungkan tangannya dalam keadaan terbuka lebar, menyambutnya. Pisau itu pun terbang melayang ke arahnya tanpa hambatan. Tepat mendarat dalam genggaman tangannya. Dengan santai, Anjani kembali memutar-mutar pisau itu di tangan. Tanpa tersayat ataupun tersambar seperti sang pemuda. “Moksala ini tidak suka pada orang asing. Maklumi saja ya.” Anjani tersenyum dengan wajah tanpa dosa. “Dia tidak biasa disentuh oleh orang kotor berbau darah sepertimu.” Pemuda itu menghantamkan tinjunya ke tanah, membuat lubang kecil di sana. Atma hitamnya berkobar semakin terang. Anjani menyaksikannya dengan senyum gembira menempel di wajah. Amarah perlahan menelan pemuda itu. “Tidak bisa dimaafkan! Tidak bisa dimaafkan!” Pemuda itu mendongak, menatap Anjani dengan kemarahan yang berbeda dari biasanya. “Aku tidak akan membiarkan kamu mati malam ini! Tidak akan dalam waktu dekat ini, Wanita kurang ajar!” “Siapa yang kamu panggil kurang ajar?” Anjani membalas dengan suara dingin. Seketika udara kembali membeku. Tapi pemuda itu tidak begitu terpengaruh kini. “Tentu saja yang aku maksud adalah dirimu.” Pemuda itu kembali menerjang. “Perempuan sialan!” “Kata-kata itu aku kembalikan kepadamu.” Anjani membiarkan atmanya lepas dan keluar mengaliri setiap nadi dan tulangnya. Mengalir dalam darah dan sukmanya. Warna merah dan biru yang berpadu lenyap. Warna hitan yang mengotori atma-nya memudar. Sebagai gantinya, warna emas menyala dari dalam atma Anjani. Menyala terang seperti cahaya yang terlahir dari balik awan gelap. “Dasar bocah kurang ajar!” Sekali lagi petir menyambar. Namun kali ini bukan berasal dari senjata di tangan Anjani. Petir itu berasal dari luar. Sang pemuda terkesiap saat sambaran petir itu menghantam tanah tepat di depan mata Anjani. Ia terlonjak dan mundur. Dan ia segera membelalak kaget saat melihat atma yang menyelimuti Anjani bukanlah atma hitam ataupun merah dan biru seperti Siluman. Atma emas. Sang pemuda bergidik untuk alasan yang tidak ia ketahui. Ia menyaksikan sulur-sulur atma emas itu menari-nari di udara, menghampiri uluran atma miliknya. Seketika seluruh tubuhnya merinding. Atma emas itu memakan atma hitam miliknya. Ia terlonjak mundur, tapi atma emas itu terus menelan atma hitma miliknya. Membersihkannya kembali menjadi atma merah. “Hei, Bocah….” Ia mendongak ke depan lagi. Menyaksikan tangan Anjani yang berupa cakar telah kembali ke ukuran normal. “Kamu tadi bilang, kamu menemukanku?” Anjani terkekeh. “Jangan membuatku tertawa.” Anjani menghunuskan Moksala di tangannya. Seketika gemuruh terdengar dari langit di atas mereka. Sang pemuda mendongak, menatap dengan heran ketika gemuruh petir terlihat di luar atap yang berlubang. Sang pemuda seketika panik. Ia menatap sekeliling, baru menyadari kurungan mantra miliknya telah hancur dan binasa. Tanpa sisa sama sekali. “Kaget? Ini akibat serangan petir tadi. Aku memusnahkan semua mantra pelindungmu,” ujar Anjani dengan mudah. “Aku ingin nasibmu malam ini menjadi peringatan bagi semua orang. Bagi mereka yang menjadi musuhku.” Pemuda itu kehilangan kata-kata. Ia belum pernah menghadapi serangan yang mampu menghancurkan tembok mantra buatannya dalam sekali serangan. Tembok mantranya adalah yang paling kuat. Butuh Pusaka dewa untuk bisa menghancurkan tembok mantranya. Sadar kemungkinan itu, ia pun melirik Moksala di tangan Anjani. Menduga jika senjata itu adalah Pusaka Dewa. Namun Pusaka Dewa tidak akan menolak saat dihancurkan. “Ah, apa kamu mengira sedang mengira-ngira benda ini?” Anjani menunjukkan Moksala itu kepadanya lagi. Wanita itu terkekeh dengan cara yang paling menghinakan, membuat sang pemuda semakin ingin menyiksanya habis-habisan. “Jangan bilang, kamu juga menduga benda ini Pusaka Dewa?” Anjani tersenyum kepada sang pemuda dengan senyum terbaik yang ia miliki. “Sayang sekali, ini bukan Pusaa Dewa Seperti yang kamu pikirkan—jika itu memang yang kamu pikirkan.” Anjani memperlihatkan mata Moksala yang seperti taring hewan. Senyum Anjani semakin culas. “Jika hal seperti ini saja kamu tidak tahu, artinya kamu tidak tahu banyak ya. Seenaknya memakai nama Dayuh untuk— “Jangan sembarangan menyebut namanya— “Kamu yang jangan sembarangan menyebut nama ibuku!” Seketika itu juga Anjani meledak. Atma emas bertaburan, memenuhi udara. Menerangi malam yang beranjak menuju tengah malam. Sementara di luar sana, gemuruh petir semakin kencang menggelegar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN