Ketegangan Menjelang Pernikahan
Kediaman Keluarga Wijaya
Suasana tegang menyelimuti ruang keluarga Keluarga Wijaya. Sinar matahari sore menerobos jendela, namun tak mampu menembus kebekuan yang mencengkeram ruangan. Bu Dewi, dengan wajah merah padam menahan amarah, menatap Radit tajam. Gelas teh manis di tangannya bergetar.
"Radit, kamu yakin akan menikahi perempuan buta itu besok?" suara Bu Dewi bergetar, dipenuhi amarah yang tertahan. Ia tak mampu menerima pilihan Radit.
Pak Hermawan, dengan sabar mengelus lengan istrinya. "Dewi, sudahlah. Biarkan Radit memilih perempuan yang ingin dinikahinya. Cinta mereka tulus, Dewi. Jangan sebut Alya 'perempuan buta' lagi. Ingat, dia punya nama." Suaranya lembut, namun tegas.
Radit, dengan tenang menatap ibunya. "Mama… namanya Alya. Dan aku mencintainya." Tatapannya penuh keyakinan.
Plak! Tamparan Bu Dewi mendarat di pipi Radit. Raka, adik Radit, tersentak kaget.
"Biarkan, Mah," kata Radit, menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya. Suaranya datar, namun penuh tekad. "Tampar lagi pun tak apa. Aku tetap akan menikahi Alya besok. Titik."
Kediaman Keluarga Putra
Aisyah, adik Alya, berceloteh riang sembari membantu Alya mempersiapkan perlengkapan. Suasana rumah dipenuhi kegembiraan menjelang pernikahan Alya.
"Mbak Alya yang besok akan menikah, sering-sering main ke rumah ya, biar Aisyah nggak kesepian," ledek Aisyah, tersenyum jahil.
Alya tersenyum lembut. "Iya, Dik. Insya Allah."
"Nduk…" Pak Doni, Ayah Alya, memanggil Aisyah.
"Nggih, Pak," jawab Aisyah, lalu pamit pada Alya. "Tunggu ya, Mbak, aku dipanggil Bapak."
Alya mengangguk, merasakan getaran bahagia yang bercampur sedikit gugup.
Kediaman Keluarga Pratama
Di kediaman Keluarga Pratama, suasana lebih tenang. Bayu, adik Bagas, terlihat gelisah.
"Romo, Bunda…" panggil Bayu kepada orang tuanya.
"Inggih, Le. Ada apa?" tanya Pak Rangga, ayah Bagas, dengan ramah.
"Mas Bagas masih di luar ya, Bund?" tanya Bayu lagi, sedikit khawatir.
"Sedhela maneh, Le," jawab Bu Siska, ibu Bagas, "Sabar ya." Suaranya menenangkan.
Kediaman Keluarga Putra
"Inggih, Pak. Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Aisyah, sedikit gugup.
Pak Doni menatap putrinya dengan lembut, namun sorot matanya menyimpan kesedihan. "Kamu tadi ngapain di kamar Mbak Alya, Nduk?"
"Saya hanya bercanda dengan Mbak, Pak. Ini mungkin terakhir kalinya kami bercanda seperti ini, karena besok Mbak Alya akan menikah dengan Mas Radit dan langsung dibawa ke rumah Mas Radit," jawab Aisyah, suaranya sedikit bergetar.
Pak Doni mengangguk mengerti. "Iya, Bapak mengerti, Nduk. Nanti kamu akan sendiri, kesepian. Sabar ya, Nduk." Suaranya penuh kelembutan.
"Nggih, Pak…" jawab Aisyah lirih.
"Sudahlah, kamu kembali ke kamarmu. Besok Mbakmu menikah," pinta Pak Doni.
"Nggih, Pak. Kula pamit dhateng kamar," pamit Aisyah, matanya berkaca-kaca.
"Nggih, Nduk…" Pak Doni mengusap lembut rambut putrinya.
Keesokan Harinya… Kediaman Keluarga Pratama
Suasana pagi yang cerah menyambut keluarga Pratama. Bu Siska memperhatikan Bagas yang sudah rapi berpakaian, berbeda dari biasanya.
"Loh, kamu sudah rapi sekali, Bagas. Tidak ke kantor hari ini?" tanya Bu Siska, heran.
"Ke kantor, Bund. Tapi saya akan menghadiri pernikahan teman saya dulu. Tidak enak kalau tidak datang, sudah diundang juga," jawab Bagas, tersenyum ramah.
"Oh, begitu. Ya sudah, ayo sarapan," ajak Bu Siska.
"Iya, Bund…" seru Pak Rangga, Bayu, dan Bagas bersamaan.
Beberapa menit kemudian…
"Ya sudah, Bunda, Romo. Aku pamit ya," pamit Bagas.
"Inggih, Le," kata Pak Rangga.
"Ati-ati ning dalan ya," pesan Bu Siska.
"Nggih, Bu. Assalamu'alaikum…" Bagas memberi salam.
"Waalaikumsalam…" Pak Rangga, Bu Siska, dan Bayu menjawab salam Bagas.
MENUJU KEDIAMAN KELUARGA PUTRA
Mobil yang membawa Radit dan keluarganya tiba di kediaman Pak Doni. Sebelum memasuki rumah, Pak Hermawan memanggil istrinya dan Intan (mungkin saudara Radit atau seseorang yang ikut bersama mereka).
"Dewi, Intan… ingat, jangan buat acara pernikahan ini kacau. Hormati keluarga Alya," peringatan Pak Hermawan tegas, namun dengan nada yang lembut. Ia ingin memastikan acara berjalan lancar dan penuh berkah.
Kediaman Keluarga Putra
Mobil keluarga Wijaya berhenti di depan rumah Pak Doni. Suasana ramai dan meriah menyambut kedatangan mereka.
"Akhirnya sampai…" kata Pak Budi, sopir keluarga Wijaya.
"Radit, kamu turun duluan, ya," pinta Pak Hermawan, tatapannya tajam pada istrinya.
"Iya, Pah…" jawab Radit, merasakan ketegangan di udara.
Pak Hermawan menatap Bu Dewi dengan tatapan serius. "Ingat, Dewi! Jangan sampai kamu membuat acara pernikahan Radit berantakan. Kalau kamu berani, semua yang Papa berikan padamu—dari uang arisan, internet, kendaraan, sampai uang belanja—akan Papa cabut. Paham?"
"Iya, Pah…" jawab Bu Dewi, nada suaranya datar, namun hatinya menyimpan rencana jahat. Gadis buta itu… tunggu saja, aku akan membuatmu menderita di rumah keluarga Wijaya, batinnya penuh dendam.
"Ya sudah, ayo kita turun," kata Pak Hermawan, menarik napas panjang.
"Iya, Pah…" Bu Dewi menurut, mencoba menyembunyikan amarahnya.
Di saat yang sama, Raka menghentikan langkah Intan yang hendak keluar dari mobil. Tatapannya dingin dan tajam.
"Kamu sama seperti Mama! Jangan sampai kamu merusak acara pernikahan adikku. Kalau kamu berani, aku akan ceraikan kamu!" ancam Raka, suaranya tegas, lalu pergi meninggalkan Intan di dalam mobil.
Intan menggeram kesal. "Baru mau jadi bagian keluarga Wijaya, gadis buta itu sudah bermimpi menghancurkanku? Tunggu saja, aku akan membuatnya membayar semua ini!" gumamnya dalam hati, memicu api dendam yang membara.
IJAB KABUL
Acara ijab kabul berlangsung khidmat dan lancar. Doa dan harapan baik mengiringi perjalanan hidup baru Alya dan Radit.
Di Mobil Bagas Pratama
Bagas, yang sedang dalam perjalanan menuju acara pernikahan, menatap jalanan yang macet. Ia cemas terlambat.
"Duh, kok lama sekali ya… Aku chat Radit saja, deh," gumam Bagas, mencoba menghubungi Radit untuk memastikan keadaan.
Kediaman Keluarga Putra
Suasana resepsi pernikahan Alya dan Radit hangat dan penuh kebahagiaan. Tamu-tamu berbaur, mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Pak Rangga mendekati Pak Hermawan dan Pak Doni.
"Selamat ya, Mas Doni dan Mas Hermawan. Kini kalian sudah menjadi besan. Satu keluarga sekarang," ucap Pak Rangga, tersenyum ramah.
"Terima kasih, Mas Rangga," jawab Pak Hermawan.
"Sama-sama, Mas Hermawan," balas Pak Rangga.
Bu Dewi mendekati Bu Siska. "Eh, Bu Siska…" sapa Bu Dewi, dengan senyum yang dibuat-buat.
"Iya, Bu Dewi…" jawab Bu Siska, sedikit waspada.
Di sudut lain, Intan mulai membisikkan sesuatu kepada Shinta. "Lihat itu, Shinta. Dia berhasil mengambil posisi kamu. Seharusnya kamu yang ada di pelaminan, bersama cucu kesayangan keluarga besar Tuan Wijaya, bukan si buta itu…" Intan berusaha mempengaruhi Shinta.
Namun, Shinta tampak tenang. "Kak, kau berusaha mempengaruhiku untuk membencinya? Tenang saja, aku sudah lama membenci si buta itu sejak dia mulai mengganggu hubunganku dengan adik iparmu. Aku diam saja karena punya rencana untuk membuatnya menderita."
"And…" Shinta melanjutkan, tatapannya tajam.
"And? What?" Intan penasaran.
"I need your help with Aunt Dewi to carry out my plan. So, how do you want to join me? Yes or no?" Shinta mengajukan tawaran kerjasama.
Bu Dewi mendekat, mendengar percakapan mereka. "If it's about Aunt Dewi, yes, dear. Then what about you, my daughter-in-law, Intan?"
"Yes, Ma'am. I will also join in to make that blind girl leave our lives and then Shinta will replace her as Radit's wife, my brother-in-law," jawab Intan, mendukung rencana jahat tersebut.
KEDATANGAN BAGAS
Bagas tiba di kediaman keluarga Putra. Ia terkejut melihat Bayu di sana.
"Akhirnya sampai juga di kediaman istri sahabatku," kata Bagas.
"Hi, brother…" sapa Bayu, tersenyum senang.
"Yes… you…?" Bagas heran melihat adiknya di sana.
"What's up, brother?" Bayu tampak gembira.
"Why are you here? Weren't you at school?" Bagas sedikit kesal.
"Hehe… hehe… hehe…" Bayu hanya tertawa.
"Ah, sudahlah. Sekarang aku harus ke Radit dulu. Bye…" Bagas meninggalkan Bayu.
"Hey, brother, why did you go? I haven't finished talking yet," Bayu memanggil, namun Bagas sudah pergi.
"I'm in a hurry, so we'll continue later, okay? Bye…" Bagas pamit terburu-buru.
PERTEMUAN BAGAS DAN RADIT
Bagas bertemu Radit di pelaminan. Ia terkejut melihat Pak Doni di sana. Raut wajah Bagas berubah. Ia terdiam, pikirannya melayang ke masa lalu.
"Hai, brother…" sapa Bagas, suaranya sedikit gemetar.
"Hai, brother…" balas Radit.
"This…?" Bagas menunjuk Alya.
"Oh, yeah, I forgot. This is Alya. She's my wife. Hehe…" Radit memperkenalkan Alya.
"Is she blind?" Bagas bertanya dalam hati, merasakan sesuatu yang ganjil.
Pak Doni memperhatikan Bagas dari kejauhan. "Itu bukannya anak laki-laki yang membuat Alya buta dan menyebabkan orang tua Alya meninggal dunia karena kecelakaan?" batin Pak Doni, merasakan firasat buruk.
Radit menyadari Bagas tampak linglung. "Gas…" panggil Radit.
"Ya, kenapa?" tanya Bagas.
"Kenapa bengong?" tanya Radit lagi.
"Nothing. Um… it's just that work problems at the office make me like this. Oh yeah, I'll take my leave, I'm going to the office. Once again, congratulations to my friends," jawab Bagas, lalu pamit.
"Oh, well, thank you for taking the time to attend my happy day, my wedding," kata Radit.
"Oh, okay. You're welcome. Bye…" Bagas pergi.
Pak Doni diam-diam mengikuti Bagas. "Apakah dia teman Radit? Dan apakah benar dia orang yang sama delapan belas tahun yang lalu? Aku harus mengikutinya," Pak Doni bertekad untuk mengungkap kebenaran.