023. Flashback (")

1042 Kata
Nyatanya rasa syukur tidak berlangsung lama, pemandangan di depan matanya saat Ia ke luar dari walk in closet membuatnya marah pada dirinya. Dea, meringkuk di atas ranjang dengan membelakangi tubuh Dava. Apalagi pendengaran Dava menangkap suara isakan kecil dan tubuh bergetar Dea di bawah selimut yang menutupinya hingga batas leher. Hati Dava mengutuk ke cerobohannya, karena tanpa Ia sadari telah melukai hati malaikat isterinya. Dava harusnya tidak lupa bagaimana Dea yang begitu lembut, menerima sikap arogannya dulu. Lagi Dava hanya mampu membuang nafas panjang dengan tingkahnya yang seperti sama sekali belum mengenal Dea, isterinya. Dava menaiki ranjang dengan hati-hati, agar tidak membuat Dea terkejut dengan kehadirannya. "Hei Sayang, ada apa?" tanya Dava, harusnya Ia tidak bertanya seolah tidak terjadi apa-apa. Hello? Ini salahnya, Ia tahu perubahan sikapnya pada Dea membuat Dea mungkin sedikit trauma. Dan sebagai seorang pria, Dava sangat-sangat begitu menyesali ke lakuannya di masa lalu. Ke lakuannya yang seperti banci jika Dava boleh meledek dirinya sendiri kala itu. Bahkan sampai sekarang Dava sering kali melakukan hal-hal yang tanpa sengaja masih melukai Dea. Dava memaksa membalikkan tubuh Dea, karena pertanyaannya sama sekali tidak di respon oleh Dea. Berhasil! Dava dapat melihat jejak-jejak air mata di pipi Dea, bagus! Dava mengejek dirinya sendiri atas ke bodohannya hari ini. Namun lagi hanya gengsi selangit yang Ia junjung tinggi sampai saat ini. "Ada apa?" ulang Dava, yah Ia malah pura-pura tidak terjadi apa-apa. 'Bagus Dava!' batinnya mengejek, bertarung dengan orang lain itu mudah yang paling tidak bisa Kamu lawan adalah dirimu sendiri. Dava tahu pepatah itu, sangat cocok dengan dirinya namun Dava masih tidak mau membantah egonya itu. Dea menggeleng. "Maaf!" tuhkan, terbuat dari apakah isterinya ini ya Tuhan. Di sini Dava yang menyadari ke salahannya namun sayangnya belum terealisasi pada isterinya, ini malah Dea yang minta maaf dulu. Dengan suara seraknya yang membuat Dava semakin bersalah. Padahal harusnya Dea bertanya atau memaki dirinya saja, bukan seperti ini. "Kamu enggak salah, Aku yang terlalu bodoh Yang. Maaf." Dea memaksakan senyumnya, dengan kasar tangan halus Dea mengusap bekas air mata. "Ada hal yang Kamu sembunyikan?" Dava menggeleng atas pertanyaan Dea, tidak mungkin Ia harus jujur pada Dea bukan? Dava tidak mau merusak Dea sebelum waktunya. "Tidak penting." Dea tidak menyerah, Ia tahu Dava sekali. Apalagi ketika pria itu sudah menerima cintanya, Dea berusaha untuk mengenal lebih jauh Dava. Ia tidak kecewa jika Dava belum mau terbuka padanya. Dea memang selalu memberikan waktu pada Dava, tapi dari mata Dava itu Dea tahu jika ada hal yang sudah Dava sembunyikan. Entah Dava yang ragu atau memang Dava sengaja menahan itu untuk melindunginya, seperti saat Dava bekerja namun tidak berbicara pada Dea, hanya karena untuk Dea. "Aku isterimu bukan?" tanya Dea, Dava memejamkan mata. Sangat sulit bagi Dava jika Dea sudah berbicara dengan statusnya untuk Dava. "Ya Kamu isteriku, tapi Aku sudah berjanji akan menjagamu." Dea menaikkan satu alisnya, Dava hanya mampu tersenyum. Senyum yang kentara sekali untuk di paksakan, Dea dapat melihat pancaran lain dalam mata indah suaminya. "Kamu sudah menjagaku, jadi Kamu katakan apa yang membuatmu resah?" Dava memeluk Dea erat, dan hal itu membuat Dea bingung. Bingung karena Dava mencoba menghindari tatapan matanya dengan posisi kepala Dava yang ada di puncak kepala Dea. "Maaf karena Aku terlalu bodoh, maaf Aku tidak bisa menahannya lagi Yang." suara bisikan Dava tepat di depan wajah Dea membuat Dea memejamkan matanya. Aroma mint menguar hangat di permukaan kulitnya, Dea mencerna setiap kata yang ke luar dari bibir kissable milik Dava Dea mulai tahu apa yang di inginkan suaminya tampannya, setelah mendengar suara serak Dava. Awalnya Ia terkejut tapi Dea tahu Dava adalah pria normal. Apalagi mereka sering melakukan skinship dan realitanya adalah Dea serta Dava sudah menikah. Jadi hal wajar jika Dava merasakan hal itu, apalagi di Apartement ini hanya ada mereka berdua. Dea mengusap d**a bidang Dava, membuat Dava semakin ke hilangan arah. Dava tidak tahu, Dea melakukan ini sengaja atau memang hanya untuk menenangkan ke kalutan Dava. "Yang hentikan!" Dava mencoba menegaskan katanya. Bukannya berhenti Dea malah merapatkan badannya pada Dava. "Just do it!". "Karena cepat atau lambat Kamu menginginkannya, Kamu pria normal dan Aku tahu itu. Sudah ke wajibanku sebagai isterimu." bisik Dea tepat di depan leher Dava dengan sengaja menghembuskan nafas lembut di sana. Seperti Dea benar-benar sengaja menggoda Dava, jakun Dava naik turun. Nafasnya memburu dan juga air ludahnya beberapa kali di telannya. Dava melebarkan matanya saat Dea merapatkan tubuhnya lalu sedikit menyisakan jarak di antara mereka. Tidak, Dava tidak boleh begitu mudah tergoda oleh Dea. "Yang tapi-!" Dea menekan bibir Dava dengan telunjuknya lalu menggeleng. "Aku sudah menyiapkan diriku sejak awal Aku menerima perjodohan ini. Apa Aku tidak menarik bagi suamiku?" tanya Dea di akhiri kekehan yang membuat Dava semakin gemas dan mencintai Dea. Dava dengan cepat menindih tubuh Dea, karena libidonya yang naik sejak pagi tidak bisa di redam meski Ia mandi air dingin. "Maaf jika Aku menyakitimu." ucap Dava tulus menatap manik mata Dea, seolah sekali lagi meyakinkan Dea. Dea menggeleng, dengan sedikit ragu Dea mengalungkan lengannya pada leher Dava dan tersenyum manis. Menghilangkan ke raguan Dava, meski nyatanya Ia juga takut. Dea sering membaca buku dan website mengenai hal itu sebelumnya, untuk pengalaman pertamanya. "Kamu tidak akan menyakitiku.". Flashback Off Dava benar-benar tidak dalam mood baik hari ini, membayangkan bagaimana panasnya pergulatan mereka semalam. Di tambah kondisi Dea yang harus berada di rumah karena ulahnya, Dava membuang nafas kasar. "Lo ke napa sih Dav?" tanya Zacky, begitupun juga Bintang Arsya yang menatap Dava penasaran. "Enggak apa-apa." jawab Dava dengan lesunya "Dava, Kamu ke napa hari ini?" tanya Fani dengan tiba-tiba duduk di kursi seberang Dava dan Arsya. "Ini kutil ke napa sih ngikut mulu!" ucap Bintang dengan nada tidak sukanya, Fani memutar matanya malas. Dulu mereka dekat saat masa Fani dan Dava pacaran, tapi setelah apa yang di lakukan Fani. Hubungan baik itu nampaknya juga ikut hancur terbawa hancurnya ke percayaan mereka pada Fani. "Iya, Gue juga bosen!" jawab Zacky menimpali, Arsya hanya mampu menggelengkan kepala melihat interaksi teman satu kelasnya. "Sya, Lo minggir bentar bisa?" tanya Fani pada Arsya, Arsya hanya mampu mengangguk. Fani duduk tepat di samping Dava, tempat duduk Arsya tadi. Belum sempat Fani duduk nyaman Dava beranjak lalu menyampirkan tas ranselnya pada bahunya. "Bin Zack, Kita cabut! Edo sudah nunggu Kita di tempat biasa." ajak Dava pada ke dua sahabatnya tanpa sekalipun melirik ke arah Fani, Dava sibuk memainkan ponselnya membalas pesan Edo. Dava berjalan terlebih dahulu di ikuti Bintang dan Zacky yang merangkul bahu tegap Dava. **** Madiun, 24 September 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN