Saat bersamanya, ada ketenangan di atas ketakutan, ada kebahagiaan di balik luka. Walau semuanya masih tersembunyi, tapi banyak waktu yang memperlihatkan kebahagiaan dalam kegelisahan dan ketakutan yang mencengkram.
Seperti biasanya, Maya selalu menyiapkan sarapan untuk Azam. Maya terus berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, walau dengan biaya yang pas-pasan. Sementara bagi Azam, apapun makanan dan minumannya, asalkan Maya yang menyiapkan, maka semuanya adalah makanan surga.
"Sayang, hari ini kita ada tugas mandiri kan?" tanya Azam yang sedang memperhatikan Maya menuangkan teh hangat untuknya.
"Iya, Azam. Tapi kita nggak satu kelompok," sahut Maya sembari menghela napas panjang.
"Iya, benar. Tapi kamu jangan khawatir! Aku akan antar jemput kamu, walaupun arah tempat tugas kita berbeda."
"Bukan itu masalahnya, Azam."
"Heeem, apa karena aku satu kelompok dengan Melisa dan kawan-kawannya?"
"Aku ... ."
"Ha ha ha ha, ternyata ada yang cemburu dan curiga ya? Padahal aku sudah memberikan segalanya untuk kamu, Maya."
"Segalanya?"
"Iya, jiwa dan ragaku, cinta dan luka ku, keberanian dan ketakutan ku," tegas Azam dan semua itu membuat Maya merasa bahagia di dalam kecemburuannya.
"Iya, Azam," sahut Maya dengan senyum lebar dan saat itu, ia tampak begitu tenang.
Sarapan pagi sederhana di antara keduanya telah berakhir. Maya dan Azam yang sudah siap untuk melaksanakan tugas kampus pun segera berangkat ke lokasi masing-masing.
Awalnya semua berjalan dengan baik dan Maya merasa sangat nyaman saat melaksanakan tugas bersama karena dikelilingi oleh teman-teman yang baik dan tidak suka berbicara kasar kepadanya.
Saat di lokasi, Maya dan Azam tidak melakukan komunikasi dalam bentuk apapun, kecuali saat istirahat. Keduanya tahu betul tentang kondisi yang harus mereka hadapi sebagai mahasiswa. Sementara di sisi lain, mereka masih menyembunyikan kebenaran pernikahan yang terjadi di antara keduanya.
"Maya, besok yang mengulas (persentasi) materi hari ini kamu saja ya?"
"Kenapa begitu, Amanda? Aku kurang percaya diri."
"Kamu harus belajar berdiri di depan musuh mu, Maya. Semua itu juga penting untuk memupuk mental kamu. Nanti saat sidang skripsi, kamu hanya sendirian di dalam ruangan yang menegangkan dengan tatapan tajam dari para dosen yang terlihat kejam," jelas Amanda yang merupakan teman paling baik dan ramah di kelas. Sejak semester satu. ia selalu menjadi pemimpin di kelas, walaupun ia seorang wanita.
"Aku paham. Amanda."
"Agar sempurna, kamu harus belajar Maya! Masih banyak waktu, jadwal kita minggu depan. Berlatihlah di muka cermin dan kuasai materinya. Tenang saja! Kami juga akan membantu kamu untuk menjawab beban pertanyaan yang berat."
"Baiklah, aku mengerti dan siap."
"Bagus, itu baru wanita," ucap Amanda yang memang sejak dulu tampak memiliki semangat dan energi yang positif.
"Aku mau duduk di sana sebentar, soalnya mau menyalin catatan kakinya," ujar Maya sambil berjalan ke arah pojok saung yang terasa dingin.
Maya sangat fokus dan hanya mengerjakan rencananya untuk menyalin catatan kaki. Namun semakin lama, ia merasa tubuhnya semakin mengecil dan menciut. Sementara kepalanya terasa besar dan kesemutan.
Situasi di dalam saung. Setelah 15 menit berlalu dalam keadaan asing, Maya tampak membuka matanya lebar-lebar. Ia berdiri dan berjalan lambat meninggalkan saung dimana ia mengerjakan tugasnya.
Pandangan Maya tampak kosong dan lurus ke depan. Sepertinya mata Maya hanya terbuka lebar, tapi ia tidak dapat melihat apapun yang berada di hadapannya.
Tubuh Maya seakan bergerak berdasarkan tiupan angin, tidak ada yang tau tentang keadaan Maya saat ini karena semuanya tengah sibuk dan fokus pada tugasnya masing-masing.
Langkah lambat Maya mengarah pada satu tujuan yaitu sumur besar yang terbuka lebar sebagai sumber mata air di lokasi tugas mandiri tersebut. Maya sudah sangat dekat dengan sumur tersebut dan matanya hanya melihat ke bawah. Hal itu disadari oleh Bowo yaitu salah satu teman sekelompok Maya dan ia segera berlari ke arah Maya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bowo sambil menahan bahu kanan Maya yang sudah sangat condong ke depan, seolah ingin masuk ke dalam sumur besar dan dalam tersebut. Pada saat yang bersamaan, Maya kehilangan kesadarannya dan teman-teman yang lain, segera membantu Maya.
"Apa yang terjadi?" tanya Wela pada Bowo.
"Ntahlah, yang aku lihat, Maya ingin terjun ke dalam sumur ini."
"Ya ampun, ayo bawa dia ke saung (pendopo)."
Dibantu beberapa masyarakat yang berada di lokasi, Maya akhirnya sadarkan diri dan ia bingung dengan pemandangannya. Maya menatap seluruh mata yang hanya tertuju pada dirinya.
"Cantik sekali, ucap Bowo dan Galih tanpa sengaja, saat melihat Maya duduk dengan rambutnya yang terurai.
"Astaghfirullah hal azim, dimana penutup kepalaku?" tanya Maya yang menyadari bahwa jilbabnya sudah terlepas dari kepalanya.
"Ini Maya, maaf. Tadi kamu pingsan, jadi aku melonggarkan celana dan membuka jilbabmu," ucap Amanda yang berusaha menenangkan Maya.
"Iya, makasih. Apa yang terjadi?" tanya Maya sambil memasang kembali jilbabnya yang berwarna hijau toska.
"Kita juga ngak tau, tiba-tiba kamu sudah berada di dekat sumur itu dengan posisi tubuh yang mengarah ke depan. Seolah kamu ingin masuk dan tenggelam di dalamnya."
"Subhanallah ... apa yang sebenarnya terjadi padaku?" anya Maya pada dirinya sendiri dengan suara yang samar-samar terdengar.
"Sebaiknya kami antar kamu pulang, Maya," kata Galih sambil menatap wajah Maya yang tampak pucat.
"Satu lagi, jangan suka melamun!" tambah Bowo.
"Terimakasih, teman-teman. Baiklah, aku ambil buku milikku dulu."
"Biar aku saja yang mengambilnya," kata Amanda yang tidak ingin insiden seperti ini terjadi kembali.
Amanda mengemas buku dan alat tulis milik Maya, saat itu Maya berusaha untuk berdiri sendiri. Namun ia hampir terjatuh, rasanya seluruh tubuh Maya berat dan kaku terutama bagian kuduknya.
Sementara keadaan sebenarnya di luar penglihatan manusia pada umumnya ialah
ada sesuatu yang berwujud manusia dengan kulitnya yang berwarna hitam, rambutnya yang gimbal, bawah matanya yang berwarna merah, bibirnya yang tebal dan berwarna hitam pekat, melekat pada tubuh Maya.
Makhluk tersebut melingkarkan tangannya pada leher Maya, sedangkan kakinya melingkar di pinggang Maya dan ia ikut bergerak disaat Maya bergerak (posisi seperti menggendong dari belakang).
"Auh," keluh Maya yang merasa tubuhnya sangat berat.
"Ada apa, Maya?"
"Rasanya, Tubuhku sakit dan berat sekali," sahut Maya ketika sudah berdiri.
"Mungkin karena kamu pingsan tadi, Maya."
"Mungkin juga. Sebaiknya aku pulang sekarang."
"Oke."
Teman-teman tiba di rumah Maya sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu, Maya mengatakan kepada mereka untuk segera pulang karena hari sudah mulai magrib. Lagipula, Azam seharusnya akan tiba di rumah paling lambat pukul 18.00 WIB.
Setelah Bowo dan yang lainnya pulang, Maya langsung masuk ke dalam rumah dengan kaki yang menyeret. Maya juga menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan untuk merenggangkan otot-otot yang terasa kaku.
"Sebaiknya aku membersihkan diri sebelum Azam pulang." Maya segera membuka pakaian dan mengirimkan pesan kepada Azam bahwa ia sudah berada di rumah.
Setelah membersihkan diri, Maya mengambil pakaian di dalam lemari dan pada saat yang bersamaan, ia melihat leontin pemberian dari pak De yang Azam sembunyikan darinya. "Ini? Kenapa Azam menyembunyikannya dariku?" tanya Maya sambil memegang dan mengangkat kalung emas dengan leontin berbentuk segienam tersebut.
Maya berpikir, jika memang untuknya, Azam mungkin hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk memberikannya. Maya yang tidak berani untuk bersikap tidak sopan, berniat untuk kembali meletakkan kalung tersebut. Namun pada saat yang bersamaan, Maya merasa lehernya tercekik sangat kuat.
Maya memegang lehernya sangat kuat untuk memastikan apa yang tengah menyakitinya. Saat kalung tersebut menyentuh kulit lehernya, tiba-tiba saja rasa cekikan tersebut berkurang.
Tanpa pikir panjang, Maya pun langsung mengalungkan kalung tersebut dan memegangnya erat-erat. Tidak perlu waktu yang lama, Maya merasa angin dingin bertiup di wajahnya dan rasa sakit itu menghilang.
Bersambung.