021. Menahan

1068 Kata
Hari-hari berjalan sangat cepat bagi kelas 12, bagaimana tidak? Seminggu lagi mereka akan ujian nasional hingga mereka di sibukkan dengan try out bimbel dan juga tugas-tugas yang berisikan latihan. Dea dan Dava serta ke empat sahabatnya juga sama, mereka setiap harinya berkumpul untuk belajar bersama. Saling mengisi jika salah satu dari mereka ada yang tidak paham atau tidak bisa mengerjakan tugas yang berisi latihan ujian mereka. "De, Gue enggak bisa dengan trigonometri yang ini." Sinta menunjuk buku tugasnya pada Dea, agar Dea membantunya. Sekarang mereka mengelilingi meja ruang tengah apartement Dava dan Dea, meja yang sudah beralih menjadi perpustakaan yang sangat berantakan karena buku yang terbuka dan entah tidak berurutan menjadi satu. Tapi selalu akan mereka rapikan setelah mereka selasai belajar, setiap hari begitu. Jadi Dea tidak masalah akan hal itu. Tidak hanya latihan matematika tapi juga latihan-latihan dari mapel lainnya, mereka benar-benar serius akan ujian kali ini. Ujian yang menentukan nasib mereka selanjutnya, apalagi bagi mereka yang ingin kuliah. Tentu tidak ingin nilai mereka merosot di akhir-akhir perjuangan mereka sebagai siswa SMA. Mereka berenam kompak untuk membuktikan bahwa nilai mereka patut untuk di perhitungkan di Universitas nantinya. Lagi pula dengan nilai hasil ujian yang bagus akan menambah motivasi mereka untuk belajar nantinya. Dava menumpu dagunya menatap Dea yang sangat serius mengajari Sinta, bahkan kadang Dea mendongak seperti merapalkan dan mengingat-ingat sebuah kamus. Dava tersenyum, Ia mengakui bahwa Dea adalah gadis baik yang mempunyai banyak ke lebihan. Terutama dalam melayaninya, Dea sangat pandai dalam bidang yang satu itu. Wajah serius Dea benar-benar cantik, saat mata itu bergerak dengan kedipan yang cepat maupun lambat begitu indah. Sempurna lagi karena bulu mata Dea yang begitu lentik dan hitam. "Woi Lo Dav, jangan lihatin Dea mulu! Buku lho sampai Lo anggurin!" Dava yang sadar akan teriakan Bintang  membuyarkan pandangannya pada Dea berdecak sebal. Tidak terima dengan teriakan Bintang juga yang membuat objek yang menjadi fokusnya juga kini menatapnya. "Pengganggu!" omel Dava yang beranjak dari duduknya menuju ke arah dapur, Dava kesal dan rasa haus sudah memenuhi tenggorokannya saking kesalnya. Dea yang melihat tingkah Dava hanya menggelengkan kepalanya. "Gila tuh Dava, pakai salting lagi." Zacky terkekeh atas ucapan Bintang yang memang sengaja menggoda Dava. Padahal muka Dava sudah asem banget sejak Bintang tahu jika Dava memperhatikan Dea sejak tadi. "Memang Dava suka kaya begitu ya kalau salting?" tanya Rara kepo akutnya yang tidak tertolong dalam mode on, Bintang mengangkat bahu acuh pada pertanyaan Rara yang tidak penting sama sekali untuk Ia jawab. "De." panggil Zacky, Dea mendongak menatap Zacky yang mengangkat gelas minumnya yang telah kosong. "Gue minta minum lagi." Dea mengangguk lalu beranjak dari duduknya, mengambil gelas Zacky dan mengambil langkah. Namun sebelum itu Dea memutar matanya pada semua orang. "Kalian juga mau nambah lagi enggak?" tanya Dea pada yang lain. "Iya deh De, gila matematika ini bikin otak Gue gersang." ucap Bintang yang tidak tahu arah, di sini yang banyak enggak ngerti soal matematika cuma Bintang dan Zack yang memang cetek dalam pelajaran itu. "Ye apa hubungannya?" omel Sinta menggeplak kepala Bintang. "Yaelah Lo kalau sama Gue ngegas mulu deh Ta." keluh Bintang dengan mengelus kepalanya. Karena nyatanya mereka memang jarang terlihat akur. Sinta mencebikkan bibirnya tidak merasa bersalah sama sekali dengan kelakuannya. Bintang mendesah, Dea terkekeh merasa terhibur akan ke hadiran mereka di apartrmentnya. Biasanya Ia akan sendiri di apartement saat suaminya itu sedang pergi. "Jadi siapa yang mau tambah lagi?" tanya Dea lagi sebelum Ia benar-benar melangkahkan kakinya menuju dapur. "Gue ya Dea.". "Gue juga ya De." tambah Rara, Dea mengambil gelas dari semua sahabatnya lalu berjalan ke arah dapur. Belum sempat Dea masuk lebih dalam ke dapurnya, pemandangan di depannya membuatnya mengurungkan niatnya untuk ke arah dapur. Suami tampannya itu duduk di kursi makan dengan kepala yang di telangkup di atas lengannya. Dea berjalan ke arah Dava, mengusap dengan sayang kepala suaminya. "Ke napa tidur di sini?" tanya Dea  lembut, Dava hanya bergumam untuk membalas pertanyaan Dea tanpa merubah posisinya. Dea menarik kursi makan yang lain menghadap ke arah Dava, satu lengannya Ia gunakan untuk menumpu kepalanya agar dapat melihat wajah suaminya dari samping. Dea menyusuri tiap inci wajah tampan Dava dengan telunjuknya, mencoba mengusik Dava. Mulai dari pelipis, depan telinganya lalu turun ke rahang samping tegas Dava. Sedangkan Dava hanya diam, membiarkan Dea menyusuri samping wajahnya. Ia juga merasa nyaman jika Dea yang menyentuh bagian tubuhnya, dengan Dea menyusuri sebelah bagian wajahnya. Dava sangat yakin Dea juga merasakan hal yang sama sepertinya. Mengagumi ke indahan yang terpahat hampir sempurna, Dava percaya ke senpurnaan hanya milik Tuhan. "Kamu lelah?" tanya Dea lembut, Dava membuka matanya tanpa berniat mengubah posisi kepalanya. Mata mereka bertemu, seolah saling mengunci dan enggan untuk saling melepaskan. Seperti tatapan mata mereka saja sudah mampu menyalurkan segala rasa yang ada dalam diri mereka. "Mereka sudah selesai?" tanya Dava setelah sekian lama hanya saling menatap, Dea menggeleng "Belum, Aku mau ambilkan mereka minum." jawab Dea dengan mengarahkan pandangan pada nampan yang berisi gelas kosong. Dava mendengus lalu menatap isterinya dengan jengkel. "Ya sudah gih sana Kamu buatkan!" Dava beranjak dari duduknya, Dea mengerutkan dahinya. Dea terus menatap punggung Dava yang menaiki tangga hingga tidak terlihat lagi. Dea berpikir apakah suaminya itu sedang lelah? Terlihat dari wajah Dava yang lesu, mungkin iya? Dea menaikkan bahunya lalu melanjutkan ke giatannya yang tertunda, membuatkan semua sahabatnya minum dan segera menyelesaikan latihan soal yang memang masih menumpuk. Setelah ke pulangan sahabat-sahabatnya Dea kembali ke kamar, Dea merasa ada yang sedikit aneh dari Dava. Entah apa? Yang jelas sampai pertemuan tadi di dapur Dava sama sekali tidak kembali lagi untuk belajar bersama. Padahal sahabatnya menanyakan ke beradaan Dava, dan Dea bilang bahwa Dava ke lelahan. Dea juga belum tahu ada apa dengan suaminya itu, merasa penasaran juga dengan sikap Dava yang dingin tadi. Dea memutar knop pintu kamarnya, pandangan matanya tertuju pada tubuh tinggi Dava yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Bukan yang pertama memang tapi tetap sama membuat jantung Dea berdetak lebih cepat dan juga pipinya terasa memanas hingga ke ujung telinganya. "Ada apa?" tanya Dava, Dea berkesiap. Dengan suara terbata Dea menjawab pertanyaan Dava. "Ti-tidak." Dea dengan salah tingkah menutup pintu dengan terus merutuki ke bodohannya yang malah gugup di depan Dava. Pasti Dava mencurigai sikapnya yang selalu gugup berlebihan itu. Dava sendiri hanya mampu mendesah panjang, isterinya itu ke napa di saat-saat seperti ini tidak peka? Atau Dava harus membuat kode-kode untuk membuat Dea tahu apa mau Dava sesungguhnya. Rumus rumit dalam matematika saja Dea mampu memecahkannya dengan mudah, lalu ke napa tidak dengan ke inginan Dava? Menahan itu sama dengan menunggu, sungguh membosankan dan Dava sebenarnya tidak ingin mersaan perasaan bosan itu. **** Madiun, 17 September 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN