Ketenangan

1314 Kata
Suasana mulai menegang, Azam sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Yang jelas, nyonya Laras tampak begitu panik dan ketakutan. Sang mama, masih menarik tangan Azam cukup jauh dari kamar itu dan mengatakan sekali lagi, "Mama sangat kecewa padamu, Azam. Dari awal sudah dikatakan, jangan membuat papamu marah! Jangan berbicara sembarang! Kenapa, disaat papamu sudah berusaha menjaga dirimu dan istrimu sangat keras, malah kamu membuat masalah sehingga harus menyulitkan papamu sendiri? Apa kamu ingin membunuhnya?" "Maaf, Ma." Azam tertunduk. "Ada apa ini?" tanya kakak kandung sang papa yang ternyata menginap di rumah tersebut. "Tolong, Mas," sahut mama dan sepertinya pakde langsung paham apa maksud nyonya Laras. "Iya," ucapnya lalu berjalan dengan cepat ke dalam kamar khusus tersebut. 45 menit berlalu, Azam dan Mama masih berdiri di luar kamar. Tak lama, papa dan pakde keluar dari kamar dengan keadaan yang kurang baik. Papa tampak mengeluarkan darah dari hidung dan juga telinganya. Sementara pak De, terdapat bekas cakaran kuku-kuku yang tajam di pipi kirinya. "Puas kamu, Azam?" tanya mamanya dengan wajah yang sangat geram menuju ke arah Azam. Kami semua membawa papa masuk ke dalam kamar. Azam terlihat sangat merasa bersalah kali ini dan ia berpikir untuk segera pergi dari rumah megah tersebut. Tapi pada saat yang bersamaan, papa menahan Azam. "Bisa tinggalkan kami berdua?" tanya papa sambil menatap mama dan pakde. "Baik, Mas," sahut mama. "Pa, maafin Azam," ucapnya sambil tertunduk. "Kemarilah! Duduk di sini!" ujar Papa sambil menepuk-nepuk tempat tidur, tidak jauh dari dirinya. "Iya, Pa." Azam masih tertunduk. "Kita hanya belum punya waktu yang tepat untuk melakukannya (membinasakannya). Jika kita salah langkah, misalnya kita pikir sudah menyingkirkan dia, tapi ternyata dia masih ada, maka anak cucu kita yang tidak tahu apa-apalah yang akan menjadi korban selanjutnya. Papa tidak mau itu terjadi Azam, paham?" "Azam cuma bingung Pa karena beberapa hari ini Maya selalu diganggu dan ketakutan. Memang, Maya tidak mengatakan apa pun kepada Azam, tapi Azam tahu, Pa. Dia berusaha keras menjaga hati Azam." "Heeemh, tapi Papa yakin sekali semua itu tidak ada hubungannya dengan dia." Azam terdiam dan menunduk saat mendengarkan ucapan papanya yang begitu yakin. Sementara di sisi lain, Azam juga yakin bahwa firasatnya tidak salah. "Apa Papa sudah baik-baik saja? Jika ia, Azam ingin permisi untuk pulang." "Iya ... Papa sudah lebih baik. Pulanglah!" ujar papa sembari menghela napas panjang. Sebenarnya Azam masih ingin bersama papanya, tapi ia sudah terlanjur tidak enak hati. Apalagi setelah melihat kondisi Papa yang tampak pucat dan lemas saat ini. "Permisi, Pa. Semoga Papa selalu sehat." Azam berjalan keluar dari kamar papa tanpa membiarkan papanya menjawab ucapannya. Saat itu, sekali lagi Azam bertemu dengan pakde Sutar yang berada di ruang keluarga. Entah mengapa Azam sangat yakin bahwa dirinya memang sengaja menunggu disana. "Gimana papamu, Azam?" "Sudah mendingan katanya, Pakde." "Kenapa istrimu ndak dibawa?" "Maya sedang kuliah dan aku tidak ingin mengganggunya," ucap Azam terus berbohong agar tidak terlalu terlihat, jika ia sedang membatasi hubungan antara keluarga dan istrinya. "Apa dia baik-baik saja?" "Alhamdulillah, Pakde. Semoga Maya selalu di dalam perlindungan Allah." "Iya Semoga saja," ujarnya seakan meremehkan do'a Azam sembari mengangkat kaki kanan dan meletakkan di kaki kirinya. "Kalau begitu, Azam pamit dulu." "Sebentar, Azam! Berikan ini padanya!" ujar beliau sembari memberikan sebuah liontin hitam mengkilap kepada Azam. "Tidak perlu, Pakde. Terima kasih." "Ambil saja! Siapa tahu nanti kamu butuh. Jangan sombong, Azam! Dunia ini sangat luas." "Pakde benar, dunia ini sangat luas. Namun hanya satu pemiliknya, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala." Azam terus menolak karena ia mengetahui bahwa pakde adalah pengikut ilmu setan yang sangat kental, berbeda dengan papanya yang sebenarnya hanya korban dari ilmu terlarang tersebut. "Kalau kamu tidak mengambilnya, kamu tidak bisa keluar dari rumah ini." Pakde tampak menyeringai, beliau semakin tidak suka dengan ucapan Azam. Tidak ingin bertengkar, Azam pun segera mengambil liontin tersebut dan memasukkannya ke dalam saku bagian depan celana. "Jangan sampai dilangkahi ya!" "Terima kasih, Pakde. Azam pamit, assalamu'alaikum." Seperti biasanya tidak ada balasan untuk salam bernapaskan islam tersebut. Tanpa mencari mamanya, Azam segera meninggalkan rumah mewah nan megah tersebut. Azam tidak habis pikir dengan semua yang terjadi, ia harus apa? Rasanya, ia seperti terjebak di dalam sangkar burung yang kotor. Sekarang ia harus menjemput Maya karena Azam tidak ingin berlama-lama berpisah dengan istrinya. Ya Tuhan, mengapa rumah tangga kami jadi serunyam ini? Padahal aku hanya ingin menjadi imam yang baik. Ucap Azam tanpa suara, sembari menarik gas motornya. 35 menit menempuh perjalanan, Azam tiba di Panti Asuhan dan langsung disambut oleh beberapa orang di sana. "Azam, duduk dulu ya! Ibu panggilkan Maya. Tadi dia membantu Ibu di dapur." "Iya, terima kasih, Bu." Kemudian Azam menunggu di ruang tamu. "Maya, Azam sudah datang menjemput." "Iya, Bu. Terima kasih." Lalu ibu Asih meninggalkan Maya dengan beberapa orang teman satu angkatan. "Enak banget kamu ya, Maya. Di sana kamu pasti menjadi seorang ratu tanpa harus menyentuh pisau tajam dan terluka ataupun panci kotor," ucap Mia yang mengira bahwa Maya hidup dan tinggal bersama papa serta mama. "Alhamdulillah ... semoga kalian semua juga hidup lebih bahagia lagi ke depannya ya, amin." "Eh, jangan ngejek lho ya! Mentang-mentang hidupnya sudah enak, pake ngejek lagi," sambung Mia dengan bibir jutek dan muka sinis nya. "Siapa yang ngejek sih, Mia?" tanya Wita. "Kamu b***k atau begok sih? Sampai-sampai kamu nggak bisa membedakan antara ejekan dan do'a. Makanya shalat, Mia! Terus, jangan lupa berdo'a karena hanya Allah yang berhak atas jodoh." "Eh, jangan sok ngajarin lho ya. Kalian berdua itu sama aja. Cuma kebetulan nasib dia aja noh yang lebih bagus." "Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu. Jangan berantem lagi," ujar Maya sambil memegang pundak Wita. "Lain kali main ke sini lagi ya, Maya! Aku kan sering kangen," ujar Wita dengan air matanya yang sudah berada di ujung bulu mata. "Iya. InsyaAllah ya, Wi." "Ya sudah, aku antar kamu ke luar ya." "Iya, makasih." Usai bersalaman dan berpamitan, Azam dan Maya pun meninggalkan panti asuhan menuju rumah. Saat itu, Maya melihat wajah Azam cukup kusam dan Maya memutuskan untuk bertanya. "Azam, apa urusannya belum selesai?" "Sudah, tenang saja!" "Jika ada apa-apa, tolong ceritakan kepadaku. Aku akan membantumu Azam. Jika tidak bisa dengan pikiran maupun tenaga, aku bisa melakukannya dengan do'a." "Terima kasih, Maya. Terimakasih," ucap Azam sambil memegang tangan Maya yang melingkar di pinggang hingga perutnya. "Sampai di rumah nanti, kita langsung shalat ashar bersama yuk!" "Azam, aku masih datang bulan." "Ya ampun, aku lupa." "Tidak masalah. Kamu bisa shalat di mesjid kalau mau," saran Maya. "Tapi ini detik-detik terakhir. Mudahan bisa mandi bersih dan ikut shalat bersamamu." "Kita lihat saja nanti." Mereka tiba di rumah dan Maya langsung menyiapkan makanan untuk Azam. Entah mengapa, ia begitu yakin bahwa suaminya belum makan siang ini. Sedangkan Azam, memilih untuk shalat di dalam kamar mereka. "Wangi sekali," puji Azam sambil meletakkan sajadah di atas kursi makan. "Silahkan makan, Azam. Kamu belum makan, kan?" "Tahu dari mana, Maya?" "Entahlah, Azam. Hanya hatiku saja yang mengatakannya." Azam tersenyum sambil mencium punggung tangan Maya. "Maya, seandainya ada ujian yang sangat berat menghampiri kamu karena bersanding denganku, apakah kamu ikhlas?" tanya Azam yang tampak sudah cukup tenang. "InsyaAllah aku iklas lahir batin Azam," jawab Maya dengan segala keiklasan hati dan seketika air mata Azam jatuh di atas sajadah yang ia letakkan di atas kursi, kemudian ia memeluk Maya. "Cinta kita adalah cinta yang terbaik, Maya. Sebab kamu telah membuat imanku meningkat, juga membantuku di dunia ini. Karena itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga, Maya," ucap Azam dengan suara yang sengau sembari mengeratkan pelukannya. "InsyaAllah Azam, InsyaAllah ... jika Allah menghendaki." Jika kamu telah berhasil menemukan seseorang yang merupakan cinta sejati, yang ingin dijadikan teman hidup, yang merupakan inspirasimu menuju masa depan, yang menjadikan hidup ini terasa lebih berarti dan terasa semakin bermakna untuk dijalani, yang ingin bekerja bersama-sama dengan dirimu membentuk kedamaian, cinta dan kekuatan dalam keteduhan sebuah keluarga, maka yakinilah bahwa kamu sungguh beruntung. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN