020. Bersama

1045 Kata
Dea sudah berada di rumah dengan pulang bersama Dava. Dengan acara drama penculikan segala, perempuan 18 tahun itu mengerucutkan bibirnya karena Dava membekap bibirnya tadi saat Dea baru ke luar kelas dan memboyong Dea sampai parkiran. "Sudah dong Yang marahnya, dosa lho kalau suami enggak di layani. Padahal suami Kamu ini haus banget." Dea menekuk wajahnya, sejak kapan Dava menggunakan jabatannya sebagai suami untuk mengancamnya? Apalagi wajah serius Dava yang sengaja di buat-buat oleh suaminya itu. "Aku kesal ya sama Kamu!" kata Dea berusaha tidak tertekan dengan ancaman Dava. Membuat wajahnya tetap datar dan tidak hiraukan ke beradaan Dava. "Oh mau durhaka sama suami Kamu ya?" goda Dava lagi, Dea mendengus. Dengan kaki di hentakkan ke lantai karena kesal, Dea beranjak menuju dapur. Mengambilkan air minum untuk suami tercintanya itu, ya walau marahpun Dea akan tetap menuruti permintaan Dava. "Ini!" Dava tersenyum manis ke arah Dea yang masih marah padanya. "Sini!" Dea menurut saat Dava menepuk pahanya agar wanita itu duduk di pangkuannya. Dengan bibir mengerucut Dea duduk di pangkuan Dava, tangannya bahkan bersidekap d**a angkuh seolah perlakuan manis Dava tidak mengubah rasa amarahnya. Lagian Dava  juga hanya ingin menggoda Dea kan? Bukan benar-benar serius dengan segala ucapannya. Dava melingkarkan tangannya ke pinggang Dea. "Tanyakan apa yang ingin Kamu tahu!" pinta Dava, Ia memulai untuk Dea terbuka padanya. Apapun yang Dea ingin tanyakan Dava siap menjawabnya dan jika Dea ingin mengeluhkan segala hal Dava juga siap untuk memberi sandaran wanita itu. "Harusnya Kamu ceritakan apa yang Kamu sembunyikan dariku." Dava tersenyum, isteri penurutnya ke napa jadi pintar sekali membalikkan kata? Sungguh Dea begitu pandai membuatnya selalu mengalah. "Baiklah." pasrah Dava akhirnya, tidak ingin menambah suasana canggung dengan isterinya beberapa hari ini. "Tatap Aku!" Dea menatap ke arah Dava yang menatapnya lembut penuh cinta, senyum pria itu tidak luntur dan semakin bertambah manis. "Sejak Aku memutuskan menerimamu sebagai isteriku, Aku adalah pria yang harus bertanggung jawab." Dea merasa Dava berkata jujur tentang hal ini, pria itu benar-benar serius dan Dea sudah merasakan perubahan pada suaminya itu. "Jadi Aku mulai melakukan tanggung jawabku sebagai suami dengan bekerja." mata Dea melebar, tangannya yang bersidekap Ia gunakan untuk menutup mulutnya karena terkejut. Ia tidak tahu tentang pekerjaan Dava dan alasan Dava begitu klasik tapi membuat hatinya bergetar hebat. Hanya karena sebuah rasa tanggung jawab Dava rela menahan rasa lelahnya setelah sekolah dan bekerja. Ia tidak tahu ke napa Dava melakukan itu hanya karena tanggung jawab, padahal orang tuanya sudah membiayai hidup mereka sampai mereka dapat mandiri. Itu cara orang tua mereka untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua juga karena perjodohan yang mereka lakukan. Dava tersenyum, maklum dengan reaksi Dea. "Aku kerja sebagai guru private basket di sekolah dasar dan di hari minggunya Aku kerja di agensi model yang baru weekend kemarin Aku sanggupi setelah Aku memikirkannya selama 6 bulan terakhir." Dea tidak dapat berkata-kata rasa marahnya menguar begitu saja. "Aku tidak terikat kontrak, Aku hanya model yang siap panggil dan bisa menolak. Aku tidak selamanya bisa sembunyikan ini dari isteriku, jadi Aku tidak mau jika terikat kontrak. Barangkali isteriku tidak rela jika suaminya menjadi model." Dava terkekeh di akhir kalimatnya, Dea mengerucutkan bibirnya. Namun rona merah terpencar di pipinya, hingga membuat Dava begitu gemas. Tangan Dea melingkar di leher Dava, senyum terbit di dua sudut bibirnya. "Mana mungkin Aku marah jika suamiku adalah suami yang selalu berusaha jadi yang terbaik dalam hidupku, Aku hanya ingin Kamu tidak menyembunyikan apapun dariku. Aku tahu Kamu pria yang lebih dari kata baik, Aku bahkan selalu merasa beruntung karena mencintai pria sepertimu. Aku tidak melarang, tapi Aku hanya bisa meminta agar Kamu tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Aku cukup hidup bersamamu dengan usaha yang biasa tanpa merugikan dirimu, ke sehatanmu dan juga jangan mengurangi perhatianmu padaku." Dava mengacak rambut Dea, bagaimana Dava tidak akan luluh dan jatuh cinta jika Dea mempunyai sisi yang selalu berbeda dan menerimamya. Oh Dava! Dava tidak akan pernah mampu untuk melepaskan Dea seumur hidupnya. Dava mengecup bibir Dea sekilas, senyum manis Ia berikan pada cinta terbaiknya. "Aku janji, Aku akan mengurangi ke giatanku dan tidak akan mengurangi perhatianku padamu." Dea terkekeh. Dea mendekatkan wajahnya pada Dava. "ILY Hubby." Dava tersenyum, ini kali pertama Dea mengungkapkan cintanya padanya. Selain Dea yang harus membalas ungkapan Dava yang lebih dulu. "ILY more Wifey." Dava merasakan jantungnya berdegup kencang dan hatinya bergetar  bahagia. "Ini kalung pertama dari hasil kerja Kamu?" Dava mengangguk karena Dea yang menunjuk kalung pemberiannya yang nampak indah tepat di leher sang isteri. Ini memang hadiah pertama dari hasil jerih payahnya untuk Dea, dan Dia begitu bangga dengan apa yang Ia dapat. Apalagi Dea begitu menyukai hadiah pemberiannya itu. "Hasil pertama dari jadi model tepatnya." Dea mengangguk, Ia tidak ingin tahu berapa uang yang di hasilkan Dava menjadi model. "Untuk hasil dari Aku jadi guru private, Aku persiapin untuk masa depan Kita nanti. Selama Kita sekolah dan kuliah Kita tetap pakai uang yang di berikan orang tua, Aku takutnya mereka marah karena-." Dea menutup bibir Dava dengan bibirnya, saat Dea akan melepas kecupannya. Dava segera menarik tengkuk Dea mendekat dan memperdalam ciuman yang telah di mulai oleh Dea. Dava melepas pagutannya pada bibir Dea karena tidak ingin ke hilangan kontrol tubuhnya, Ia pria normal meski masih sekolah tapi Ia sangat pandai mengendalikan diri untuk tidak membawa Dea ke kamar mereka. "Kamu ingin kuliah di mana?" tanya Dea pada Dava, Dava diam. Memikirkan bagaimana reaksi Dea jika Ia tahu, dan lagi Dava juga belum siap jika harus memberitahu sekarang. "Mungkin Aku ambil bisnis, tapi enggak tahu mau kuliah di mana. Kamu sudah dapat tempat kuliah?" tanya Dava, Dea mengangguk antusias. "Aku ingin kaya Papa, jadi Aku rasa Aku akan ambil ke dokteran." mata Dava melebar, Ia sama sekali tidak tahu kalau Dea sangat menginginkan jadi Dokter seperti Papanya. "Ke napa Kamu ingin sekali ambil ke dokteran?" tanya Dava ingin tahu, Dea tersenyum memeluk Dava serta menaruh dagunya di bahu Dava. "Aku suka lihat saat Papa akan berangkat kerja dengan seragam Dokter, terlihat keren! Tapi bukan itu saja tapi tujuan dari menjadi Dokter yang menurutku sangat mulia." Dava mengusap punggung Dea yang ternyata sangat mengidolakan Papanya, di lihat dari Dea yang antusias dalam menceritakan bagaimana Dea melihat Papanya setiap pagi. "Apapun yang Kamu impikan, Aku rasa Kamu akan dengan mudah meraihnya." 'termasuk hatiku' lanjut Dava dalam hati, ya Dava yang hatinya beku dengan mudah di robohkan oleh seorang Deandra Navela. Gadis penurut dalam keluarga Navela yang sudah Ia nikahi dan Dava adalah pria beruntung. **** Madiun, 14 September 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN