013. Sean Abigael

1071 Kata
"Kita langsung ke rumah Mama?" Dava mengangguk. "Nanti kalau pulang Kita belanja dulu ya?". "Iya Dea Sayang-." ucapan Dava terputus karena Fani dan sahabatnya yang muncul di dekatnya dengan tatapan yang siap menerkam Dea bulat-bulat. Sudah sangat jelas bahwa Fani siap mengibarkan bendera perang di mata Dea, tapi sekali lagi ini Dea bukan wanita lainnya yang akan dengan cepat menanggapi semuanya dengan gegabah. Mata Fani begitu tajam dan itu mengarah pada Dea membuat Dea juga tahu ke napa Fani begitu benci padanya. Jelas sekali lagi bahwa pria sempurna yang menjadi suaminya inilah yang menjadi alasannya. "Kamu pegangan, Aku enggak mau Kamu jatuh." peringat Dava pada Dea. Dea tahu sifat Dava yang muak melihat Fani, jadi Dea hanya menurut dengan permintaan Dava. Melingkarkan lengannya pada pinggang Dava tanpa ragu sedikitpun. Dava menstarter motornya dan ke luar dari area parkir dengan hati-hati, bahkan Dava tidak menengok lagi ke arah Fani. Dan itulah yang membuat Fani berang karenanya, Fani mengepalkan tangannya kuat. Menatap tajam punggung Dea yang mulai jauh dari pandangan matanya. "Sial, apa mereka jadian?" tanya Fani pada sahabatnya yang hanya diam, sama dengan Fani. Tapi mereka hanya shock tidak sampai marah dan mendidih seperti Fani. "Kalian ke napa diam?" tanya Fani membentak, ke duanya tergagap lalu menatap Fani yang kini menatap tajam ke arah ke duanya. "Kita enggak tahu Fan." jawab Amel, memang ke nyataanya tidak ada gosip yang beredar jika ke duanya jadian. Hanya yang terdengar dari semua murid adalah jika mereka dekat dan ke mungkinan akan jadian. "Bego, harusnya kalian yang dapat info pertama." Amel dan Rosi tahu betul sifat dari Fani jika sedang marah. Orang lainpun akan jadi sasaran ke marahannya, mereka hanya membuang nafas pasrah untuk menjadi samsak ke marahan Fani. "Kita cari tahu besok ke orangnya." Fani menyeringai untuk melaksanakan rencananya besok pada Dea, Mungkin!. **** "Mama." teriak Dava, Dea menaikkan satu alisnya karena teriakan Dava yang baru pertama Ia dengar saat memanggil Mamanya, biasanya cowok itu akan langsung masuk seperti bayangan tanpa Sabrina tahu. "Oh anak Mama, astaga Sayang. Sini-sini mantu Mama yang paling cantik." Dea terkekeh lalu menyambut rentangan tangan sabrina padanya, dengan senang hati Dea membalas pelukan mertuanya. "Mama apa kabar?" tanya Dea, Dava cemberut di buatnya, pasalnya hanya Dea yang di sambut ke datangannya. "Ma, Aku anak Mama lho?" Sabrina menatap Dava dengan alis bertaut. "Baik Sayang. Dav, Kamu ke bentur apa begitu enggak pas datang ke sini?" tanya Sabrina, Dava mengerutkan dahinya. Tapi Dea malah terkikik geli mendengar pertanyaan Sabrina pada suaminya. "Yang, maksud Mama apaan ini?" tanya Dava, Dea mengedikkan bahunya. "Tuhkan, Dava Mama enggak begitu Sayang." adu Sabrina pada Dea dengan wajah yang seperti shock yang memang sangat kentara, Dea terkekeh lagi akan ke terkejutan Sabrina akan perubahan pada Dava yang mungkin terlalu mendadak. "Mama itu Dava kok, Dea yakin." jawab Dea mencoba membantu Dava. "Yakin?" Dea mengangguk. "Yang, ada apaan sih Mama kok enggak kenalin Aku?" tanya Dava, sumpah ya image Dava sudah hancur. Tampang flat dan cueknya hilang sudah di depan Dea dan Sabrina. Wajah shock Sabrina juga membuat Dava bingung dan tidak mungkinkan Ibunya itu bercanda?. "Kamu ke napa tadi masuk teriak begitu? Biasanya juga langsung masuk kamar." Dava mendengus lalu tersenyum pada Mamanya setelah tahu apa yang membuat Ibunya itu bertanya demikian. Wajar juga sih kalau Mamanya itu bingung akan tingkah lakunya. "Karena Aku lagi bahagia Ma." Dava mendekat ke arah Dea lalu memeluk wanita itu dari belakang. Apa kabar Dea? Pipinya terasa memanas apalagi di tambah dengan ini di depan Ibu mertua lho Dava memperlakukannya begitu manis. Dava bahkan beberapa kali mencium pipi Dea, Sabrina sampai melongo di buatnya. Ada apakah hingga Dava berubah seperti sekarang ini?. "Maksud Kamu bahagia apa nak? Ck kalian masuk dulu, jangan di depan pintu begitu." Sabrina menarik tangan Dea. Otomatis pelukan Dava terlepas paksa oleh ulah Ibunya. Dava mendengus tapi tetap menurut masuk ke dalam, lalu menutup pintu dengan kesal. Sabrina mengarahkan Dea pada ruang tengah rumah Mama mertuanya itu. "Mama ada acara apa minta Dea datang ke rumah?" tanya Dea setelah mereka duduk bertiga, Sabrina cemberut atas pertanyaan Dea. Apakah mantunya itu tidak rindu pada Sabrina?. "Memang Mama harus punya acara dulu biar kalian mau ke rumah Mama?" tanya Sabrina dengan wajah sendu, Dea terkekeh lalu mengusap punggung tangan mertuanya agar tidak salah paham dengan perkataannya. "Enggak Ma, Aku kira Mama ada acara." Dea menatap suaminya yang hanya diam melihat ke dekatan dua wanita yang teramat Ia cintai. "Enggak cuma-." "Loh Dea!" Dea dan Dava menoleh ke arah sumber suara. "Kak Sean!" teriak Dea kaget karena Kakak dari Dava yang sekarang kuliah di US tiba-tiba sudah ada di tangga dengan half naked. Menampilkan d**a bidang yang pelukable, wajah tampan dan rambut basah sehabis mamdi menambah ke tampanan pria itu berkali-kali lipat. Dava berdecak lalu menggeser duduknya mendekat ke arah Dea, tangan Dava menutup mata Dea. "Kak pake baju Lo!" tegur Dava pada Sean yang malah mendekat ke arah Dea. "Ngapain Lo? Biasanya juga enggak heboh kalau Dea dekat sama Gue!" tolak Sean pada Adiknya itu, Dea merasa jantungnya berdegup atas perlakuan Dava. Dea merasakan lembutnya tangan Dava yang menutup matanya juga hembusan nafas Dava yang berada di puncak kepalanya. "Biasanya. Mulai hari ini Lo jauhin isteri Gue!" Sabrina mengukir senyum geli atas sikap Dava, Sean memutar matanya malas. "Dea Adik Kakak Sean, enggak mau peluk?" tanya Sean lembut, tapi bagi Dava nada itu sangat menjijikkan. Seperti seorang laki-laki yang tidak pernah di belai sama sekali. "Ka-!". "Enggak, enggak boleh! Mulai hari ini Kamu hanya boleh peluk Aku, cium Aku. Tatap mataku dan sebut namaku, mengerti Sayang?" Dea meneguk salivanya susah payah. Bagaimana Dea akan membantah jika kata-kata Dava tisak pernah bisa Ia bantah, jauh sebelum sikap manis pria itu. "Lo ke pentok ya Dav?" tanya Sean karena reaksi Dava yang tidak biasa itu. Dava tidak hiraukan pertanyaan Sean dan menunggu jawaban dari Dea. "Ya-!". "Iya Dava." Dava mau tidak mau tersenyum atas jawaban memuaskan dari isterinya. Sekali lagi Ia dengan senang hati mencium pipi Dea dari samping kepala gadis itu, ya karena memang tubuhnya berada di belakang Dea. "Tapi buka dulu mata Aku, Aku enggak bisa lihat Mama." protes Dea dengan nada yang sangat lembut, Sabrina geleng-geleng kepala melihat sifat posesif Dava yang baru hari ini Ia lihat. "Ok tapi janji harus lihat Mama saja jangan lihat Kak Sean!" Dea mengangguk patuh, tidak ada pilihan lain. Dava membuka telapak tangannya pada mata Dea. "Eh Dia Adik Gue Dav, wah Ma Kita harus periksain Dava kayanya." Dava menatap tajam Sean, Sean mengangkat ke dua tangannya menyerah. "Sudah kalian jangan ribut Mama mau masakin mantu Mama yang cantik ini." Sabrina mengusap surai indah Dea. "Dea bantu Ma." Sabrina mengangguk lalu berdiri di ikuti Dea yang menuju kamarnya untuk ganti sebelum mengikuti mertuanya ke dapur. Madiun, 28 Agustus 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN