Dea Rara dan Sinta menikmati makannya di kantin dalam diam. Sinta dan Rara memakan baksonya sedangkan Dea memakan bekalnya. Bekal yang Ia masak sendiri dengan penuh cinta dan rasa bahagia di setiap paginya.
Meja mereka di ketuk seseorang.
"Kita makan di sini ya?" izin Zacky dengan senyum menawannya agar dapat izin dari para empunya yang kini tengah menatapnya.
Rara dan Sinta mengangguk, Dea hanya menatap satu pria yang selalu menatapnya dengan senyum. Dea menaikkan satu alisnya karena Zacky dan Bintang duduk sedangkan Dava hanya berdiri.
"Dav, Lo enggak mau duduk?" tanya Bintang yang aneh melihat Dava masih berdiri dengan terus menatap Dea, entah ke napa Bintang merasa iri dengan pasangan di hadapannya ini. Ke dua mata mereka di penuhi rasa cinta yang besar, dan Bintang entah kapan menemukan cinta sejatinya. Semoga akan indah sama seperti cinta sahabatnya yang dingin itu. Yang terpenting doanya adalah, wanita itu tidak membuatnya ribet ataupun cerewet seperti wanita yang 'hah' tanpa sengaja Bintang membuang nafas kasar membuat semua menatapnya.
"Lo ke napa dah?" tanya Zack, Bintang mengedikkan bahu karena merasa malu dengan pemikirannnya tentang seseorang yang salah satunya ada di hadapannya.
Bintang beralih bertanya pada Dava lagi.
"Lo ke napa enggak duduk?".
"Satu orang lagi belum izinin Kita duduk." Dea memutar matanya malas lalu mengangguk. Dava tersenyum lalu duduk di hadapan Dea, tetap menatap pada Dea yang juga tersenyum menatap tingkah laku Dava yang menurutnya sangat aneh dan benar-benar aneh. Masa iya karena Dea belum ngasih izin Bintang dan Zack harus berdiri lagi setelah duduk.
Dava membuka bekalnya yang kotaknya berbeda dari Dea, bahkan Dava tidak malu membawa kotak bekalnya ke kantin. Lagian ke napa malu jika di dalam kotak bekal itu adalah makanan yang khusus di masak oleh isterinya dengan penuh cinta, Dava tahu itu.
Apalagi saat Dea sering bersenandung dan juga tersenyum kala Ia memasak. Sungguh pemandangan yang indah bagi Dava di paginya, Dava ingin setiap hari seperti itu.
"Lo minum apa Dav?" tanya Bintang.
Dava menggerakkan botol minumnya dengan tangan kanannya, memberi kode pada Bintang bahwa Ia sudah membawa minum.
"Orang yang Gue sayang bilang kalau air putih lebih baik buat kesehatan." jawab Dava dengan menatap ke arah Dea. Dea? Cewek itu sudah blushing karena petikan ucapan Dava adalah nasehat yang Ia berikan pada Dava saat Dava sering minum-minuman bersoda.
Wanita itu selalu memperingatkan Dava untuk banyak-banyak minum air putih agar racun dalam tubuh pria itu hilang terbawa urine. Karena jika banyak minum air putih maka Kita akan sering kencing, dan dalam kencing itu racun dalam tubuh akan terbawa. Jadi lebih bermanfaatkan dari pada Soda?.
Ke empatnya hanya ber-oh ria mendengar jawaban Dava. Tapi Bintang tetap memesan makanan dan minuman untuknya dan untuk Zacky yang sudah Ia hafal di luar kepala makanan kesukaan sahabatnya satu itu.
Di sudut lain kantin, Fani melihat semua itu mengepalkan tangannya karena rasa cemburu yang menjalari tubuhnya, bagaimana tidak cemburu? Fani yang mati-matian menarik perhatian Dava, tapi apa hasilnya? Dava meliriknya saja tidak. Dan sekarang pemandangan di hadapannya membuat suhu tubuh Fani menjadi naik.
"Siapa cewek itu?" tanya Fani pada Rosi sahabatnya, Rosi melihat ke arah yang di tunjuk Fani dengan dagu itu. Dengan mata memicing Rosi mengangguk, kenal akan cewek-cewek yang di maksud Fani.
"Oh itu Dea Rara dan Sinta, anak kelas Ipa 4." jawab Rosi.
"Kapan mereka dekat?" tanyanya lagi.
"Lo enggak tahu apa sejak kemarin berita ke dekatan ke duanya heboh satu sekolah." ini bukan Rosi melainkan Amel sahabat Fani yang lain. Fani menaikkan satu alisnya, kapan? Ke napa Dia tidak tahu?.
"Lo lagi enggak bercandakan?" tanya Fani seolah tidak percaya dengan apa yang Ia dengar barusan.
"Sama sekali enggak, Kita kemarin juga ke kantin dan tahu ke jadian itu. Di mana Dava ngusir seluruh pengunjung kantin agar Ia bisa bicara sama ke tiga cewek itu. Kita sih enggak tahu apa yang mereka bicarain karena Dava benar-benar ngusir Kita." Fani melotot, tidak percaya dengan ucapan Amel.
"Lo pasti ngarang!" ucap Fani masih tidak percaya.
"Lo saja enggak tahu kalau kemarin Dava bahkan tertawa karena teriakan Dea yang menggema. Entah apa yang mereka bicarain, tapi yang jelas Dava ganteng banget kemarin pas lagi tertawa." Fani melotot pada Amel karena ke hebohan wanita itu di akhir kalimat. Amel diam karena pelototan Fani yang enggak nyantai padanya. Tangan Fani terkepal sampai kukunya memutih, tidak ini sama sekali tidak bisa Dia biarkan begitu saja.
Kembali ke Dava and friend!.
Dava menatap intens Dea yang sudah membereskan kotak bekalnya dan kotak bekal dirinya. Entahlah hal sederhana pada wanita itu terlihat perfect di matanya.
"Sudah kenyang?" tanyanya.
Dava hanya tersenyum kecil.
"Jelas kenyanglah, makanan sekotak bekal gede itu di habisin semua sendiri. Kurang gentong apa coba perut Dava?" celetuk Zacky menyindir Dava yang tidak mau berbagi pada ke dua sahabatnya, Dea terkekeh.
"De." Dea menatap Dava yang memanggilnya tidak hiraukan candaan Zacky.
"Entar Mama mau ke temu." Dea menaikkan satu alisnya.
"Mama mau ada acara?" tanya Dea dengan nada di pelankan, tapi nyatanya memang enggak ada yang bisa dengar pembicaraan mereka karena mereka berada di kursi yang di sekitarnya sudah kosong karena waktu istirahat akan habis.
Dava menggeleng.
"Aku enggak tahu Yang. Kayanya sih, jadi entar Kamu balik sama Aku." Dea menggeleng tidak setuju.
"Aku naik taksi saja Yang." tolak Dea halus.
"Aku suami Kamu!" tegas Dava pada kata suami, Dea menghembuskan nafas kasar.
"Kali ini saja." kata Dea lalu berdiri di ikuti sahabat-sahabatnya karena bel masuk sudah berbunyi.
"De." Dea menoleh ke belakang karena panggilan Dava, bukan kata-kata yang Ia dapat dari Dava tapi jari Dava membentuk huruf 'L'.
Dea hanya menggeleng dengan tingkah Dava, tapi Dea juga tidak mau kalah dengan menunjukkan ibu jari dan jari telunjuknya dengan huruf 'U'.
Dava tersenyum atas balasan dari Dea, Dea melanjutkan langkahnya karena tarikan dan juga omelan dari Sinta dan Rara agar Dea dan Dava berhenti bersikap romantis di depan ke duanya.
Biasalah jones mah suka baper sama pasangan yang selalu punya cara untuk mengungkapkan bentuk perhatian mereka pada pasangannya.
Pulang sekolah benar saja, Dava sudah bersandar pada motor sportnya menunggui si Dea. Bisa di katakan ini pertama kalinya Dea di bonceng sama Dava meski sudah setahun bersihnya hubungan mereka baik, nyatanya Dava dan Dea bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu di luar apartement.
"Maaf lama." ucap Dea.
Dava hanya tersenyum lalu melangkah mendekat ke arah Dea. Memasangkan helm yang entah dari mana Ia dapatkan, Dea hanya pasrah menerima perlakuan manis dari Dava.
"Selesai, sekarang naik!" tangan Dava terulur untuk membantu Dea naik motor besarnya.
Tapi Dava tidak juga menyalakan motornya, Dea menaikkan satu alisnya saat Dava melepas jaketnya.
"Pakai ini, Aku enggak mau bagian tubuh Kamu di lihat orang lain." Dea tersenyum menerima jaket dari Dava untuk menutupi pahanya yang memang terekspos karena panjangnya rok yang tidak sampai selutut itu.
"Kita langsung ke rumah Mama?" Dava mengangguk
"Nanti kalau pulang Kita belanja dulu ya?".
"Iya Dea Sa-." ucapan Dava terputus karena Fani dan sahabatnya yang muncul di dekatnya.
Madiun,27 Agustus 2020