Dava merutuki ke bodohannya, dan Ia selalu mengumpat tatkala pagi tadi Ia mendapati isterinya yang tidak bisa berjalan karena ulahnya. Ya setelah para sahabatnya itu pulang Dava menyerang tubuh isterinya.
Dava beruntung isterinya tidak sampai pingsan karena ini juga yang pertama bagi Dava, sebenarnya Dava takut akan hilang kendali saat menyerang Dea. Untung otaknya masih dapat berpikir jernih dan menghentikan pergulatan mereka.
Sejak pagi Dava sudah merasakan hal yang tidak biasa pada tubuhnya, seolah ingin berada terus di dekat Dea. Dava yang tidak bisa berfokus pada latihan soal kemarin sudah menjadi pertanda bahwa otak dan tubuhnya sudah di racuni oleh rengekan setan dalam tubuhnya.
Tidak dengan paksaan memang tapi Ia sendiri sudah berjanji akan menjaga Dea hingga mereka lulus, tapi ke nyataannya otak dan tubuhnya sama sekali tidak bisa di ajak kerja sama. Dan akibatnya Dava benar-benar hilang fokus di pelajarannya, pikirannya hanya ada pada Dea yang berada di rumah sendirian.
Dava ingat betul bagaimana Dia berperilaku layaknya orang gila kemarin.
Flashback On
Dava mengusap wajahnya kasar saat Ia melihat Dea yang selalu memperhatikannya, bukannya Ia tidak suka. Hanya saja Ia tetaplah laki-laki normal yang tetap mempunyai sisi di mana libidonya naik ke level tertinggi. Bukan hanya karena perhatian saja tapi juga karena ke dekatan mereka yang intim.
Biasanya Dava dapat menahan semuanya, akal yang tidak sehatnya. Tapi entah ke napa hari ini Dia benar-benar ke susahan untuk menahannya, berkali-kali Dava mengalihkan matanya untuk tidak menatap Dea. Hingga Dia rela berendam air dingin hingga belajar bersamanya Ia tinggalkan. Padahal hanya menatap Dea dan rasa lapar itu semakin menyiksanya, otak warasnya sedikit demi sedikit terkikis oleh sengatan-sengatan kecil yang menjalar di tubuhnya kala Dea menatap matanya.
"Ada apa?" tanya Dava saat Dea masuk ke dalam kamar mereka.
"Ti-tidak!" Dava menggeram karena suara Dea yang gugup malah membuat pikirannya sangat sulit di kontrol, selalu saja menggemaskan bagi Dava.
"Baru selesai mandi?" tanya Dea, Ia berjalan mendekat ke arah Dava. Tangan Dava terkepal dan matanya terpejam agar Ia tidak dapat melihat gerak-gerik Dea yang menurut Dava hari ini seperti gerakan erotis serta suara Dea yang terkesan manja di pendengaran Dava.
"Astaga!" keluh Dava saat tangan Dea memegang lengannya, Dea reflek bertanya karena ke terkejutan Dava saat Ia memegang lengan suaminya.
"Ada apa?" tanya Dea, Dava membuka matanya. Mencoba mengalihkan tatapan matanya ke arah lain namun benar-benar sulit.
"Hentikan De!" geram Dava, sentuhan Dea bagai sengatan listrik di kulit Dava. Dea menaikkan satu alisnya tidak mengerti dengan sikap Dava yang sangat berbeda hari ini.
"Mau ke mana?" tanya Dea dengan memegang erat lengan Dava saat Dava akan beranjak, padahal kepala Dea sudah di penuhi tanda tanya besar mengenai sikap Dava hari ini.
Dava menghentikan langkahnya, tidak menoleh ke arah Dea.
"Ada apa sebenarnya?" Dava mengumpat dalam hati. Ingin sekali Dava menjawab tidak ada yang terjadi, hanya Aku yang bermasalah di sini. Namun semua itu hanya tercekat di tenggorokan dan tidak dapat Dava ke luarkan sama sekali.
"Aku ingin ke kamar mandi!" jawab Dava datar saat memang hanya alasan itu yang dapat Dava berikan untuk Dea, Ia mulai melepaskan jari-jari Dea pada lengannya.
Dea sedikit takut kali ini, apalagi nada datar dari Dava seolah membawanya kembali di mana hari-hari yang belum indah seperti akhir-akhir ini. Meski begitu, Dea tidak melepaskan jarinya.
Dea malah memeluk Dava dari belakang, tidak membiarkan Dava pergi. Dea takut benar-benar takut akan ke hilangan Dava lagi, dan Dea sama sekali tidak ingin hal itu terjadi lagi dalam hidupnya. Cukup sekali saja dan itu sudah cukup Dea lalui.
Ya Dea takut, setelah ini sikap Dava akan kembali dingin padanya. Makanya Dia sangat berani memeluk Dava, tidak membiarkan Dava melepas jari-jarinya dari lengan hangat pria itu.
Jangan tanya Dava, tubuhnya sangat tegang. Sentuhan Dea benar tanpa Ia duga, Dava mendongakkan kepalanya. Menetralkan segala ke gilaan tubuhnya yang menginginkan Dea.
"De, please lepasin!" ucap Dava, Ia tidak ingin ambil resiko akan menyerang Dea saat ini juga. Ia tidak ingin Deanya marah atau bahkan menyesal telah mencintai Dava.
"Enggak, Ak-aku takut." Dava menahan dirinya dengan susah payah, untuk sekedar tidak membuat Dea takut Ia saja tidak becus. Dava terus mengumpati dirinya sendiri, wanitanya begitu baik dan lembut. Ia tidak sanggup untuk menggores luka lagi untuk Dea. Cukup dulu saja sikapnya begitu kurang ajar ke Dea, tidak dengan kali ini.
Dava memutar tubuhnya, memaksa Dea melepaskan pelukannya.
"Maaf membuatmu takut." ucap Dava dengan lembut, Ia menatap manik mata Dea yang sudah berkaca-kaca dan Dava akan sangat marah pada dirinya jika sampai Dea menangis karena ulahnya. Matanya memang berkabut oleh gairah, namun Ia bukan pria gila yang akan memaksa Dea untuk memenuhi ke inginan bodohnya.
Dea menggeleng.
"Katakan apa Aku bersalah padamu?" kini giliran Dava yang menggeleng lemah.
"Bukan padamu, tapi Aku yang bermasalah di sini." Dea menaikkan satu alisnya masih tidak paham dengan pembicaraan mereka ini.
"Istirahatlah!" ucap Dava, tidak ingin lebih lama lagi tersiksa karena harus menanggapi Dea. Dava melepaskan pelukannya pada Dea dan berjalan dengan langkah cepat menuju kamar mandi. Ia akan berendam lebih lama lagi untuk menetralkan setiap otot Dava yang entah ke napa begitu rusak hari ini.
Dea menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan pandangan nanar, tanpa adanya penjelasan lanjut. Dan kali ini Dava benar-benar membuatnya bingung, Dea hanya bisa membuang nafas dan menunggu Dava dari kamar mandi dengan perasaan cemas.
Hingga 30 menit lebih Dava tidak kunjung ke luar, bahkan suara shower terus saja mengalir dan Dea mulai di landa panik. Bagaimana kalau Dava sakit atau demam karena mandi terlalu lama, apalagi ini sudah malam dan mandi di malam hari tidak baik untuk tulang-tulang Dava yang memang masih dalam masa pertumbuhan.
"Dav." panggil Dea dengan mengetuk pintu kamar mandi, tidak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dengan Dava yang mengenakan handuknya yang di lilitkan di pinggang.
Dava tersentak dengan ke dekatan tubuhnya dengan tubuh Dea,'astaga!' batin Dava menjerit lagi. Seolah berendam yang Ia lakukan dua kali dan menyirami dirinya di bawah shower teramat sangat sia-sia, nyatanya sekarang libidonya naik lagi. Dava menggeram tertahan, Ia mengayunkan kakinya.
Dava mencoba mengacuhkan Dea dengan melewati tubuh indah isterinya itu, berharap Dea tidak mengikutinya menuju walk in closet. Dan beruntungnya Dava akan hal itu. Sungguh hari ini benar-benar gila bagi Dava, sejak Dava memperhatikan Dea. Setan dalam dirinya sudah mengusik ke tenangan Dava untuk belajar bersama dan lebih fokus pada Dea.
****
Madiun, 19 September 2020