Aku menatap kedua tangan dengan tidak percaya. Api membakar kedua tanganku. Nyalanya membara merah, tidak kalah sama sekali dengan cahaya matahari yang bersinar di atas sana. Anehnya, tidak ada panas yang terasa di tanganku. Tidak ada kulit yang terbakar. Tidak ada daging yang meleleh. Tidak ada panas yang menyiksaku, meski api itu berkobar menyala di separuh lenganku. Hanya rasa hangat yang terasa. “Apa … ini?” Api macam apa ini? Tidak membakar atau menyakitiku. Dari mana datangnya? Sejak kapan? Dan kenapa … sarung tangan ini … tidak terasa berat sama sekali? Tidak terasa menutupi tanganku. Hampir seolah … aku tidak mengenakan sarung tangan sama sekali. “Kaget?” Aku mendongak, bersitatap dengan Anjani yang sama sekali tidak kaget. Malahan, gadis itu tampak tersenyum puas. Ia kersed

