This Complicated Family

1436 Kata
Misha terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul 04.00 pagi. Semalam Ia menangis, selama ini Ia telah berusaha tegar dihadapan semua orang, namun Ia tidak bisa lagi menahan semuanya. Kantung hitam tebal tampak pada kedua matanya. Ia menghela nafas panjang. Sesaat terbesit keinginan untuk mengakhiri semua ini, menenggelamkan dirinya jauh ke dasar samudra dan menghilang. Ia tidak sanggup lagi menatap mata keluarga Sasongko ini.     Sudah 10 tahun Ia menahan rasa sakit akibat perlakuan Mamanya yang terbilang condong sebelah dengan saudaranya, Razilee. Ia terus menahannya, menolak dan menepis pikiran negatif tentang Mamanya dan keluarganya, namun hari ini perasaan dalam dirinya meledak, tak kuat menepis pikiran negatif lagi tentang keluarganya.      Setelah bersiap untuk pergi ke sekolah, Ia beranjak pergi dari kamarnya, menuruni anak tangga berlapiskan marmer dan menuju meja makan. Terlihat Papanya sedang menyantap seotong roti dengan selai coklat di dalamnya. Jam pada ponselnya menunjukkan pukul 05.40, masih terlalu pagi untuk seorang Damar Sasongko sudah bersiap dengan kemeja rapi dan menyantap sarapannya.      "Misha? Kamu juga tumben jam segini udah siap?" tukas Damar.      "Umm, ada PR yang ngga bisa aku kerjain Pa, biasa, mau tanya temen hehe." Misha menarik kursi di sebelah Papanya.     "Papa tumben berangkat pagi?" tanya Misha.      "Iya, ada beberapa hal yang harus cepat diselesaikan, Sha. Akhir-akhir ini lagi banyak masalah di perusahaan."      Damar fokus pada ponsel dan sesekali mengigit roti isi coklat di tangannya. Misha hanya bisa mengangguk dan mulai mengambil roti di depannya.      "Oiya Pa, aku sebenernya udah pernah tanya ini, tapi Papa belum menjawabnya," ujar misha.      "Hm? Tanya aja Sha. Apa itu?“      "Sebenernya, apakah aku itu anak…“      "Misha? Tumben udah bangun?" Belum selesai Misha mengungkapkan pertanyaan yang selalu menghantuinya, Mamanya sudah lebih dulu melemparkan sapaan yang bernada dingin. Misha hanya bisa tersenyum dan mengangguk.      "Biasanya molor mulu. Jadi anak tuh yang rajin, mandiri, biar ngga malu-maluin terus. Udah tau cuma numpang disini, harusnya bisa nyadar dong, Sha!" tambah Mamanya dengan nada sedikit sengau. Mamanya menarik kursi di depan Misha.      "Mariah!! Pagi-pagi jangan mulai ya,“ ujar Papanya.      Terbesit dipikirannya untuk mencoba menanyakan hal yang sangat ingin Ia ketahui tentang kebenaran orang tuanya kepada Mamanya, Mariah.      "Ma, maaf sebelumnya kalau aku tanya ini di meja makan. Tapi aku penasaran banget, sebenernya aku emang anak Mama dan Papa kan?" Misha menatap mata kedua orangtuanya dalam-dalam.      Terlihat keuda pupil mata Damar melebar, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Misha yang mendadak. "Tentu saja kamu anak kami Misha" tukas Damar cepat.      Mariah tampak tersenyum sinis pada Damar. "Iya, Papamu aja yang anggap kamu anaknya. Kenyataannya kamu cuma anak angkat," jawab Mariah santai.      Misha tampak terkejut mendengar kata-kata Mamanya. Selama ini Mariah memang terlihat lebih memperhatikan Razilee dibandingkan dirinya, Mariah juga sering memberi pukulan fisik padanya sedangkan Razilee tidak pernah, namun Misha berusaha menganggap itu adalah bentuk kasih sayang orangtua pada anaknya. Namun seseorang yang selama ini Ia anggap sebagai Ibu bukanlah Ibu kandungnya.      “Mariah!!" Damar terlihat menatap tajam Mariah.      “Kenapa?? Memang seperti itu kan kenyataannya? Seseorang menaruh bayi berumur satu tahun di depan rumah kita saat itu. Saat itu Razilee juga masih berumur 7 bulan. Kau tau betapa susahnya merawat 2 anak kecil saat itu? Kamu tetep pingin merawatnya, tapi kamu juga sibuk kerja dan akhirnya siapa yang rawat? Aku lagi kan?" timpal Mariah.      Ingin rasanya Misha pergi dari tempat itu secepatnya, kakinya seperti meleleh, lidahnya kelu. Kedua tangannya meremas ujung rok sekolah yang dikenakannya. Ternyata memang benar selama ini Ia hanya menjadi parasit di keluarga Sasongko. Misha melihat name tag pada seragamnya yang bertuliskan Misha Sasongko. Ternyata nama yang disandangnya selama ini hanya palsu, tidak semestinya Ia memiliki nama Sasongko pada namanya.      "Akhirnya lo tanya juga ya Sha," terdengar suara Razilee sedang menuruni tangga dibelakangnya.      “Lo tau kan sekarang kebenarannya seperti apa? Bisa makan roti enak gini dari mana? Lo tau kan, lo siapa?" Razilee menarik kursi di samping Misha.      “Razilee!! Diam kamu! Misha, ga usah dengerin kata Mama ya, ini uang jajanmu. Pak Ratno bakal anterin kamu, oke?" tukas Damar sambil memberi uang 2 lembar seratus ribuan pada tangan misha. Sudah jelas sekali Papanya menghindari situasi ini.      Papa, kalau itu tidak benar seharusnya Papa mengatakan kalau aku anak kandung Papa, bukan menghindar seperti ini, Pa. Batin Misha.      “Pak Ratno, tolong antarkan Misha ya. Razilee nanti bareng saya aja." Damar tampak memanggil sopir yang biasa mengantar Misha dan Razilee.      Misha hanya bisa diam dan mengikuti langkah kaki Pak Ratno menuju ke mobil Honda Odyssey putih yang terparkir di halaman rumahnya.      Setelah beberapa menit di perjalanan, Pak Ratno mulai membuka pembicaraan.      “Non yang sabar ya, Nyonya Mariah memang seperti itu Non, jangan dimasukkan ke hati ya Non."      Pak Ratno memang sudah 8 tahun menjadi sopir pribadi keluarga Sasongko, Misha pun sering berbagi cerita dengannya. Mulai dari Misha yang mendapat nilai matematika jelek tetapi mendapat nilai bagus di Biologi. Pak Ratno juga sering membantu Misha ketika Misha sering di bully di sekolahnya yang dulu.      Ya, saat Misha masih satu sekolah dengan Razilee, teman-teman sekelasnya dan Razilee sering merendahkan, memaki, dan membully Misha. Razilee merasa Ayahnya, Damar, lebih menyayangi Razilee dibandingkan dirinya, padahal Misha hanyalah seorang anak angkat yang menumpang hidup mewah di keluarga Sasongko.     Misha menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya sejenak sembari menutup matanya. Apa yang Ia lalui hari ini, Ia harus tetap tegar. Misha berusaha menarik bibirnya dan tersenyum.      "Ngga papa kok Pak hehe. Nanti saya pulangnya gausah ditungguin ya Pak, saya bareng temen." tukas Misha.     "Oke, Non siaapp," Pak Ratno tampak kembal fokus memandang jalanan di depannya. ................       Sepulang sekolah Misha betemu dengan sahabatnya, Ezra yang merupakan lelaki campuran Indonesia - Rusia. Ayahnya seorang investor besar di Asia. Misha mengenal Ezra karena kedua orang tua mereka saling mengenal karena urusan bisnis. Hanya Ezra lah yang tetap bertahan menjadi teman dekat Misha semenjak rumor Misha adalah anak angkat yang mulai tersebar sejak Ia duduk di kelas 8 SMP.      Ezra tampak berdiri disamping Honda Jazz putih miliknya, sambil sesekali mengecek ponsel di tangannya. Misha tersenyum hangat, melihat ada seseorang yang masih peduli dengannya saja Ia merasa bahagia. Misha melagkahkan kaki menuju Ezra, langkahnya sedikit terlihat buru-buru, tak ingin membuat Ezra menunggunya lebih lama.      Misha dan Ezra bersekolah di tempat yang sama yaitu YoungChul Senior High School. SMA dengan fasilitas dan bentuk bangunan mirip denga SMA-SMA di Korea Selatan. Begitupun seragam yang dikenakan murid YoungChul dapat dibilang mirip dengan seragam murid di Korea Selatan. Laki-laki mengenakan celana panjang dengan jas dengan logo di d**a kirinya dan perempuan mengenakan rok pendek diatas lutut dengan jas yang lebih minimalis.      "Hei, tumben kelas lo lebih lama dari kelas gue. biasanya kelas lo keluar paling cepet Sha," tukas Ezra.      "Tadi jam terakhir kelas matematika, biasalah, Pak Bambang emang agak telat pulangnya," jawab Misha.     Ezra tersenyum, "Oh Pak Bambang, kemarin Gue jam pertama sama dia, dan pas banget hari itu Gue dateng telat. Habis deh hidup Gue."      "Gila lo Zra! Lo sih, udah tau kelas Pak Bambang, malah telat hahaha". Misha tertawa renyah.      "Eh, Adit belom dateng ya? Coba gue chat deh." Misha mengambil ponselnya di saku roknya.      "Udah gue chat ko Sha. Bentar lagi nongol dia,"     "Yuk masuk dulu, panas nih." Ezra membukakan pintu untuk Misha. Dengan sigap Misha masuk dan duduk di kursi depan.     Ezra masuk dan duduk di kursi pengemudi. Sekilas tatapannya jatuh pada paha putih Misha yang terekspose karena rok pendeknya. Misha memang memiliki bentuk tubuh yang ideal dan cantik. Lekuk tubuhnya dapat membuat siapapun merasa kenikmatan surga dunia ketika melihatnya. Ezra dengan sigap melepaskan jas yang dikenakannya dan menutupkannya pada paha Misha.      "Thanks, Zra"     Misha takmerasa heran dengan perlakuan Ezra, karena memang begitulah Ezra yang dikenalnya, seorang pria dingin dan pendiam tetapi berhati lembut dan perhatian. Adit yang baru saja datang, mengetuk kaca jendela Ezra, masuk dan duduk di kursi belakang.     "Hallo Sha. Maapin nunggu lama ye?" tukasnya. "Okey bro, gue udah siap jadi obat nyamuk nih," ungkapnya sambil menepuk bahu belakang Ezra.      "Yelah mana ada obat nyamuk minta pizza," jawab Ezra.     Misha hanya bisa tersenyum dan tertawa dengan obrolan-obrolan mereka bertiga. Dia tidak pernah merasakan rasanya tertawa bebas saat berada di dalam lingkup keluarga Sasongko, tapi di sini, disaat ia bersama orang lain justru dapat membuatnya tertawa lepas. ................       Saat sudah sampai di toko buku, Ezra hendak menuju ke bagian buku-buku Ilmu pengetahuan, sedangkan Misha bergegas ke bagian rak buku novel.      "Zra, gue kesana yak, ntar kalo udah ketemu di sini ya biar lebih cepet," tukas Misha.      "Oke Sha," jawab Ezra.     Anji*r bukunya Dream Light disitu ternyata. Melihat buku yang dicarinya berada di rak seberang, Misha segera melangkah dengan cepat dan meraihnya. Disaat yang bersamaan, seseorang juga meraih buku yang diinginkannya itu.      "Gue yang dapet duluan, Nona Misha Sasongko," Aldrich mengenggam buku itu dengan cepat dan melemparkan tatapan tajam pada Misha.   To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN