32. Petir dan Petaka

4574 Kata

Semua orang terdiam. Seolah membeku di waktu yang sama. Di keterkejutan yang sama. Meski pada kenyataannya, yang terkejut di seluruh ruangan itu hanay satu orang. Kedua mata biru Anjani melotot. Nyala matanya laksana lautan dalam yang dingin dan menyesatkan, penuh kegelapan yang tidak segan-segan menenggelamkan siapa pun yang berani mendekat Amarah yang sebelumnya beku, kini meledak penuh api. Atma emasnya mengikuti gejolak emosi Anjani dan meledak bersama dengan amarahnya yang tidak lagi bisa ditahan. Di luar, petir menjawab panggilan Moksala Rudra. Gemuruhnya semakin ramai dan kencang. Langit semakin gelap dan sambarannya semakin tidak mengenal belas kasih. Tapi Anjani tidak peduli. Ia tidak peduli sekalipun ada yang tersambar petir di luar sana. “Ibu….?” Pemuda itu, untuk pertama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN