Oh ya, Author mau Up cerita baru di Dreame.. Judulnya Prince
Jadi sering-sering check lapak Author ya, siapa tahu ada yang minat baca cerita Author..
Setelah ke jadian kemarin yang membuat Dea semakin malu, kini Ia dalam mode merajuk. Biasanya setiap pagi Ia akan menyiapkan sarapan tapi hari ini Dia memang sengaja berangkat sangat pagi untuk menghindari Dava. Biarlah Dava mencarinya, lagian Dea juga tidak akan mampu jika bersitatap dengan suaminya.
Selain itu, Dava akan selalu menanyakan alasan dari ke terlambatannya kemarin. Jika Dea mengatakannya pasti Dia akan malu yang luar biasa. Dan tindakan yang harus di ambil Dea adalah dengan berangkat sangat pagi dari biasanya. Melupakan sejenak tugasnya sebagai isteri dan tidak ada sapaan pagi untuknya dari Dava.
Dava sendiri bangun tepat pukul 06:00, Dia meraba ranjang sampingnya yang kosong. Sebenarnya hal biasa mengingat isterinya itu hobby bangun pagi dan memasak sarapan pagi untuknya serta tidak lupa menyiapkan bekal untuk dirinya.
"Mungkin sudah bangun." ucap Dava lirih.
Dava beranjak dari ranjangnya dengan rasa kantuk yang belum sepenuhnya hilang menuju kamar mandi, tapi saat di ambang pintu Dava kembali memutar tubuhnya, Ia merasa ada yang janggal.
Dia melihat ranjang kembali, seragam yang harusnya sudah di siapkan Dea tidak ada. Kepalanya berputar lagi ke arah meja belajar, matanya menyipit memperjelas pandangannya saat tas sekolah isterinya sudah tidak ada di tempatnya.
Dava tidak berpikir lama langsung ke luar menuju dapur, tempat favorite isterinya itu. Kosong! Dapur dalam ke adaan kosong begitu pun dengan meja makan yang bersih dan rapi seperti tidak di datangi pagi ini.
Dava mendesah, sejak kemarin isterinya itu memang lebih pendiam. Perhatiannyapun tidak seperti biasanya membuat Dava bingung ke napa Dea seperti itu. Dava tidak menanyakan ke ganjilan isterinya sejak kemarin karena Dava merasa Dea belum siap mengutarakannya pada Dava, tapi apa yang terjadi? Isterinya itu malah mengabaikan dan mendiaminya.
****
Dava memasuki kelas Dea dengan berbagai tatapan dari teman kelas Dea. Tidak biasanya Dava datang pagi ke kelas mereka untuk menemui Dea, meski sudah ke dua kalinya Dava masuk ke kelas itu. Namun pandangan heran dari semua murid tidak berkurang sama sekali. Terlebih di pagi hari seperti ini, sepertinya mereka mendapat angin segar sebelum pelajaran pertama di mulai melihat tampannya wajah Dava.
Dava mengusap kepala Dea.
"Pagi, mau ikut denganku?" Dea yang tahu itu suaminya tidak bergeming, Dea sibuk dengan dunia novelnya yang Ia baca, pura-pura tidak mendengar sapaan Dava walau Dea ingin mendengar suara itu setiap paginya. Beda dari pagi ini, mengingat itu membuat Dea rindu pada sosok suaminya yang sekarang sudah ada di dekatnya.
Dava tersenyum, oh isterinya itu benar-benar merajuk. Dava berjongkok di samping kursi Dea lalu dengan paksa menggenggam tangan Dea, Dea berusaha menghindar namun kalah cepat dengan Dava yang malah mempererat genggaman tangan mereka.
"Marah ya Yang?" mata Dea melebar karena ulah Dava.
Bagaimana bisa Dava dengan sangat entengnya memanggil Dea dengan panggilan sayang di hadapan semua teman kelas Dea
"Dav!" Dea menggigit bibir bawahnya takut jika semua orang mendengar ucapan Dava. Dea mencoba memperingati Dava namun sepertinya pria itu kini yang berpura-pura tidak mendengar suara memperingati dari Dea.
Dan benar semua menatap ke arahnya sekarang, Dea salah tingkah di tempat duduknya. Ia merasa tidak nyaman karena ulah Dava juga posisi Dava yang seolah sedang memohon padanya. Berjongkok di samping kursinya dengan satu lutut di tekuk dan satu kakinya menapak pada lantai kelas Dea.
"Dav please!" bisik Dea, Dava mengerutkan keningnya tidak suka dengan panggilan Dea padanya, Dava sudah tidak berniat menyembunyikan status hubungan mereka. Terlebih jika mereka ingin tahu hubungan sebenarnya antara Dea dan Dava, maka Dava tanpa sungkan mengatakan bahwa mereka adalah pasangan suami isteri.
"Apa Yang?" Dava menekan kata Yang nya dan mengubah nada bicaranya menjadi manja, Sinta dan Rara yang dekat dengan mereka malah terkikik geli. Apalagi mengetahui sisi lain dari Dava yang tidak pernah orang tahu.
"Hentikan!" ucap Dea dengan suara pelan, hanya Dava yang dapat mendengarnya.
"Tidak sebelum Kamu mau ikut Aku, ah ini mau masuk jam pertama. Jadi bagaimana kalau pas istirahat saja?" Dava memberi solusi setelah melihat jam mendekat ke arah 7. Lagian Ia tidak mau membawa kabur Dea di saat jam sekolah baru saja akan di mulai.
Dea menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah sekarang Kamu berdiri dan kembali ke kelasmu!" Dava tersenyum senang, Ia berdiri lalu dengan santainya mendekatkan wajahnya pada wajah Dea.
Dea reflek memundurkan wajahnya, Dava ingin sekali tertawa dengan tingkah polos Dea. Namun Ia tahan atau rencana berbaikannya dengan Dea batal hari ini.
"ILY wifey." bisik Dava pelan tepat di telinga Dea, pipi Dea memanas. Ingin Ia membalas ucapan Dava jika Ia tidak ingat kalau sekarang Dia mode marah dengan suami tampannya itu.
Dava mengusap kepala Dea dengan sayang lalu dengan tanpa dosanya melambaikan tangannya pada Dea yang hanya memutar matanya malas. Dava terkekeh melihat wajah Dea yang merona namun juga kesal padanya secara bersamaan, sungguh menggemaskan.
****
Di kantin Dava Bintang dan Zacky menunggu ke datangan Dea dan sahabatnya setelah Ia mengirim pesan pada isteri cantik Dava itu.
"Hai Ta hai Ra hai De." sapa Zacky saat melihat tiga wanita cantik yang sedari tadi mereka tunggu.
Dea hanya membalas dengan senyum, Dava menepuk bangku yang ada di sebelahnya tapi Dea lebih memilih duduk terpisah dengan tempat di samping Dava. Dava hanya tersenyum kecut saat lagi-lagi Dea mencoba menghindarinya.
"Kamu marah soal kemarin?" tanya Dava.
"Weekend ini acara Kamu ke mana Bin?" bukan menjawab pertanyaan Dava, Dea malah bertanya ke Bintang. Bintang menaikkan satu alisnya begitu juga yang lainnya.
"Gue enggak ada acara ke mana-mana. Memang ke napa?" jawab Bintang sedikit melirik ke arah Dava yang hanya diam. Menatap wajah Dea dan tanpa mau membantu Bintang untuk saat ini.
"Oh Kamu yakin?" tanya Dea meski nada bertanyanya tidak mengintimidasi tapi mata Dea menunjukkan demikian. Bintang menyenggol lengan Zacky meminta pertolongan pada sahabatnya itu, namun sepertinya juga percuma saja.
Dava yang tahu mengambil bahu Dea lalu mengarahkan padanya.
"Kamu harusnya tanya Aku soal itu, mereka berdua tidak tahu apa-apa.".
Dea tidak menatap Dava, Dava tersenyum. Iya tahu ke mana arah bicara isterinya itu.
"Nanti pulang sama Aku, Aku jelasin di rumah. Sekarang Kamu makan, Aku tahu Kamu belum makan Yang." Dea diam hingga Mbak kantin mengantar makanan mereka semua sebelum ke tiga cewek itu datang Dava sengaja memesankan makanan.
Dava selalu menatap Dea yang hanya diam sedari tadi menikmati makannya tanpa menatap ke arahnya. Dava tidak pernah melihat marahnya Dea seperti apa, jadi ini yang pertama dan marah Dea hanya diam. Membuat Dava malah terlihat ke susahan dalam mendekati Dea.
Dava mengusap ujung bibir Dea yang terdapat noda makanan, Dava tersenyum saat Dea menatapnya dengan pandangan terkejutnya. Dava tidak hiraukan pandangan semua orang yang ada di kantin, Ia sangat menikmati moment bersama isterinya.
Madiun, 13 September 2020