Canberra, Australia
Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun terbelalak ketika melihat rumah tempat tinggalnya terbalut kobaran api yang begitu besar. Beberapa mobil pemadam kebakaran dan sebuah mobil polisi pun terlihat mulai mendekat dari kejauhan sembari menggemakan sirene khasnya.
Perlahan air mata bercucuran dari kedua bola mata anak laki-laki tersebut. Tak kuasa melihat kejadian naas itu, kedua lututnya bergetar dan membuatnya jatuh berlutut. Sebuah buku cerita bertuliskan Run or Killed jatuh dari tangan anak itu. Ia berusaha menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, berharap kejadian ini hanya mimpinya belaka. Bahunya bergerak naik turun, menandakan ia sedang sangat terisak.
Ia melihat dua orang mendorong tandu stretcher dengan korban berbaring di atasnya lengkap dengan kain yang menutupi seluruh tubuh korban.Ia merasa sangat menyesal, Ia hanya pergi ke toko buku dekat rumahnya beberapa menit yang lalu, dan kini Ia harus menghadapi kenyataan bahwa keluarganya telah meninggal. Perasaan sedih dan geram bercampur aduk, tidak disangka kedua orangtuanya dan adiknya akan pergi meninggalkannya sendiri di dunia yang kejam ini.
Aku mohon, Daddy, bawalah aku pergi juga dari dunia ini. Batin anak itu.
"A-aku... a-ku... tidak kuat melihat semua ini." anak itu beranjak dari duduknya dan berlari menuju jasad ayahnya yang hendak dimasukkan ke mobil ambulans untuk di autopsi.
"Bi-bi-arkan aku ikut mengantar ayahku ke rumah sakit" kata anak itu sambil berlinang air mata. Tim evakuasi hanya menganggukkan kepala, memberikan ruang untuk anak itu duduk di bangku sebelah jenazah ayahnya.
Dua hari berlalu, proses autopsi dan pemakaman keluarganya telah dilakulan. Kini anak itu tak tau harus kemana, ingin rasanya ia ikut dikubur bersama keluarganya sehingga ia tidak menanggung kehidupan yang begitu kejam ini.
Seperti hari-hari sebelumnya, ia tinggal di kantor polisi selama penanganan kasus ini berlangsung. Ia merebahkan punggungnya di kursi panjang di sudut ruangan, memandang beberapa anggota polisi yang sibuk mengerjakan kasus-kasus, berlalu-lalang tak kenal lelah.
Salah seorang polisi memandang anak itu dengan tatapan heran, polisi itu tahu bahwa anak kecil itu merupakan korban dari kebakaran rumah 2 hari lalu. Polisi itu kemudian mendekatinya dan duduk di sampingnya. Batinnya diliputi berbagai pertanyaan, mengapa ada anak kecil yang tidak pulang bersama walinya? Apakah Ia belum menghubungi walinya? Ataukah Ia tidak memiliki wali yang bisa dihubungi?
"Hei boy, what's your name?" Polisi berambut kuning kecoklatan bernama Lucas memandangnya dengan mata birunya.
"Aldrich Pauley," jawab anak itu singkat.
Setelah berbagai pertanyaan dijawab oleh Aldrich, Lucas akhirnya mulai menyimpulkan.
"Okey, kamu mengatakan bahwa kamu tidak memiliki saudara ataupun seseorang yang bisa merawatmu di sini? benar?"
Aldrich mengangguk.
Ya, begitulah keluarganya selama ini, bisa dibilang keluarganya adalah keluarga yang tertutup karena belum lama keluarganya pindah ke Australia. Tepat bulan depan keluarganya telah menetap selama satu tahun di Australia setelah sebelumnya mereka sempat tinggal di Malaysia dan Indonesia. Aldrich hanya tahu bahwa Ayahnya adalah seorang investor yang gila akan urusan perusahaan dan Ibuya tidak terlalu dekat dengan tetangga lainnya. Ayah dan Ibunya merupakan keturunan orang Australia, namun keduanya memilih untuk tinggal di luar negeri dengan alasan tertentu selama Aldrich kecil.
Lucas beranjak dari bangku panjang yang didudukinya bersama Aldrich. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil laptop miliknya, mengetikkan sesuatu pada keyboard nya.
"Aku akan menjelaskan hasil autopsi dari keluargamu dan hasil olah TKP, Aldrich. Jadi, disini disimpulkan bahwa tidak ada luka eksternal pada jasad korban yang menandakan adanya perlawanan ataupun tindak kekerasan, jadi kasus ini mungkin akan ditutup dengan kasus kebakaran akibat kelalaian
"Kasus ini akan segera ditutup dan kamu tidak bisa tinggal di sini terus, nak. sore nanti seseorang akan mengantarkanmu ke panti asuhan untuk sementara waktu hingga kami menemukan orangtua angkat untukm..."
"Saya bisa merawatnya, Sir." Suara wanita berumur 30 tahunan bernama Rheena memotong percakapan Lucas dan Aldrich.
Sontak Aldrich memandang arah suara wanita itu berasal. Rheena seraya tersenyum melihat Aldrich dan Aldrich hanya terdiam memandangnya.
"Aku tahu siapa yang menyebabkan kebakaran itu," bisik Rheena pada telinga Aldrich membuat pupil mata Aldrich membesar dan terbelalak.
................
12 tahun kemudian...
Jakarta, Indonesia
Kini ia hanya bisa memendam rasa cintanya, Reyfold hanya mampu melihatnya dari kejauhan, melihat senyum manisnya, melihat wanita yang dicintainya bahagia bersama orang lain.
END
"Iiihhh... Kenapa sad ending lagi sih? 540 halaman, tapi sad ending itu rasanyaaa seperti berjuang mati-matian tapi pada akhirnya gagal, hmmpps..." Gumam Misha berujung helaan nafas dalam-dalam.
Ia mulai merebahkan punggungnya yang pegal pada springbed king size di sebelahnya. Ya, ia adalah Misha Sasongko, putri dari Damar Sasongko dan Mariah Teresa Sasongko. Damar Sasongko merupakan pemilik Sasongko Propertindo Tbk, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Perusahaan yang handal dalam melipatgandakan uang para investor.
Misha meraih ponselnya, ia mulai sibuk mengetikkan sesuatu di layar berukuran 6 inci tersebut.
[Misha] : Zraaaa
[Ezra] : Apa woii?
[Misha] : Besok abis pulang sekolah lo ada acara ga?
[Ezra] : Nggak, ngapa? Tempat biasa lagi?
[Misha] : Yoii, tau aja lo
[Ezra] : Okee, cepet banget stok lo abis
[Misha] : Hehehe, ajak Radit juga kalo dia mau
[Ezra] : Siiipp lah
"Okay Misha, let's go...", ujarnya. Misha meletakkan ponselnya di atas kasur dan beranjak pergi dari kasur kesayangannya.
Semoga Papa belum tidur. Batinnya, bergegas ia menuju ruang kerja Papanya, Damar Sasaongko. Begitulah Misha, Ia sering menemani Papanya bekerja di ruang kerjanya, bercerita banyak hal mengenai teman-temannya, buku dan film favoritnya dan banyak lagi. Ia juga sering bermain catur bersama Papanya, menghabiskan waktu sore ataupun malam bersama dengan secangkir kopi di sampingnya.
Tangan Misha sudah meraih gagang pintu ruang kerja Papanya. Sayup-sayup terdengar suara seseorang memohon kepada Papanya.
"Pa... Ayolah Pa, aku pingin banget punya iPhone yang bagu release bulan ini Pa... Temen-temen aku pada punya Pa, apalagi aku selebgram, harus punya ponsel yang terbaru dong...", rengek Razilee.
Razilee lagi. Batinnya. Misha membuka pintu dan tebakannya benar, Razilee, saudara seumurannya sedang duduk di sofa ruang kerja Ayahnya dengan tatapan memohon. Razilee Sasongko, gadis seumuran Misha yang berumur 18 tahun, berperawakan putih, berambut panjang hitam kecoklatan. Razilee memiliki paras rupawan, namun sikap dan perilakunya 180 derajat berbeda dengan parasnya.
Sedari kecil Razilee selalu kasar terhadap Misha. Tidak hanya kasar berupa perkataan, namun Razilee kecil juga tidak segan memukul ataupun mendorong Misha. Perilaku Razilee yang begitu kasar terhadap Misha tidak hanya sebuah keusilan anak kecil biasa, namun hal ini disebabkan karena Ibu mereka-Mariah selalu menumbuhkan benih-benih kebencian pada hati Razilee sejak kecil. Mariah selalu mengajarkan kepada Raizlee bahwa Misha tidak layak mendapatkan kasih sayang, Misha adalah anak yang nakal dan patut mendapat perkataan kasar. Damar tidak terlalu mengetahui hal ini, karena pada saat mereka kecil Damar lebih sering sibuk dengan urusan kantor dan jarang pulang ke rumah.
Damar masih terlihat fokus pada layar laptopnya, mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya hingga Ia menyadari kedatangan seseorang di ruangannya.
"Misha? Ada apa?" ujar Damar sembari menghentikan aktivitas pada layar laptopnya.
"Emm, Pa... Aku besok pingin beli buku sama temen, kalau uang jajan buat minggu depan aku minta besok gimana Pa? Minggu depan Papa gaperlu ngasih uang jajan lagi..." ujar Misha.
"Apaan sih lo Sha? Gausah Pa, dia paling mau beli buku-buku yang ga jelas gituu. Padahal bukunya udah banyak banget, lo mau jadi mbok mbok perpustakann, hah??"
"Ih apaan si Zi? Kan gue belinya pake uang jajan gue buat minggu depan," tukas Misha.
"Anj*r Mishaaa. Dasar yaa emang anak pungut ngga pernah nyadar. Udah dikasih hidup enak tapi ngerasa kebablasan, ngga inget ya lo?" Razilee mulai beranjak dari duduknya, melemparkan pandangan sinis pada Misha.
Kata-kata Razilee sungguh menusuk hati Misha. Bukan, bukan sakit hati. Misha sudah terbiasa dengan bentakan kasar dari Razilee, namun Misha lebih merasa tidak percaya Razilee juga akan mengatakan hal tersebut di depan Ayahnya. Misha hanya tersentak sebentar, sedetik kemudian Ia sudah terbiasa lagi dengan suasana rumah yang dipenuhi dengan bentakan kasar dan amarah dari Razilee maupun Mamahnya.
"Heii, stop kalian! Bukannya kalian udah berjanji bakal damai kalau kalian ngga satu sekolah lagi. Misha udah rela pindah sekolah karena kamu Razilee... Jaga ucapanmu ya, Razi! Papa gak mau denger kamu bicara itu lagi! Sejak kapan kamu belajar kata-kata kasar buat nyakitin saudaramu hah?"
Misha merasa pipinya memanas, amarah, rasa geram dan sedih berkecambuk menjadi satu dalam benaknya. Ia tak ingin Razilee melihat sisi terlemahnya, Ia sangat ingin membalas perkataan Razilee. Namun entah mengapa mulutnya terasa kelu untuk membalas perkataan Razilee di depan Papanya. Papanya selalu membela Misha dan Misha tidak ingin Papanya kecewa karena anak yang dibelanya mengatakan hal yang sama kasarnya dengan Razilee.
Misha hanya bisa berlari menuju kamarnya. Ia membanting tubuhnya ke ranjang, meraih bantal dan menutup wajahnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa hidupnya seperti ini? Ia merasa hidup seperti parasit pada keluarga orang lain. Namun Ia tidak bisa mengatakan apa-apa, Ia tidak mempunyai hak apa-apa untuk membalas perkataan Razilee. Jika hal yang dikatakan Razilee benar adanya, Misha akan semakin merasa ciut untuk memandang keluarga Sasongko ini.
Sebenarnya siapa akuuu??? Jerit misa dalam hatinya. Papanya tidak pernah menjelaskan padanya apakah Misha anak kandungnya atau tidak. Sudah beberapa kali Misha menanyakan hal ini pada Papanya, namun Papanya selalu menjawab bahwa Misha adalah anaknya dan segera mengalihkan pembicaraan. Pikiran Misha meracau kemana-mana, apakah selama ini rumor mengenai dirinya adalah anak angkat itu benar adanya?
To be continue...