Percintaan Halal

1127 Kata
Malam ini tampak sangat sunyi, padahal Maya dan Azam tinggal di sebuah perumahan yang ramai penduduknya. Entah kemana perginya semua penghuni perumahan ini? Atau hanya perasaannya saja? Tanya Maya di dalam hati sambil terus menatap Azam (menyamping) yang tengah tertidur pulas. Malam ini, sulit sekali bagi Maya untuk terlelap. Sebenarnya tidak ada yang mengganggunya, tapi entah mengapa ia merasa sedang diperhatikan oleh seseorang atau sesuatu yang tidak ia ketahui. Maya memang tidak dapat melihat hal-hal yang berbau mistis, tapi ia cukup peka untuk merasakan alam lain dan hal itu sering membuat Maya gelisah serta tidak nyaman. Setidaknya, ia bisa mendengarkan suara misterius, atau gerakan yang tidak normal. Makanya Maya sering sekali mendengar suara asing yang selalu memintanya untuk shalat, meskipun ia 'tak pernah melihat wujudnya. Satu jam berlalu, Maya mulai lelah dan merasakan kantuk. Namun semakin ia terpejam, ia semakin dapat merasakan seseorang atau sesuatu mendekati dirinya dengan sangat cepat. Saat itu, Maya tahu bahwa sosok itu bukanlah Azam. Jantung Maya berdebar dan ia pun merasa tidak nyaman. Sementara matanya mulai lekat dan tidak bisa diangkat. Sambil terus berusaha untuk kembali bangun, Maya menggenggam kedua tangannya begitu erat. "Allahu Akbar, bangun Maya! Bersucilah!" ucap seseorang dengan suara yang halus dan lembut dengan bisikan nya yang jelas, tepat di telinga kanan Maya. Suara yang biasa terdengar di telinga Maya, hanya sekedar mengingatkannya untuk shalat. "Hah ... ." Maya terduduk dengan wajahnya yang pucat dan keringat yang memenuhi kulit wajah putihnya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Azam yang juga ikut bangun setelah mendengar teriakan Maya yang sebenarnya tidak terlalu keras. "Azam, kenapa kamu bangun? Maaf jika suaraku mengganggu tidurmu," ucap Maya yang merasa bersalah sambil menatap Azam yang terus tersenyum di hadapannya, walaupun sedang sangat lelah dan tertekan. "Bagaimana aku bisa terus tertidur pulas, jika istriku dalam keadaan yang tidak nyaman?" tanya Azam dalam senyum yang hangat sembari merapikan rambut bagian depan Maya yang berserakan dan menghapus peluhnya. "Azam, aku sangat beruntung memiliki kamu." Maya, seandainya kamu tahu yang sebenarnya. Jika saja kamu mengerti tentang keadaan dan situasinya, apakah kamu masih bersedia berbicara seperti itu? Tanya Azam tanpa suara, kemudian ia menunduk untuk membuang suara hatinya. "Apa yang kamu inginkan sekarang, Sayang?" "Bagaimana jika kamu menemani aku untuk berwudhu, Azam?" "Baiklah ... dengan senang hati, Ratu ku." "Azam, itu sama sekali tidak lucu," kata Maya sembari memukul manja lengan kiri Azam yang terasa kokoh dan keras. "Aku gendong ya?" "Nggak ah ... ." "Ayolah ... ." "Azam ... usil deh." "Ha ha ha ha ha ha ha." Seketika rasa cemas dan takut di dalam diri Maya, hilang dengan sendirinya. Hanya ada dua rasa yang tersisa yaitu ketenangan dan kebahagiaan. Selesai berwudhu, Azam memutuskan untuk menggendong Maya tanpa bertanya. Maya yang kaget, langsung berteriak manja sambil menatap mata laki-laki yang selama ini sangat ia kagumi. Saat mata mereka bertemu, ada dua hal yang mereka inginkan. Yaitu menghabiskan malam dengan cerita dan b******a. "Maya, apa kamu lelah?" tanya Azam sambil tersenyum seolah mengisyaratkan keinginannya sebagai seorang pria sejati. "Jangan menatapku seperti itu, Azam!" "Kenapa?" "Lautan kecil di dalam tubuhku bergejolak," sahut Maya dengan nada yang manja. "Aku pun sama, ada sesuatu yang tiba-tiba ingin bermain di tempat yang lembab, basah, namun hangat," ucap Azam dan hal tersebut membuat Maya semakin malu. Maya membenamkan wajahnya tepat di d**a Azam yang berotot. Sambil terus menyembunyikan senyum lugunya, Maya memeluk erat leher Azam hingga mereka tiba di atas tempat tidur halal milik mereka. Maya dan Azam mulai melakukan pemanasan dengan penuh senyum kehangatan. Tidak ada luka, tidak ada ketakutan, tidak ada keinginan lain, selain menikmati setiap tatapan dan sentuhan manis dalam pelukan kasih sayang. بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا “Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna. Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami (HR. Bukhari)," ucap Maya dibimbing oleh Azam. "Azam, apa tujuannya?" "Tujuan membaca doa sebelum melakukan hubungan suami-istri itu agar ketika sedang melakukan sunnah suami-istri, terhindar dari adanya gangguan setan dan calon keturunan (bayi) juga dijauhkan dari gangguan setan yang terkutuk." "Iya, amin ... ." "Jadi, apa kita bisa mulai sekarang, Sayang?" tanya Azam sambil berbisik di telinga kanan Maya dan hal itu membuat bulu-bulu halus di leher Maya berdiri. Maya tersenyum seolah menjawab baiklah Azan. Saat itu, Maya terus menatap mata Azam yang penuh keinginan dengan suara yang manja dan menggoda. Permainan halal terjadi diantara Azam dan Maya. Kebahagiaan dan senyuman terus terpancar diantara keduanya. Yang satu tampak sangat cantik natural dan menggoda dan yang satunya lagi tampak sempurna dengan otot-otot besar di bagian lengan, d**a, perut hingga bagian bawah perutnya. Suara manja mulai terdengar dari sepasang bibir yang terus beradu dengan lembut. Aroma naoas alami menjadi penambah kehangatan diantara dua anak manusia yang saling mencintai dari dasar hatinya. 20 menit berlalu dalam permainan yang panas, Azam mencapai puncaknya. Diiring dengan suara desahan dari bibir wanita yang ia cintai, Azam ingin mengeluarkan lahar putih miliknya sembari berharap, Allah memberikan keturunan yang ia idam-idamkan. اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً “Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah (artinya, Ya Allah jadikanlah nutfah (lahar putih) kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh)," ucap Azam dengan suara yang pelan dan manja ketika lahar putih miliknya akan segera keluar. "Azam, doa kamu sangat indah," ucap Maya sembari memeluk erat tubuh Azam yang sudah basah karena peluh sembari mengatur naoasnya yang sudah terengah-engah. "Ayo kita berdoa sekali lagi, Maya!" اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا "Alhamdulillaahi Khalaqa Minal Maa I Basyaraa (artinya segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan," kata Azam dan Maya bersamaan. "Amin ... ." "Sayang, mau lagi?" tanya Azam yang tampak ingin menambah jumlah kehangatan diantara mereka berdua malam ini. "Azam, kamu tidak lelah?" "Belum, Sayang. Masih bisa kalau untuk sekali lagi," bisik Azam dan hal tersebut memancing keinginan Maya. "Azam." Allah telah menyatukan kedua hati yang saling menginginkan dan mendoakan. Tak ada keraguan atas apa yang telah Allah berikan dan putuskan. Jika ada halang rintang dan cobaan kedepannya, bagi Azam dan Maya itu hanyalah cara Allah untuk menguji ketakwaan mereka. Sementara di sudut ruangan, ada makhluk yang terus menatap tajam ke arah Maya. Tubuhnya besar, berwarna hitam, rambutnya panjang dan acak-acakan, matanya tidak pernah berkedip, tatapannya tajam, giginya besar dan panjang hingga bibirnya tidak mampu menyembunyikan isi mulutnya tersebut. Entah siapa atau apa maksud dan tujuan makhluk tinggi besar tersebut? Yang jelas, ia datang untuk keburukan. Tahu darimana? Tatapannya begitu tajam, napasnya begitu jahat, bagian bawah matanya berwarna merah menyala yang memperlihatkan keliarannya. Bersambung. Apa hubungan makhluk tersebut dengan Azam dan Maya. Jika memang boneka mistik tersebut telah disegel rapi, lalu siapa makhluk mengerikan yang malam ini berada di dalam kamar mereka? Ia memang belum dapat menyentuh Maya, tapi bagaimana jika Maya lalai dan mulut serta napasnya berhenti melafaskan nama Allah? Kepoin terus ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN