Walau hubungan mereka lebih dari baik nyatanya mereka tetap berangkat sekolah sendiri-sendiri. Dea yang selalu menolak saat Dava akan mengajak gadis itu untuk berangkat bersama dan hal itu hanya mampu membuat Dava membuang nafas pasrah akan keras kepalanya isterinya itu.
Ponsel Dava bergetar menandakan pesan masuk, Dava melihat ponselnya.
'Dava, nanti mampir ke rumah Mama. Ajak mantu Mama juga ya?'.
'Ya Ma.'.
Setelah membalas pesan dari Mamanya, Sabrina. Dava melanjutkan langkahnya menuju kelasnya di Ipa 1. Sedangkan kelas Dea berjarak dua ruang darinya Ipa 4, belum pernah Dava mencicipi bagaimana satu kelas dengan Dea. Dan hal itu yang membuat Dava tidak mengenal Dea sama sekali hingga kini bahkan setelah menjadi suami isteri yang sah di mata hukum juga agama.
Pagi ini pagi yang sangat indah untuk Dava, selain hubungannya yang membaik juga karena perhatian Dea yang benar-benar hanya untuknya. Bahkan senyumnya sama sekali tidak luntur dari ke dua sudut bibirnya. Sarapan pagi sudah tersedia di meja makan, seragamnya yang sudah siap di ranjang sampingnya, tempat di mana Dea biasanya tidur. Lalu buku-buku Dava yang sudah masuk tas ranselnya sesuai jadwal hari ini. Dea biasa melakukan itu, tapi entah ke napa hari ini begitu istimewa untuknya.
Siswa cewek yang melihatnya Dava tersenyum sepanjang jalan semakin histeris di buatnya. Apalagi melihat bibir Dava yang kissable itu, pasti semua cewek mengira bahwa senyum Dava saat itu tertuju untuk mereka.
"Dav." langkah Dava terhenti, Dava menaikkan satu alisnya setelah membalikkan badannya.
"Lo sudah gila ya?" bukan hanya alis Dava yang terangkat tapi kerutan di kening Dava juga terbentuk atas pertanyaan aneh Zacky. Apalagi ekspresi jijik Zack dan Bintang yang kentara menatap ke arahnya.
"Lo senyum-senyum dari parkiran sampai mau masuk kelas, memang ada apaan?" Dava hanya beroh ria lalu melanjutkan langkahnya kembali, mengabaikan ke dua sahabatnya yang pastinya akan semakin kepo jika Dava hanya memberinya sebuah jawaban singkat.
"Ck kebiasaan, Gue kira Dia sudah punya koleksi face penuh ekspresi. Nyatanya juga sama saja." gerutu Bintang yang di setujui oleh Zacky, ke duanya yakin jika sifat Dava yang dingin kini mulai berangsur-angsur berubah. Terlihat jelas di pagi ini, dan ke duanya ikut bahagia akan perubahan Dava.
Lalu mereka mengikuti langkah Dava masuk ke dalam ruang kelasnya. Di dalam kelas mereka sudah heboh karena ke datangan Dava yang berbeda, apalagi Fani. Wanita itu mendekat ke arah bangku Dava dan dengan seenaknya duduk di samping bangku Dava yang kosong. Wanita itu menatap Dava dengan senyuman yang mungkin akan membuat Dava dapat kembali pada perempuan itu.
Dava? Ia terlalu malas melihat Fani, hingga senyumnya yang tadi terpatri luntur seketika menjadi datar dan tidak tersentuh. Matanya sama sekali tidak mengarah pada Fani, melirik saja rasanya Dava begitu malas.
"Ck si cabe lagi, minggir Lo. Itu tempat duduk Gue sekarang!" ucap Bintang setelah Ia sampai di kelas, mengetahui Dava yang kembali di dekati cewek macam Fani. Rasanya Bintang begitu tidak iklas, apalagi saat Dava sudah memiliki isteri. Catat! Isteri yang menurut Bintang sangat-sangat sempurna untuk Dava siakan, isteri yang Bintang tahu begitu perhatian sayang mandiri dan juga dewasa untuk gadis yang seumuran dengannya. Rasanya Bintang begitu muak hanya melihat cewek modelan Fani saja.
"Apa sih Lo Bin, tempat Lo bukan di sini ya? Lo enggak inget Gue yang sejak kelas satu duduk sama Dava?" tawa Bintang dan Zacky menggelegar memenuhi seisi kelas, lebih tepatnya tertawa meremehkan pada gadis itu. Gadis yang tidak sepatutnya dulu mengisi hari-hari Dava, dan pada akhirnya cowok itu pernah merasakan sakit.
"Hello Lo nyadar dikit. Itu dulu kelas satu, Kita sudah kelas 12 dan Lo sudah enggak duduk sama Dava sejak kelas 11 awal ya. Lo harus inget." balas Bintang, jika sudah berhadapan dengan Fani maka Bintang tidak akan tanggung untuk berkata pedas. Fani menatap tajam Bintang, tapi tidak berpengaruh pada Bintang.
Dava berdiri, terlalu muak dengan sifat Fani. Dava berjalan ke depan tidak hiraukan Fani yang terus memanggilnya. Ia duduk di bangku paling depan yang di duduki sama Arsya, cowok paling super katro tapi juga paling pintar di kelas Dava. Entah ke napa Dava masih kalah sama teman kelasnya yang satu itu. Menilai dari penampilan Arsya juga semua tahu bahwa yang paling penting dalam hidup cowok berkaca mata itu adalah buku buku buku dan semua harus keserap sama otaknya yang mungkin lebih besar otak Dava tapi lebih nampung otak Arsya dikit. Itu bisa di lihat oleh mata telanjang dengan postur ke duanya yang memang jelas perbedaannya.
"Sya Gue duduk sini mulai hari ini." ucap Dava yang di angguki oleh Arsya yang sama sekali tidak terganggu dengan ke putusan Dava.
Dava memang cowok paling dingin tapi Dia bukan badboy yang harus di takuti, jadi Arsya ok saja jika cowok most wanted itu duduk di sampingnya. Badboy dikit dulu saat pernikahannya tapi sekarang sudah insyaf dan enggak begitu lagi. Padahal murid lainnya ogah deket Dia, mau dekat cuma kalau ada PR yang belum mereka kerjakan. Temenable bangetkan mereka?.
Bintang dan Zacky mengusir teman yang duduk di bangku belakang yang di duduki Dava tentu dengan kata maaf, dan anehnya dua wanita yang punya tempat duduk itu mengiyakan ke mauan Zacky dan Bintang tanpa bantahan sedikitpun.
****
Dea masuk ke dalam kelas 10 menit sebelum Dava tiba tadi, tapi Dia sudah di sambut teriakan sahabatnya yang menggelegar dan membuatnya harus menutup telinganya sebelum kembali melangkahkan kakinya.
"Deaaaa!".
"Sinta Rara toa Lo pada!" gerutu seisi kelas, ada yang beda dengan ke tiga cewek diem itu hari ini. Mereka banyak tertawa dan mulut yang selama ini terkunci seolah mendapatkan kunci pas untuk membukanya. Hingga sepagi ini mereka bikin satu kelas terheran-heran.
"Apa sih Lo pada, Kita lagi seneng tahu." elak Sinta atas gerutuan semua temannya, semua hanya menatap Sinta malas.
"Kalian biasanya diem ke napa hari ini Lo kok berisik banget?" tanya Raka.
"Kepo Lo Ka!" balas Rara, semua seisi kelas tertawa dengan wajah kesal Raka yang sama sekali tidak di tutup-tutupi.
"De." Dea menoleh menatap Doni setelah Ia duduk di bangkunya.
"Ya Don." Doni tersenyum jenaka.
"Dewa ngajakin Lo jalan tuh." Dea mengerutkan dahinya, Dewa?.
"Bilang saja sama si Dewa kalau Dea enggak mau." bukan Dea yang jawab tapi Sinta ini yang menjawab mewakili Dea yang ragu untuk menolak. Takut jika Ia salah menjawab dan malah menyakiti orang lain, apalagi ada hati yang harus Ia jaga seumur hidupnya.
"Eh toa, Gue ngomong sama Dea ya. Bukan sama Lo!" Sinta mengedikkan bahu masa bodoh.
"Maaf Don tapi apa yang di katakan Sinta bener, Gue enggak bisa. Ada les mulai kelas tiga ini." jawab Dea membenarkan ucapan Sinta, les adalah alasan yang tepat yang di gunakan Dea untuk menolak Dewa. Dewa sebenarnya adalah pria baik, pria tampan juga di sekolah. Tapi entah ke napa ke tampanan pria itu masih kalah dengan Dava. Sinta menjulurkan lidahnya pada Doni untuk mengejek cowok itu.
"Diem Lo toa!" kesal Doni.
"Lo juga diem kutil." balas Sinta tidak mau kalah. Doni mengusap rambutnya frustasi karena ocehan Sinta, Rara tertawa.
"Awas Lo berdua jadian." peringat salah satu teman kelas mereka.
"Gue sama Dia?" tanya Sinta.
"Ogah!".
"Ogah!".
Jawab ke duanya kompak.
"Ye kompakan Lo berdua." heboh Rara.
"Cieeeee!".
"Ehm Ehm!".
Ledek seisi kelas yang membuat Sinta salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Doni menatap tajam seisi kelas yang di anggap mereka lucu.
Dea geleng-geleng kepala tidak habis pikir sama tingkah mereka yang malah pada heboh karena masalah kecil.
Madiun, 26 Agustus 2020