Dava membuka pintu apartemennya dengan tidak sabaran karena di dalam sanalah orang yang paling berharga dalam hidupnya saat ini berada. Harusnya Ia tadi pulang lebih awal tapi karena panggilan mendadak dari pihak majalah yang menyewa tenaganya untuk menjadi model dadakan sebuah produk parfum, mengharuskannya menunda acara pulangnya. Hingga baru jam 4 sore ini Ia baru bisa sampai di apartement dengan seragam yang berantakan karena Ia berganti pakaian secara asal tadi. Tidak ingin menunda waktu lagi untuk bertemu dengan isterinya yang begitu Ia cemaskan sepanjang hari ini.
"Yang!" panggil Dava saat dirinya masuk ke dalam apartement dan di suguhkan dengan suasana yang sunyi.
Tidak ada sahutan membuat Dava dengan segera berlari ke lantai atas, di mana kamarnya berada. Dava membuka pintu perlahan, matanya tertuju pada ranjang king size mereka yang berisikan tubuh isterinya yang meringkuk di bawah selimut. Dava melempar tas ranselnya sembarang, yang Ia butuhkan adalah isterinya itu sekarang.
Dava berjalan perlahan, menaiki sisi ranjang. Tangannya melingkar pada pinggang ramping Dea yang masih terlelap. Dava mencium belakang kepala Dea dengan sayang, menghirup aroma strawberry kesukaan Dea. Dea bukan pemilih aroma tertentu namun wanita itu seperti bayi, sangat lembut dan pecinta strawberry dari dulu. Dava selalu tenang dan nyaman berada di samping Dea, di manapun Dea nya berada dan seperti apapun tampilan wanita itu.
Dava tidak berniat membangunkan Dea, juga tidak mau mengubah posisi tidur Dea yang membelakanginya. Tanpa mengganti baju yang melekat pada tubuh kunyelnya juga tidak berniat melepas sepatunya. Dava hanya mengkhawatirkan Dea seharian ini, takut kalau Dea sampai melewatkan makannya atau bahkan untuk buang air kecil karena tidak bisa berjalan. Dava mencium belakang kepala Dea dengan sayang dan senyuman.
Dava melirik nakas, dan beruntunglah Dea telah menghabiskan sarapan dan susunya. Dava juga dapat melihat berbagai kemasan yang berserakan di nakas samping ranjangnya. Menandakan Dea makan siang hanya dengan makanan yang tidak dapat membuat perut kenyang. Dava sengaja meninggalkan berbagai jenis camilan jika sewaktu-waktu Dea lapar. Karena untuk berdiripun Dea sangat kerepotan. Dava mendengus, membayangkan camilan yang tidak bisa membuat isterinya kenyang sama sekali. Ia tadi tidak sempat menyiapkan makan siang yang layak untuk Dea, kenyataan malam pertama membuatnya nyaman berada terus di ranjang dan memeluk isterinya juga membuat Dava harus bangun kesiangan pagi tadi.
"Sudah pulang?" suara lembut itu mengalun indah beserta usapan lembut di tangan Dava yang melingkar di pinggang Dea.
"Sudah, Kamu belum makan?" harusnya tidak bertanya, ke napa jika berhadapan dengan Dea. Cowok seperfect Dava selalu menjadi bodoh, otaknya yang cemerlang mendadak i***t dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
"Aku sudah makan kok, tapi enggak dengan nasi." Dava menghembuskan nafas kasar.
"Maaf." Dea membalikkan tubuhnya yang terasa remuk berhadapan dengan Dava. Tangan Dea terulur untuk mengelus pipi Dava yang bersih tanpa adanya jerawat ataupun bekas jerawat yang menghiasinya. Rahang tegas itu sudah membuatnya merasa nyaman, apalagi saat rahang itu bergerak mengikuti bibir tebalnya saat mengeluarkan suara tegas yang sangat Dea sukai.
"Untuk apa?" tanya Dea tidak suka, karena selalu kata itu yang Dava ucapkan setelah mereka melakukannya hampir 4 jam lamanya. Lagian itu bukan sepenuhnya salah Dava, Dea juga menginginkan suaminya itu menyentuhnya. Mereka menikah memang untuk melakukan ini, bahkan di wajibkan dalam agama. Lalu ke napa Dava meminta maaf padanya?.
"Karena-.".
"Apa Kamu menyesal?" Dava dengan cepat menggeleng karena pertanyaan Dea, Dava tidak menyesal sama sekali. Ini adalah hal terindah yang Dava rasakan seumur hidupnya, akhirnya Dea menjadi miliknya sepenuhnya. Dari mana yang membuat Dava menyesal? Dava menatap Dea dengan lekat, semakin merapatkan tubuhnya pada Dea dengan menarik pinggang ramping Dea.
"Hei apa yang Kamu katakan?" Dava mengubah posisinya dengan menundukkan kepalanya tepat di depan wajah Dea. Hidungnya sengaja Ia gesekkan pada puncak hidung Dea. Di sana! Di mata isterinya Dava dapat melihat kekecewaan Dea yang entah ke berapa kali karena dirinya yang selalu bersikap bodoh dan egois.
"Stt Aku tidak menyesal, Aku hanya takut Kamu marah padaku. Karena Aku tidak bisa menepati janjiku untuk menjagamu, setidaknya sampai Kita lulus nanti." Dea menatap suaminya dalam, jujur Dea tidak suka kata menjaga yang di lontarkan Dava padanya kali ini. Menjaga dalam artian menjaga jarak hanya karena menahan kepuasan yang memang sepatutnya Dava peroleh.
"Aku tidak menyesal ataupun marah, percayalah! Suatu kebahagiaan Aku dapat memenuhi kewajibanku sebagai isterimu." Dava mencium kening Dea, lalu menempelkan keningnya pada kening Dea. Nafas mereka saling beradu satu sama lain, tidak ada yang mereka inginkan selain ke bersamaan ini.
"Aku mencintaimu." 'blush' pipi Dea terasa memanas, namun Ia sadar Ia harus segera membalas pernyataan cinta suaminya.
"Aku juga.".
"Juga apa?" goda Dava dengan menaik turunkan alisnya, Dea menggigit bibir bawahnya. Malu bercampur bahagia selalu mendominasi setiap moment ke bersamaannya dengan Dava.
"Aku juga mencintaimu." Dea menggeret tubuh Dava untuk Ia peluk seerat mungkin untuk menutupi rasa malunya. Dava terkekeh, meski Ia hampir saja meremukkan tubuh Dea jika saja Ia tidak siap dengan eratnya pelukan Dea padanya dan membuat badan besarnya menghimpit tubuh ringkih Dea saat ini. Benar-benar kejutan pergerakan Dea bagi Dava.
"Kita makan." ajak Dava setelah Ia sedikit melonggarkan pelukan Dea dan sedikit membuat jarak.
"Aku belum masak." Dava membantu Dea bangun dari berbaringnya, Dava tersenyum lalu menyelipkan anak rambut Dea yang menutupi wajah cantiknya. Lagi pula Dava tidak akan meminta Dea memasak, sebelumnya juga tidak pernah. Tapi Dea begitu keras kepala dan ingin selalu memanjakan lidah Dava dengan rasa masakan yang pas dari tangan terampil Dea.
"Aku sudah membeli makanan tadi untuk Kita." Dava berdiri dari duduknya, lalu menghadap ke arah Dea.
"Sini." Dea menaikkan satu alisnya karena Dava merentangkan ke dua tangannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu jalan di saat seperti ini." Dava meraih tubuh Dea, tangannya terselip di lekukan lutut dan punggung Dea. Dava membawa Dea keluar dari kamar dengan Dea yang membuka knop pintu untuk mereka. Dea sungguh tidak tahu jika Dava selalu bisa bersikap manis seperti sekarang ini. Dava sudah cukup menjaganya dan sepertinya Dea juga kecanduan untuk selalu di jaga oleh suaminya.
Bagi Dea tidak ada hal yang indah selain hidup dengan orang yang Kita cintai diam-diam dan berbuah kenyataan, Dea mengalungkan lengannya pada leher Dava saat Dava menuruni tangga menuju ruang makan mereka.
"Ke napa?" tanya Dava saat menangkap basah Dea yang terus tersenyum.
Dea menggeleng di bahu Dava membuat Dava terkekeh gemas.
"Aku akan siapkan makanannya, hari ini Aku yang akan melayanimu Angel." lagi-lagi. Kata-kata Dava membuat pipi Dea memanas, ke napa sih Dava suka sekali buat Dea merona? Pria itu sudah mendudukkan Dea di kursi makan dengan pelan dan lembut.
Dava mengusap puncak kepala Dea, tidak lupa dengan senyum menawannya setelah mendudukkan Dea pada kursi makan
"Baiklah.".
Dea menatap Dava yang gesit menyiapkan makanan untuk mereka, lalu membuat s**u coklat kesukaan Dea dan kopi hitam untuk Dava. Entah ke napa jantung Dea seolah berlari marathon melihat Dava, terlihat jauh lebih seksi dan maskulin.
Dea menelan ludah lalu dengan cepat menggeleng, menghalau pikiran kotornya dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ke napa?" tanya Dava berlutut di depan Dea, bahkan Dea sampai tidak sadar. Sejak kapan Dava ada di hadapannya? Pergerakan pria itu begitu cepat, hanya saat Dea memalingkan wajah saja Dava sudah ada di hadapannya.
"A-ah enggak apa-apa." jawab Dea terbata, Dava tersenyum. Mengecup punggung tangan Dea dengan mata yang terus mengarah pada wajah cantik Dea.
Dava menggeret kursi di sebelahnya untuk mendekat dengan tempat duduk Dea.
"Aku yang suapi." Dea mengangguk patuh, untuk menghilangkan degup jantungnya. Meski nyatanya semakin kencang apalagi di jarak yang sedekat ini.
****
Madiun, 28 September 2020